Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
54# Ayah kita adalah orang yang sama


__ADS_3

Suasana canggung tercipta saat Bunda Farah, Kimmy, Athar dan Kiki duduk bersama di meja makan. Aroma sup daging tak lagi terasa menggoda. Athar terus bercanda dengan Kiki. Sedangkan Kimmy menatap mereka berdua. Bunda Farah yang bingung langsung membagikan piring kepada ketiga anak muda yang berada di ruang makan itu bersamanya.


"Ayo makan dulu, Athar, Kiki, Kimmy," Ucap Bunda Farah sambil memberikan mereka masing-masing sebuah piring berwarna putih.


"Iya Bun," Ucap Athar.


Saat makan bersama, Kimmy terus memperhatikan Athar yang tampak acuh dengan dirinya. Perhatian Athar hanya kepada Kiki. Kimmy percaya apa kata Bunda Farah, bila Athar belum memiliki kekasih. Tetapi, melihat kedekatan Kiki dan Athar membuat Kimmy berpikir lagi untuk percaya apa kata Bunda Farah.


Athar dan Kiki terlihat seperti orang yang sedang berpacaran. Entah mengapa, ada perasaan "Di abaikan" di diri Kimmy saat melihat Athar begitu perhatian kepada Kiki. Athar menyendokkan nasi untuk Kiki dan mengambilkan lauk untuk gadis itu. Athar memperlakukan Kiki sama persis dengan Athar memperlakukan dirinya dulu.


Kimmy menundukkan wajahnya dan mulai merasa sedih. Ia menyesal karena menjauhi Athar. Sikap kekanakan nya dulu membuat semua ini terjadi. Athar tak lagi mengenal dirinya. Diam-diam, Kimmy meneteskan air mata.


"Kim," Bunda Farah menyentuh tangan Kimmy yang mulai terisak.


"Ya Bun," Sahut Kimmy yang masih menundukkan wajahnya.


"Kaku baik-baik saja?" Tanya Bunda Farah.


"Iya Bun, Kimmy sepertinya izin ke toilet sebentar ya Bun," Ucap Kimmy sambil beranjak menuju ke toilet.


Bunda Farah menatap Athar dengan tatapan kesal. Sedangkan lelaki itu hanya tersenyum geli.


"Kamu itu ya !" Ucap Bunda Farah sambil mengepalkan tangannya ke arah Athar.


"Biar gak dianggap sahabat Bun.. Kalau dianggap sahabat mah zonk. Ujung-ujungnya jaga jarak lagi sama Athar. Biarin saja, biar kapok," Ucap Athar.


"Kok kamu kayak anak-anak begitu sih Thar..! Gak baik begitu, anak orang nangis kan.." Ucap Bunda Farah.


"Sudah, Bunda tenang saja. Dua tahun lagi dia jadi menantu Bunda," Ucap Athar.


Kiki mengangkat kedua alisnya dan menatap Athar dengan tak percaya.


"Eh, dia yang ku ceritain sama gue dulu?" Tanya Kiki.


Athar mengangguk sambil tersenyum geli.


"Parah lu... kasian anak orang Thar !" Ucap Kiki.


"Memang si Athar minta di tatar itu Ki.." Ucap Bunda Farah yang terlihat kesal dengan Athar.


"Tenang-tenang... jangan panik.." Ucap Athar dengan wajah jahilnya.


Tak lama kemudian, Kimmy kembali dari toilet dan kembali bergabung dengan mereka. Terlihat mata Kimmy sedikit sembab karena menangis. Sebenarnya Athar tidak tega, tetapi ia juga merasa takut, bila Kimmy kembali menganggap dirinya sahabat. Ia takut Kimmy kembali menjauhi dirinya. Bila ia seperti orang yang baru saja dikenal oleh Kimmy, mungkin ia bisa mempunyai kesempatan untuk mendekati Kimmy tanpa ada embel-embel persahabatan.

__ADS_1


"Bun, aku mau ke ruang keluarga dulu ya sama Kiki," Ucap Athar yang baru saja menyelesaikan makan siangnya.


"Eh, tapi gue belom kelar makan loh Thar !" Ucap Kiki.


"Udeh ayo..." Athar menarik tangan Kiki yang akan menyendokkan sup kedalam mulut nya.


"Ih bentar kenapa sih..! Ini lagi enak-enak nya tau !" Seru Kiki.


"Bodo amat ! Ayo buruan, gue mau bicara !" Ucap Athar sambil memaksa Kiki.


Kiki terpaksa mengikuti Athar sambil membawa mangkuk sup ke arah ruang keluarga.


Kimmy menghela nafasnya dan merapatkan bibirnya. Ia melihat Athar tidak peduli dan benar-benar tidak mengenali dirinya. Ia percaya, Athar tidak sedang bersandiwara. Tidak seperti Athar yang dulu, selalu menatap dirinya saat bertemu. Lelaki itu selalu memberikan senyuman terbaik nya setiap berjumpa dengan Kimmy. Tetapi kini, senyuman itu Athar berikan kepada Kiki yang Kimmy curigai sedang menjalin hubungan spesial dengan Athar.


"Maafkan Athar ya Kim," Ucap Bunda Farah.


Kimmy menoleh dan tersenyum kepada Bunda Farah.


"Tidak ada yang salah Bun. Mungkin mulai dari sekarang, Kimmy akan lebih sering ke sini. Untuk mengingatkan Athar tentang Kimmy," Ucap Kimmy.


"Eh buset... anak gue modus nya tokcer bener ya?" Batin Bunda Farah. Bunda Farah tidak bisa membendung senyumannya. Tiba-tiba ia mulai setuju dengan Athar yang pura-pura lupa ingatan kepada Kimmy.


"Betul itu Kim, kamu sering-sering kesini ya... temani Athar. Biar cepat sembuh dan kayak dulu lagi," Ucap Bunda Farah.


Bunda Farah tersenyum bahagia.


"Kalau Kimmy sering ke rumah, Farhan bakalan cemburu. Yes ! Yes ! Yes !" Batin Bunda Farah.


....


"Aduhhhh... Apaan sih !" Keluh Kiki yang masih memegang mangkuk sup di tangan nya.


"Sini," Ucap Athar sambil menuntun Kiki duduk di sofa.


"Sebentar," Ucap nya lagi, lalu ia beranjak ke bufet televisi dan membuka sebuah laci yang berisi album foto di dalamnya.


Kiki tidak mempedulikan Athar, ia melanjutkan memakan sup buatan Bunda Farah di ruang keluarga itu sambil menonton acara di televisi.


Athar kembali dengan sebuah album foto dan menyodorkan nya di depan Kiki.


"Apaan?" Tanya Kiki.


"Buka," Ucap Athar.

__ADS_1


"Apaan sih? gue lagi makan juga," Kiki mengeluh sambil meraih album foto itu.


Lalu Kiki menaruh album itu di pangkuannya dan membuka halaman depan Album foto itu.


Terlihat seorang bayi sedang di gendong oleh Bunda Farah. Sedangkan di samping Bunda Farah terlihat seorang lelaki dengan memakai polo t-shirt sedang tersenyum menunduk menatap bayi itu.


Kiki mengerutkan keningnya, lalu ia menatap Athar dengan tak percaya.


"Jadi, lu gangguin gue lagi makan sup hanya gara-gara mau ngasih liat foto jadul?" Tanya Kiki.


"Ki, buka lembaran ke dua deh," Ucap Athar tanpa mempedulikan pertanyaan Kiki.


"Ini yang bayi elu?" Tanya Kiki sambil membuka lembaran ke dua di album foto itu.


"Iya, itu gue dengan Bunda dan Ayah gue," Ucap Athar.


Kiki mengangguk sambil menatap foto di lembar kedua. Mendadak matanya terbelalak dan menatap Athar dengan wajah yang serius.


"Thar... ini..."


"Iya, gue rasa Ayah kita adalah orang yang sama Ki. Nama Ayah gue juga Fajar," Ucap Athar.


Kiki terdiam membisu, tubuhnya gemetar dan nafasnya terasa sesak.


"Thar.. jangan bercanda.." Ucap Kiki.


"Itu baju yang sama dengan yang dipakai Ayah lu di foto yang ada di dalam bufet bukan?" Tanya Athar.


Kiki menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Ki, mungkin Ibu lu tahu sesuatu. Ambil foto itu, terus lu tunjukkan kepada Ibu lu. Kita harus tahu, bila kita memang bersaudara dan sedarah. Bila Ayah kita orang yang sama. Kita harus tahu itu semua. Lalu, kita akan bersama-sama mencari Ayah kita," Ucap Athar.


"Tapi... Ayah Fajar kan sudah meninggal Thar. Gue rasa apa yang di foto ini hanya kebetulan mirip Thar !" Ucap Kiki. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang Athar katakan.


"Gue yakin, Ayah Fajar masih hidup Ki. Terakhir kali gue bertemu, saat gue duduk di Sekolah Dasar. Dia baru keluar dari penjara," Ucap Athar.


Air mata Kiki meleleh di tebing pipinya. Ia kembali menatap foto tersebut.


Ya, foto itu adalah foto Ayah yang tidak pernah ia temui. Ayah yang selama ini Ibunya bilang sudah meninggal dunia. Ayah yang tidak pernah ia rasakan kehangatannya.


Athar meraih album itu dan mengeluarkan foto itu dari album tersebut. Lalu, ia memberikan nya kepada Kiki.


"Bawa pulang, biar kita tahu kebenarannya."

__ADS_1


Kiki menatap Athar dengan seksama. Lalu, ia mengangguk setuju.


__ADS_2