
Mama Nia keluar dari ruang ICU, matanya menyapu ke segala penjuru. Ia mencari sosok Bunda Farah yang tadi sedang duduk di depan ruangan itu bersama dengan Om Andreas. Tetapi, kini sudah tidak ada.
"Kemana sih mereka?" Gumam Mama Nia.
Mama Nia mencari kesana kemari, tetapi ia tidak kunjung menemukan Om Andreas dan Bunda Farah. Mama Nia meraih ponselnya yang berada di dalam tas tangan nya, lalu mencoba menghubungi Bunda Farah.
Setelah nada panggil ke tiga kali, Bunda Farah menjawab telepon dari Mama Nia.
"Far, lu dimana?" Tanya Mama Nia.
"Eh, Nia.. sorry, lu jagain Naya bentar yak, gue sama Andreas mau keluar dulu."
"Hah? Mau kemana lu berdua?" Tanya Mama Nia penasaran.
"Nanti gue cerita deh sama elu. Tapi, sekarang gue mohon, lu jagain dulu si Naya ya..." Ucap Bunda Farah.
"Ah.. ok ok... hati-hati ya," Mama Nia mengakhiri panggilan tersebut dengan kerut di keningnya. Tidak biasanya Bunda Farah pergi begitu saja tanpa mengajak dirinya. Mama Nia pun merasa ada sesuatu yang serius yang sedang terjadi. Tetapi, mengapa dengan Om Andreas?
Mama Nia duduk di bangku tunggu pasien, ia termenung memikirkan apa yang sedang terjadi.
Bunda Farah dan Om Andreas tiba di kediaman Om Andreas. Mereka berdua turun dari mobilnya dan beranjak ke kamar Vania. Tetapi, gadis itu sudah tidak berada di sana.
Om Andreas pun tampak bingung dan panik. Sejak dari tadi ia mencoba menghubungi Vania. Tetapi, gadis itu tidak mau mengangkat telepon dari Papanya. Bahkan, Vania mematikan ponselnya agar panggilan telepon dari Papanya tidak menggangu dirinya.
Vania sedang berada di hotel yang ia sewa dari kemarin. Vania tampak berantakan karena ia sedang merasa frustasi. Terlihat lingkar hitam disekitar matanya, yang menandakan dirinya belum tertidur sejak kemarin malam.
Vania menenggak minuman keras yang ia dapati dari seorang teman nya. Ia terus menatap pemandangan siang menjelang sore itu dari jendela hotel berbintang lima itu.
"Apa gunanya gue hidup kalau begini?" Gumam nya. Air matanya sudah kering, ia sudah tidak mampu menangis lagi.
Rambut nya terlihat kusut, wajahnya tidak ada polesan make-up tebal nya lagi. Ia benar-benar sudah seperti orang gila.
"Andreas, apa dia punya buku catatan nomor ponsel teman-temannya?" Tanya Bunda Farah.
"Mana ada anak jaman sekarang mencatat nomor ponsel di buku Far.." Ucap Om Andreas.
"Oh iya, pikiran gue masih kayak jaman dulu aja," Gumam Bunda Farah.
"Kalau begitu, ayo kita ke kampus nya aja ya.." Ucap Bunda Farah.
Om Andreas pun mengangguk setuju, lalu mereka berdua bergegas turun dan menuju ke halaman rumah itu.
Baru saja mereka sampai di teras rumah, terlihat mobil Tante Rara memasuki halaman rumah Om Andreas. Om Andreas terpaku saat melihat mantan tunangan nya itu mendatangi kediaman nya.
Selama ini, walaupun mereka sering bertemu, Tante Rara tidak banyak bicara dengan Om Andreas. Bahkan nyaris tidak pernah bicara walaupun mereka berada di satu meja yang sama.
"Mana anak lu?" Ucap Tante Rara saat ia baru saja turun dari mobilnya.
"Ra..." Ucap Bunda Farah yang mencoba menenangkan Tante Rara.
"Diem lu Far ! Gue harus kasih pelajaran sama anak si brengsek ini !" Ucap Tante Rara dengan wajah emosinya.
"Ra, masih ada cara lain kan? Kita bicara baik-baik ya sama Andreas," Ucap Bunda Farah.
__ADS_1
"Lu berpihak sama dia atau sama gue Far !"
Bunda Farah menghela nafas panjang saat melihat Tante Rara yang tak terkontrol emosinya.
"Vania pergi dari rumah, Ra... maafkan aku. Aku tahu dimasa lalu, perbuatanku tidak akan termaafkan. Tetapi, izinkan aku nyari anak ku dulu. Aku akan membawanya ke rumah kamu setelah aku bertemu dengan Vania," Ucap Om Andreas dengan tenang.
"Ra, Naya juga sedang di ICU. Dia stroke Ra. Gue paham, kehilangan Fathur membuat elu seperti ini. Beri Andreas kesempatan untuk menemui Vania. Biar kita bahas sama-sama ya Ra. Bila memang anak lu di fitnah sama Vania, kita bisa menasihati Vania bersama-sama."
Tante Rara terdiam, api emosi dimatanya perlahan meredup. Air mata meleleh di pipinya. Ia mengepalkan tangannya dan memukul dada Om Andreas.
"Kenapa hidup gue gak pernah lepas dari penderitaan yang elu berikan Andreas !" Ucap Tante Rara sambil menangis sesenggukan.
Om Andreas tertunduk, ia benar-benar merasa menjadi orang yang terkutuk sepanjang hidupnya.
"Ra.. maafkan gue," Ucapnya lagi.
"Andreas, lu pergi cari anak lu. Biar gue menemani Rara ya," Ucap Bunda Farah.
Om Andreas mengangguk dan berlalu dari hadapan Tante Rara.
Tante Rara menangis di pelukan Bunda Farah. Lalu, Bunda Farah mengajak Tante Rara untuk pulang kerumahnya dan menemani Tante Rara yang masih emosi dan sedih karena kehilangan suami tercintanya.
....
Kimmy melangkah keluar dari dalam gedung kantornya. Gadis cantik itu terlihat begitu lesu pada sore hari ini. Saat tiba di depan mobilnya, Kimmy merogoh tas tangan nya untuk mencari kunci mobil miliknya.
"Hai calon istri.."
Kimmy menoleh kebelakang nya dan mendapati Athar tersenyum kepada dirinya.
"Calon istri gue lah," Ucap Athar sambil bersender di mobil Kimmy.
"Duh, kunci mobilnya mana ya? Apa ketinggalan di dalam?" Gumam Kimmy.
"Dih, pura-pura budek deh... pura-pura gak dengar calon suaminya ngomong," Goda Athar sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kimmy.
Kimmy merapatkan giginya dengan gemas, lalu ia menatap wajah Athar tang terlihat jahil.
"Mau lu apa sih?" Calon istri ! Calon suami ! Jijik tahu gak denger nya !" Ucap Kimmy sambil mengerutkan dagunya.
"Ya Allah.. dia makin cantik kalau marah," Ucap Athar sambil tersenyum manis.
"Athar !" Kimmy yang kesal membentak Athar yang terlihat sangat menyebalkan dimatanya.
"Apa sayang? Minta cium ya?" Ucap Athar sambil tertawa geli.
"Apaan sih !" Kimmy beranjak kembali ke arah gedung kantornya.
"Kim," Athar menahan lengan Kimmy.
"Apaan.." Ucap Kimmy dengan malas.
"Hari ini gue lagi senang, kita kencan yuk..." Ucap Athar dengan bersemangat.
__ADS_1
"Senang kenapa lu?" Tanya Kimmy yang masih memasang wajah sebalnya.
"Karena mau nikah sama elu," Ucap Athar sambil tersenyum malu-malu.
"Idih.... hoekkk..." Kimmy pura-pura akan muntah mendengar ucapan Athar.
"Jangan gitu dong sayang, awas ya... nanti kalau malam pertama minta duluan," Ucap Athar sambil tertawa dengan wajah yang konyol.
"Gak lucu ! Sudah ah, lepasin tangan gue ! Gue mau nyari kunci mobil gue !" Ucap Kimmy sambil berusaha melepaskan tangan nya dari tangan Athar.
"Canda kali Kim, ini gue lagi senang, karena gue bertemu kembali dengan Ayah kandung gue," Ucap Athar dengan wajah yang serius.
Kimmy menatap Athar dengan seksama, lalu ia menghela nafas panjang.
"Terus?" Tanya Kimmy.
"Ya gue senang aja. Jadi, gue mau merayakan hari bersejarah ini bersama orang yang paling gue cintai," Ucap Athar.
Kimmy terdiam saat mendengar ucapan Athar, pipinya memerah dan membuang pandangannya ke arah jalan yang terlihat ramai.
"Kim, jalan yuk. Gue akan belikan apa aja yang lu mau, mumpung gue lagi bahagia nih."
Kimmy merapatkan bibirnya dan menatap Athar dengan seksama.
"Apa aja?" Tanya Kimmy mencoba memastikan ucapan Athar.
Athar mengangguk dan tersenyum manis.
"Beneran nih?" Tanya Kimmy lagi.n
"Iya sayang..." Ucap Athar sambil membelai pipi Kimmy yang semakin memerah.
"Sayang, sayang, palelu peyang !" Ucap Kimmy.
Athar tertawa dan merangkul Kimmy.
"Yuk.." Ucap Athar sambil mengajak Kimmy berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobil Kimmy.
"Gue mau makan seafood, mau beli sepatu untuk kerja, terus gue juga mau beliii..."
"Apa aja yang lu mau, ayo kita ke Mall, gue yang bayarin," Potong Athar.
Kimmy menatap Athar dengan wajah yang tak percaya.
"Lu lagi nyogok gue ya? Biar gue rela lu nikahin?" Tanya Kimmy.
"Enggak, lu gak mau juga gak apa-apa. Nanti gue paksa kok. Jadi, ngapain gue nyogok elu. Berapapun yang gue keluarin buat belanjain elu mah gak ada artinya. Elu lebih mahal dari segalanya," Ucap Athar.
Deggggg...!
Jantung Kimmy berdegup kencang, ia benar-benar terkesan dengan ucapan Athar.
"Yuk masuk," Ucap Athar sambil membukakan pintu mobilnya untuk Kimmy.
__ADS_1
Dengan ragu, Kimmy beranjak masuk kedalam mobil Athar. Lalu, Kimmy menatap Athar yang memutari mobilnya.
"Ya Allah... apa ini cinta?" Gumamnya.