Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
107# Desember penuh cinta


__ADS_3

Queen mengemasi barang-barang yang akan ia bawa ke Korea. Tidak lupa ia membawa beberapa jaket tebal yang ia butuhkan untuk beberapa hari di sana. Queen duduk di tepi ranjangnya dan menghela nafasnya dalam-dalam.


Kedua matanya terlihat sembab, air matanya tampak sudah mengering di sana. Ia sudah tak mampu lagi menangis, Queen pasrah bila ia akan sendiri selamanya. Setidaknya, ia bisa menikmati hidup tanpa terikat hubungan dengan lelaki manapun.


Semalam, Queen mendatangi kamar Athar. Sudah lama ia tidak mendatangi kamar adik yang sangat ia kasihi itu. Sejak Athar tumbuh dewasa, Queen sudah mulai jarang mendatangi kamar Athar. Selain menjaga privasi adik nya, Queen juga merasa enggan bila melihat adiknya yang suka bertelanjang dada bila berada di kamar.


Queen mengetuk pintu kamar Athar dan menunggu Athar mengizinkan dirinya untuk masuk. Setelah Athar membuka daun pintu kamarnya, Queen tersenyum tulus dengan adik nya itu.


"Kakak? Ada apa kak?" Tanya Athar.


"Boleh Kakak masuk?" Tanya Queen yang tampak habis menangis.


Melihat sesuatu yang serius di wajah Queen, Athar pun mempersilahkan Queen untuk masuk ke ruangan pribadi dirinya.


"Kakak baik-baik saja?" Tanya Athar yang tampak khawatir.


"Ya," Sahut Queen singkat sambil duduk di tepi ranjang Athar.


Athar menarik kursi belajar nya dan duduk dihadapan Queen.


"Kakak habis nangis?" Tanya Athar penasaran.


Queen tersenyum simpul, lalu ia menghela nafas panjang.


"Thar, kakak cuma mau bilang, bila kamu mau menikah, menikah lah dahulu. Tidak usah menunggu kakak ya," Ucap Queen dengan ujung suara yang tercekat.


"Kakak kenapa sama Bang Ricky?" Tanya Athar penasaran. Athar sudah mengenal Ricky dan beberapa kali mereka double date dengan Queen dan Ricky.


"Tidak ada apa-apa, kakak tidak cocok saja dengan dia," Ucap Queen.


Queen memang sangat kecewa dengan Ricky. Bagaimana tidak, saat ia merasa lelah, ia bertemu dengan Ricky. Harapan untuk dapat menikah kembali muncul saat pertemuan nya dengan Ricky yang begitu meyakinkan. Ditambah dengan Ricky yang terlihat baik dan sangat berharap untuk dapat menikahi Queen.


Queen menjadi yakin, bila Ricky adalah jodoh yang Tuhan kirim untuknya, walaupun Queen sempat merasa ragu dengan Ricky. Tetapi, siapa sangka, Tuhan menuntun Queen kepada kebenaran dan kenyataan siapa Ricky sebenarnya. Keraguan Queen terjawab sudah. Ricky hanya memanfaatkan gadis lugu seperti dirinya untuk terjebak dalam pernikahan yang akan membuat Queen menderita.


Meskipun begitu, Queen tidak ingin mengungkap aib Ricky. Bagi Queen, menutup aib seseorang adalah pilihan yang tepat. Tidak ada manfaatnya untuk mengumbar aib orang lain. Cukuplah sampai di dirinya saja, karena menutup aib orang lain, sama saja ia sedang menutup aib nya sendiri.

__ADS_1


"Serius kakak tidak apa-apa?" Tanya Athar yang masih penasaran.


"Tidak apa-apa Thar. Kalau kamu ingin melangkahi kakak, kakak ridho kok Thar. Dari pada hubungan kalian terkatung-katung hanya karena menunggu kakak menikah. Untuk mencari orang yang tepat itu sulit Athar. Bila kamu sudah mendapatkan orang yang tepat, nikahilah dia segera. Menikah juga menghindari zina bukan?"


Athar tertunduk lesu, ia menggenggam kedua tangan kakak satu Ibu dengan dirinya itu.


"Kak, kalau ada apa-apa ngomong sama Athar ya, Athar siap untuk membela kakak. Kakak orang baik," Ucap Athar.


"Pasti, kakak pasti akan mengadu sama kamu bila ada yang menyakiti kakak. Kan kamu adiknya kakak," Ucap Queen sambil tersenyum manis.


Athar beranjak dan memeluk Queen dengan erat. Lalu, ia mengecup pipi Queen dengan tulus. Entah bagaimana ia mengungkapkan rasa terima kasih dan rasa sayang nya kepada Queen yang begitu berharga bagi dirinya.


Walaupun berbeda Ayah, Athar sangat mencintai Queen dan menganggap Queen adalah kakak kandungnya. Walau bin dan binti mereka berbeda, Athar tetap merasa Queen adalah segalanya.


Queen pun begitu, walaupun ia memiliki kakak yang bernama Siska, anak dari Ayah Gunawan, tetapi Queen lebih dekat dengan adiknya, Athar. Mereka tumbuh di atap yang sama, satu didikan yang sama, yaitu didikan Bunda Farah.


Walaupun dulu Queen sempat merasa iri dengan Athar, saat dimasa kecil. Karena Ayah Fajar yang membeda-bedakan dirinya dan Athar, sehingga Queen merasa terisingkir kan.Tetapi, Bunda Farah berhasil mengubah pola pikir Queen.


"Kalian bersaudara, kelak kalian akan saling membutuhkan. Tumbuhlah dengan cinta, saudara itu adalah tempat berpulang. Saudara adalah orang pertama yang menerima kita saat dunia tidak berpihak kepada kita," Begitulah pesan Bunda Farah kepada Queen yang dulu sempat tidak menyukai Athar.


Beruntung Queen dapat meminta tolong pada warga sekitar, sehingga Athar bisa di selamat kan. Athar yang sudah tidak berdaya, terkapar di pinggir jalan. Satu kata yang membuat Queen tersentuh...


"Athar tidak apa-apa, walaupun Athar kehilangan nyawa, Athar rela. Asalkan kakak tidak dilecehkan oleh para preman itu. Asalkan kakak selamat. Athar siap membela kakak, sampai kapan pun,"


Queen menangis di ranjang rumah sakit tempat Athar terbaring lemas. Ia meminta maaf keada Athar, karena selama ini dirinya selalu bersikap dingin dengan Athar. Sejak saat itu, cinta pun semakin tumbuh di hati Queen. Hingga kini, ia sangat mencintai adik satu-satunya itu. Baginya kini Athar adalah yang tersayang dan yang terbaik dihatinya.


Queen memasukan potongan pakaian terakhir kedalam kopernya. Lalu, ia beranjak tidur, agar tubuh nya fit saat menempuh perjalanan ke Korea.


Saat pagi menjelang, keluarga itu pun sibuk mempersiapkan liburan mereka. Queen berangkat ke Korea, sedangkan Athar dan kedua orang tua mereka akan mengikuti liburan bersama dengan keluarga Kimmy.


Bulan Desember, bulan dimana liburan tiba. Untuk menyambut tahun baru yang begitu meriah. Walaupun tidak bisa berlibur bersama, mereka tetap saling mendoakan keselamatan orang-orang yang mereka cintai.


Queen beranjak masuk ke badan pesawat, ia bersama Tika, sahabatnya. Mencari bangku yang sesuai dengan yang tercetak di boarding pass mereka. Setelah mendapatkan bangku, mereka berdua pun duduk berdampingan. Queen langsung memejamkan kedua matanya. Perjalanan selama 7 jam akan ia lalui agar sampai di Seoul, Ibukota negara itu.


"Queen," Tika mengguncang bahu Queen yang mulai terlelap.

__ADS_1


"Ha...?" Queen kembali membuka matanya.


"Malah molor lu ! Foto-foto dulu Queen. Lu patah hati boleh. Tapi, semangat hidup untuk selfie dan pamer di medsos jangan pernah padam dong!" Ucap Tika dengan gaya bicara Betawi yang kental.


"Ah, iya..." Ucap Queen.


Queen menatap ke kamera ponsel Tika, lalu ia mencoba untuk tersenyum. Setelah mereka mengambil beberapa foto, Queen pun meraih ponsel milik tika dan melihat hasil foto yang baru saja mereka ambil. Tiba-tiba matanya membulat saat melihat seseorang ikut tersenyum di dalam foto tersebut. Dengan cepat Queen menoleh ke sampingnya.


"Astaga!" Queen menatap lelaki yang duduk di samping dirinya tersebut.


"Hai, jumpa lagi," Ucap Raka sambil tersenyum manis menatap Queen.


"Raka?" Queen tampak terkejut dan menatap lelaki itu dengan tatapan yang tak percaya.


"Bagaimana bisa?" Tanya Queen sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Mungkin jodoh," Ucap Raka sambil tersenyum manis.


"Lu kenal sama Abang ganteng itu?" Bisik Tika yang terpesona dengan wajah Raka.


Queen mengangguk dengan ragu, untuk menjawab pertanyaan dari Tika.


"Kok bisa sih?" Tanya Queen penasaran.


"Aku gak tahu, aku sudah memesan tiket dari jauh-jauh hari," Ucap Raka dengan wajah yang polos.


"Astaga....." Queen mengusap wajah nya dan tersenyum tak percaya kepada Raka.


Raka hanya tersenyum membalas senyuman Queen. Raka sendiri merasa beruntung bisa duduk di samping Queen selama perjalanan 7 jam yang membosankan.


"Boleh aku bergabung dengan kalian untuk berlibur bersama?" Tanya Raka.


"Boleh banget Bang!" Sahut Tika. Sedangkan Queen membesarkan bola matanya dan menatap Tika dengan tak percaya.


"Ok, Terima kasih," Ucap Raka sambil tersenyum puas.

__ADS_1


Queen melirik Raka dan tersenyum canggung.


__ADS_2