
Kimmy mencoba menenangkan Farhan yang menangis tersedu-sedu saat jenazah Om Fathur dimakamkan. Sedangkan Athar hanya berdiri termenung dan ikut mendo'akan lelaki yang ia kenal sebagai sahabat dari orangtuanya.
Satu persatu para pelayat yang ikut mengantar Om Fathur ke peristirahatan terakhirnya pun mulai membubarkan diri. Kini, yang tersisa hanya pihak keluarga Om Fathur, keluarga Tante Rara dan para sahabatnya.
Tante Rara memeluk batu nisan yang bertuliskan nama lelaki yang sudah mendampingi dirinya hampir 30 tahun lamanya itu.
"Fat, kamu kok meninggalkan aku sih Fat.." Ucap Tante Rara sambil terus menangis.
Langit sudah mulai gelap, mau tidak mau, Tante Rara harus menuruti bujukan para sahabatnya dan keluarga untuk meninggalkan komplek pemakaman itu.
Tante Rara, Mama Nia, Bunda Farah dan beberapa orang keluarga berada di mobil yang sama. Sedangkan yang lain nya, berada di mobil mereka masing-masing.
Mama Nia dan Bunda Farah sengaja ikut dengan mobil Tante Rara. Mereka berinisiatif untuk tetap menemani Tante Rara melewati masa duka nya.
Sesampainya dirumah, Tante Rara beristirahat di kursi malas dan memeluk foto Om Fathur di dadanya.
Sedangkan Mama Nia dan Bunda Farah terus berusaha membujuk Tante Rara untuk makan dan memijat kaki wanita paruh baya itu.
"Ra, makan ya," Ucap Mama Nia sambil menyendokkan nasi dan lauk untuk Tante Rara.
Tante Rara hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menangis. Sedangkan Farhan duduk di samping Kimmy yang merangkul Farhan yang terlihat linglung dan bersedih. Sedangkan Athar sendiri, ikut duduk bergabung dengan para Bapak-bapak yang berada di ruang tamu.
"Ini semua gara-gara anak si Naya !" Ucap Tante Rara penuh dengan amarah.
"Istighfar Ra, sebenarnya ada apa?" Tanya Bunda Farah.
"Dia datang ke Villa dan mengatakan hal-hal yang membuat Fathur kambuh penyakit jantung nya Far ! Anak itu memang anak sial !" Ucap Rara.
"Ra... lu ngomong apa sih? Sebenarnya apa yang dikatakan Vania?" Tanya Bunda Farah.
"Adalah, dia ngomong sembarangan pokok nya. Fitnah-fitnah anak gue sembarangan."
__ADS_1
"Contohnya?" Tanya Mama Nia.
Tante Rara terdiam, ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Mama Nia yang ia anggap sebagai calon besannya.
"Ada Nia, dia pokoknya berkata gak baik. Tampak nya dia hanya ke ge'eran dan mengaku-ngaku saja," Ucap Tante Rara.
"Ngaku-ngaku apa?" Tanya Mama Nia lagi.
"Ngaku-ngaku itu.. apa.... ah.. pokoknya dia menjatuhkan nama baik gue dan keluarga gue," Ucap Tante Rara.
"Kenapa Vania begitu ya? Hmmmm, ngomong-ngomong, si Naya dan keluarganya gak kesini? Apa sebenarnya kalian ada masalah?" Tanya Bunda Farah.
Tante Rara menelan saliva nya dan menatap Bunda Farah dengan seksama.
"Baguslah dia gak kesini ! Kalau kesini gue akan maki-maki dia ! Gue akan suruh dia didik ucapan anak nya yang murahan itu !" Ucap Tante Rara dengan wajah yang begitu emosi.
"Ra..."
"Sudah Far, gue males ngomongin dia !" Ucap Tante Rara.
"Apaan Nia?"
"Lu baca aja," Ucap Mama Nia.
Bunda Farah meraih ponsel itu dan membaca pesan yang berada di grup alumni.
"Naya masuk rumah sakit?" Ucap Bunda Farah.
"Paling dia masuk rumah sakit gara-gara ucapan anak sial itu!" Ucap Tante Rara sambil tersenyum.
Mama Nia dan Bunda Farah saling bertatapan. Mama Nia sedikit bingung dengan sikap Tante Rara yang begitu berubah. Tetapi, tidak dengan Bunda Farah. Bunda Farah mengerti mengapa Tante Rara seperti itu. Selama ini, Tante Rara sering berbicara tentang rumah tangganya dan juga rasa kecewanya kepada sahabat dan calon suaminya yang telah mengkhianati dirinya.
__ADS_1
Bahkan, setelah Tante Rara menyadari ia tidak mencintai Om Fathur dan masih merasakan kecewa kepada Om Andreas, juga Tante Naya. Tante Rara diam-diam harus menjalani konsultasi kejiwaan dengan Psikolog atas rekomendasi Bunda Farah. Karena konsultasi dan terapi yang berhasil itulah Tante Rara dapat lebih baik dan bisa mencintai Om Fathur seutuhnya.
Tetapi, balik lagi ke point dasar manusia. Bisa memaafkan, tetapi tidak bisa melupakan. Melupakan itu butuh keikhlasan yang luar biasa. Tidak banyak orang yang mampu menjalani kata "Ikhlas" itu sendiri.
"Eh, gue keruang tamu dulu ya, mau ngasih makanan ringan ini untuk Bapak-bapak," Ucap Mama Nia.
"Iya Nia, terima kasih ya Nia, lu mau bantuin gue disini," Ucap Tante Rara sambil berusaha tersenyum.
"Tenang aja Ra, itulah gunanya sahabat," Ucap Mama Nia.
Setelah Mama Nia meninggalkan ruangan itu, Bunda Farah pun mulai penasaran. Lalu, ia mencoba bertanya kepada Tante Rara, apa yang sebenarnya terjadi.
"Ra, sebenarnya apa yang dikatakan Vania?" Ucap Bunda Farah dengan setengah berbisik.
Tante Rara yang sangat mempercayai Bunda Farah, menatap sahabatnya itu dengan seksama. Lalu, ia menghela nafas dalam-dalam.
"Lu janji, jangan bilang sama si Nia?" Ucap Tante Rara.
"I-iya Ra." Bunda Farah mengangguk dengan ragu.
"Dia fitnah anak gue. Dia bilang kalau selama tiga tahun ini dia sama Farhan berpacaran dan sudah melakukan hubungan intim. Padahal, gak mungkin lah....! Anak gue baik-baik begitu kok. Jadi dia datang ke Villa dan memaki-maki gue sama laki gue. Terus berkata seperti itu, yang minta tanggung jawab lah, Farhan begini lah begitu lah. Laki gue jadi kaget dan dia meninggal Far ! Tega banget kan...." Ucap Tante Rara sambil terisak.
Bunda Farah menghela nafasnya, ia melirik Farhan yang sedang duduk bersama Kimmy di ruang keluarga.
"Sebejat-bejatnya wanita, pasti tidak akan merendahkan dirinya dengan pengakuan palsu. Apa mungkin Farhan yang membohongi Mamanya sendiri ya?" Batin Bunda Farah sambil terus menatap Farhan.
"Ra, apa lu sudah bertanya kebenaran nya dengan Farhan?" Tanya Bunda Farah.
"Ya sudah lah Far ! Farhan bilang, Vania yang mengejar-ngejar dirinya dan dia menolak Vania. Selama ini kan, Farhan hanya dengan Kimmy. Lu tahu sendiri, anak gue gak pernah macem-macem orang nya. Dia selalu setia sama Kimmy. Gue lebih percaya dengan anak gue lah dari pada anak dari penghianat itu !" Ucap Tante Rara.
Bunda Farah terdiam, melihat Tante Rara yang terlalu menyanjung anak nya, Farhan. Membuat Bunda Farah semakin mencurigai Farhan dan mulai mempertimbangkan ucapan Vania yang begitu berani menjatuhkan harga dirinya sendiri di depan orang tua Farhan.
__ADS_1
"Gue harus cari tahu ini... Kasihan Kimmy bila terus bersama Farhan. Gue paham, Kimmy juga sama dengan Rara, mengira Farhan sebaik itu. Gue sih berharap Farhan memang orang baik. Tetapi, gue juga gak bisa bila Kimmy mempertahankan Farhan dan tidak jadi menikah dengan anak gue, si Athar. Apa gue cari kenyataan nya dan memberi tahu Kimmy yang sebenarnya ya? Tapi... ah... apa gue harus nemuin si Vania dan orang tuanya?" Batin Bunda Farah.
"Ya Allah... aku ingin Kimmy menjadi satu-satunya untuk Athar. Aku mohon berikan lah kemudahan." Do'a Bunda Farah di dalam hatinya.