
Beberapa bulan kemudian,
Tok! Tok! Tok!
Queen yang sedang berada di kamarnya, beranjak dengan malas menuju ke pintu kamarnya. Lalu, ia membukakan pintu itu untuk melihat siapa yang telah mengetuk daun pintu kamarnya.
Dari balik pintu, ia melihat Bunda Farah yang tersenyum kepada dirinya.
"Bunda," Ucap Queen sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
"Bunda mau bicara, boleh Bunda masuk?"
Queen mengangguk dan mempersilahkan Bunda Farah untuk masuk ke kamarnya. Bunda Farah tersenyum dan menatap ke sekeliling kamar Queen.
Kamar itu terlihat rapi walaupun Queen termasuk sibuk dengan pekerjaannya. Tetapi, Queen masih menyempatkan diri untuk membersihkan dan menata ruang pribadinya itu.
Bunda Farah duduk di sofa kamar Queen dan menatap anak yang telah ia lahir kan lebih dari 30 tahun yang lalu. Gadis kecil yang dulu kerap bermanja-manja kepada dirinya, kini sudah tumbuh dewasa dan sudah layak untuk menikah. Sayangnya, nasib Queen tidak seberuntung teman-teman nya yang sudah menikah di usia 24 sampai dengan 28 tahun. Queen yang sudah menyentuh usia kepala 3, belum juga melepas masa lajangnya.
Bunda Farah memang tidak terlalu menuntut dan pusing memikirkan mengapa Queen masih betah sendiri. Bunda Farah tahu betul, bila Queen memang belum bertemu orang yang tepat. Sayangnya, omongan banyak orang terlalu mengintimidasi anak gadisnya itu. Tidak hanya orang lain, bahkan keluarga sendiri pun lebih tajam mengkritik Queen yang masih sendiri.
Terlebih, sebentar lagi Queen akan dilangkahi oleh Athar yang akan segera menikah dengan Kimmy. Hal itu tentu saja membuat omongan banyak orang lebih mengganggu dan Bunda Farah mengerti apa yang sedang Queen rasakan saat ini.
Walaupun Queen terlihat santai dan tidak ambil pusing, Bunda Farah dapat membaca di sorot mata Queen yang terlihat teduh, bila gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu sedang apa nak?" Tanya Bunda Farah.
"Sedang membaca laporan dari manager hotel Bun," Sahut Queen sambil beranjak duduk disamping Bundanya.
__ADS_1
Bunda Farah menatap Queen dengan tatapan yang penuh kasih. Iya mengusap rambut yang terjatuh di dahi Queen dengan lembut dan kemudian ia pun mengusap pipi anak gadisnya itu.
"Beberapa minggu lagi, Athar akan menikah. Kamu tidak apa-apa Queen?"
Queen tersenyum tipis, ia menatap Bunda Farah dengan seksama. Lalu, ia menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Tidak apa-apa Bunda,"
"Kamu yakin?" Tanya Bunda Farah lagi.
Queen mengangguk dengan cepat dan tersenyum lebih lebar lagi.
"Maafkan Athar ya Queen," Ucap Bunda Farah dengan wajah yang merasa tidak enak dengan Queen, karena keputusan nya yang menikahkan Athar terlebih dahulu dari pada Queen.
"Tidak apa-apa Bunda. Bila memang jodoh Athar lebih cepat, Queen bisa apa? Itu sudah jadi kehendak Allah Bun. Lagi pula, berdosa bila kita menahan mereka untuk tidak menikah. Sedangkan mereka sudah siap secara mental dan ekonomi. Dari pada nanti mereka akhirnya terkatung-katung hanya menunggu Queen menikah terlebih dahulu, Queen akan merasa bersalah Bun. Sedangkan Queen sendiri.........."
"Queen sendiri tidak tahu, kapan akan bertemu dengan jodoh Queen Bun," Ucap Queen dengan ujung suara yang tercekat.
Bunda Farah menghela nafas panjang, lalu ia menghembuskan nafasnya di iringi rasa yang bersalah.
"Kamu tahu gak?"
"Apa Bun?"
"Dulu, sejak Bunda tahu Bunda hamil kamu, Bunda sempat merasa bingung. Tetapi, jauh dilubuk hati Bunda, Bunda sangat bahagia." Farah tersenyum sambil menatap wajah cantik Queen. Sedangkan Queen membalas senyuman Farah dan menggenggam tangan Bunda Farah.
"Bunda, menjalankan kehamilan Bunda sendirian. Bahkan, saat kamu akan lahir, Bunda pun berjuang sendirian. Menyetir mobil dan pergi kerumah sakit sendirian."
__ADS_1
Queen terdiam mendengar cerita Bunda Farah.
"Bunda tidak menyalahkan Ayah mu, tetapi, kehadiran mu benar-benar bunda inginkan. Maka, Bunda berjuang untuk yang terbaik bagi kita."
Queen terdiam membisu mendengar cerita Bunda Farah dengan seksama.
"Saat itu, air ketuban mu sudah pecah. dari lantai atas, Bunda turun ke parkiran, membawa segala kebutuhan kita dan membawanya ke dalam mobil. Saat itu, keadaan jalan Ibukota begitu macet dan perut Bunda semakin mulas. Karena tidak tahan, akhirnya Bunda menepikan mobil Bunda dan mencoba untuk melahirkan sendirian."
Air mata mengembang di pelupuk mata Queen. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak kuasa membayangkan perjuangan Bunda Farah untuk membawa dirinya ke dunia.
"Akhirnya, kamu lahir. Tangisan pertama mu begitu membuat Bunda merasa bahagia. Kamu Bunda sambut dengan tangan Bunda sendiri. Bunda menimang mu dan membalut tubuhmu dengan kain seadanya."
"Setelah itu, barulah Bunda meminta pertolongan orang, untuk mengantarkan Bunda kerumah sakit. Sejak kehadiran mu, hidup Bunda berubah. Hidup Bunda semakin bahagia dan terarah. Sejak kamu lahir, Bunda tahu, kamu adalah anak yang kuat. Sehingga kamu mampu menguatkan Bunda saat itu."
Air mata mengalir di sudut mata Bunda Farah. Queen pun menatap Bunda Farah dan mengusap air mata di pipi Bundanya itu. Lalu, ia memeluk Bunda Farah dengan erat.
"Bunda cuma mau bilang, Bunda beruntung memiliki kamu Queen. Kamu anak yang hebat, dewasa, cerdas, baik dan cantik. Bunda Bangga, memiliki kamu yang mempunyai hati yang bersih."
Queen menangis dalam diam nya, ia terus memeluk Bunda Farah dengan erat.
"Queen, Bunda selalu mendoakan kamu, agar kamu cepat bertemu dengan orang yang terbaik. Jangan dengarkan ucapan orang yang menyakiti kamu. Anggaplah, ucapan itu adalah acuan untuk kamu lebih kuat dan lebih hebat lagi ya nak," Ucap Bunda Farah.
"Iya Bun," Sahut Queen sambil mengusap air matanya. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Bunda Farah dengan haru.
"Queen juga ingin menyampaikan kepada Bunda, bila Queen beruntung memiliki Bunda. Bunda adalah wanita yang hebat dan kuat. Queen begini, karena Queen terlahir dari rahim wanita yang luar biasa. Tanpa Bunda, mungkin Queen tidak akan tumbuh menjadi orang yang kuat. Bunda adalah segalanya bagi Queen. Ayah Andra dan Athar juga segalanya bagi Queen. Percayalah Bunda, Queen kuat dan baik-baik saja," Ucap Queen.
Bunda Farah menangis haru, ia terisak dan memeluk Queen dengan erat. Kedua Ibu dan anak itu menangis haru, berpelukan untuk saling menguatkan. Mencoba mengikhlaskan dan menikmati keadaan.
__ADS_1
Queen benar, dia hebat karena terlahir dari rahim wanita yang hebat. Bunda Farah adalah wanita yang hebat dan tulus. Dan Bunda Farah benar, Queen adalah sumber kekuatan nya saat dunia tidak berpihak kepadanya. Kini, mereka adalah dua wanita yang hebat dan saling menguatkan.