
Queen, gadis cantik yang berusia hampir 30 tahun. Kakak dari Athar itu, berjalan-jalan disebuah Mall. Queen yang berniat liburan keluar negeri, mencari beberapa keperluan yang ia butuhkan selama dua minggu di luar negeri.
Entah mengapa, akhir-akhir ini Queen merasa jenuh. Mungkin karena ia merasa mulai bosan hidup sendiri. Untuk menikah, ia masih belum yakin. Tiba-tiba saja, sahabatnya yang bernama Tika, menghubungi dirinya dan mengajaknya untuk melihat salju di Korea Selatan. Awalnya Queen menolak. Tetapi, karena Tika juga bepergian sendirian, maka Queen pun tergoda.
Bepergian dengan Tika cukup seru, Queen dan Tika sudah bersahabat sejak Queen duduk di bangku SMP. Sejak kuliah, mereka sudah terbiasa untuk pergi berlibur berdua, kemana saja. Lagi pula, bepergian dengan Tika sangat menghemat pengeluaran. Saat diluar negeri yang membutuhkan pengeluaran yang besar, mereka bisa berbagi tagihan hotel dan lain-lain.
"Duh kebelet pipis," Gumam Queen.
Gadis itu pun bergegas ke toilet yang berada di Mall tersebut.
Setelah menuntaskan hajat nya, Queen mencuci tangan dan menambahkan lipstik di bibirnya yang sudah sedikit terhapus karena ia habis makan siang di sebuah restoran di Mall itu. Setelah meyakinkan penampilan dirinya sempurna, Queen pun beranjak keluar dari toilet umum Mall itu.
Saat ia keluar dari toilet, ia terkejut saat melihat Antoni, mantan tunangan nya yang sudah berdiri menunggu dirinya di depan pintu toilet itu.
Wajah terkejut tidak bisa Queen hindari. Lelaki itu menatap Queen dengan tatapan yang sendu.
"Queen," Sapa Antoni.
"Antoni?" Ucap Queen yang berusaha biasa saja.
"Apa kabar?" Tanya Antoni.
"Ba-ba-baik," Ucap Queen sambil tersenyum kecil.
"Queen aku rindu," Ucap Antoni dengan mata yang memang terlihat menahan kerinduan yang sangat luar biasa.
Queen terdiam, ia benar-benar merasa luka lama kembali muncul di benaknya.
"Queen kamu sendirian?" Tanya Antoni sambil mendekati Queen.
"A-aku..." Queen tercekat, kini Antoni sudah berdiri di hadapan nya begitu dekat.
"Ke-kemana anak istri mu?". Tanya Queen.
Antoni tertunduk lesu, ia tidak berani menatap mata Queen saat gadis itu bertanya tentang keluarganya.
"Queen, aku minta maaf. Pernikahan itu tidak aku inginkan. Ini semua gara-gara orang tua ku yang terlalu mengatur ku. Sebenarnya aku tidak berniat dan ingin menunggu kamu sampai Athar sembuh. Tetapi, orang tuaku tidak sabar. Ia langsung menjodohkan aku dengan Tasya," Ucap Antoni.
__ADS_1
Queen menghela nafas panjang, lalu ia menatap wajah lelaki yang sudah cukup lama tidak ia lihat.
"Apa pun itu, kamu sudah menjadi suami nya."
Antoni menatap kedua mata Queen.
"Queen, apa kamu masih mencintai aku?" Tanya Antoni.
Queen kembali menghela nafasnya dan membuang pandangannya.
"Aku sibuk, aku pergi dulu ya," Ucap Queen sambil berlalu dari hadapan Antoni.
"Queen!" Antoni menahan Queen dengan memegang tangan gadis itu dengan erat.
Queen menoleh dan menatap tangan Antoni yang sedang menahan tangan kanan nya.
"Antoni, sudahlah....." Ucap Queen dengan wajah yang sangat memohon.
"Aku tidak bisa melupakan kamu Queen, aku hampir gila karena ini semua," Ucap Antoni tak kalah memohon.
Queen tertawa kecil, lalu ia menundukkan wajahnya dan melepaskan tangan nya dari tangan Antoni.
Antoni mulai menangis, ia terus menahan Queen dan mengucapkan segala permohonan maaf untuk meyakinkan Queen.
"Antoni cukup!" Ucap Queen.
Semua mata menatap mereka berdua. Queen mulai merasa malu, karena telah menjadi pusat perhatian para pengunjung di Mall tersebut.
"Ada apa ini?" Ucap seorang lelaki yang memberanikan diri untuk ikut campur dengan drama yang diciptakan Antoni di Mall tersebut.
"Ti-tidak apa-apa Mas.." Ucap Queen sambil melepaskan tangannya kembali dari cengkeraman tangan Antoni.
"Dia siapa?" Tanya lelaki yang bertubuh atletis itu.
"Bu-bu-bukan siapa-siapa," Ucap Queen dengan terbata-bata.
"Dia siapa Queen?" Tanya Antoni dengan dada yang sesak.
__ADS_1
"Aku Raka, tunangan Queen," Ucap lelaki itu.
Sontak saja, Queen terperangah dan menatap lelaki yang tidak ia kenal itu.
"Tu-tunangan?" Tanya Antoni dengan wajah yang terkejut.
"Iya saya tunangan Queen, mohon jangan ganggu tunangan saya." Tegas Raka, lelaki tampan yang terlihat sangat peduli dengan masalah yang sedang Queen hadapi.
"Be-benarkah begitu Queen?" Tanya Antoni.
Queen menatap Antoni, lalu ia menatap Raka dengan seksama.
"Duh, gue males di uber-uber sama Antoni. Ya sudahlah, gue akuin aja ini orang jadi tunangan gue," Gumam Queen.
"Iya dia tunangan ku, aku sudah move on Antoni. Perpisahan kita mengantarkan aku ke hati yang lebih baik dan sabar. Jadi, mulai saat ini, jangan pernah ganggu aku lagi," Ucap Queen sambil menggandeng tangan Raka dan mengajak lelaki itu untuk pergi dari hadapan Antoni.
Antoni terdiam membisu, matanya memerah dan tubuhnya terasa kaku. Penyesalan karena tidak mau menunggu 6 bulan saja membuat Antoni sungguh merasa terguncang.
Apa yang dikatakan Antoni tidak ada sandiwara sama sekali. Ia masih mencintai Queen dan belum bisa melupakan gadis itu. Ia sama sekali tidak mencintai istrinya, bahkan ia bertemu istrinya pun saat akad nikah dilangsungkan. Walaupun kini ia sudah memiliki seorang anak dengan istrinya, tetapi rasa cinta itu tak kunjung hinggap dihatinya.
Antoni tersandar di dinding Mall itu. Ia mengusap wajahnya dengan gusar. Ia menahan pedih dihatinya. Andaikan orang tua nya mau mendengarkan apa yang ia inginkan dan tidak mengatur kehidupannya, mungkin saat ini ia sudah bahagia dengan Queen.
Pasalnya, sebagai anak satu-satunya dan sudah berusia matang saat itu, orang tua nya terus mendesak agar ia segera menikah. Walaupun ia sudah mengatakan bila Queen hanya meminta waktu 6 bulan lagi saja, tetapi hal itu tidak di tanggapi oleh orang tuanya. Terutama Ibunya yang merasa Queen hanya mempermainkan anaknya dengan menunda-nunda pernikahan.
Antoni menghela nafasnya, lalu ia berjalan dengan gontai. Antoni kembali ke toko buku, untuk menemui anak dan istrinya yang sudah menunggu dirinya disana. Antoni kini hanya menjadi robot dalam aturan orang tuanya.
Kehidupan yang kaku dan penuh aturan sudah ia jalani sejak dirinya masih kecil. Toleransi tidak berlaku didalam keluarga nya. Jangankan toleransi, mendengarkan pendapat dirinya pun tidak. Antoni merasa menjadi boneka kedua orangtuanya. Tetapi, untuk memberontak, ia tidak kuasa. Karena rasa sayang kepada kedua orang tuanya, membuat Antoni terpaksa harus berbakti.
Antoni sebenarnya adalah lelaki yang baik. Hanya saja, menjadi anak satu-satunya dengan orang tua yang otoriter membuat dirinya merasa tertekan. Dengan Queen lah hidup nya terasa lebih berwarna. Tetapi, gadis itu kini menolak dirinya, karena statusnya yang sudah tak lagi sendiri.
Queen sudah mengambil keputusan yang tepat. Walaupun Queen masih mencintai Antoni, rasa itu harus Queen lupakan untuk selama-lamanya. Ia tidak mau di tuduh atau menjadi penyebab rusaknya rumah tangga orang lain.
Sekian tahun memiliki hubungan dengan Antoni, bukan hal yang mudah untuk melupakan lelaki baik itu. Tetapi, untuk tergoda dengan lelaki itu lagi, itu bukan pilihan yang cerdas. Queen masih punya kehidupan yang lebih baik tanpa harus merusak rumah tangga orang lain.
Queen belajar dari pengalaman Bunda Farah. Benar atau salah, posisi wanita tetap menjadi yang bersalah. Queen cukup sudah berakal saat drama kedua orang tuanya terjadi pada malam istri Ayah Gunawan datang kerumahnya dan mengetahui dirinya adalah anak kandung Ayah Gunawan. Walaupun awalnya datang bukan karena masalah Bunda Farah, melainkan masalah Riska yang terlibat pengeroyokan atas Bobby, sepupunya.
Tetapi, kejadian yang tidak terduga itu, cukup membekas di hati Queen. Saat itulah ia tahu, bila Bunda nya adalah orang ketiga didalam rumah tangga Ayah Gunawan.
__ADS_1
Queen cukup bijak menanggapi kejadian itu, semua orang pernah salah. Tetapi, minimal ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Cukup dirinya saja yang menjadi bahan bullying di sekolah, karena kesalahan kedua orang tuanya.
"Tidak untuk anak nya kelak."