
Ban sepeda motor Athar melibas jalan yang terlihat masih ramai pada malam ini. Klakson mobil bersahutan dari beberapa kendaraan yang tak sabar dengan kendaraan di depannya. Athar terlihat fokus dengan jalanan, tetapi pikirannya risau tentang Farhan dan Kimmy. Athar tidak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan Kimmy. Maka, ia hanya bisa memperingati Farhan, untuk jangan melukai hati Kimmy.
Mau marah pun percuma, hal itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Farhan dan Kimmy. Kenapa harus marah? Memang punya hubungan apa dengan Kimmy? Hanya sahabat kan? Bukan pacar? Lagi pula, apa Kimmy mau menerima Athar? Tidak. Yang ada, Kimmy mendiami Athar tanpa bicara selama satu tahun ini.
Sulit berada di posisi Athar yang melibatkan perasaan dalam suatu hubungan persahabatan. Bahkan, mereka berhubungan baik sebagai saudara.
Athar memarkirkan sepeda motornya di halaman rumahnya. Ayah Andra yang sedang duduk di beranda rumah, menatap Athar yang tampak galau.
"Assalamualaikum," Ucap Athar sambil mencium tangan Ayah Andra yang sudah seperti Ayah kandungnya sendiri.
"Waalaikumsalam, dari mana kamu Thar?" Tanya Ayah Andra.
"Dari rumah Kimmy Yah."
"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" Tanya Ayah Andra lagi.
Athar mengangkat wajahnya dan tersenyum kepada Ayah Andra.
"Sini duduk dekat Ayah,"
Athar terlihat sedikit sungkan, tetapi Athar adalah anak penurut. Ia beranjak duduk disebelah Ayah tirinya itu.
"Ada masalah apa? Kok wajah anak Ayah murung begitu?" Tanya Ayah Andra.
Athar memang anak yang beruntung. Ayah Andra begitu perhatian kepada dirinya yang sama sekali tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang Ayah setelah Bunda Farah berpisah dengan Ayah Fajar, Ayah kandung Athar.
Sedangkan Queen, kakak Athar, masih termasuk anak yang beruntung. Karena, walaupun Bunda Farah tidak pernah menikah dengan Ayah Gunawan, tetapi Ayah Gunawan masih ada untuk Queen. Masih berperan sebagai Ayah untuk Queen. Membiayai kuliah, memberi perhatian, memberi uang saku dan lain sebagainya.
Sedangkan Athar?
Ayah Fajar lepas tanggung jawab, termasuk keluarga besar Ayah Fajar. Jangankan biaya, perhatian pun tidak ada. Kehidupan Athar dari kecil, pure hanya tergantung dengan Bunda Farah dan Ayah Andra.
Ayah Andra yang tidak bisa mempunyai seorang anak, bagaikan pahlawan tanpa tanda jasa bagi Athar. Pahlawan bagi Bunda Farah juga. Lelaki berusia empat puluh dua tahun itu, lelaki yang benar-benar penuh cinta dan bertanggung jawab untuk Bunda Farah dan anak-anak Bunda Farah.
"Tidak ada masalah apa-apa kok Yah," Ucap Athar.
__ADS_1
"Jangan bohong sama Ayah..." Ucap Ayah Andra sambil tersenyum.
Athar pun tersenyum malu, ia tidak pernah sekalipun curhat dengan Ayah Andra. Karena, Ayah Andra lumayan sibuk di kesehariannya yang mengemban tugas menjadi Abdi Negara.
"Masalah cewek?" Tanya Ayah Andra lagi.
Kali ini Athar tertawa lebar, tetapi dibalik tawanya tersimpan rasa risau.
"Manusia, itu bagaikan butiran pasir. Semakin kita ingin menggenggam nya, semakin habis dari genggaman kita. Hasilnya, kita tidak dapat apa-apa."
Athar menatap Ayah Andra dengan seksama. Baru kali ini, sejak ia dewasa bisa berbicara sedekat ini lagi dengan Ayah Andra.
"Kenapa begitu Yah?" Tanya Athar.
Ayah Andra tersenyum dan menatap Athar. Anak laki-laki yang sejak kecil hidup dengannya. Anak laki-laki yang sudah ia anggap darah dagingnya sendiri. Bahkan Ayah Andra pernah berseteru dengan Ayah Fajar, untuk mendapatkan sepenuhnya Athar untuk dirinya.
"Ya, karena itu sifat dasar manusia. Semakin di genggam, semaki hilang tak tersisa."
"Umurmu baru akan delapan belas tahun. Yang kamu butuhkan saat ini bukanlah kisah asmara. Melainkan, membentuk masa depan yang cerah nak."
"Apa sih yang dapat kita lakukan saat usia kita delapan belas tahun? Apa akan segera menikahi pujaan hati? Tentu tidak kan?"
Athar mengangguk dengan perlahan dan Ayah Andra pun tersenyum semringah.
"Ayah dulu pernah mempunyai kekasih saat seusia mu. Kami berpacaran lama, tetapi kami tidak jodoh. Keluarganya tidak merestui kami hanya karena ada kekurangan dari Ayah. Ayah tidak dapat memiliki Anak," Ucap Ayah Andra dengan mata yang menerawang jauh ke puluhan tahun yang lalu.
"Fokuslah untuk masa depan mu nak, jadi orang yang bisa di berikan tanggung jawab untuk menjadi kepala rumah tangga. Selesaikan sekolah, selesaikan kuliah. Bekerjalah, masalah jodoh, itu sudah ada yang mengatur. Memang, kisah asmara remaja, begitu menarik. Tetapi, kalau kamu belum begitu dewasa menyikapinya, hal menarik itu akan menjadi tragedi. Banyak orang diluar sana, malah menjadi salah langkah karena kisah asmara masa remaja. Hamil diluar nikah, menjadi obsesi dengan pasangan, hingga ribut, bertengkar dengan lelaki atau wanita lain atau bahkan ada yang rela membunuh dan terbunuh," Terang Ayah Andra.
Athar terdiam mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Ayah Andra.
"Kalau kita belum dewasa menyikapi suatu hubungan, lebih baik fokus dengan masa depan. Ayah tidak bilang, bila seumuran kamu belum dewasa dalam menyikapi hubungan, hanya saja.... kebanyakan seperti itu," Ucap Ayah Andra.
"Bila kamu sukses, perempuan mana yang tidak akan hinggap kepadamu? Perempuan mana yang tidak mau dengan mu? Kamu tampan, lebih baik diiringi dengan kesuksesan dan hati yang baik. Dengan begitu, kamu akan menjadi sosok sempurna dan di minati oleh banyak gadis, bahkan orang tua mereka."
Deggggg..!
__ADS_1
Kata-kata Ayah Andra yang hangat dan begitu dalam, mampu menyentuh hati Athar yang terdalam dan membeku.
"Fokuslah pada dirimu dulu, bila saatnya tiba. Kamu akan mampu memilih bukan menjadi pilihan. Kamu akan percaya diri untuk memperjuangkan cinta dan menghadapi lawan, bukan menjadi risau seperti ini," Ucap Ayah Andra.
Athar menghela nafasnya, mendadak ia merasa bodoh dan begitu konyol. Apa yang dikatakan Ayah Andra memang benar adanya. Seorang lelaki, harus mempersiapkan diri terlebih dahulu, sebelum berjuang mendapatkan cintanya.
"Kamu paham?" Tanya Ayah Andra.
Athar mengangguk dan tersenyum kepada Ayah Andra.
"Ya sudah, sana masuk, besok kamu masih ujian kan?"
"Iya Ayah,"
Athar beranjak dari duduknya dan bergegas masuk kedalam rumah.
"Athar," Panggil Ayah Andra.
Athar menghentikan langkah kakinya dan menatap Ayah Andra.
"Ya, Ayah."
"Ingat, Ayah dan Bunda menyayangi kamu. Jadilah kebanggaan untuk kami, calon mertua dan calon istrimu nanti."
Athar menahan tangisnya. Begitulah Ayah Andra yang tidak banyak berbicara. Tetapi, sekalinya berbicara, Ayah Andra begitu bijak dan mampu menyentuh hati anak dan istrinya.
"Iya Ayah," Ucap Athar.
Ayah Andra tersenyum dan membiarkan Athar masuk untuk beristirahat.
...
Athar membuka pintu kamarnya, terdengar dengkuran Mamet yang begitu memekakkan telinga. Rumah Athar adalah rumah kedua bagi Mamet, sejak dirinya dekat dengan Athar. Bisa dibilang, Mamet sudah pindah untuk tinggal di rumah Athar. Beruntung, Ayah Andra dan Bunda Farah adalah orang-orang yang baik hati. Mereka tidak mempermasalahkan adanya Mamet dirumah mereka. Justru, setelah tahu latar belakang Mamet, Bunda dan Ayah Andra malah bersimpati dan menganggap Mamet sebagai anak sendiri.
Athar duduk di kursi meja belajarnya, ia merenungi apa yang dikatakan oleh Ayah Andra. Tidak ada satupun keburukan disana, hanya ada pengalaman hidup yang penuh makna saat berbicara dengan Ayah Andra.
__ADS_1
"Ayah benar, hidup masih panjang. Bila Kimmy itu jodoh gue, dia gak akan kemana-mana. Tetapi, bila tidak jodoh, mau gue berusaha kayak apa pun, tidak akan pernah menjadi jodoh gue. Ayah.... terima kasih," Gumam Athar.