
Setelah Ijab Kabul dan makan bersama, kedua mempelai dan keluarga pun bergegas menuju ke gedung yang mereka sewa untuk acara resepsi pernikahan Kimmy dan Athar. Masing-masing keluarga, berangkat dengan mobil masing-masing. Sedangkan Kimmy dan Athar berangkat dengan mobil pengantin mereka yang khusus dihias sedemikian rupa untuk mereka berdua. Mobil itu adalah mobil hadiah dari Ayah Andra. Yang baru saja Ayah Andra belikan untuk Athar dan Kimmy sebagai hadiah pernikahan anak dan menantunya itu.
Saat hendak berangkat, Ayah Fajar menemui Ayah Andra dan mereka pun berbincang beberapa saat. Dalam pembicaraan mereka, Ayah Fajar terlihat salah tingkah dan merasa rendah diri di hadapan Ayah Andra yang jauh lebih berwibawa dari pada dirinya.
"Saya mau mengucapkan terima kasih atas Athar. Saya juga mohon maaf atas semuanya," Ucap Ayah Fajar sambil menatap Ayah Andra dengan wajah yang terlihat malu.
"Tidak apa-apa Pak, saya sudah menganggap Athar seperti anak kandung saya sendiri. Athar tumbuh dengan baik dan dia tetap mencintai Ayah kandungnya," Ucap Ayah Andra yang berusaha menghibur Ayah Fajar.
Ayah Fajar tertunduk malu, lalu ia mengangguk dan berusaha untuk tegar.
"Sepertinya saya sampai disini saja Pak, biar Bapak yang mendampingi Athar di pelaminan," Ucap Ayah Fajar.
Ayah Andra menghela nafasnya dan tersenyum kepada Ayah Fajar.
"Terima kasih Pak,"
"Saya yang berterima kasih kepada Bapak. Bapak sudah mendidik anak saya dengan baik. Saya sebagai orang tua kandungnya merasa malu dan tidak pantas," Ucap Ayah Fajar.
Ayah Andra memeluk Ayah Fajar dan mengusap punggung lelaki yang kini terlihat tua dan renta itu.
"Bagaimanapun, Bapak tetap yang terbaik bagi Athar. Karena tanpa Bapak, Athar tidak ada di dunia ini. Saya menyayangi dia, karena Tuhan menitipkan nya kepada saya."
Ayah Fajar menangis dan terus mengucapkan terima kasih kepada Ayah Andra.
Ayah Fajar juga memeluk Athar yang sudah bersiap untuk pergi dengan mobil pengantin nya. Lelaki itu mengucapkan rasa bahagia dan penyesalan nya kepada Athar. Andai saja dirinya tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak termaafkan, mungkin saja saat ini dirinya lah yang bersanding di panggung pelaminan bersama Bunda Farah untuk menemani anak mereka merayakan pernikahan nya. Tetapi, apa daya, semua kesalahan itu membuat posisi nya harus tergeser oleh Ayah Andra yang sudah berjasa merawat dan membesarkan Athar dengan penuh kasih sayang dan cinta.
"Ayah mohon maaf, Ayah tidak bisa mendampingi kamu di pelaminan. Ayah tidak kuat berdiri lama-lama," Ucap Ayah Fajar.
"Tidak apa-apa Yah, doakan Athar bahagia ya Yah," Ucap Athar.
Ayah Fajar menghela nafasnya dan mengangguk. Matanya pun memerah menahan tangis penyesalan dan kebodohan dirinya dimasa lalu.
"Semoga kamu berbahagia anak ku, doa dari Ayah selalu untuk mu," Ucap Ayah Fajar.
"Terima kasih Ayah," Ucap Athar, lalu ia memeluk Ayah Fajar dengan erat.
Athar pun melepas pelukannya dan beranjak masuk kedalam mobil dan duduk disamping Kimmy yang sudah menunggu dirinya.
Athar menatap Kimmy yang tersenyum menyambut dirinya.
"Hai istri,"
"Hai suami," Sahut Kimmy sambil menahan tawanya.
Mereka terlihat salah tingkah dan tak lama kemudian mereka berdua pun tertawa geli.
"Ih...! aneh Thar !" Ucap Kimmy sambil menepuk bahu Athar.
__ADS_1
"Tapi ini kenyataan Kim," Ucap Athar di sela tawanya.
"Iya memang, tapi aneh.. sumpah!" Ucap Kimmy yang terus tertawa.
"Tapi, kamu bahagia kan?" Tanya Athar sambil menggenggam tangan Kimmy.
"Banget," Ucap Kimmy sambil menatap kedua mata Athar yang berbinar.
"I love you..." Ucap Athar seraya membelai lembut pipi Kimmy.
"I love you too, Athar."
Athar meraih dagu Kimmy dan mengecup bibir istrinya itu dengan lembut.
"Woiiii...! Sabar woiiii..!" Ucap Abian yang baru saja masuk kedalam mobil. Ia ditugaskan untuk menyetir mobil pengantin Kimmy dan Athar.
"Ngiri aja lu ! Udah jalan cepetan..." Ucap Kimmy yang terkejut saat ia terpergok berciuman oleh Abian.
Abian melirik sepasang pengantin baru itu dari spion tengah mobil itu dan menggelengkan kepalanya. Lalu, ia bergegas menyalakan mesin mobil itu dan melajukan mobil itu menuju gedung yang sudah dipersiapkan untuk acara pernikahan mereka.
Sesampainya mereka di gedung, acara pun segera dimulai. Satu persatu para tamu undangan sudah berdatangan. Mereka memberikan selamat kepada kedua mempelai yang terlihat bahagia pada hari itu. Tak jarang dari mereka berbisik tentang betapa cantik dan tampan nya kedua mempelai. Mereka mengagumi pasangan itu, hingga mengatakan kelak mereka akan mempunyai keturunan yang tampan dan cantik seperti Kimmy dan Athar.
Di sela ramainya para tamu undangan. Terlihat Mamet yang tergesa-gesa berjalan menuju panggung pelaminan. Lelaki gemuk itu, kini sudah terlihat lebih langsing. Disampingnya terlihat seorang wanita yang manis berjalan mengiringi dirinya.
"Bro..!" Seru Mamet dengan wajah yang semringah.
"Gue pacaran sama cewek cerewet, makanya gue kurus. Makan hati bro! Ternyata obat diet adalah cewek yang cerewet!" Bisik Mamet sambil tertawa geli.
Athar ikut tertawa dan memeluk Mamet dengan erat.
"Kangen gue, lu menghilang begitu aja. Untung rumah orang tua lu masih yang dulu. Kalau tidak, gue gak bakalan bisa lihat elu sekarang," Ucap Athar.
"Untung lu ingat gue, kalau gak, tahu-tahu lu sudah jadi Bapak baru gue tahu lu sudah menikah," Ucap Mamet sambil tertawa.
"Kim, wah.. apa kabar? Akhir nya jadi juga sama si Athar, katanya gak mau...." Ucap Mamet sambil menyalami Kimmy yang tersenyum menyambut dirinya.
"Baik Met, Alhamdulillah. Iya, gak mau kan dulu, sekarang gue cinta mati sama dia," Seloroh Kimmy.
Mereka pun tertawa dan menyempatkan untuk berfoto bersama.
"Met, makan dulu sana," Ucap Athar.
"Iya gampang lah, kapan-kapan kita reoni ya, kangen gue sama elu dan Kimmy."
"Siap..." Sahut Athar.
"Oh iya, doain gue juga. Gue mau menyusul. Ada bayi di perut cewek gue," Bisik Mamet.
__ADS_1
"Ah gila lu !" Ucap Athar sambil menatap Mamet dengan tak percaya.
Mamet menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum malu-malu kepada Athar.
"Gak bener lu jadi manusia," Ucap Athar sambil menggelengkan kepalanya.
"Yang penting gue tanggung jawab!" Ucap mamet Sambil tertawa dan beranjak turun dari panggung pelaminan.
Athar hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Bocah makin edan aja!" Gumam Athar sambil menatap Mamet dan kekasihnya turun dari panggung itu.
"Kim, Thar,"
Kimmy dan Athar menatap Farhan yang sedang berdiri di hadapan mereka sambil menggandeng tangan Vania.
"Eh, Bang," Sahut Athar yang sedikit canggung dengan Farhan. Tidak bisa dipungkiri, mereka pernah terlibat baku hantam saat memperjuangkan Kimmy.
"Selamat ya, semoga kalian bahagia," Ucap Farhan yang terlihat tegar dan tulus saat mengucapkan selamat kepada Athar dan Kimmy.
Athar tersenyum dan menyambut jabatan tangan Farhan.
Lalu, Farhan menghampiri Kimmy yang berdiri disamping Athar. Ia menatap gadis yang pernah ia cintai itu dengan sorot mata yang pasrah.
"Kim, selamat ya," Ucap Farhan dengan tulus.
"Ah, iya." Sahut Kimmy sambil menyambut tangan Farhan.
"Doa gue selalu," Ucap Farhan dengan ujung suara yang tercekat.
"Terima kasih," Ucap Kimmy sambil tersenyum simpul.
Begitupun dengan Vania, gadis itu menyalami Kimmy dengan wajah yang canggung. Tidak ada kesombongan pagi pada sikapnya. Ia benar-benar tulus mengucapkan selamat kepada Kimmy, gadis yang pernah ia tertawa kan dulu.
Rasa bersalah dan rasa malu hinggap dihatinya, ia pun memeluk Kimmy dan mengucapkan maaf kepada Kimmy yang belum sempat ia ucapkan.
Dengan ikhlas, Kimmy memberikan maaf kepada Vania. Toh itu hanya masa lalu dan kini dirinya sudah bahagia dengan Athar.
"Eh ayo foto! foto!" Seru Mama Nia sambil menuntun Tante Naya yang terlihat sulit untuk naik keatas panggung pelaminan.
Kini, di atas panggung pelaminan, sudah ada Bunda Farah, Mama Nia, Tante Rara, Tante Naya dan juga keluarga mereka serta kedua mempelai. Mereka beramai-ramai mengabadikan kebersamaan itu.
Bahwa persahabatan yang sudah terlewati beberapa dekade, lengkap dengan berbagai konfliknya serta kedua sahabat yang kini sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Dua generasi, banyak cerita dan cinta. Akan abadi di dalam sebuah foto dan akan di pajang di satu frame yang sama.
"Life is partly what we make it, and partly what it is made by the friends we choose." - Tennessee Williams.
(Hidup adalah sebagian dari apa yang kita buat, dan sebagian apa yang dibuat oleh teman-teman yang kita pilih)
__ADS_1