Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
83# Manusia yang terbuang


__ADS_3

Kehilangan paling mendalam adalah, kehilangan orang yang kita cintai. Entah itu orang tua, saudara, kekasih, sahabat atau pun orang yang kita kagumi.


Obat dari kehilangan adalah mengikhlaskan, entah dia hidup atau sudah menghadap Illahi. Kehilangan adalah cara Tuhan menegur kita, bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Apakah itu kehidupan, cinta ataupun kebersamaan. Yang abadi hanya kasih Tuhan.


Maka, cintailah Tuhan mu terlebih dahulu, lalu hiduplah dengan ikhlas. Semua kemungkinan akan terjadi di dunia ini. Hanya rasa cinta kepada Tuhan dan ikhlas lah yang akan menolong dirimu untuk siap menerima semua kenyataan apapun di dunia ini.


Jenazah Om Fathur tiba di kediamannya, terlihat sanak saudara dan semua orang yang mencintai dirinya sudah hadir untuk melihat Om Fathur untuk yang terakhir kalinya. Hanya saja, Vania, Om Andreas dan Tante Naya tidak hadir disana.


Hal itu sempat menjadi pertanyaan bagi Bunda Farah dan Mama Nia. Setelah mereka tahu, bila Tante Naya juga terkena musibah, duka itu semakin bertambah. Entah mengapa, hari itu di selimuti duka.


Langit mendung dan awan menghitam, air hujan pun mulai jatuh membasahi bumi. Bau khas tanah basah tercium begitu menyengat. Genangan air mulai muncul dimana-mana. Tetapi, hal itu tidak mengurungkan niat para pelayat untuk melihat jenazah Om Fathur untuk yang terakhir kalinya.


Om Fathur dikenal sebagai orang yang baik bagi keluarga dan para sahabat maupun koleganya. Om Fathur orang yang sangat sabar dan "nerimo" kata orang Jawa. Bahkan, ia juga orang yang sangat sabar menghadapi keegoisan Tante Rara selama ini.


Tetapi, begitulah orang sabar. Ia masih bisa melanjutkan hubungan walaupun ia merasa tersiksa. Demi Tante Rara yang kini mencintai dirinya dan Farhan, buah hatinya yang sangat ia cintai. Menghabiskan waktu dengan orang yang awalnya tidak menghargai dirinya pun ia jalani demi keutuhan rumah tangga dan kesehatan mental anak nya, Farhan.


Bagi Om Fathur, ia sempat mengatakan isi hatinya pertama kali dan terakhir dalam hidupnya kepada Mama Nia, itu sudah cukup. Ia tidak berharap lebih. Ia hanya ingin Mama Nia tahu, bila ia terlambat menyadari bila ia mengabaikan seorang berhati emas hanya demi obsesinya kepada Tante Rara yang ia kejar-kejar selama sebelas tahun lamanya.


Kini, jenazah itu tersenyum. Seakan ia sudah siap untuk meninggalkan dunia ini dan berangkat ke tempat yang kata nya "Lebih baik".


Mama Nia dan Bunda Farah memeluk Tante Rara dengan erat. Mencoba menenangkan wanita yang merasa sangat kehilangan lebih dari siapapun itu.


Air mata dari para pelayat sama deras nya dengan hujan yang menyirami sebagian wilayah Ibukota itu.


"Ini semua gara-gara Vania !" Ucap Tante Rara.


Mama Nia dan Bunda Farah mengerutkan dahinya. Mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tante Rara.

__ADS_1


"Maksud lu Ra?" Tanya Mama Nia.


"Dia yang menyebabkan laki gue meninggal Nia !" Ucap Tante Rara dengan air mata yang terus mengalir di tebing pipinya.


"Iya, Vania anak nya Naya kan? Ada apa dia?" Tanya Mama Nia.


"Nanti gue ceritain, setelah pemakaman ya Nia," Ucap Tante Rara.


Rasa penasaran itu harus di bendung terlebih dahulu oleh Bunda Farah dan Mama Nia. Mereka harus menyemayamkan jenazah Om Fathur dan mengikuti proses pemakaman sambil menunggu cerita yang mereka anggap ganjil dari Tante Rara.


...


Vania berlari di lorong rumah sakit dimana Tante Naya sedang menjalani perawatan. Saat ia tiba, sebuah tamparan mendarat di pipinya. Om Andreas menatapnya dengan tatapan penuh amarah. Ia memaki anak perempuan nya itu yang telah menyebabkan Tante Naya jatuh sakit dan mengalami stroke.


Tante Naya di vonis mengalami pecah pembuluh darah bahkan akan di operasi dalam waktu dekat ini. Tante Naya masih terbaring di ruang rawat inap dan sedang menunggu Dokter ahli untuk menangani dirinya. Tante Naya bernafas dengan oksigen serta alat-alat medis lain nya sudah melekat di tubuh Tante Naya.


"Anak kurang ajar ! Apa yang sudah membuatmu seperti ini Vania !" Bentak Om Andreas yang tampak tidak bisa mengontrol emosinya.


"Pa..." Ucap Vania dengan suara yang tercekat.


"Ini semua gara-gara kamu ! Anak gak tahu di untung ! Kamu di lahir kan dan di besarkan tapi ternyata hanya akan menjadi pembunuh untuk orang tuamu !" Ucap Om Andreas dengan suara yang bergetar.


Vania tertunduk penuh penyesalan, ia tidak menyangka apa yang ia lakukan akan berakibat fatal untuk orang tuanya.


"Pernahkah kamu berpikir Vania? Sikap mu itu sudah diluar batas ! Kalau saja kami tahu kamu lahir akan membawa sial, kami akan mengugurkan kamu dari awal !" Ucap Om Andreas.


Vania menatap Papanya dengan tak percaya. Nafasnya sesak dan ia tidak siap untuk menerima kata-kata yang begitu kasar seperti itu.

__ADS_1


"Papa...."


"Jangan panggil aku Papa lagi ! Kamu anak durhaka ! Entah dosa apa yang aku buat sehingga kamu seperti ini ! Pergi ! Hiduplah sendiri dan sesuka hatimu !" Ucap Om Andreas.


Vania melangkah mundur, ia merasa hancur. Air mata membasahi kedua pipinya, ia menatap Abang nya yang hanya bisa diam tanpa membela dirinya. Semua orang menolak dirinya dan tidak ada yang menyayangi dirinya.


Vania baru saja dicampakkan oleh kekasih yang sangat ia cintai, dan parahnya Ia baru tahu selama ini ia hanya menjadi selingkuhan Farhan yang ternyata lebih dulu menjalani kisah asmara dengan Kimmy. Dan sekarang.... ia harus menerima kenyataan dirinya juga di buang dari keluarganya setelah ia di tolak oleh keluarga Farhan.


Vania berlari dengan hati yang luka, ia pergi meninggalkan lorong itu dan menangis sejadi-jadinya. Ia merasa dunia ini begitu kejam dan Farhan lah orang yang bertanggung jawab atas segala yang ia alami saat ini.


Vania mengendarai mobil nya dan berniat mendatangi Farhan entah bagaimana caranya. Ia ingin menemui lelaki itu, hanya lelaki itu yang pantas menjadi sasaran amukan dirinya yang saat ini tidak terkontrol.


Vania menghentikan mobilnya di depan rumah Farhan yang ramai oleh para pelayat berbaju hitam. Tangan Vania gemetar saat melihat bendera kuning di depan rumah Farhan.


"Siapa yang meninggal?" Gumam nya.


Vania turun dari mobilnya dan bertanya kepada salah satu pelayat yang baru saja keluar dari rumah mewah itu.


"Maaf Pak, yang meninggal siapa ya?" Tanya Vania.


"Yang meninggal Bapak Fathur Mbak," Ucap pelayat itu.


Vania terkejut, tumbuhnya gemetar hebat. Memang, saat ia tadi meninggalkan Villa, keadaan om Fathur memang sedang butuh bantuan. Tetapi, karena emosi, ia mengabaikan lelaki tua itu dan istrinya yang meraung melihat keadaan suaminya.


Tetapi, Vania tidak menyangka bila itulah terakhir kalinya ia melihat Om Fathur. Vania mulai menyadari bila penyebab kematian Om Fathur adalah dirinya. Ia tidak bisa menahan tangisan nya. Tetapi, ia cukup pengecut untuk masuk kedalam rumah itu.


Vania kembali kedalam mobilnya dan pulang kerumahnya. Vania merasa apa yang dikatakan Papanya memang benar, dirinya hanya pembawa sial bagi keluarga dan semua orang yang berada di dekatnya. Vania semakin hancur, Vania merasa stress dan putus asa.

__ADS_1


"Tuhan... apakah benar, aku dilahirkan hanya untuk menjadi manusia terbuang dan pembuat sial?" Gumam nya di dalam hati.


__ADS_2