
Kimmy menghentikan laju mobilnya di depan rumah Bunda Farah. Ia menatap rumah bergaya Belanda itu dengan seksama. Pepohonan dan beberapa tanaman yang tampak subur dan terawat menghiasi halaman rumah tersebut. Tidak banyak yang berubah. Semu terlihat sama seperti empat tahun yang lalu.
Tangan Kimmy gemetar saat ia akan membuka pintu mobilnya. Bagaimana pun, ia merasa bersalah dengan tragedi yang menimpa Athar. Tetapi, siap atau tidak siap, ia harus menemui Athar dan keluarganya. Untuk meminta maaf atas apa saja yang mungkin menyinggung atau menyebabkan Athar kecelakaan.
Kimmy tahu, itu semua karena Athar lah yang tidak berhati-hati. Tetapi, ia sadar dan rasa bersalah tidak dapat ia hindari karena Athar yang saat itu kecelakaan, karena akan hendak ke rumah untuk menemui dirinya.
Kimmy melangkah keluar. Gadis yang kini berusia dua puluh tiga tahun itu tampak semakin anggun. Kesan 'tomboy' tidak lagi melekat di dirinya. Kini, ia berbusana layaknya gadis seusia dirinya.
Pagi ini, Kimmy mengenakan dress berwarna purple dengan aksen renda berwarna putih di bawah rok nya dan di sekitar lengan nya. Kimmy juga memoles make-up tipis dan terkesan natural agar wajahnya tidak terlihat pucat.
Ia melangkah masuk kedalam. pekarangan rumah Bunda Farah. Tidak ada mobil yang terparkir disana. Hanya ada sebuah sepeda motor tua milik Athar yang hancur bekas tragedi kecelakaan di carport yang sengaja di buat di samping rumah itu.
Sepeda motor itu terlihat berantakan. Namun tetap di simpan disana. Entah mengapa sepeda motor itu tetap disimpan oleh Athar. Padahal, sepeda motor itu tidak akan bisa di perbaiki kembali. Mungkin, Athar menyimpan nya untuk kenang-kenangan betapa pentingnya berhati-hati saat berkendara.
Kimmy mengetuk pintu depan rumah tersebut. Tak berapa lama, Bunda Farah membukakan pintu itu dan menatap Kimmy dengan wajah yang terkejut.
"Kimmy !" Seru Bunda Farah saat melihat Kimmy berdiri di depannya.
"Assalamualaikum, apa kabar Bunda?" Tanya Kimmy sambil meraih tangan dan mengecup punggung tangan Bunda Farah.
"Waalaikumsalam, Ya Allah Kim ! Kabar Bunda baik nak, kamu apa kabar? Semakin cantik kamu sekarang. Sudah dewasa."
Kimmy tersenyum ragu, walaupun bunda Farah tidak membenci dirinya. Tetapi, ia tetap merasa dirinyalah penyebab kecelakaan Athar yang membuat Bunda Farah merasa sedih dan hancur. Terlebih, Athar sempat koma dan keadaannya sangat memprihatinkan.
"Bunda, Kimmy minta maaf...."
"Sssttt... ayo masuk dulu," Ucap Bunda Farah.
Kimmy merasa semakin malu. Hebatnya Bunda Farah yang tidak pernah mengambinghitamkan semua apa yang terjadi kepada orang lain. Begitulah Bunda Farah. Wanita yang mempunyai masa lalu yang kelam, tetapi ia juga mempunyai hati emas yang tidak semua orang miliki.
"Duduk Kim, Bunda buatkan minuman dulu ya," Ucap Bunda Farah sambil beranjak ke dapur. Kimmy hanya mengangguk dan tak bisa mencegah Bunda Farah.
Saat Bunda Farah membuatkan minuman untuknya, Kimmy melirik ke ruang keluarga. Ia berharap ada Athar disana. Tetapi, tampak nya rumah Bunda Farah hari ini terlihat sepi sekali.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Bunda Farah datang dengan segelas teh dan beberapa makanan ringan di dalam nampan berwarna putih yang dengan hati-hati ia bawa dan hidangkan untuk Kimmy. Setelah itu, ia menyingkirkan nampan tersebut dan duduk di hadapan Kimmy.
Kimmy masih terlihat kaku dan salah tingkah saat menghadapi Bunda Farah yang terlihat biasa saja. Berbeda bila menghadapi orang yang terlihat marah, kita bisa langsung meminta maaf dan mengatakan apa yang ada di pikiran kita. Tetapi, melihat orang yang seperti tidak ada kejadian apapun, justru membuat kita menjadi salah tingkah dan hilang kata-kata.
"Kata Mama mu, kamu sudah lulus ya Kim?" Tanya Bunda Farah berbasa-basi, mengawali percakapan diantara mereka dan mengusir rasa gugup yang sangat terlihat di wajah Kimmy.
"I-iya Bun, sudah." Ucap Kimmy.
"Alhamdulillah, syukurlah. Ayo, silahkan diminum. Ini kue juga dimakan. Ini Bunda sendiri yang membuatnya loh."
Kimmy menatap kue kering yang berbentuk bunga matahari yang sangat cantik. Lalu, Kimmy tersenyum dan meraih kue kering tersebut dan mencobanya.
"Hmmm, seperti biasa, bikinan Bunda sangat enak." Puji Kimmy.
Bunda Farah hanya tersenyum dan menatap Kimmy dengan lembut.
Setelah itu, Kimmy meraih teh hangat yang di sediakan Bunda Farah dan meminumnya. Lalu, ia meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja.
"Bun..."
"Ya Kim?"
"Kok kamu repot-repot sih Kim? Padahal Bunda berharap kamu sampai di tanah air dengan selamat, hanya itu," Ucap Bunda Farah.
"Ng... Kimmy sudah niat membelikan nya Bun.."
Bunda Farah tersenyum dan meraih bungkusan yang Kimmy berikan kepadanya.
"Alhamdulillah, terima kasih ya nak.."
"Sama-sama Bunda," Sahut Kimmy.
"Ng... Kimmy mau bertemu dengan Athar Bun, apa Athar nya ada?"
__ADS_1
"Athar sedang ada urusan Kim, jadi dia tidak ada dirumah. Tapi, nanti Bunda akan sampaikan kepada dia kalau kamu datang mencari dirinya ya.."
Kimmy mengangguk dengan ragu.
"Bun..."
"Ya Kim?"
"Kimmy mau meminta maaf...."
"Bukan salah mu.." Potong Bunda Farah.
Kimmy menatap Bunda Farah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi Bun.. ini semua gara-gara Kimmy.."
"Bukan gara-gara kamu Kim, tapi Athar yang lalai dalam berkendara. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Itu murni sudah menjadi cobaan buat Athar sendiri dan tentunya itu pelajaran bagi dirinya yang suka mengebut," Ucap Bunda Farah sambil tersenyum tulus.
Air mata tak dapat di bendung oleh Kimmy. Semakin Bunda Farah tidak menyalahkan dirinya, semakin Kimmy merasa sangat bersalah atas semua yang terjadi.
"Jangan menangis Kim, Bunda tidak menyalahkan siapa-siapa. Ini sudah takdirnya Athar. Lagi pula, semua sudah berlalu. Athar kini sudah kembali sempurna dan baik-baik saja."
Air mata Kimmy semakin deras mengalir di pipinya. Ia pun bersimpuh dan menangis di pangkuan Bunda Farah. Bunda Farah membelai rambut Kimmy dan mencoba menenangkan gadis itu.
"Sudah, yang penting kita bisa mengambil semua hikmah dari apa yang terjadi. Bunda selalu melihat sisi positif dari semua yang menimpa Bunda atau pun keluarga Bunda. Bunda tidak pernah menyalahkan kamu. Kamu tidak bersalah dan Bunda tetap menyayangi kamu Kim," Ucapan Bunda Farah terdengar sangat tulus dan menenangkan.
"Iya Bunda, Kimmy juga sayang sama Bunda dan Athar. Kimmy hanya merasa bersalah saja," Ucap Kimmy.
"Tidak perlu merasa begitu, sudah jangan menangis. Bunda gak suka ah liat kamu menangis," Ucap Bunda Farah sambil membantu Kimmy untuk kembali duduk di sofa.
Dengan sikap yang luar biasa, Kimmy semakin hormat dengan Bunda Farah. Wanita berhati emas itu benar-benar lurus jalan pikirannya. Benar-benar bijak dalam perbuatan dan ucapannya.
Memang begitu seharusnya yang di terapkan di dalam hidup kita. Jangan pernah menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa diri kita. Pasrah dan ambil hikmahnya. Maka, kita akan mendapatkan kehormatan dan harga diri di mata orang lain. Bayangkan bila Bunda Farah menyalahkan Kimmy, mungkin hubungan baik antar dua keluarga itu akan rusak. Orang tua Kimmy pasti akan membela anak nya yang tidak tahu menahu tentang terjadinya kecelakaan itu dan Bunda Farah tidak akan mendapatkan kata " Maaf " dari Kimmy dan tidak akan mendapatkan rasa hormat dari Kimmy dan keluarganya.
__ADS_1
Apa pun yang terjadi didalam hidup, baiknya kita berkaca kembali. Sudah berapa banyak kita bersyukur? Sudah seberapa sering kita mengingat - Nya. Sudah kah kita mengambil semua hal yang baik dari yang buruk?
Siapa kita, itu tergantung apa yang kita ciptakan tentang kita sendiri dimata orang lain.