Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
94# Penyesalan


__ADS_3

"Sialan !"


Farhan memukul kemudinya dan terus mengeluarkan bahasa umpatannya.


"Dari mana dia tahu?" Gumam Farhan.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia benar-benar gelisah dengan kenyataan bahwa kini Kimmy tahu hubungan dirinya dengan Vania.


"Apa perempuan sialan itu buka suara dengan si Athar?"


"Tidak bisa dibiarkan ! Vania harus menerima pelajaran ! Biar dia tidak asal berbicara kepada semua orang !" Gumam nya lagi.


Tiba-tiba saja, mobil Athar menyalip mobil Farhan. Mendadak, Farhan menghentikan mobilnya dengan cara mendadak. Farhan kembali mengumpat saat melihat Athar turun dari mobilnya dan menghampiri dirinya.


"Woi buka !" Ucap Athar sambil mengetuk kaca mobil milik Farhan.


"Bocah brengsek !" Umpat Farhan sambil membuka safety belt dan beranjak turun dari mobilnya.


Bugggggg...! Bugggggg..! Bugggggg..!


Tiga kali pukulan mendarat di wajah Farhan.


Lelaki itu tersender di mobilnya dan terjatuh ke tanah.


"Selama ini lu pukul gue, bukan berarti gue gak bisa membalas ! Paham lu !" Ucap Athar sambil meraih kerah kemeja Farhan dan menarik lelaki itu untuk berdiri.


"Dengan gampang lu hancurin masa depan perempuan, terus lu mau lari tanggung jawab dan menikahi gadis yang gue cintai? Gak segampang itu paham lu !" Ucap Athar sambil mengguncang tubuh Farhan yang tampak tak berdaya di tangan kekar Athar.


"Fitnah Thar..! Vania itu gila !" Ucap Farhan sambil mengusap darah segar di bibirnya.


"Fitnah lu bilang? Kalau gitu, ayo lu ikut gue temui Vania !" Ucap Athar sambil menyeret Farhan begitu saja.


"Gue gak mau ! lepasin gak !" Ucap Farhan sambil menepis tangan Athar.


Bugggggg...!


"Pengecut !" Hardik Athar sambil mendaratkan kembali kepalan tangan nya.


"Iya gue memang pengecut ! Apa peduli elu ! Gue mau nikah sama siapa itu, suka-suka gue ! Yang bajingan itu elu! Elu nikung gue Thar !"


Bugggggg..! Athar kembali melayangkan pukulannya, hingga Farhan tersungkur di atas tanah.


"Kimmy gak pantes bersanding sama elu ! Elu itu bajingan !" Ucap Athar.

__ADS_1


Athar melepaskan sabuk yang melingkar di pinggang ramping nya dan melilitkan sabuk itu ke tangan Farhan. Lalu, ia menyeret tubuh Farhan kedalam mobilnya.


"Thar, gue minta maaf. Tolong lepasin gue Thar,"


"Ah... banyak omong lu !" Ucap Athar sambil melayangkan kembali tinjunya ke wajah Farhan.


Seketika, lelaki itu pun tak sadarkan diri.


.....


"Papa..." Vania memeluk dan menangis di pelukan Om Andreas. Lelaki tua itu membalas pelukan anak gadisnya itu dengan erat. Derai air mata membanjiri pipi kedua Bapak dan anak itu.


"Maafkan Papa ya Van.." Ucap Om Andreas sambil mengecup pipi anak bungsunya itu.


"Vania juga minta maaf sama Papa, Vania benar-benar manusia berdosa Pa," Ucap Vania disela isak tangisnya.


"Semua orang pernah berbuat dosa, begitu juga Papa. Papa yang salah, karena tidak memperhatikan kamu. Maafkan Papa," Ucap Om Andreas dengan suara yang bergetar.


"Sekarang kamu ceritakan sama Papa, masalah apa yang sedang kamu hadapi?"


Vania mengusap air matanya, ia menatap Om Andreas dengan seksama.


"Pa... Vania malu," Ucap Vania sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Papa jangan marah sama Vania.." Ucap Vania yang tampak ketakutan.


"Tidak, Papa gak akan marah. Papa Itu Papa mu, sudah seharusnya Papa mendukung kamu dimasa suram mu. Papa janji, Papa akan selalu ada di sisimu kapan pun kamu membutuhkan Papa. Ayo kita ubah semuanya Van. Kita harus menjadi keluarga yang saling mendukung mulai saat ini," Ucap Om Andreas.


Vania menatap Papanya, lalu ia menangis kembali dan memeluk Om Andreas dengan erat.


"Papa janji, Papa tidak akan marah sama Vania?" Tanya Vania.


"Gak akan, Papa akan memperbaiki segala kesalahan. Papa janji Van.." Om Andreas berusaha meyakinkan Vania.


Vania beranjak duduk di atas ranjang hotel itu. Lalu, ia menundukkan wajahnya.


"Ayo cerita sama Papa," Desak Om Andreas.


"Vania sudah tidak perawan lagi Pa," Ucap Vania dengan suara yang tercekat.


Saat itu hati Om Andreas terasa hancur lebur. Ia ingin sekali mengamuk tetapi ia menahan segala emosinya.


"Lalu?" Tanya Om Andreas.

__ADS_1


Vania memulai kisah perjalanan cintanya dengan Farhan yang ia jalani dengan sembunyi-sembunyi dari kedua orangtuanya dan juga kedua orang tua Farhan. Vania juga menceritakan tragedi yang membuat Om Fathur anfal dan terpaksa harus kehilangan nyawanya. Dengan penyesalan dan air mata, gadis itu menceritakan segalanya tanpa ia kurangi atau dilebihkan. Ia menceritakan segalanya apa adanya.


Om Andreas menghela nafas panjang, ia terus berusaha menahan amarahnya kepada Farhan yang telah menghancurkan masa depan Vania.


"Mungkin begini rasanya menjadi orang tua dari gadis-gadis yang pernah bersama dengan ku," Batin Om Andreas sambil menyeka air matanya.


Memang, seseorang tidak akan paham rasa sakit yang pernah tertancap di hati orang lain, sebelum ia merasakan sendiri bagaimana rasanya menghadapi masalah yang sama.


Om Andreas terduduk di lantai kamar hotel itu. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lelaki paruh baya itu menangis dalam diam. Ia benar-benar merasa murka dengan lelaki bernama Farhan, anak dari sahabat istrinya dan juga mantan dari tunangan nya sendiri.


"Vania bersalah atas meninggalnya Om Fathur Pa..." Ucap Vania sambil tersedu-sedu.


Om Andreas kembali memeluk Vania. Ia mencoba menenangkan anak kandungnya itu.


"Tidak, Om Fathur meninggal karena perjalanan nya di dunia ini sudah berakhir. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."


"Sekarang apa yang harus Vania lakukan Pa? Semua orang pasti menyalahkan Vania," Ucap Vania.


"Sekarang, kita temui Tante Rara dan Fathur." Tegas Om Andreas.


"Jangan Pa, Vania gak mau di maki-maki lagi. Vania sakit hati Pa !"


"Jangan takut, ada Papa di sisimu. Sekarang, kamu bereskan barang-barang mu dan ikutlah bersama Papa ke kediaman mereka," Ucap Om Andreas.


"Tapi Pa..."


"Masalah ini harus diluruskan Vania ! Kalau kamu merasa kamu berhak menjelaskan kenapa tidak? Dari pada Tante Rara terus menyalahkan kamu !" Ucap Om Andreas yang berusaha untuk meyakinkan Vania.


Vania menatap Papanya dengan seksama. Lalu, ia memeluk Papanya dengan erat.


"Papa... terima kasih Pa.." Tangisan Vania semakin kencang. Ia benar-benar merasa bodoh karena sudah mengecewakan kedua orang tuanya.


"Sudah nak, bagaimana pun kamu, kamu tetap anak Papa. Yang terpenting saat ini, apa yang bisa diperbaiki didalam hidupmu, perbaiki lah. Jangan takut menghadapi kenyataan. Bila kamu merasa bersalah, jangan pernah kamu ulangi lagi. Ingat, banyak orang yang mencintaimu terlepas berapa banyak kesalahan yang sudah kamu perbuat."


"Hiduplah dengan baik setelah semua masalah ini selesai. Tebus segala kesalahan dengan prestasi dan hidup yang tertata baik. Jangan pernah ulangi kalau kamu benar-benar menyesalinya," Sambung Om Andreas.


Vania melepaskan pelukannya dan menatap Papanya itu.


"Vania sayang sama Papa."


"Papa juga nak, maafkan segala kesalahan Papa saat ini ataupun di masa lalu ya.."


Vania mengangguk dan mengecup pipi Papanya.

__ADS_1


"Sudah, ayo bereskan barang-barang mu dan ayo kita selesaikan masalah ini," Ucap Om Andreas.


__ADS_2