
Bimo memandang Rara dari Atas sampai bawah ,lalu dengan pelan Bimo mencium Rara dari mulai kaki, Rara merasakan geli tapi nikmat,bulu kuduk Rara sampai berdiri karena ciuman Bimo di kakinya terus naik ke atas.
Rara menggigit bibirnya agar tidak bersuara, karena ciuman Bimo sekarang ada di pangkal pa*ha,tangan Rara mencengkram seprei dengan kencang.
Lalu Bimo menarik kain segitiga yang menutupi inti milik Rara, dan melebarkan kaki Rara, Bimo langsung melotot melihat inti milik Rara, lalu Bimo mengusap inti Rara dengan jarinya ,Rara sedikit menggerakan badanya karena merasa kegelian dan desaran di dalam hatinya.
"Sayang,,, milikmu benar benar indah,,, "sambil terus mengusapinya. Rara hanya diam saat Bimo berkata karena Rara merasa sungguh malu.
Bimo dengan pelan menciumnya dan terus menciumi, sambil bibirnya mengecup inti milik Rara. lalu lidah Bimo juga memainkanya, Bimo cukup lama memainkanya, sampai ahirnya Rara merasakan pelepasan.
"Kakkkk,,, aaahhhhgggg,,, "sampai kepala Rara terangkat, Bimo langsung sibuk membersihkan inti tubuh Rara dari cairan kenikmatan.
Setelah Itu Rara lemas tak berdaya, Bimo lalu naik ke atas, dan Bimo langsung ke dada Rara, Rara dalam ke adaan lemas tapi Bimo terus merang*sangnya. Bimo benar benar lihay dalam hal seperti ini.
Setelah Rara sudah terlihat berg*airah lagi, Bimo lalu akan memulainya. Bimo melepaskan kain yang menempel di badanya, setelah terlepas semua Bimo lalu mengenalkan miliknya pada Rara, tapi Rara tidak mau membuka matanya untuk melihat hanya memegangnya.
"Ya Tuhan,, kenapa milik kak Bimo besar gini, apa bisa masuk, pasti Aku akan merasa sakit ini,, "sambil bicara dalam hati Rara berkata.
"Kaka akan mulai yah, jangan tegang dan jangan takut, rileks aja,, "sambil mencium kening Rara. Rara hanya mengangguk dengan pelan.
Lalu Bimo memposisikan miliknya di milik Rara, Bimo mendorong dengan pelan, tangan Rara mencengkram lengan Bimo karena Rara menahan rasa sakit ,dan mulut Rara mengeluarkan suara kesakitan tetapi sambil di tahan.
Saat Bimo berhasil memasukan miliknya,Rara sedikit berteriak tapi langsung di tutupnya dengan tanganya, Bimo mendiamkanya sebentar, lalu Bimo berniat menggerakan pinggulnya, tapi ternyata kaki Bimo yang masih sakit tiba tiba mengeluarkan darah, Bimo dan Rara tidak tau, tapi karena Bimo kesakitan Bimo melihat ke arah kakinya dan Bimo kaget karena darah mengalir dari kakinya.
Bimo lalu menarik miliknya, dan langsung bangun dari atas tubuh Rara, Rara merasakan sakit saat tiba tiba menarik miliknya dengan cepat, dan tidak pelan pelan.
"Kenapa kak,,,? "tanya Rara yang melihat Bimo seperti kesakitan.
__ADS_1
"Darah,, ya Tuhan,, "kata Rara yang langsung duduk.
"Sayang tolong ambilkan perban, buat menutup lukanya biar darahnya ngga netes dan berhenti,,"Rara langsung bangun dan mengambil perban di meja, tanpa Rara sadari kalau Rara tidak memakai apa apa.
Bimo yang kesakitan pun hanya bisa menahanya, lalu Rara menyalakan lampu kamarnya, dan langsung menutup lukanya dengan perban.
"Makasih sayang,, maaf yah jadi begini,, "Rara hanya tersenyum.
"Pakelah bajumu, Kaka ngga bisa lanjutin, kita lanjut besok lagi ngga papa kan,, "
"I,, iya,, "Rara yang baru sadar sedang polos dan berdiri di depan Bimo langsung merasa malu dan menjawabnya sedikit gugup.
Dan Rara juga baru sadar kalau intinya ternyata sakit, Rara mengambil bajunya yang tergeletak di lantai, karena tadi Bimo membuangnya. setelah memakai baju Rara lalu membantu Bimo memakai bajunya. Rara membuang pandanganya saat memakaikan celana Bimo.
"Kaka minum obatnya belum,,? "Bimo menggeleng.
Setelah itu Rara membersihkan darah yang ada di seprei dan menggantinya, Bimo lalu duduk di bangku yang ada di kamar. setelah ganti sepre Bimo di suruh duduk lagi di kasur dan Rara membantu memberi salep pada luka Bimo dengan pelan.
"Pelan sayang,,, sakittt,,, "
"Iya Kak,, "sambil meniupinya.
Setelah di beri salep Bimo lalu tiduran dikasur dan Rara juga ikut naik ke kasur, Bimo menyuruh Rara untuk mendekat dan kepala Rara di letakan di dada Bimo.
"Ra,, Kaka pengin pangilanya di ubah mau ngga,, "
"Di ubah gimana maksudnya kak,, "
__ADS_1
"Jangan panggil kaka, tapi panggil Mas, mau ngga,,, ?"
"Mau,, tapi mungkin pertamanya Rara akan sedikit susah,, "
"Ngga papa,, pelan pelan, makasih yah,, "sambil mencium kening Rara.
"Ka,,eh Mas,, Mas ada rencana mau ke kotanya kapan,, "
"Kenapa,, ngusir nih,, "
"Ng,, ngga kok,, Rara cuman nanya aja, takutnya kalau M,, Mas kelamaan di sini Mas di pecat dari kerjaan,,"Bimo tersenyum.
"Mas udah mengundurkan diri, kemarin Mas udah telfon HRD kantor tempat Mas kerja, dan bilang Mas kecelakaan jadi pihak kantor langsung menerima pengunduran diri Mas, Mas juga kirim lewat email surat pengunduran diri ke kantor ,"
"Oh gitu,, "
"Mas sekarang pengangguran gimana,, pasti akan jadi beban nanti buat kamu,, "
"Ya ngga papa, kan Mas masih sakit, nanti kalau sudah sembuh pasti Mas juga mikir ngga mungkin menganggur terus,,dan pasti Mas akan langsung kerja nanti, "
"Kok kamu bisa menebak begitu,, "
"Iya bisa dong,, kan kak Alvin udah kasih tau Rara kalau sampai Mas di pecat dari tempat kerja mau di ajak kerja di perusahaan kak Kay, "sambil tersenyum.
"Oh gitu, kakamu udah kasih tau,, "Rara mengangguk.
**Jangan lupa like komen dan votenya, trimakasih..
__ADS_1
Maaf kalau kurang mengena, karena Aku kurang lepas, soalnya bulan puasa jadi ada rasa takut gitu**,,