
Zenazah pun sudah sampai rumah, sedang Kay yang baru sadar terus saja menangis dan ingin pulang, ingin melihat Mamahnya untuk terahir kalinya.
Ahirnya Alvin minta kepada Dokter untuk mengizinkan Kay pulang, dan Kay pun pulang, tapi walau di mobil Kay masih tetap terpasang infus, Kay rebahan di kursi belakang, sedang Bimo yang menyetir Alvin menemani Kay di belakang. Alvin juga membawa satu perawat untuk menjaga Kay, dan Alvin pun membayarnya cukup mahal.
Butuh waktu 3 jam mereka untuk sampai di rumah, dan saat sampai rumah sudah pukul 1 malam, dan rumah Kay sudah cukup ramai,ada tetangga juga karyawan kantor yang datang melayat.
Kay berjalan pelan sambil di papah Alvin untuk masuk ke dalam rumah. sampai di dalam tangisan Kay pecah saat melihat Mamahnya yang sudah di krubung kain .
Kay langsung memeluk Mamahnya sambil menangis, sampai infus di tanganya mengeluarkan darah karena tangan Kay terus saja berkerak untuk memeluk badan Mamahnya.
"Mah,,, kenapa Mamah ninggalin Kay, Mamah sudah janji sama Kay kalau mau temani Kay terus Mah,, kenapa Mamah,,,kenapa Mamah ninggalin Kay,, bangun Mah,, Kay mohon Mah bangun Mah,,, ayo Mah,,, "sambil terus menangis, Alvin mencoba menenangkanya, tapi Kay terus saja menangis dan tidak mau melepaskan pelukanya di badan Mamahnya.
Darah yang mengalir di tangan makin Banyak, Alvin yang kuatir langsung meminta perawat untuk melepasnya saja, tapi saat mau di. lepas Kay pingsang.
"Sayang,, bangun,, "
"Pak Ibu Kay pingsan,, "kata perawat.
Alvin langsung menggendonynya ke kamar yang ada di bawah, sampai di kamar si perawat langsung membantu Kay untuk memasang tali infus nya lagi, dan Alvin hanya bisa diam dan menatap ke istrinya dengan sedih, Kay terlihat sangat pucat membuat Alvin pun meneteskan air matanya.
Alvin menemani Kay di kamar sampai Kay tersadar, Bimo menyuruh mba untuk membuatkan su*su coklat hangat dan roti isi untuk Alvin dan setelah jadi Bimo yang mengantarkanya.
__ADS_1
"Vin minum dan makanlah ini, biar kamu sedikit lebih baik, perutmu juga harus di isi,, "
"Aku ngga pengin apa apa Bim,, Aku ngga lapar,, "
"Tapi kamu harus makan, kalau kamu sakit siapa yang akan menjaga istrimu, kamu harus makan ,,malanlah,,, "Alvin pun lalu mau meminumnya dan. memakanya, karena benar juga yang di katakan Bimo.
"Aku tenang aja, Aku akan menjaga di depan, kamu tetap di sini, jagain istrimu,, "
"Makasih ya Bim,,, "Bimo mengangguk.
Alvin lalu menghabiskanya,Alvin juga menyuruh orang untuk membuatkan bubur buat Kay. nanti Kay juga harus makan kalau sudah sadar.
Kay pun tersadar pukul 5 pagi, Alvin lalu mengusap kepalanya.
"Iya sayang,,, kamu harus iklas semua sudah takdir dari Tuhan,, kamu jangan sedih terus kasihan Mamah nanti ikutan sedih,, kamu juga belum sehat ,dan kasian anak kita juga,, "Alvin menggenggam tangan Kay.
"Iya Mas,, Aku akan iklaskan Mamah,, Mamah sudah ngga sakit lagi kan Mas,, "
"Iya Sayang,,, "Alvin pun memeluk kay dengan sayang.
"Mas,, Mamah kemarin pernah bilang kalau Mamah meninggal ingin di makamkan di samping makam Papah,, "
__ADS_1
"Iya,, nanti Mas akan bilang pada Bimo biar dia yang urus,, "
"Mas Aku ingin ke depan lagi,, "
"Jangan,, di sini aja,, kamu di sana pasti nanti nangis lagi, "
"Ngga Mas,, Aku ngga akan nangis lagi, Aku ingin bacakan yasin buat Mamah,,"Alvin ahirnya membantu Kay untuk turun, dan Alvin juga menyuruh perawat untuk menemani Kay dan menjaganya.
Kay duduk di dekat Mamahnya dan terus memandang wajahnya.
"Mungin ini memang sudah takdirnya Mamah dari Tuhan, perkataan Mamah waktu di dalam mobil saat mau ke makam Papah itu Mamah sudah memberi petanda pada Kay,, "kata Kay dalam hatinya.
Kay pun mulai mengaji, dan makin siang tamu makin banyak.
"Vin Aku mau jemput, Ibu ,Rara dan Tiwi dulu yah,, "kata Bimo.
"Iya,, hati hati jangan ngebut,, "
Bimo pun pergi, dan Alvin menemu tamu yang datang untuk melayat.
**Jangan lupa like komen dan votenya, trmakasih..
__ADS_1
Dikit aja,, Aku ngga kuat nulis, nangis terus ini. Aku merasakan banget apa yang di rasakan Kay soalnya,, sedihnya di tinggal Ibu**..