Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Be My Wife


__ADS_3

Di jalan menuju lokasi. Kania baru menyadari ternyata interior dalam mobil itu gak kalah mewah dari body luarnya.


Waaah! Gak cuma luarnya yang keren tapi dalamnya juga! Aku yakin harga mobil ini pasti mahal banget, berkali-kali lipat dari mobil Ayah.


Aditya yang tengah mengemudi melirik ke samping dan melihat Kania yang sedang mengagumi interior mobilnya.


Kekasihnya itu juga tampak hati-hati saat akan menyentuh dashboard mobil membuat Aditya tertawa kecil.


"Pegang aja Baby, gak gigit koq," goda Aditya.


Kania tersentak dan jadi salah tingkah saat Aditya menangkap basah dirinya.


"Ehem!" Pipi Kania merona. Gadis itu tengah menahan malu.


"Aku cuma mau bersihin, berdebu," lanjutnya berkilah.


"Berdebu?" Aditya tertawa kecil.


"Kita mau kemana sih?" tanya Kania mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kejutan Baby, nanti kamu juga tahu."


Kania memicingkan mata saat Aditya memberikannya senyum penuh arti.


Hmm... Kejutan apa ya? Kenapa deg-degan gini?


Perjalanan yang memakan waktu membuat Kania mengantuk dan akhirnya tertidur.


Aditya yang menyadari hal itu menepikan mobilnya ke bahu jalan. Dia menurunkan sandaran kursi Kania agar kekasihnya itu bisa tidur dengan nyaman bahkan dia membuka jas semi formalnya untuk menyelimuti kekasihnya itu.


Dengan lembut Aditya mengelus pipi Kania dan kembali melajukan mobilnya.


...****************...


Setelah dua jam, sebuah mobil Bugatti hitam terparkir di depan restoran yang berada tidak jauh dari tepi pantai.


"Baby bangun, kita sudah sampai."


Aditya mengelus-ngelus pipi Kania untuk membangunkan kekasihnya itu.


"Euughh~" Kania menggeliat, badannya terasa kaku.


"Udah sampai ya?" tanyanya dengan suara parau sambil mengucek-ucek mata.


"Iya." Aditya merapikan rambut Kania yang sedikit berantakan.


Saat matanya sudah benar-benar terbuka, Kania melihat jas Aditya ada di atas pangkuannya.


"Ini jas kamu, makasi ya."


Aditya menerima jas yang diberikan Kania dan memakainya kembali. Begitu juga dengan Kania yang merapikan gaunnya yang sedikit kusut.


Lalu Aditya membantu Kania melepas seatbelt dan saat Kania akan membuka pintu mobil, Aditya langsung mencegah kekasihnya itu.


"Tunggu! Aku keluar duluan!" Aditya pun bergegas keluar.


Kania melihat pria kecilnya itu berjalan mengitari kap mobil lalu berdiri di samping pintu mobilnya.


...Cklek...

__ADS_1


Aditya membuka pintu mobil lalu bersikap seperti seorang pangeran yang menyambut putrinya keluar dari kereta kuda. Dia mengulurkan tangan kepada Kania yang masih terduduk di dalam mobil.


Jangankan Kania, semua gadis juga pasti tersipu malu diperlakukan manis seperti itu oleh pasangannya.


Kania pun meraih tangan pangerannya dan keluar dari dalam mobil.


Momen itu pun semakin manis saat sang pangeran mencium punggung tangan putrinya.


Kania tersenyum malu, pipinya merona. Pria kecilnya itu selalu berhasil mengacaukan ritme detak jantungnya.


Kemudian Aditya berpindah berdiri di belakang Kania lalu menutup mata kekasihnya itu dengan kedua tangannya.


Kania pun tersentak saat pandangannya tiba-tiba gelap.


"Honey?! Kenapa mata aku ditutup?!" pekik Kania kaget.


Aditya mendekatkan bibirnya ke telinga Kania.


"Jangan takut Baby, aku akan jadi mata kamu," bisik Aditya.


"Ta-Tapi...."


"Maju perlahan, aku ada di belakangmu, jangan takut," ucap Aditya memberi pengarahan kepada Kania yang dia tutup matanya.


Kania sempat ragu tapi akhirnya dia mengikuti arahan dari Aditya.


Pelayan restoran itu pun menyambut kedatangan mereka lalu mengarahkan Aditya ke meja yang sudah disiapkan sesuai dengan request Aditya sebelumnya.


"Ok, stop Baby."


Kania merasakan similir hembusan angin menerbangkan rambutnya dan suara deburan ombak terdengar jelas digendang telinganya.


"Honey, apa kita sekarang ada di Pantai?" tanya Kania.


Kania tidak langsung beraksi, matanya masih butuh waktu untuk menyesuaikan dan setelah penglihatannya semakin jelas, dia baru terkejut melihat apa yang ada di depannya.



Sebuah table dinner kecil untuk dua orang dan lampu-lampu di sekitarnya.


Hati Kania pun bergetar. Ini adalah momen paling indah seumur hidupnya. Matanya pun berkaca-kaca, dia terharu dan juga bahagia disaat bersamaan.


Aditya menggandeng tangan Kania dan mengajak kekasihnya itu menuju meja mereka melewati lampu-lampu yang ada di atas pasir.


"Aditya, ini....." Kania masih tidak percaya, rasanya seperti mimpi.


"No Aditya!" protes Aditya meskipun memang itu namanya tapi hari ini Kania harus memanggilnya dengan panggilan sayang.


Kania tersadar dan langsung merubah panggilannya lagi, "Honey."


"Bagaimana? Apa kamu suka?" Aditya menarik salah satu kursi lalu mempersilahkan Kania untuk duduk.


"Makasi. Iya, aku suka, indah sekali."


Setelah Kania duduk, Aditya pun bergegas ke kursi satunya.


Tak lama, beberapa pelayan datang membawa makanan dan minuman lalu menatanya di atas meja. Setelah tugasnya selesai, pelayan itu pun pergi meninggalkan dua sejoli yang tengah saling bertatapan penuh cinta.


"Aku punya satu kejutan lagi untukmu."

__ADS_1


"Kejutan lagi?"


"Iya tapi setelah kita makan."


"Kenapa hari ini kamu kasi aku kejutan? Padahal ini bukan hari ulang tahunku atau annivesary kita."


"Sabar Baby, kita makan dulu ya."


Di atas meja sudah tersedia dua porsi fettucini carbonara seafood dan garlic bread juga dua gelas jus tropical warna-warni.


Aditya menggulung-gulung fettucini nya dengan garpu lalu menyodorkannya ke mulut Kania.


"Baby, aaaaa."


Kania pun memakan fettucini dari Aditya.


"Gimana? Enak, kan?"


Kania yang sedang mengunyah tersenyum dan mengangguk.


Melihat ada krim disudut bibir Kania, Aditya mengambil serbet dan dengan perhatian membersihkan krim dari bibir kekasihnya.


"Makasi."


Kania sangat bahagia. Rasanya dia tidak ingin semua ini berakhir. Jika ini adalah mimpi maka dia tidak ingin terbangun.


...****************...


Setelah sesi makan, seperti yang diucapkan Aditya, dia punya satu kejutan lagi untuk Kania.


Beberapa pelayan datang lagi mengambil piring dan gelas dari atas meja lalu meninggalkan meja itu.


Setelah hanya ada mereka berdua disana, Aditya beranjak dari kursinya dan meminta Kania juga berdiri.


Lalu dengan satu kakinya, Aditya berlutut di depan Kania.


Sontak Kania pun terkejut, jantungnya berdebar-debar. Dilihatnya Aditya mengambil sesuatu dari dalam saku celana.


Mata Kania kembali melebar saat Aditya membuka kotak kecil dihadapannya. Dia melihat sebuah cincin bermata biru di dalam kotak kecil itu.



"Dengan ini aku ingin menunjukkan kalau aku serius. Please be my wife."


Lidah Kania tiba-tiba kelu. Detak jantungnya sudah tidak terkendali, hatinya bergemuruh.


Waktu seakan berhenti. Mereka pun saling bertatapan. Dari mata keduanya sama-sama menyiratkan cinta yang tulus untuk pasangan mereka.


Jantung Aditya pun tak kalah berdebar-debar. Dia begitu tegang saat ini menunggu jawaban Kania.


"Ho-Honey aku--"


Tiba-tiba Aditya berdiri lalu langsung memakaikan cincin itu ke jari manis Kania.


Sontak Kania pun dibuat melongo olehnya.


"Ini hadiahku yang terakhir, aku minta kamu menjadi istriku dan kamu tidak bisa menolaknya."


"Lagipula 1x24 jam kamu juga harus melakukan apapun yang aku minta jadi percuma saja menolak," lanjutnya.

__ADS_1


Aditya tersenyum lebar, pemuda itu senang karena rencananya berhasil sedangkan Kania masih melongo, dia tidak percaya kalau sekarang jari manisnya sudah terpasang cincin. Cincin yang menandakan dia bersedia menikah dengan Aditya. Tapi kapan dia mengatakan bersedia?


...****************...


__ADS_2