
Kania pikir setelah makan malam dia bisa istirahat tapi ternyata dia kembali terjebak peperangan sengit Aditya dan Galih.
Kali ini lokasi perang keduanya bukan lagi di meja makan tapi di ruang tengah.
Tatapan tajam Aditya dibalas dengan wajah sinis Galih sedangkan Kania yang sedari tadi sudah bersabar akhirnya tidak tahan juga.
"Kalian berdua cukup!!" sentak Kania.
"Aku mau kalian berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti ini?! Kalian bukan anak kecil lagi!"
Kania mengomel sambil menatap tajam Aditya dan Galih yang nampak masih enggan menyudahi perang mereka.
Daripada dirinya makin tertekan, Kania pun mencoba membuka obrolan lebih dulu.
"Apa tadi kamu kesini bareng Ayah?" tanya Kania.
Begitu mendengar Kania berbicara kepadanya, wajah Galih yang sinis langsung berubah lembut.
"Iya, tadi aku kesini bareng Om Hendra."
"Benar dugaanku, dia memanfaatkan Ayah mertua, ck, dasar licik!" gumam Aditya sambil melirik tajam kearah Galih.
"Koq kamu bisa bareng Ayah?" tanya Kania lagi.
Galih pun bercerita tentang ban mobilnya yang bocor di dekat gedung perusahaan Hendra dan niatnya yang ingin bertemu Kania.
"Ooh begitu tapi emangnya mobil kamu gak apa-apa ditinggal gitu aja? Gimana kalau nanti ada orang jahat yang ambil mobil kamu?"
"Gak masalah, dia bisa beli lagi, benar, kan Tuan Galih?" celetuk Aditya sambil tersenyum sinis kepada Galih.
"Benar Yaya, kamu tidak perlu khawatir, aku bisa beli lagi nanti dan aku mau kamu yang memilih mobilnya."
"Aku? Kenapa aku yang memilih mobilnya?" Kania dengan polosnya menunjuk dirinya sendiri.
"Kita selalu bersama selama 12 tahun jadi aku yakin kamu pasti bisa memilih mobil yang sesuai dengan seleraku."
"Tapi yang nanti memakai mobilnya kamu jadi... Lebih baik kamu sendiri yang memilih mobilnya."
Senyum Aditya mengembang mendengar penolakan Kania.
"Benar Baby! Masa CEO seperti Tuan Galih tidak bisa memilih mobilnya sendiri?" sindir Aditya.
Lalu selang dua detik, Aditya menyeringai.
"O iya, kenapa kamu tidak sekalian mengundang Tuan Galih, Baby? Mumpung dia disini."
Mendadak perasaan Galih tidak enak dan gelisah saat melihat wajah angkuh Aditya.
"Mengundang? Apa maksudnya Yaya?"
"Galih, aku dan Aditya, kami...."
"Kami akan segera menikah," sahut Aditya.
"Menikah?!" pekik Galih.
__ADS_1
Mata Galih terbelalak, jantungnya bahkan berhenti berdetak saat mendengar kata "Menikah".
"A-Apa maksudnya? Y-Yaya, ka-kamu... A-Akan me-menikah de-de-dengannya??" ucap Galih terbata-bata saking shock nya.
"Iya Galih, aku akan menikah dengannya."
"3 hari lagi!" timpal Aditya.
"Apa?! Ti-Ti-Tiga ha-hari lagi?!"
Galih kembali mendapat terapi shock hari ini. Jantungnya seakan diremas kencang. Sakit sekali.
"Saya harap Anda sebagai teman masa kecil calon istrinya bisa datang ke acara pernikahan kami." Aditya sengaja menekan kalimat "teman masa kecil" untuk mengingatkan Galih siapa dirinya.
Tangan Galih mengepal kencang, ketenangan yang sedari tadi dia tunjukan tidak bisa dia pertahankan lagi.
"Tidak! Yaya, bilang sama aku! Dia memaksamu, kan?! Pria ini pasti mengancam dan memaksamu menikah dengannya, kan?!" ucap Galih histeris sambil menunjuk Aditya.
Kania terkejut dengan reaksi Galih yang berlebihan. Dia tidak menyangka kalau Galih akan histeris seperti itu.
"Tenang Galih, aku--"
"Jangan takut Yaya, aku disini, tidak akan aku biarkan dia menyakitimu, bilang Yaya, dia memaksamu, kan?!" Galih yang geram pun langsung menarik kerah baju Aditya.
Kania kembali terkejut melihat hal itu. Galih yang selama ini selalu bersikap tenang ternyata juga bisa meledak-ledak seperti ini.
Sedangkan Aditya tersenyum sinis, baginya yang memegang sabuk hitam taekwondo tentu tidak sulit membalik keadaan. Tapi saat ini dia ingin menikmati ekspresi Galih lebih dulu.
Galih semakin geram saat melihat wajah tengil Aditya apalagi saat mendengar dua kata yang terucap dari bibir pria itu.
"Brengsek!" umpat Galih.
"Galih, lepaskan Aditya, kita bisa bicara baik-baik, tidak seperti ini!" Kania berusaha melepaskan tangan Galih dari kerah baju Aditya.
"Loser."
Satu kata dari Aditya seperti bensin yang semakin menyulut api amarah Galih. Apalagi saat Galih melihat Aditya tersenyum, dia merasa diremehkan.
Kania langsung menatap tajam Aditya, pria kecilnya itu malah membuat situasi semakin panas.
"Galih, aku mohon lepaskan Aditya, kita bicarakan ini baik-baik." Kania kembali membujuk Galih.
"Dan kamu, diam! Jangan katakan apapun!" ancam Kania sambil menatap tajam Aditya yang hanya mengangkat bahunya tak acuh.
Galih semakin kencang mencengkram kerah baju Aditya lalu dengan kasar melepasnya.
Kania menghela napas lega, dia tidak ingin sampai terjadi baku hantam antara kedua pria itu.
"Jadi katakan yang sejujurnya Yaya, apa dia memaksamu?!"
Galih tetap kekeh dengan pemikirannya kalau Kania pasti sudah dipaksa atau diancam Aditya makanya gadis pujaan hatinya itu bersedia menikah dengan Aditya, si bocah tengil.
"Tidak Galih, tidak ada yang memaksa atau mengancamku."
"Jujur aja Yaya, jangan takut, ada aku disini, aku pastikan dia tidak akan menyakitimu!"
__ADS_1
"He's crazy." Aditya berbisik ke telinga Kania.
Kania menghela napas, kali ini karena dia mulai frustasi.
"Cukup Galih! Kamu tidak dengar apa yang aku katakan? Tidak ada yang memaksaku!" Kania sedikit meninggikan suaranya.
"Gak! Kamu pasti dipaksa! Gak mungkin kamu menikah sama dia!" sangkal Galih.
"Kenapa gak mungkin?"
"Karena cuma aku yang benar-benar mencintaimu Yaya! Cuma aku yang bisa membuatmu bahagia dan tidak akan menyakitimu!"
Ruang tengah mendadak hening.
Padahal waktu itu Kania dengan tegas menolak perasaan Galih tapi ternyata pria itu masih belum merelakannya.
"Maaf," lirih Kania.
"Tidak, tidak, kenapa kamu minta maaf Yaya?" ucap Galih dengan suara bergetar.
Tiba-tiba Galih teringat saat pertama kali dia mengutarakan perasaannya kepada Kania beberapa tahun silam.
Galih mulai cemas, keningnya mengeluarkan keringat dingin. Dadanya terasa sesak.
"Maaf Galih, aku--"
"Tidak! Aku tidak mau dengar! Tidak!" teriak Galih histeris sambil menutup kedua telinganya.
"See? He's crazy Baby." Aditya kembali berbisik kepada Kania.
Kania tidak tega melihat Galih yang kacau di hadapannya. Mau bagaimana pun pria itu lah yang pertama kali mengajaknya berteman dan selalu bersamanya selama 12 tahun.
"Galih...," lirih Kania.
...Tap!...
Dengan cepat Aditya menahan tangan Kania yang terulur kearah Galih dan menggelengkan kepalanya.
Aditya sadar kalau saat ini emosi Galih sedang tidak stabil dan biasanya seseorang yang emosinya tidak stabil bisa menyakiti orang di sekitar mereka.
"Galih... Aku minta maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu, aku menganggapmu sebagai teman tidak pernah lebih."
Kania mengatakannya selembut mungkin dan berharap Galih mengerti.
Beberapa saat ruang tengah kembali hening lalu samar-samar terdengar suara isakkan yang berasal dari pria yang saat ini masih menunduk sambil menutup telinganya.
"A-Aku mencintaimu Yaya... Aku... Aku... Mencintaimu... Aku mencintaimu... Mencintaimu...," rancau Galih terisak.
"Tapi Yaya-mu mencintaiku," ucap Aditya dingin.
"Tidak!! Tidak! Yaya! Katakan itu tidak benar! Tidak! Yaya mencintaiku dan aku mencintainya!" Galih kembali histeris, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus menutup telinganya.
Kania semakin tidak tega, air matanya pun menetes.
Apa yang terjadi dengannya? Apa aku sudah sangat menyakitinya? Tapi aku tidak bisa berbohong, perasaanku kepadanya memang hanya sebatas teman. Aku harus bagaimana? Aku sedih melihatnya seperti ini.
__ADS_1
...****************...