Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Rubah Kecil


__ADS_3

Satpam yang bertugas segera membuka pintu gerbang saat melihat motor Aditya yang adalah anak dari majikannya di depan gerbang.


Setelah pintu gerbang terbuka, Aditya pun melajukan motornya ke tempat biasa dia memakirkan motor kesayangannya itu.


Aditya bergegas menuju pintu depan dan melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke dalam rumah. Dia ingin memberitahu Kania tentang kedatangan Mutiara.


Aditya tahu kalau Kania masih cemburu dengan Mutiara padahal dia sudah berkali-kali meyakinkan Kania kalau dia tidak punya perasaan lebih kepada Mutiara.


"Baby!" panggil Aditya sambil berjalan ke ruang tengah.


Ruang tengah, salah satu tempat favorit Kania mengerjakan skripsi tapi hari ini Aditya tidak melihat wanita itu disana.


"Mungkin di kamar," gumam Aditya lalu bergegas menuju tangga dan naik ke lantai atas.


Aditya berjalan ke kamar Kania lalu mengetuk-ngetuk pintu kamar itu.


"Baby! Boleh aku masuk?!" ucap Aditya sedikit teriak.


Setelah beberapa saat tidak ada jawaban dari dalam kamar lalu Aditya pun memegang knop pintu dan membuka pintu kamar Kania.


"Gak dikunci," gumam Aditya.


Setelah pintu terbuka, mata Aditya mencari keberadaan Kania di dalam kamar tapi nihil, wanita itu juga tidak ada disana.


Aditya pun masuk lalu berjalan ke kamar mandi. Dia mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil Kania tapi tidak ada jawaban juga dari dalam kamar mandi.


Saat dibuka, Kania juga tidak ada di kamar mandi.


"Apa dia belum pulang? Tapi biasanya jam segini dia udah ada di rumah, hmm...."


Aditya pun memutuskan menghubungi Kania tapi panggilannya tidak dijawab.


"Kemana dia? Kenapa gak jawab teleponku?"


Beberapa kali Aditya kembali menghubungi Kania tapi tetap tidak dijawab bahkan chat darinya pun tidak dibalas akhirnya Aditya keluar dari kamar Kania dan pergi ke lantai bawah. Dia akan bertanya kepada bibi tentang Kania.


Saat Aditya turun dari tangga, kebetulan bibi pelayan rumah itu menghampirinya.


"Den, di depan ada tamu, katanya teman Den Aditya," lapor bibi.


"O iya makasi Bi, siapin minuman sama cemilan, Saya mau belajar bareng sama teman Saya di ruang tengah."


"Baik Den."


Bibi pun akan beranjak pergi tapi Aditya segera menahannya.


"Tunggu Bi."


"Iya Den?"


"Kak Kania udah pulang belum?"


"Maaf Den, daritadi Bibi belum lihat Non Kania."


"Hmm.. Yaudah, makasi Bi."


Bibi menganggukan kepalanya lalu beranjak pergi ke dapur.


"Kak Kania kemana sih?! Kenapa gak kasi kabar kalau pulang malam?! Ditelepon gak bisa, chat juga gak dibalas!" gumam Aditya sewot.


...****************...


Salah satu tempat favorit Kania di rumah adalah perpustakaan selain ruang tengah dan kamarnya.


Kania tampak serius mengerjakan skripsinya sampai tak sadar ada banyak panggilan masuk dan chat dari Aditya. Dia sengaja mengaktifkan mode silent agar dia bisa fokus mengerjakan skripsinya.


Karena sudah hampir tiga jam mengetik, bahu Kania terasa pegal begitu juga jari-jemarinya. Lehernya pun juga terasa kaku.


Kania merenggangkan tangannya ke atas lalu menggerakan lehernya ke kanan-kiri agar bahu dan lehernya tidak kaku lagi.


"Haus, perut gue juga lapar, di dapur ada cemilan gak ya?"


Kania pun beranjak dari sofa empuk yang didudukinya lalu berjalan meninggalkan perpustakaan.


...****************...


Hanya melihat wajah Aditya, Daniel bisa menebak kalau saat ini sahabatnya itu lagi bete dan kesal.


Kenapa tuh anak? Mukanya ditekuk aja.


Sementara Mutiara tersenyum lalu berlari kearah Aditya tapi karena tidak hati-hati dia malah tersandung kakinya sendiri sehingga membuat keseimbangannya goyah.


Mutiara pun langsung memejamkan matanya, dia yakin badannya akan menghantam lantai marmer yang keras.

__ADS_1


...Bruk!...


...****************...


Kania yang baru saja sampai di dapur melihat bibi sedang menata tiga gelas jus jeruk dan juga dua piring cemilan di atas nampan.


"Bi, ada tamu?" tanya Kania.


"Astaga! Iya Non." Bibi sedikit terkejut saat melihat Kania di sampingnya.


"Maaf ya Bi, Saya gak bermaksud buat Bibi kaget," ucap Kania cengengesan.


"Iya Non, gak apa-apa, Non Kania baru pulang?"


"Udah daritadi Bi," jawab Kania lalu membuka kulkas di depannya.


"Tapi tadi Den Aditya nyariin Non gak ada, Non dimana?"


"Saya di perpustakaan Bi, sekarang Aditya dimana? Di kamar ya?" Kania menuang jus ke dalam gelas.


"Den Aditya lagi sama temennya Non di ruang tengah, ini Bibi mau antar minuman sama cemilan buat temenya den Aditya."


Bibi mengangkat nampan dengan hati-hati lalu beranjak dari tempatnya.


"Bi, tunggu," cegah Kania.


"Iya Non?"


"Sini Bi biar Saya aja yang bawa minuman sama cemilannya." Kania mengambil nampan dari tangan bibi.


"Tapi Non--"


Tanpa menunggu bibi menyelesaikan ucapannya, Kania langsung pergi membawa nampan menuju ruang tengah.


...****************...


...Bruk! ...


Loh koq gak sakit?


Saat Mutiara membuka matanya yang dia lihat bukan lantai marmer tapi dada bidang seseorang yang ada dibawahnya.


"Mutiara! Adit! Kalian gak apa-apa?!" pekik Daniel.


Mutiara langsung mengangkat wajahnya dan melihat Aditya sedang meringis kesakitan.


Ternyata sebelum Mutiara jatuh, Aditya berhasil menangkap Mutiara tapi karena keseimbangan Aditya goyah akhirnya dia juga ikut terjatuh.


Kania yang sedang berjalan sambil membawa nampan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia tertegun melihat pemandangan di depannya yang membuat dadanya terasa sesak.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Aditya ke Mutiara yang masih berada di atas badannya.


"I-Iya."


Jantung Mutiara berdetak kencang saat kedua manik indah milik Aditya menatapnya.


"Ehem!"


Seketika jantung Aditya berhenti berdetak. Dia langsung panik dan segera mendorong Mutiara agar bangun dari atas badannya lalu dia pun bergegas berdiri.


Kak Kania?! Kak Kania ada di rumah?! Gue pikir Kak Kania belum pulang.


Terasa hawa dingin yang mencekam dari belakang Aditya.


Gawat, gimana nih?! Kenapa otak gue malah gak bisa mikir?!


Aditya berusaha menelan salivanya saat merasa hawa dingin itu semakin mendekat kearahnya.


"Apa kalian teman sekolahnya Aditya?"


Kania khusus menegaskan kata "teman" saat melihat Mutiara yang berdiri di samping Aditya.


Mutiara yang tahu siapa wanita yang berdiri di harapannya malah dengan sengaja memeluk lengan Aditya lalu tersenyum seolah mengejek Kania.


Dasar rubah kecil! Berani sekali dia terang-terangan menantangku!


Kania merasa geram, dia menatap Mutiara sangat tajam. Di dalam pikirannya dia ingin sekali mencakar wajah menyebalkan rubah kecil itu, sebutan yang Kania berikan kepada Mutiara.


Jangan sombong dulu rubah kecil, aku akan tunjukan siapa yang berkuasa disini.


"Honeyy~" panggil Kania manja.


Badan Aditya langsung menegang, meskipun suara Kania terdengar manja tapi terasa menyeramkan.

__ADS_1


"I-Iya Baby."


"Bisa bantu aku bawa nampan ini? Berat sekali Honey~ tanganku sakit~"


Dengan sigap Aditya segera mengambil nampan dari tangan Kania sehingga membuat tangan Mutiara otomatis terlepas dari lengan Aditya.


Melihat hal itu Kania pun tersenyum menyeringai kearah Mutiara.


Sial! Dasar wanita sombong! Aku belum kalah!


Mutiara mengepalkan kedua tangannya sangat kencang.


...****************...


Di ruang tengah terlihat empat orang yang sedang duduk di atas karpet bulu mengelilingi meja kaca berbentuk persegi.


Kania menggeser duduknya lebih dekat dengan Aditya lalu memeluk lengan kekasihnya itu dengan manja.


"Honey, kamu engga kenalin aku sama teman kamu."


"Kamu kan udah kenal sama Daniel Baby."


"Tapi aku belum kenal sama teman kamu yang itu."


Kania senang sekali saat melihat Mutiara yang sedang menatapnya tajam.


Aditya tahu saat ini terjadi perang dingin diantara kedua wanita itu dan tentu saja dia pasti akan mendukung Kania lagipula dia menikmati saat kekasihnya itu bermanja-manja kepadanya.


"Dia Mutiara, waktu itu aku kan udah pernah cerita sama kamu, dia teman TK aku." Aditya mencubit gemas pipi Kania.


Hati Mutiara seperti tercubit saat mendengar ucapan Aditya.


"Iya aku teman TKnya Aditya, waktu TK kami sangaaaaat dekat sampai kemana-mana selalu berdua, Aditya selalu memegang tangan ku seperti ini."


Mutiara memegang tangan Aditya lalu sengaja menunjukkannya kepada Kania sambil tersenyum.


Tapi bagi Kania sangat menyebalkan melihat senyuman rubah kecil itu.


Aditya pun langsung melepas tangan Mutiara sehingga sekarang giliran Kania yang tersenyum.


"Wajar kalau anak kecil memegang tangan temannya, aku yakin Daniel juga pernah, kan?"


Daniel langsung menegakan duduknya. Dia merasa seperti ditodong pistol saat Kania melihat kearahnya.


Gue gak boleh salah jawab nih.


Daniel pun menelan salivanya sebelum menjawab pertanyaan Kania.


"I-Iya, dulu aku juga pernah."


Kania mengalihkan pandangannya ke Mutiara lalu tersenyum mengejek rubah kecil itu.


Mutiara mengeratkan giginya. Rasanya dia ingin sekali menjambak Kania saat ini.


"Dit, kapan kita belajarnya?" tanya Daniel.


"Bentar, gue ambil buku matematikanya dulu, ayo Baby ikut aku ke atas."


"Iya Honey."


Lalu Aditya pun berdiri begitu juga Kania tapi tiba-tiba Mutiara ikut berdiri.


"Aku juga ikut!"


"Ngapain kamu ikut? Kamu disini saja," ucap Aditya tegas.


"Kalau dia ikut, aku juga ikut!"


Mata Aditya pun berubah dingin sehingga membuat Mutiara sedikit menunduk.


"Kalau kamu tidak mau tunggu disini aku akan minta supir untuk mengantar kamu pulang."


Mutiara pun tidak berani membalas lagi dan akhirnya kembali duduk.


Melihat Mutiara yang tidak bisa berkutik lagi membuat Kania senang. Dia merasa sudah mengalahkan rubah kecil itu.


Lalu Aditya memegang dan menarik tangan Kania pergi meninggalkan Mutiara dan Daniel di ruang tengah.


Setelah Aditya pergi, Daniel melirik Mutiara yang masih menundukkan kepalanya.


Kayanya Mutiara suka sama Aditya tapi sayang Aditya udah bucin sama Kak Kania jadi gak mungkin ada kesempatan, mending nyerah aja sih daripada sakit hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2