
Teorinya sih mau ngambek karena video call nya berulang kali tidak direspon Kania tapi nyatanya praktek lebih sulit daripada teori.
Sejak Aditya memutuskan ngambek, dia terus memperhatikan ponselnya. Berharap Kania menghubungi dan membujuknya yang sedang merajuk tapi ekspektasi memang tidak pernah sejalan dengan kenyataan, kan? Karena sampai saat ini layar ponselnya tetap gelap.
"Baby...," lirih Aditya mengerucutkan bibirnya.
"Emangnya kamu gak kangen sama aku? Apa susahnya sih jawab video call dari aku? Mami juga gak bakal tahu kalau kita video call." Aditya berbicara dengan ponselnya.
Entah apa lagi yang harus Aditya lakukan untuk bisa bertemu atau sekedar bisa melihat wajah calon istrinya itu.
Segala cara yang didapat Aditya dari otak jeniusnya menjadi sia-sia karena Kania sendiri yang menggagalkan semuanya.
"Huuhhh~" Aditya menghela napas panjang.
Dulu saat Aditya menonton film Dilan 1991 dengan pacarnya yang cuma sebulan, dia meremehkan ucapan Dilan saat menelepon Milea "Jangan rindu, berat, kamu gak akan kuat biar aku aja".
Bahkan waktu itu Aditya juga menganggap Dilan konyol karena terlalu bucin kepada Milea.
"Ck, bucin amat, mau aja bucin sama cewek, ngapain bucin kalau ujung-ujungnya ditinggalin," cibir Aditya saat itu.
Sekarang mantan playboy itu termakan ucapannya sendiri dan merasakan kalau rindu itu memang... Berat.
"Aaaahh! Dia tahu gak sih, aku tuh ngambek! Kenapa dia belum telepon juga?!" sewot Aditya sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Dasar gak peka! Gak punya hati! Nyebelin! Aku benci ka--"
...Drrrttt drrrtt...
Aditya langsung mengatup bibirnya saat mendengar dering panggilan masuk dari ponselnya.
"Akhirnya telepon juga!"
Mata Aditya berbinar-binar dan dengan cepat menyambar ponselnya lalu menggeser ikon hijau tanpa melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Baby, please angkat video call nya! Emangnya kamu gak kangen sama aku? Kamu tega liat aku menderita kaya gini? Kamu cinta gak sih sama aku?"
"...." sang penelepon pun dibuat tak berkutik mendengar rentetan pertanyaan Aditya.
"Kamu tahu kan kalau tradisi ini cuma gak diperbolehkan bertemu secara langsung bukannya video call! Lagipula Mami juga gak bakal tahu kita video call jadi apa alasannya kamu gak mau jawab video call dari aku?! Jawab Baby! Jangan diem aja!" sentak Aditya.
".... " sang penelepon sampai menjauhkan ponselnya dari telinga dan ikut sewot karena disentak Aditya.
__ADS_1
"Siapa lo?! Mana calon istri gue?! Kenapa lo bisa sama dia?!"
Aditya makin emosi saat mendengar suara cowok dari seberang sana. Kecemburuannya membuat dia lupa dengan suara teman dekatnya sendiri.
"...." si penelepon pun menenangkan Aditya dan menyebut namanya sendiri.
"Daniel?"
Aditya langsung mengecek nama si penelepon dilayar ponselnya dan nama yang tertera adalah Daniel bukan Kania.
Salah orang.
"...." Daniel tertawa dan mengejek Aditya yang salah mengira kalau dia adalah Kania.
"Berisik! Ngapain lo telepon gue?!" Aditya yang malu membalas ketus ejekkan Daniel.
"...." Kali ini Daniel menggoda Aditya soal video call.
"Sial! Gue lagi gak mood becanda! Lo ngapain telepon gue?!" sahut Aditya ketus.
"...." Daniel pun mengalah dan berhenti menggoda Aditya lalu dia menanyakan perihal undangan pernikahan yang diterimanya.
"Iya bener, itu undangan pernikahan gue sama Kania."
"Biasa aja woy! Lebay banget sih lo!"
"...." Lalu Daniel kembali memastikan perihal pernikahan Aditya.
"Dua rius malah, gak mungkin gue ngeprank soal beginian, makanya besok lo dateng dan liat sendiri gue nikah."
"...." Sekarang Daniel menanyakan tentang sekolah kalau nanti Aditya menikah.
"Tenang aja, gue udah kasi tahu kepala sekolah soal pernikahan gue dan cuma kepala sekolah, lo sama Mutiara yang tahu soal pernikahan gue. Jadi gue minta lo bisa jaga mulut lo jangan sampai ada yang tahu soal pernikahan gue di sekolah."
"...." Daniel menyahut santai dan menegaskan kalau dia tidak akan memberitahu yang lain.
"Makanya gue ngundang lo sama Mutiara karena gue percaya kalau kalian gak bakal bocor dan cuma kalian yang deket sama gue di sekolah."
...****************...
Disaat Aditya sedang teleponan dengan Daniel, Kania diam-diam keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Gadis itu pun bergegas menuju dapur dan melihat calon ibu mertuanya sedang mengaduk adonan kue.
"Mami mau bikin kue apa?" tanya Kania.
"Kue kesukaan Aditya."
"Kue apa Mi?"
"Kue black forest."
"Waaah~ kue black forest! Kania juga suka!" Mata Kania berbinar-binar, dia bahkan menahan air liurnya agar tidak keluar saat membayangkan kue black forest dengan banyak potongan cherry segar diatasnya.
"Kamu juga suka kue black forest?"
"Iya Mi!" Kania mengangguk antusias.
Permata sampai menahan gemas melihat tingkah calon menantunya itu.
"Kania bantu apa nih Mi?" tanya Kania antusias.
"Kamu kocok whip cream nya terus kalau udah simpen di kulkas, Mami mau panggang adonan kuenya."
"Ok siap!"
Kania pun bergegas melaksanakan tugasnya sambil bersenandung ria.
Gadis itu teringat saat pertama kali dirinya mendapatkan kue black forest. Tepat saat ulang tahunnya yang ke sepuluh, ayahnya yang baru pulang kerja tiba-tiba masuk ke kamar sambil membawa kue black forest yang diatasnya berhiaskan lilin angka satu dan nol.
"Selamat ulang tahun putri cantik Ayah."
"Ayah ingat ulang tahun Kania!"
Saat itu Kania pikir ayahnya lupa dengan ulang tahunnya karena sibuk bekerja tapi dia salah.
Sang ayah memberi kejutan untuknya dan untuk pertama kali ayahnya menyiapkan kue ulang tahun karena biasanya sang ayah hanya akan memberikan hadiah kepada Kania.
Kania senang sekali karena akhirnya dia bisa meniup lilin dihari ulang tahunnya seperti anak-anak yang lain.
Sejak saat itu Kania menyukai kue coklat dengan krim yang diatasnya dikelilingi buah cherry. Kue black forest.
__ADS_1
...****************...