Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Mutiara Sakit (1)


__ADS_3

Hari kelima, hari terakhir ujian. Semua berjalan seperti biasa untuk semua penghuni sekolah kecuali Daniel karena Daniel merasa ada yang aneh hari ini.


"Dit, kayanya ada yang kurang hari ini? Lu ngerasa gak sih?"


Yang ditanya malah lagi asik chatting dengan someone spesial nya.


Daniel yang jengkel dicuekin Aditya akhirnya menendang kaki meja sahabatnya itu.


...Duk!...


Aditya sontak kaget dan hampir menjatuhkan handphone nya.


Seketika hawa di sekitar Daniel terasa dingin dan mencekam. Dia menyesali perbuatannya yang sudah membangunkan raja iblis.


Gawat! Gimana nih?! Ya Tuhan lindungi lah hamba.


Daniel menelan salivanya lalu memberanikan diri membuka mulutnya lebih dulu.


"Ma-Maaf Bro, ta-tadi gu-gue gak se-se--" ucap Daniel terbata-bata.


Aditya tetap diam tapi aura gelap yang dirasakan Daniel dan tatapan membunuh yang tertuju kearahnya membuat nyali Daniel semakin ciut.


"G-Gue gak sengaja Bro, lagian handphone lu kan gak jatuh jadi--"


Daniel langsung membungkam mulutnya saat mendapat pelototan dari Aditya.


"Ini bukan cuma masalah handphone tapi lu udah ganggu quality time gue sama Kak Kania," ucap Aditya dingin.


"Ma-Maaf Bro." Cuma kata itu yang bisa diucapkan Daniel. Dia tahu benar kalau sahabatnya itu sangat bucin dengan wanita yang bernama Kania.


Seketika Daniel mendapat ide agar dia bisa selamat dari kemurkaan raja iblis dihadapannya.


"Daripada lu marah sama gue, mending lu balas chat Kak Kania, kasian Kak Kania pasti nungguin chat dari lu."


Mendengar nama kekasihnya disebut, aura gelap dan hawa dingin yang dirasakan Daniel langsung hilang.


Wah Kak Kania emang hebat, nyebut namanya aja bisa bikin raja iblis bucin.


"O iya gue kan harus balas chat Baby ku~"


Aditya pun segera mengalihkan perhatiannya ke handphone lagi.


Daniel pikir dia sudah berhasil selamat tapi setelah Aditya membalas chat, Aditya kembali menatap Daniel.


"Gue masih bakal buat perhitungan sama lu nanti."


...Deg!...


Badan Daniel kembali menegang, dia pun cuma bisa tersenyum kaku.


...****************...


Setelah dua jam, semua murid mengumpulkan kertas ujian mereka dan bisa beristirahat.


"Dit, lu gak sadar?" tanya Daniel.


"Gue sadar, lu laper kan?" tebak Aditya.


"Gue emang laper tapi bukan itu maksud gue."


"Jadi maksud lu apa?"


"Lu beneran gak sadar?"


Aditya gak suka bicara bertele-tele apalagi perutnya sekarang udah minta diisi jadi dia pun beranjak dari kursinya lalu berjalan lebih dulu meninggalkan kelas.


"Gue malah ditinggal, dasar temen gak ada akhlak."


Daniel pun segera beranjak dari kursinya lalu mengejar Aditya.


"Dit, gue serius, lu gak sadar?"


"To the point aja."

__ADS_1


"Lu gak sadar hari ini Mutiara gak ke kelas, biasanya kan dia tiap pagi rajin setor muka sama lu sebelum ke kelasnya."


"Terus kenapa kalau dia gak dateng?"


"Gak apa-apa sih tapi aneh aja."


"Kalau lu kangen sama Ara dateng aja ke kelasnya."


"Kangen? Gue? Hahaha."


"Gue gak nyangka ternyata lu punya bakat ngelawak." Daniel menepuk-nepuk pundak Aditya.


Aditya pun cuma memutar bola matanya keatas. Dia malas menanggapi sahabatnya itu sekarang karena dia cuma ingin cepat sampai di kantin dan mengisi perutnya.


...****************...


Pelayan berjalan menuju kamar anak majikannya yang sedang sakit sambil membawa nampan yang diatasnya sudah ada sepiring nasi dan lauk juga segelas jus jeruk.


...Tok Tok...


Pelayan mengetuk pintu tapi tidak ada respon dari dalam kamar.


...Tok Tok...


Ketukan kedua juga tidak ada respon.


Pelayan itu pun mulai khawatir dengan anak majikannya.


"Nona lagi sakit, gimana kalau Nona kenapa-kenapa di dalam?"


Pelayan itu pun bergegas pergi lalu kembali lagi bersama pelayan lain yang lebih senior darinya.


...Tok Tok...


"Nona buka pintunya!" ucap Pelayan senior itu sedikit berteriak.


Tapi tetap tidak ada respon dari dalam kamar seolah kamar itu tidak berpenghuni.


...Cklek...


Pintu terbuka, kedua pelayan itu langsung masuk ke dalam kamar tapi mereka tidak melihat keberadaan anak majikan mereka.


Mereka pun bergegas ke kamar mandi dan memang benar, pintu kamar mandi terkunci berarti anak majikan mereka berada di dalam.


Tapi sama seperti tadi, berkali-kali diketuk dan dipanggil, tidak ada respon dari dalam kamar mandi.


Pelayan senior pun menyuruh pelayan yang satunya pergi memanggil satpam dan tukang kebun untuk mendobrak pintu kamar mandi.


Tak berapa lama, satpam dan tukang kebun datang lalu mendobrak pintu kamar mandi.


...BRAK!...


Pintu kamar mandi pun menghantam dinding dengan kencang.


Kedua pelayan masuk ke dalam kamar mandi sementara satpam dan tukang kebun menunggu di luar.


Alangkah kagetnya mereka saat melihat anak majikan mereka yang sudah terkapar di lantai kamar mandi.


"NONAAA!!"


...****************...


Aditya dan Daniel berjalan kembali ke kelas mereka setelah kenyang mengisi perut mereka di kantin.


Sebenarnya Daniel masih kepo soal Mutiara jadi dia bertanya lagi kepada Aditya.


"Dit, lu berantem sama Mutiara ya?"


"Mungkin."


"Mungkin? Lu beneran berantem sama Mutiara? Pantesan aja dia gak dateng ke kelas."


"Kenapa? Lu kecewa dia gak dateng?" ledek Aditya.

__ADS_1


"Engga, gue biasa aja."


"Masa? Kalau kangen bilang aja, jangan ditahan soalnya kangen itu berat."


Daniel tertawa geli mendengar ucapan Aditya.


"Gue gak nyangka lu juga bisa gombal hahaha."


"Tuh kelasnya, sana pergi, gue gak mau temen gue gila gara-gara kangen."


Aditya mendorong Daniel yang berjalan di sampingnya ke pintu kelas lalu dia langsung kabur meninggalkan sahabatnya itu.


"Sialan! Main dorong aja! Untung gak nabrak pintu!" gerutu Daniel.


Daniel ragu untuk masuk ke dalam kelas itu.


"Kenapa jadi gue yang kepo? Aditya aja gak peduli," gumam Daniel.


Saat Daniel sedang berdiri di depan kelas tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.


"Woy Niel, lu ngapain disini?"


"Tadi Adit nanyain Mutiara soalnya tadi pagi gak ke kelas."


Sorry Dit gue pake nama lu.


"Mutiara gak masuk."


"Gak masuk? Kenapa?"


"Katanya sih sakit."


Bel pun berbunyi, teman sekelasnya itu pun masuk ke dalam kelas begitu juga dengan Daniel yang kembali ke kelasnya.


"Dit, Mutiara gak masuk, katanya dia sakit."


"Jenguk lah Bro, masa ayang sakit gak dijenguk," goda Aditya.


"Ayang? Wah udah gila lu Dit, kalau cewek yang gue suka denger bisa salah paham doi," protes Daniel.


"Lah malah bagus kalau tuh cewek salah paham, berarti dia juga suka sama lu."


"Eh? Bener juga ya."


"Makanya les private sama gue, gue jamin peluang lu buat dapetin doi 100% sukses dan khusus buat lu gue kasi diskon 50% jadi lu cuma bayar satu juta tiap bulan, gimana?"


"Satu juta?! Yang bener aja lu Bro?! Kurangin lah, masa harga temen segitu."


"Gak bisa itu udah harga spesial, gue juga buka jasa konsultasi, tiap sesi lu cukup bayar 500 ribu, gue juga bakal kasi saran yang 100% bikin lu tambah deket sama doi."


"Kenapa kita malah bahas soal ini?! Dan sejak kapan lu buka jasa konsultasi dan les kaya gitu?!"


"Sejak gue liat jomblo kaya lu yang gak ada kemajuan deketin cewek."


"Biarin, berarti gue itu setia cuma ngejar satu cewek daripada punya banyak mantan," sindir Daniel.


"Justru bagus punya banyak mantan jadi ngerti tentang cewek."


"Udah lah gue pasti kalah debat sama lu, balik lagi ke topik awal, lu mau jenguk Mutiara?"


"Engga, lu aja, soalnya kalau Kak Kania tahu gue pergi ke rumah Ara nanti dia ngambek."


"Yaelah gak usah bilang kalau lu pergi ke rumah Mutiara, bilang aja lu ke rumah gue, gitu aja harus gue kasi tahu, tutup aja tuh jasa konsultasi sama les private."


"Gak bisa Niel, gue sama dia udah sepakat kalau gak boleh ada rahasia antara gue sama dia jadi kalau lu mau jenguk Ara, lu aja yang pergi kesana."


"Gue gak nyangka playboy SMA Bunga Bangsa ternyata bakal jadi calon suami takut istri," ledek Daniel.


"No, you are wrong, justru gue itu suami penyayang istri." Aditya membusungkan dadanya. Dia bangga dengan dirinya yang masuk kriteria suami idaman.


Untung Daniel udah biasa dengan sifat narsis Aditya kalau orang lain pasti udah enek dengan sahabatnya itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2