
Baru juga masuk, Aditya langsung memeluk pinggang Kania dengan posesif. Wajahnya sangat tegang dan sama sekali tak bersahabat.
Jantung Kania berdetak kencang, pipinya pun memerah seperti dipoles blush on.
Jangan tanya kenapa tiba-tiba Aditya bersikap posesif seperti itu?
Karena bukan Aditya saja yang berjenis kelamin laki-laki di cafe itu, ada beberapa pengunjung yang berjenis kelamin sama dengannya termasuk Leo, sahabat kekasihnya.
Tapi kalau dilihat dari situasi saat ini, Kania lah yang seharusnya merasa insecure karena beberapa pengunjung wanita yang tampak berusia lebih muda darinya secara terang-terangan memperhatikan pria kecilnya itu.
Ganjen banget sih! Ngapain liatin pacar gue! Jaga tuh mata! Jangan sampe gue colok mata kalian!
Kania pun membalas menatap tajam satu per satu pengunjung wanita itu.
Alhasil wajah keduanya tampak sama-sama menyeramkan.
Ratna yang melihat kedatangan Kania langsung saja mengangkat tangannya dan melambai memberi tanda kepada sahabatnya itu.
"Na, dia datang sama bodyguard nya," ucap Leo sambil menyikut lengan Ratna.
"Udah pasti, lu lupa kalau pacarnya itu super posesif? Makanya lu jangan macem-macem entar, duduk aja yang manis."
Melihat lambaian tangan Ratna, Kania pun berjalan menuju meja sahabatnya itu.
Aditya tampak dingin saat melihat Leo juga ada disana bersama Ratna.
"Kamu bilang mau ketemu Ratna, kenapa cowok itu juga ada disini?" bisik Aditya.
"Engga, aku bilang koq mau ketemu Ratna sama Leo."
Aditya mengingat-ingat apa benar yang dikatakan Kania? Atau mungkin daya ingatnya yang menurun.
"Akhirnya datang juga! Lama banget sih!" protes Ratna.
"Iya, kita sampe lumutan nungguin lu gak dateng-dateng," timpal Leo.
"Kita? Lu aja kali yang lumutan! Gue engga tuh, masih cantik." Ratna menyibak rambutnya ala model iklan shampo.
"Lu bukannya cantik tapi SOK CANTIK!" cibir Leo yang gak tahan dengan kenarsisan Ratna.
Meskipun mulutnya berkata seperti itu tapi di dalam hati tak ada yang tahu kecuali dia sendiri dan Tuhan.
Dulu perdebatan sahabatnya itu selalu membuat Kania pusing, sekarang dia senang karena bisa melihat sahabatnya berdebat lagi setelah beberapa hari tidak bertemu dengan mereka.
Tak jauh dari meja itu ada sepasang mata tengah memperhatikan mereka.
"Siapa cowok itu? Sok dekat banget sama Yaya!" gumam Galih sewot saat Kania tampak akrab berbicara dengan pria yang baru dilihatnya.
Ada apa dengan nasib percintaan Kania, dia selalu disukai pria cemburuan atau emang semua pria itu cemburuan?
Aditya tidak keberatan kalau Kania HANYA MENGOBROL dengan Leo tapi tidak akan mentolerir jika terjadi kontak fisik karena cuma dia yang boleh menyentuh wanitanya.
"Wah parah banget lu Ni masa ngajarin pacar sendiri bolos."
__ADS_1
Kania terperanjat mendengar ucapan Ratna dan baru sadar kalau Aditya ternyata masih memakai seragam sekolah. Meskipun Aditya memakai jaket tapi celana abu-abunya sangat identik khas anak SMA.
"O iya, kenapa kamu bisa pulang? Sekolah kan belum selesai, kamu bolos? Terus nanti nilai kamu gimana kalau kamu bolos? Nilai kamu bisa dikurangi, percuma aja aku udah nyiapin hadiah kalau--"
Mulut Kania yang terus nyerocos itu pun langsung berhenti saat telunjuk Aditya menempel dibibirnya.
"Kamu tenang aja, semuanya aman terkendali."
"Tapi kamu keluar dari sekolah sebelum waktunya, itu sama aja kamu bolos dan biasanya kalau--"
Aditya kembali menempelkan telunjuknya ke bibir Kania.
"Ssstt, aku bilang aman ya aman, kalau kamu bahas soal ini lagi bukan telunjuk aku yang bakal nempel dibibir kamu tapi...." Aditya menggantung ucapannya lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Kania.
"Bibir kita berdua yang akan saling menempel...," bisik Aditya.
Seketika pipi Kania memerah. Suara husky Aditya selalu bisa membuat Kania panas dingin.
Rahang Galih mengeras dan matanya merah menyaksikan Aditya menggoda Kania-nya. Daftar menu pun jadi korban pelampiasan kecemburuannya, dia meremas pinggiran menu itu sampai lecek membuat pelayan yang tengah berdiri di samping meja keheranan melihatnya.
"Ma-Maaf Tuan, apa Anda sudah akan memesan?" tanya pelayan itu canggung.
Mendengar suara pelayan itu, Galih pun berusaha mengendalikan emosinya. Dia baru sadar kalau menu yang dia pegang sudah lecek karena diremas olehnya.
"Ehem, Saya mau pesan hot capuccino tanpa gula," ucap Galih sambil mengembalikan menu kepada pelayan.
"Baik Tuan, mohon tunggu sebentar."
Setelah menerima menu dari Galih, pelayan itu pun pergi meninggalkan meja.
Hahaha, emangnya enak! Lagian ngikutin, nyesek sendiri kan jadinya. Liat aja, sampai kapan dia bakal bertahan.
Salah seorang pelayan cafe datang membawa minuman yang dipesan Kania lalu meletakkannya ke atas meja.
Aditya heran karena Kania tiba-tiba memeluk lengannya bahkan kepala wanitanya itu disandarkan ke bahunya.
"Honeeyyy~ Aku hauss~"
Tingkah manja Kania itu pun berhasil membuat Ratna, Leo bahkan Aditya melongo tak percaya kalau seorang Kania bisa bertingkah seperti itu.
"Honeeyy~"
"Eh, i-iya Baby!"
"Hauusss~" rengek Kania.
Jantung Aditya pun berdetak kencang. Di matanya saat ini Kania terlihat sangat menggemaskan seperti seekor kucing yang minta dibelai pemiliknya.
Astagaaaaaaa! Kenapa dia tiba-tiba manis begini?!
"Ha-Haus ya?"
Kania mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Wajah Aditya pun seketika memerah bak kepiting rebus dan detak jantungnya makin tidak karuan.
Saking groginya, tangan Aditya sampai gemetar saat memberikan minuman untuk Kania.
Ratna dan Leo menahan geli melihat kelakuan sahabat mereka yang tiba-tiba bertingkah manja.
"Anjir, gimana nih Na? Kayanya Nia kesurupan deh," bisik Leo.
"Sembarangan! Dia bukan lagi kesurupan tapi salah minum obat."
Sebelum pelayan yang tadi membawa pesanannya pergi, Kania sempat melirik pelayan itu yang ternyata juga tengah melirik tajam kearahnya dengan wajah cemberut.
Hahaha, makanya jangan gatel sama pacar orang Mba!
Di meja yang lain, Galih sedang membayangkan jika dirinya yang saat ini sedang digelayuti Kania.
"Sayaaang~ aku mau minuumm~" pinta Kania manja.
"Iya Sayang." Galih menyodorkan sedotan ke bibir Kania.
Kania pun meminum segelas jus yang diberikan Galih.
"Pelan-pelan minumnya Sayang, nanti kamu bisa tersedak," ucap Galih penuh perhatian.
Setelah dirasa cukup, Kania berhenti menyedot jus itu lalu mencium pipi Galih.
"Makasi ya Sayang."
Hati Galih berbunga-bunga mendapat perlakuan manis dari gadis pujaan hatinya.
Entah kenapa Aditya yang saat itu sedang melirik Galih merasa jengkel melihat ekspresi sumringah pria itu.
Kenapa ya gue sebel banget liat dia senyum-senyum kaya gitu? Sumpah, gue pengen banget nonjok mukanya!
Tapi sayangnya kebahagian Galih itu hanya khayalan yang langsung buyar saat dia mendengar dering dari handphone nya.
Galih pun langsung menatap tajam handphone nya sendiri karena berani mengganggu momennya bersama Kania.
"Aku silent aja nih handphone biar gak ganggu lagi."
Galih lalu melihat nama kontak yang menghubunginya dan menggeser ikon hijau pada layar handphone nya.
"Iya Mi, ada apa?" tanya Galih malas-malasan.
"...." Maminya Galih pun bertanya keberadaan putranya itu sekarang.
"Aku lagi makan di cafe, kenapa?"
"...." Maminya meminta Galih menjemput wanita yang saat ini sedang dijodohkan dengannya.
"Aku sibuk Mi, abis makan aku ada rapat penting dengan klien jadi Mami suruh supir aja buat jemput dia," tolak Galih.
Karena sudah tahu akan diceramahi dari a sampai z oleh Maminya jadi Galih lebih dulu menyudahi telepon itu.
__ADS_1
"Tidak ada wanita yang pantas menjadi pendamping hidupku kecuali Kania," ucap Galih sambil menatap Kania yang tengah tertawa.
...****************...