Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Hadiah (2)


__ADS_3

"Mi, sekarang jam berapa?" tanya Aditya saat sampai di meja makan.


Permata langsung menyalakan layar handphone nya dan melihat jam yang tertera disana.


"Jam tu--"


"Oh iya! Aditya kan pakai jam tangan!"


Aditya langsung menyelak ucapan Permata. Dia gak mau rencananya gagal. Apa rencananya? Apalagi kalau bukan rencana memamerkan jam tangan dari kekasihnya.


"Oh sekarang jam tujuh Mi," ucap Aditya sambil memperlihatkan jam tangannya ke Permata. Sengaja.


Permata memutar bola matanya malas, dia tahu maksud putra semata wayangnya itu.


Dasar tukang pamer.


"Ooh jam tujuh."


Aditya tampak tidak puas dengan respon Permata yang tampak biasa saja.


"Coba Mami lihat, bener gak jam tujuh."


Permata berusaha menahan tawanya. Dia tahu putranya itu tidak akan menyerah sampai mendapatkan reapon yang dia inginkan.


"Iya bener koq, jam tujuh."


Aditya mendengus, bibirnya sudah mengerucut. Wajahnya pun ditekuk.


"Mami sengaja, kan?!" Aditya sewot.


"Sengaja? Maksudnya?" Permata pura-pura tidak mengerti.


"Jam tangan Mi! Jam tangan!" Aditya dengan sewot menunjuk-nunjuk jam tangannya.


Dia sudah tidak peduli lagi dengan rencananya. Yang dia butuhkan adalah respon Permata seperti yang dia inginkan.


Akhirnya tawa Permata pun pecah. Dia geli sendiri dengan tingkah kekanak-kanakan putranya.


Kania yang melihat tingkah Aditya juga ikut tertawa.


Wajah Aditya memerah, dia malu karena ditertawakan dua wanita terpenting di dalam hidupnya.


"Ke-Kenapa kalian tertawa?! Emangnya ada yang lucu?!"


"Kamu lucu, mau pamer aja pake basa basi segala," sahut Permata.


"Kenapa kamu ikut tertawa?!"


Sekarang Aditya protes ke Kania yang juga menertawakannya.


"Mami benar, kamu lucu, iih gemes deh~" Kania mencubit gemas pipi Aditya.


Aditya menghela napas panjang. Dia sadar dirinya sudah bertingkah kekanak-kanakan sehingga membuat dirinya ditertawakan mami dan kekasihnya.


Tapi memangnya salah kalau dia mau pamer hadiah dari kekasihnya?


"Wah jam tangannya bagus banget, cocok sekali ditangan kamu. Kamu mau dengar Mami bilang seperti itu, kan?"


"Telat Mi," sahut Aditya ketus.


"Dasar tukang pamer," balas Permata.


Kania cuma geleng-geleng kepala dengan kelakuan ibu tiri dan kekasihnya yang seperti tom and jerry, sama-sama gak mau kalah.


...****************...

__ADS_1


Setelah makan malam, Aditya membawa Kania ke taman belakang rumahnya.


Mereka duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu asli yang ada di tengah-tengah taman.


"Waaah~ ada bintang!" Mata Kania berbinar dan senyumnya merekah.


Tinggal di perkotaan membuat Kania jarang sekali bisa melihat bintang.


"Lihat Aditya, bintangnya banyak!"


Kania menunjuk ke langit seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat bintang. Menggemaskan.


"Untuk apa melihat ke langit kalau bintangnya ada di depanku."


Pipi Kania merona, pria kecilnya ini selalu bisa mengucapkan kata-kata manis yang membuat detak jantungnya gak karuan.


"Ehem."


Meskipun cahaya lampu taman tidak begitu terang tapi Aditya masih bisa melihat rona merah dipipi Kania.


"Apalagi bintangnya lebih cantik dan bersinar."


Telinga Kania ikut memerah mendengar kata-kata manis Aditya. Seandainya Kania tahu Aditya mantan playboy pasti dia tidak akan sebaper ini.


Dulu Aditya menggunakan kata-kata manis itu untuk menjerat gadis manapun yang menjadi incarannya tapi sekarang dia hanya akan berkata-kata manis untuk satu gadis cantik yang berhasil menjerat hatinya.


"Ih apaan sih?" Kania dibuat salah tingkah. Gadis itu memukul pelan lengan Aditya sambil menahan senyum.


Aah~ hati gadis itu terlalu lemah. Dia tidak kuat diserang kata-kata manis dan rayuan dari pria kecilnya itu.


Aditya tertawa kecil melihat wanitanya yang salah tingkah lalu dia menengadahkan tangannya.


Kania menatap heran. Dia lupa kalau Aditya akan meminta hadiah lagi darinya setelah makan malam.


"Aku mau minta sisa hadiahku."


"Kamu lupa, aku bilang aku gak mau hadiahku berupa barang."


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."


Kania menelan salivanya. Tiba-tiba dia merasa gugup saat melihat senyuman licik dari wajah tampan pria kecilnya itu.


Duh, dia minta apa ya? Semoga engga yang aneh-aneh.


"Aku sudah dapat satu hadiah untuk ujian fisika." Aditya memperlihatkan jam tangannya.


"Sekarang aku akan minta hadiah untuk ujian bahasa Indonesia, bahasa Inggris, kimia dan matematika," lanjutnya.


"Iya baiklah tapi aku gak akan memberikanmu hadiah yang aneh-aneh dan gak masuk akal."


"Tenang saja Baby."


"Pertama, hadiah untuk ujian bahasa Indonesia, aku mau waktu kamu 1x24 jam hanya untukku dan berlaku mulai tengah malam nanti."


"Hmm... Baiklah."


Gak masalah sih lagipula selama ini juga kita selalu bareng.


Kania menyanggupinya begitu saja, dia kira pria kecilnya itu paling cuma akan selalu nempel dengannya. Tidak, tidak, Aditya tidak senaif itu.


"Kedua, hadiah untuk ujian bahasa Inggris, aku minta kamu selama 1x24 jam memanggilku dengan panggilan sayang."


"Ok, gak masalah."


"Ketiga, hadiah untuk ujian kimia, aku minta selama 1x24 jam kamu harus melakukan semua yang aku katakan."

__ADS_1


Seketika Kania terdiam, kalimat itu terdengar berbahaya ditelinganya.


1x24 jam melakukan semua yang dia katakan? Perasaan aku gak enak...


"Kenapa?" Aditya tahu sekarang wanitanya itu sedang bimbang.


"Hmm... Apa kamu gak bisa minta yang lain?"


"Engga, aku gak mau yang lain! Aku mau kamu melakukan semua yang aku katakan 1x24 jam!"


"Tapi--"


"Gak adil! Aku udah ikuti kemauan kamu untuk mendapatkan nilai sempurna bahkan aku sampai belajar mati-matian tapi kamu...."


Tentu saja itu bohong. Seorang Aditya belajar mati-matian? Jangan becanda. Bahkan dia bisa menjelaskan ilmu kimia murni lebih baik daripada dosen perguruan tinggi. Semua itu hanya akting. Sang aktor kembali menunjukkan skill nya.


Kania yang menganggap Aditya hanya "anak pintar" seperti dirinya percaya begitu saja sehingga membuatnya merasa tidak enak.


"Maaf... Iya baiklah, aku setuju tapi jangan menyuruhku melakukan sesuatu yang aneh ya."


Aditya bersorak dalam hati. Entah karena aktingnya yang terlalu meyakinkan atau wanitanya yang tidak tegaan. Dia tidak peduli, yang penting rencananya harus berhasil.


"Dan yang terakhir, hadiah untuk ujian matematika, tapi aku tidak akan memintanya sekarang."


"Kenapa?"


"Ujian matematika itu yang paling susah jadi hadiahnya juga harus paling spesial. Aku harus memikirkannya dengan baik."


Tiba-tiba handphone Aditya berdering. Haris. Tangan kanannya itu menghubunginya.


"Baby, aku jawab telepon dari teman aku dulu ya."


Aditya langsung beranjak dari kursi taman dan berjalan sedikit menjauh.


Kania memicingkan matanya. Tadi dia sempat melihat nama Haris tertera di layar handphone Aditya.


"Kalau cuma jawab telepon dari teman kenapa pakai ngejauh segala, hmm...."


"Dari namanya sih kayanya yang telepon itu cowok tapi kan bisa aja ternyata yang telepon itu cewek cuma namanya diganti."


Tiba-tiba Aditya merasa punggungnya sakit dan tengkuk belakangnya dingin.


Aditya tidak menyadari saat ini ada sepasang mata yang tengah menatapnya tajam seperti seekor singa betina yang tengah mengincar mangsanya.


...****************...


Setelah lembur sampai jam 8 malam, Galih pun pergi meninggalkan perusahaannya. Tapi dia tidak menyadari seseorang tengah bersembunyi memperhatikannya.


Galih membuka pintu mobilnya dan duduk di kursi pengemudi. Dia memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobil itu pergi dari area parkir gedung.


Tak lama mobil lainnya juga pergi mengikuti mobil Galih.


Seharusnya mobil itu melaju ke rumah Galih tapi karena kerinduan pria itu kepada Kania membuatnya malah melaju ke rumah cinta pertamanya itu.


"Yaya, aku merindukanmu, sangat merindukanmu."


Sementara itu di dalam mobil yang lain.


"Galih mau kemana? Ini bukan jalan menuju rumahnya."


"Gak masalah dia mau pergi kemana asal jangan ke rumah cewek."


"Galih milikku, gak akan aku biarkan cewek manapun mendapatkannya."


Dengan tatapan tajam, wanita itu terus memperhatikan mobil yang tengah dia ikuti.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2