
YUHUUUUUU~
Pada kemana ya? *celingak celinguk*
Masih pada disini, kah?
AKU KANGEN BANGET SAMA KALIAAN! *teriak pake toak masjid*
Akhirnya aku bisa melanjutkan cerita Aditya dan Kania lagi!! 😆
Kalian kangen juga gak ya sama mereka berdua?
Maaf ya baru bisa update lagi soalnya baru selesai juga nyelesain pesenan souvenirnya
Untuk merayakan bab perdana setelah beberapa hari vakum, aku kasih foto Aditya yang akan berumur 18 tahun.
Gemes ya bun? 😍
Kharisma CEO nya udah kerasa belum? Hehe
Buat yang selama ini merasa gak cocok sama visualnya Aditya, kalian bebassss berimajinasi sendiri 😁
Aku juga gak bosan-bosan untuk bilang MAKASI LIKE NYA AND LOVE YOU GUYS!! 😘 ❤️❤️❤️
...-...
...-...
...-...
...****************...
Di dalam kamar yang didominasi dengan warna putih tampak seorang pria duduk dipinggir tempat tidur dengan rambut yang berantakan akibat ulahnya sendiri. Pria itu frustasi karena sudah beberapa hari tidak bisa bertemu dengan cinta pertamanya bahkan berkomunikasi saja tidak bisa.
"Sial! Bocah tengil itu benar-benar menyebalkan!! Aarrgghh!!"
...BRAAK!!...
Lampu tidur yang bertengger diatas nakas pun jadi korban pelampiasan kekesalannya. Lampu itu hancur berantakan setelah menghantam dinding.
Rahang pria itu mengeras, gigi-giginya saling bergesekan dan tangannya mengepal kencang.
"Aku gak boleh kalah sama bocah tengil itu! Pasti ada cara! Berpikir Galih! Gunakan otakmu!"
Ya, pria itu adalah Galih. Dia sudah tidak bisa lagi menahan kerinduannya kepada sosok perempuan cinta pertamanya, Kania Pertiwi.
Kalau saja bocah tengil SMA yang mengaku calon suami Kania itu tidak memblokir akses komunikasinya, Galih pasti saat ini sudah menelepon atau video call Kania. Setidaknya kerinduan Galih bisa sedikit berkurang dan tidak membuatnya menderita seperti sekarang.
Galih terus memaksakan otaknya untuk mencari cara agar dia bisa bertemu atau sekedar mendengar suara Kania.
Setelah beberapa saat tampak bohlam imajiner bersinar diatas kepala Galih.
"Ah! Aku tahu!" pekiknya.
Galih pun bergegas beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi karena dia harus pergi menemui seseorang yang bisa mempertemukan dia dengan cinta pertamanya.
...****************...
Sementara itu di ruang tengah di tempat yang berbeda tampak seorang remaja laki-laki sedang sibuk mencari perhatian dari kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan Putra Aditya Pratama.
Dulu mantan playboy itu tidak pernah seperti ini karena gadis yang menjadi pacarnya selalu bermanja-manja dan memberi perhatian kepadanya saat sedang berduaan tapi kali ini sayangnya semua itu tidak terjadi.
Karena gadis berkacamata yang berstatus sebagai kekasih sekaligus calon istrinya itu tampak serius menatap layar laptop sambil menekan-nekan keyboard.
"Babyyy~"
Untuk kesekian kalinya Aditya memanggil kekasihnya tapi tetap tidak membuat mata yang dipanggil berpaling dari layar laptop dan selalu hanya dibalas "Hm?"
Aditya yang mempunyai kesabaran minimalis langsung meletakan kepalanya diatas pangkuan Kania sehingga membuat gadis itu terperanjat.
"Apa yang kamu lakukan?! Aku gak bisa ngetik kalau begini! Bangun!"
Kania berusaha mendorong kepala Aditya yang menimpa tangannya yang sedang mengetik.
"Engga mau! Babyyyy~"
__ADS_1
Aditya yang keras kepala tentu saja tidak akan menyerah sampai mendapatkan apa yang dia inginkan yaitu perhatian Kania.
Selain menikah, Aditya juga ingin memanfaatkan waktu liburannya untuk bermesra-mesraan dengan Kania karena setelah dia mengambil alih kepemimpinan perusahaan start up nya nanti maka waktunya akan terbagi.
Kania pun cuma bisa menghela napas saat Aditya malah memeluk perutnya.
"Huuuh~ tanganku bisa kram kalau begini, bangun dulu sebentar."
"Engga!" Suara Aditya terdengar sedikit teredam karena dia merapatkan wajahnya di perut Kania.
"Bangun sebentar, aku cuma mau taruh laptopku di meja."
Aditya memalingkan wajahnya dan menyerang Kania dengan tatapan puppy eyes andalannya.
"Tapi jangan ngetik lagi ya?"
Skakmat.
Kania tidak bisa berkutik. Tatapan itu terlalu berbahaya untuknya.
"I-Iya."
"Iya apa?" rengek Aditya.
"Iya aku gak ngetik lagi, cepat bangun, kepalamu keras tanganku seperti tertimpa batu," ucap Kania sarkas.
Aditya mengangkat kepalanya dan kembali duduk sedangkan Kania meletakkan laptop ke atas meja sesuai dengan perkataannya.
Melihat pangkuan Kania yang sudah kosong, Aditya pun kembali meletakkan kepalanya disana.
Jari-jari lentik Kania pun kini mulai membelai rambut pria kecilnya yang sedang mode manja itu.
"Honey."
"Iya?" sahut Aditya dengan wajah sumringah.
"Mmm.. Setelah menikah apa aku boleh bekerja?" tanya Kania ragu.
"Apa kamu sudah tahu mau bekerja dimana?"
"Sekarang aku belum tahu tapi yang pasti aku mau melamar pekerjaan di perusahaan."
Kania menggeleng. "Aku gak mau kaya gitu, aku mau berusaha sendiri untuk mendapat pekerjaan."
"Hmm... Apa kamu pernah mendengar perusahaan start up Galaxy?"
Otak jenius Aditya sedang bekerja.
"Perusahaan start up Galaxy?"
Kania yang bukan gamer dan acuh dengan perkembangan teknologi tentu saja tidak tahu tentang perusahaan itu.
"Aku tidak pernah dengar, kenapa?" tanya Kania.
"Cobalah untuk melamar pekerjaan disana nanti."
"Kenapa? Kenapa aku harus melamar pekerjaan disana?"
"Karena yang aku dengar CEO nya itu tampan, baik hati, tidak sombong, bijaksana dan juga jenius! Pokoknya kamu gak bakalan nyesel bekerja disana."
Kania mengangkat satu alisnya mendengar pria kecilnya itu memuji pria lain.
Kalau CEO nya sesempurna itu, kenapa dia malah menyarankan aku bekerja disana? Kemana sifat posesif dan cemburuannya?
"O ya? Kalau begitu pasti banyak karyawan wanita yang tergila-gila dengannya."
"Tapi katanya CEO itu sudah punya calon istri yang dia sangat cintai dan tidak tertarik dengan wanita lain."
"Nanti kalau ada karyawan wanita seksi yang menggodanya apa dia masih bilang tidak tertarik? Aku yakin dia pasti lupa sama calon istrinya apalagi kalau calon istrinya kalah seksi sama wanita itu."
Aditya yang memang membicarakan dirinya sendiri jadi merasa tersindir mendengar ucapan Kania.
"Kamu salah Baby, bagi CEO itu tidak ada yang bisa mengalahkan calon istrinya," sahut Aditya lalu mengecup punggung tangan kekasihnya itu.
"Yakin? Di depan publik mungkin dia bisa berkata seperti itu tapi dibelakang? Cuma Tuhan, dia dan selingkuhannya aja yang tahu."
"Selingkuhan? CEO itu gak mungkin punya selingkuhan! Dia setia sama calon istrinya!" sahut Aditya sewot.
__ADS_1
"O ya? Koq kamu bisa seyakin itu? Emangnya kamu kenal sama dia?"
Aditya tersentak. Dia lupa kalau kekasihnya itu termasuk gadis yang cerdas jadi pasti akan curiga mendengarnya yang terkesan membela CEO itu.
"Aku cuma mengatakan apa yang aku baca diartikel soal CEO itu."
Aditya pun langsung bangun dari pangkuan Kania dan semakin mendekatkan wajahnya ke gadis itu.
"A-Aditya, kamu mau apa?" tanya Kania gelagapan sambil menahan dada Aditya agar tidak semakin mendekat.
Aditya sengaja melakukannya selain untuk mengalihkan pembicaraan, situasi ruang tengah yang sepi juga harus dimanfaatkannya dengan baik.
Jantung Kania semakin berdetak tak karuan saat jari Aditya menyentuh bibir ranumnya. Dia langsung mengerti apa yang akan dilakukan pria kecilnya itu.
"Tidak ada siapapun disini, hanya kita berdua," bisik Aditya tepat di depan wajah Kania.
Pipi Kania pun semakin merah dan panas mendengarnya. Otaknya sudah travelling menjelajah ke wilayah khusus orang dewasa.
Mata Kania pun refleks memejam saat bibir Aditya semakin dekat. Meskipun awalnya dia menahan Aditya tapi bukan berarti dia menolak. Dia tidak bisa memungkiri kalau dia juga menginginkan hal itu.
Kania semakin memejamkan matanya saat merasakan sesuatu yang lembut dan kenyal menempel dibibirnya.
Tapi baru sebentar bibir keduanya saling menyapa, tiba-tiba bel rumah itu berbunyi.
Mereka pun tersentak. Kania membuka matanya dan mendorong Aditya.
Tak lama tampak seorang pelayan datang berlari kecil menuju pintu depan.
Kania mengelus dada dan menghela napas lega karena pelayan itu tidak melihat apa yang mereka lakukan tadi sementara Aditya menekuk wajahnya dan berdecak kesal.
"Ck, baru sebentar! Siapa sih yang datang?! Ganggu aja!" gerutu Aditya.
"Untung aja Bibi gak lihat," ucap Kania.
"Emangnya kenapa kalau Bibi lihat?"
Aditya memegang dagu Kania lalu mulai mendekatkan lagi bibirnya membuat Kania langsung panik.
"A-Aditya, jangan!"
Kali ini Kania menahan wajah Aditya agar tidak semakin dekat.
"Aku mau lagi Baby, yang tadi kuraaaang~" rengek Aditya.
"Ta-Tapi ada Bibi, gimana kalau nanti Bibi lihat? Aku... Aku malu...," lirih Kania.
"Yaudah kalau gitu kita ke perpustakaan sekarang!"
"Ke perpustakaan?"
"Buat lanjutin yang tadi."
Aditya mengerlingkan mata lalu segera beranjak dari tempatnya dan menarik tangan Kania.
"Ayo Baby kita ke perpustakaan!" ajak Aditya antusias.
"Tapi--"
Kania yang melihat tatapan puppy eyes Aditya cuma bisa merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia tidak bisa menolak atau melawan tatapan itu?
"Ayo Baby~ katanya gak boleh melakukan sesuatu setengah-setengah, harus sampai selesai."
Kania menghela napas, selain tidak bisa menolak tatapan puppy eyes dari Aditya, pria kecilnya itu juga pasti akan terus menerornya sebelum mendapatkan yang dia inginkan.
Bagaimana bisa dia meminta hal itu tanpa merasa malu sedikit pun?
Akhirnya Kania pun beranjak dari tempatnya dan saat dia baru akan melangkahkan kaki, pelayan datang menghampiri mereka.
"Maaf Non, di depan ada tamu untuk Non Kania."
"Siapa Bi? Perempuan atau laki-laki?" sahut Aditya cepat sebelum Kania membuka mulut.
"Perempuan Den, namanya Jasmine."
"Jasmine?"
Kania baru mendengar nama itu karena memang seingatnya dia tidak punya kenalan dengan nama Jasmine.
__ADS_1
Kenapa dia tahu aku tinggal disini? Kan yang tahu alamat rumah ini cuma Ratna dan Leo, apa dia kenalan mereka? Soalnya aku kan gak punya kenalan namanya Jasmine.
...****************...