Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Menguras Hati


__ADS_3

Perlahan mata Mutiara mulai terbuka.


Dimana ini? Dan kenapa badanku rasanya lemas sekali? Kepalaku juga sakit...


Di saat kesadaran Mutiara belum sepenuhnya kembali, dia mendengar suara seseorang memanggil-manggil namanya.


Ara? Suara ini memanggilku Ara?


Mutiara yang masih lemas memalingkan wajahnya ke samping. Samar-samar dia melihat siluet seseorang.


Aditya? Apa itu kamu? Aku tidak sedang bermimpi, kan?


Setelah beberapa saat, kesadaran Mutiara pun kembali dan dia dengan jelas melihat orang yang terus memanggil namanya.


"Ara, kamu sudah sadar!"


Aditya merasa sedikit lega saat melihat Mutiara membuka matanya.


"Aditya...," panggil Mutiara lirih.


"Iya ini aku, Aditya."


Kania merasa sedikit kecewa saat tangan Aditya yang tadinya merekat kuat menggenggam tangannya lepas begitu saja hanya karena seorang gadis yang terbaring di ranjang itu memanggil Aditya.


Mau gimana juga dia teman masa kecilnya Aditya jadi wajar kalau Aditya khawatir. Tapi kenapa gue masih aja gak suka Aditya dekat dengannya? Padahal Aditya udah berkali-kali meyakinkan gue kalau dia sama sekali gak punya perasaan sama teman masa kecilnya itu.


Kania cuma bisa diam memperhatikan Aditya yang sekarang sedang memberi minum Mutiara.


"Makasi Dit," ucap Mutiara setelah bibirnya terlepas dari gelas.


"Dit, gue panggil Dokter dulu ya buat periksa Mutiara."


"Iya Niel."


Daniel pun beranjak dari kursi lalu pergi meninggalkan kamar itu untuk mencari dokter.


"Kenapa kamu bisa kaya gini Ra?"


Sebenarnya Aditya ragu menanyakan hal itu ke Mutiara, dia berharap sakitnya Mutiara bukan karena sikapnya yang kasar saat mereka berdebat di Mall kemarin.


"Aku pikir kamu udah gak peduli lagi sama aku Dit."


"Kenapa kamu bisa mikir kaya gitu Ra? Tentu aja aku peduli sama kamu."


"Kemarin waktu kamu marah dan bentak aku, hati aku sakit banget soalnya selama ini gak ada yang pernah bentak aku, aku pikir kamu udah benci dan gak peduli lagi sama aku...," ucap Mutiara lirih, matanya sudah berkaca-kaca.


...Deg!...


Ternyata benar, penyebab sakitnya Mutiara karena sikap kasar Aditya ke teman masa kecilnya itu.


Aditya jadi merasa bersalah, dia sadar kalau sikapnya kemarin memang berlebihan.


"Maaf ya Ra kemarin aku emosi dan gak sengaja nyakitin kamu," ucap Aditya tulus.


"Berarti kamu gak benci aku kan Dit?"


Mata Kania membulat saat Mutiara memegang tangan Aditya di depannya dan yang membuat dada Kania sesak karena Aditya tidak menolak tangan Mutiara.


Kenapa Aditya diem aja sih dipegang tangannya sama rubah kecil itu?! Apa dia lupa kalau aku masih ada di sini, di sampingnya!


Kania tampak geram, dia pun menarik tangan Aditya yang dipegang Mutiara.


Aditya sedikit tersentak karena tidak menduga Kania akan melakukan hal itu begitu juga dengan Mutiara.


Cih, kenapa sih dia pake dateng juga kesini?! Padahal ini kesempatan aku buat dapetin Aditya.


Tiba-tiba Mutiara mendapat ide untuk memanfaatkan situasi saat ini.


"Ah!" Mutiara meringis kesakitan.


"Ada apa Ara? Mana yang sakit?" Aditya langsung mengalihkan perhatiannya ke Mutiara.


"Tangan aku perih, kayanya jarum infusnya tadi ke geser."


Mutiara menunjukkan punggung tangannya yang dimasukkan jarum infus ke Aditya.

__ADS_1


Pasti tadi karena Kak Kania tiba-tiba menarik tanganku.


"Maaf ya Ra, Kak Kania tadi gak sengaja."


Baru kali ini Kania tahu rasanya sakit tak berdarah karena dengan Aditya minta maaf berarti menunjukkan kalau Aditya tidak keberatan tangannya dipegang oleh Mutiara.


"Iya Dit gak apa-apa, Kakak kamu pasti gak sengaja."


Kania tahu saat ini Mutiara sedang mengejeknya.


Gue yakin dia cuma akting! Dasar rubah kecil!


Tak lama, Daniel datang bersama Dokter yang akan memeriksa Mutiara.


"Nona Mutiara, Saya periksa dulu ya."


Dokter memakai stetoskopnya lalu memeriksa denyut jantung Mutiara.


Tanpa bicara apapun, Kania menarik lengan Aditya dan membawanya keluar dari kamar itu.


"Ada apa Kak?" tanya Aditya saat mereka sudah berada di luar kamar rawat Mutiara.


"Kamu janji abis jenguk temen kamu terus kita pergi ke toko buku, kalau gitu ayo kita pergi sekarang lagipula ada Daniel."


Saat Kania akan mengajak pergi Aditya, seseorang datang menghampiri mereka.


"Maaf, apa kalian temannya Mutiara?"


"Tante Mia?"


Ternyata Aditya mengenal orang itu yang dia panggil Tante Mia karena Tante Mia adalah Ibunya Mutiara.


Dulu waktu kecil Aditya bukan hanya dekat dengan Mutiara tapi juga Tante Mia karena Tante Mia selalu memperlakukan Aditya seperti anaknya sendiri.


Tante Mia melihat Aditya dengan seksama karena dia merasa familiar dengan wajah Aditya.


"Kamu...."


"Ini aku Tante, Aditya."


Aditya senang sekali bisa bertemu lagi dengan Tante Mia yang sudah dia anggap sebagai ibu keduanya.


"Jagoan Tante makin ganteng aja sampai Tante pangling tadi," puji Tante Mia.


"Emangnya dulu Aditya gak ganteng?"


"Dulu gantengnya belum keliatan soalnya ke tutup sama pipi chubby kamu yang gemesin."


Mata Tante Mia lalu beralih ke wanita yang berdiri di samping Aditya.


"Kamu temennya Mutiara juga? Nama kamu siapa?"


Kania sempat melirik Aditya yang diam saja mendengar pertanyaan Tante Mia.


Kenapa gue harus malu? Gue kan udah gede, wajar lah gue punya pacar.


Ternyata Aditya cuma malu kalau nanti Tante Mia menggodanya saat tahu dia punya pacar tapi diamnya Aditya membuat Kania salah paham karena mengira Aditya bingung dengan status hubungan mereka.


Sebelum Aditya membuka mulutnya, Kania lebih dulu menjawab pertanyaan Tante Mia.


"Saya Kakaknya Aditya, nama Saya Kania."


Kania langsung mendapat tatapan tajam dari Aditya.


"Maaf ya tapi setahu Tante Aditya bukannya anak tunggal?"


"Saya Ka--"


"Maaf Tante, Aditya ada keperluan sebentar, Tante masuk aja ke dalam, Mutiara udah sadar dan lagi diperiksa Dokter."


Aditya pun segera menarik lengan Kania dan pergi begitu saja meninggalkan Tante Mia.


...****************...


"Aditya lepasin, lenganku sakit!"

__ADS_1


Aditya tidak merespon dan terus menarik lengan Kania.


"Kita mau kemana?! Pelan-pelan jalannya! Aditya!"


Aditya tetap tidak merespon dan terus menarik lengan Kania sampai dia melihat pintu darurat.


Aditya pun membuka pintu darurat rumah sakit itu. Dia sengaja memilih tangga darurat untuk bicara dengan Kania.


"Sekarang lepasin lenganku! Sakit!" Kania berusaha melepaskan tangan Aditya yang memegang lengannya.


...Bruk!...


Aditya mendorong Kania sampai punggung Kania menabrak tembok di belakangnya.


"Kenapa? Kenapa kamu bilang seperti itu? KENAPA?!"


Suara teriakan Aditya sampai menggema di tangga darurat.


Kania menutup matanya, sungguh dia benar-benar takut saat ini. Tangannya bahkan terasa dingin dan gemetar.


"Bilang sekali lagi SIAPA KAMU?!"


Biasanya saat mereka berdebat Kania selalu membalas Aditya tapi kali ini mulut Kania terasa kaku.


"Tadi kamu dengan lancar menjawab pertanyaan Tante Mia, kenapa sekarang kamu diem aja?! Ayo bilang sekali lagi siapa kamu?!"


Sebenarnya Kania ingin bicara tapi mulutnya terasa berat untuk terbuka.


"AH SIAL!"


...Bruk!...


Jantung Kania seakan lepas dari tempatnya saat Aditya meninju tembok tepat di samping wajahnya.


Cairan bening pun menetes begitu saja dari sudut mata Kania.


Kania langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu terdengar isakkan tangis.


Semarah apapun Aditya tetap saja dia tidak akan tega melihat wanita yang dia cintai menangis.


Aditya memeluk Kania lalu mengusap-usap rambut wanita yang menangis karena ulahnya itu.


"Harusnya aku yang nangis, orang yang aku cintai tidak mengakui hubungannya denganku, rasanya sakit sekali."


"Ma-Maaf, a-aku hiks hiks," ucap Kania terisak.


...****************...


Tante Mia masuk ke dalam kamar rawat dan melihat Dokter sedang memeriksa kondisi Mutiara, putrinya.


"Maaf Dok, Saya orang tuanya Mutiara, bagaimana keadaan putri Saya?"


"Bisa Saya bicara dengan Nyonya di luar?"


"Bisa Dok."


Dokter pun beranjak dari tempatnya lalu berjalan meninggalkan kamar itu.


"Sayang, Mami keluar dulu ya sebentar."


"Tunggu Mi, tadi Mami lihat Aditya gak?"


"Mami tadi lihat Aditya di luar terus dia pergi sama Kakaknya."


"Pergi kemana Mi?"


"Mami gak tahu, Aditya cuma bilang ada keperluan terus pergi, Mami bicara sama Dokter dulu ya."


Tante Mia belum bertemu Daniel karena saat Tante Mia datang, dia hanya melihat Dokter di dalam kamar rawat putrinya.


...Cklek...


Tepat setelah Tante Mia keluar, Daniel keluar dari dalam kamar mandi.


"Loh? Aditya belum dateng? Dia pulang? Koq gak bilang-bilang sih, sopan banget," cibir Daniel.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2