
Bunyi bel seperti alunan musik merdu ditelinga murid-murid yang sudah suntuk mendengar penjelasan dari guru mereka.
Semua murid memasukan buku-buku ke dalam tas dan satu per satu mulai meninggalkan kelas mereka.
Begitu juga dengan Aditya yang sudah tidak sabar ingin segera pulang karena sangat merindukan kekasihnya, Kania Pertiwi.
"Dit, lu kenapa? Buru-buru banget udah kaya mau antri sembako aja," sindir Daniel saat melihat Aditya tampak bersemangat memasukan buku ke dalam tas.
"Gue mau cepet pulang, duluan ya Niel." Aditya yang sudah memakai tas ranselnya menepuk pundak Daniel lalu beranjak dari kursinya.
"Ara, aku duluan."
Belum sempat Mutiara membalas ucapan Aditya tapi Aditya sudah kabur meninggalkan kelas.
Mutiara pun bergegas memakai tas ranselnya lalu mengejar Aditya.
Aditya memakai helm lalu menaiki motor sport nya dan bersiap untuk melajukan motornya itu tapi tiba-tiba Mutiara berteriak memanggilnya.
"Adityaaa! Tunggu!"
Aditya membuka kaca helm dan melihat Mutiara berlari menghampirinya.
"Ada apa?"
"Supir ku engga bisa jemput, aku takut pulang sendiri karena aku masih baru di kota ini dan cuma kamu yang aku kenal jadi... Apa kamu bisa mengantar ku pulang?"
"Oh karena itu, naik lah, aku akan mengantarmu, ini pakai helmnya."
Kebetulan helm yang biasa dipakai Kania masih ada di motornya.
Mutiara pun memakai helm yang diberikan Aditya lalu naik dan duduk di bagian belakang motor.
Aditya sedikit tersentak saat Mutiara memeluknya.
"Aditya, aku sudah siap!"
"I-Iya."
Mutiara tersenyum menyeringai saat melihat reaksi Aditya yang gugup dipeluk olehnya.
Semoga gak ketemu Kak Kania di jalan.
Ternyata dugaan Mutiara salah, Aditya gugup bukan karena dipeluk olehnya tapi karena Aditya engga mau Kania salah paham kalau sampai melihatnya dengan Muitara saat ini.
Aditya pun melajukan motornya pergi meninggalkan sekolah.
Mutiara tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk menggoda Aditya. Dia memeluk Aditya erat saat memberitahu Aditya arah menuju rumahnya.
Meskipun dulu dia menyukai Mutiara tapi saat Mutiara memeluknya begitu erat Aditya merasa risih.
Berbeda kalau Kania yang melakukan itu, Aditya sudah pasti akan berbunga-bunga karena Kania jarang bersikap romantis kepadanya.
Setelah mengikuti petunjuk dari Mutiara, mereka pun sampai di depan gerbang rumah yang sangat besar.
Mutiara beranjak dari motor Aditya lalu melepas helm di kepalanya tapi dia tidak mengembalikan helm itu ke Aditya.
"Dit, makasi ya udah nganterin aku," ucap Mutiara diiringi senyuman manis dari bibirnya.
"Iya sama-sama, helmnya?" Aditya meminta helmnya yang sedang dipeluk Mutiara.
"Helmnya aku bawa aja, jadi kamu engga perlu repot bawa helm dua."
"Tapi itu--"
...Cup...
Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipi Aditya sehingga membuat mata Aditya terbuka lebar.
"Sekali lagi makasi ya, hati-hati di jalan, sampai besok."
Saat penjaga rumah itu membuka pintu gerbang, Mutiara pun langsung masuk ke dalam gerbang rumahnya.
Aditya tersadar lalu ingin meminta helm Kania yang dibawa Mutiara tapi dia terlambat karena Mutiara terlihat sudah hampir sampai di pintu depan rumah itu.
"Gue harus jawab apa kalau Kak Kania tanya soal helmnya, itu kan helm yang sengaja gue beli buat Kak Kania...," gumam Aditya lirih.
Aditya pun melajukan motornya pergi dari tempat itu.
Di perjalanan menuju rumah, Aditya kembali teringat kecupan yang diberikan Mutiara di pipinya.
Kenapa tadi Mutiara cium pipi gue? Kalau cuma buat makasi karena gue udah nganterin dia bukannya itu berlebihan? Kecuali kalau dia... Kalau dia suka sama gue tapi dia kan tahu gue punya pacar jadi gue gak mungkin balas perasaan dia... Mungkin gue aja yang kegeeran, gue sama dia dulu kan emang deket jadi dia cium pipi gue cuma sebagai tanda terima kasih..
Yang paling penting Kak Kania engga boleh tahu soal ini.
Aditya pun sampai di rumah dan saat dia sedang memarkirkan motornya Kania ternyata juga baru pulang dan berjalan menghampiri Aditya.
"Aditya, kamu juga baru pulang?"
Aditya sedikit terkejut mendengar suara Kania saat dia sedang melepas helmnya.
"Iya Kak." Aditya tersenyum canggung.
Sebelum Kak Kania sadar helmnya gak ada mending gue ajak Kak Kania masuk ke dalam.
"Babyy~ ayo masuk."
Aditya bergegas menghampiri lalu merangkul pundak Kania.
Kania mencium wangi parfum lain di jaket yang dipakai Aditya.
"Kamu habis darimana?" tanya Kania to the point.
"Aku? Dari sekolah, emangnya darimana?" Aditya berusaha tetap tenang padahal saat ini jantungnya sudah deg-degan.
Tatapan tajam Kania hanya membuat Aditya semakin tegang.
"Kenapa melihat ku seperti itu?"
Kania lalu mengendus-endus jaket Aditya.
"Baby, ngapain sih?" tanya Aditya risih.
"Sejak kapan kamu suka pakai parfum cewek?" tanya balik Kania sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Parfum cewek?"
Mampus gue! Gimana nih?! Cepet mikir Adit!
__ADS_1
"Aku engga pake parfum cewek, mungkin hidung Kak Kania salah."
Gue harus mengalihkan pembicaraan.
"Babyyy~ aku lapaaaar banget~ nanti masakin mie instan yaa~" pinta Aditya manja.
Kania melihat keanehan di pipi Aditya lalu dia pun memegang pipi Aditya untuk mengeceknya.
Mata Kania membulat sempurna saat melihat warna merah di pipi Aditya.
Ini kan bekas liptint cewek!
"A-Ada apa Baby?" tanya Aditya gugup.
Lalu Kania dengan kasar menggosok-gosok pipi Aditya sampai warna merah itu hilang dan berganti dengan warna merah alami akibat ulahnya.
"Sakit Babyy~" rengek Aditya.
"Jahat! Kamu jahat! Aku benci kamu! Benciiii!"
Kania melihat Aditya dengan tatapan kesal lalu cairan bening pun menetes dari sudut matanya.
"Ada apa Baby? Kenapa kamu marah?"
Aditya ingin memegang pipi Kania untuk menenangkannya tapi tangan Aditya ditepis kasar oleh Kania.
"Jangan sentuh aku!" teriak Kania.
"Kenapa kamu tiba-tiba marah kaya gini? Salah aku apa?"
...Plaak! ...
Aditya shock SANGAT SHOCK saat mendapat tamparan dari kekasih hatinya.
"Selama ini kamu khawatir aku selingkuh tapi ternyata kamu yang selingkuh!"
"Selingkuh? Aku engga selingkuh! Kenapa kamu menuduh ku selingkuh?!"
"Kamu pikir aku bodoh! Jelas-jelas wangi di jaket kamu ini wangi parfum cewek!" Kania menarik bagian belakang jaket Aditya kasar.
"Udah aku bilang kamu salah cium! Aku engga pakai parfum cewek!"
"Masih gak mau ngaku!"
"Ngaku apa?! Aku emang gak selingkuh!"
"Terus kenapa ada liptint cewek di pipi kamu?!"
...Deg! ...
Mampus gue! Pasti itu bekas bibirnya Mutiara! Gimana nih?!
"Liptint cewek? Kamu ngomong apa sih? Mungkin bekas merah itu karena digigit nyamuk."
"Digigit nyamuk? Apa bekas digigit nyamuk bisa meninggalkan noda merah seperti ini?!" Kania menunjukkan telapak tangannya yang merah.
Wajah Aditya seketika pucat, dia tidak tahu harus mengelak bagaimana lagi.
"A-Aku bisa jelaskan jadi tadi--"
Kania langsung beranjak dari tempatnya dan lari masuk ke dalam rumah.
Permata yang sedang berada di ruang tengah melihat drama kejar-kejaran Aditya dan Kania.
"Pasti mereka bertengkar lagi," gumam Permata.
Permata pun cuma bisa menghela napas lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kania buru-buru masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
...Tok Tok Tok...
"Kak, jangan salah paham dulu! Dengarkan penjelasanku! Aku engga selingkuh! Kak!" teriak Aditya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Kania.
"Penjelasan apa lagi?! Semua sudah jelas kamu selingkuh!" teriak Kania dari dalam kamar.
"Engga Kak! Aku engga selingkuh! Aku engga tahu kalau Ara bakal cium pipi aku!"
"Ara?" gumam Kania di balik pintu.
"Kak Kania masih ingat dengan Mutiara, kan? Teman ku waktu TK, hari ini dia pindah ke sekolah ku, terus tadi pas mau pulang ternyata supirnya gak bisa jemput jadi dia memintaku mengantarnya pulang."
...Cklek...
Pintu kamar Kania tiba-tiba terbuka.
"Berarti dia pakai helm ku?"
"I-Iya."
...Brakk! ...
Kania kembali menutup pintu kamarnya dengan kencang di depan Aditya.
"Pokoknya aku engga mau pakai helm itu lagi!" teriak Kania.
Syukur deh karena helmnya udah gak ada diambil Ara.
"Iya, nanti aku beliin helm yang baru!"
"Gak usah! Mulai sekarang aku gak mau diboncengin sama kamu lagi!"
"Kak Kania, aku beneran engga selingkuh! Kalau aku tahu dia bakal cium pipi aku, aku pasti menolaknya!"
"Bohong! Jujur aja, kamu senang kan dicium sama temen deket mu waktu TK!"
"Engga! Aku lebih senang kalau Kak Kania yang mencium pipi ku! Kenapa Kak Kania engga percaya sama aku?! Aku cuma mencintai Kak Kania!"
Kania terdiam.
"Kak, aku benar-benar cuma mencintai Kak Kania, engga ada cewek lain... Percayalah Kak... Aku engga bohong... Kak, aku harus apa supaya Kak Kania percaya?" ucap Aditya lirih.
"Gimana aku bisa percaya sama kamu? Kalau tadi aku engga lihat liptint di pipi kamu, kamu pasti engga bakal bilang kalau kamu abis mengantar cewek itu."
"Karena aku tahu Kak Kania pasti bakal salah paham kaya gini lagipula dia mencium pipi ku cuma sebagai tanda terima kasih karena sudah mengantarnya pulang gak ada maksud lebih."
"Semua cewek juga pasti bakal salah paham kalau lihat pipi pacarnya ada liptint cewek lain!"
__ADS_1
"Udah aku bilang, aku engga tahu kalau dia bakal cium pipi aku! Kak, aku mohon percayalah! Aku cuma menganggapnya teman!"
...Cklek...
Pintu Kania kembali terbuka.
"Sebatas teman?" tanya Kania dengan tatapan tajam.
"Iya, cuma teman, TE-MAN gak lebih."
Aditya lalu menangkup wajah Kania dan menatap kekasihnya itu dalam.
"Aku hanya mencintaimu, aku engga mungkin selingkuh, di dalam hati ku cuma ada kamu... Cuma kamu... Aku mohon percayalah...."
Aditya menyatukan kening mereka berdua sehingga Kania bisa melihat ketulusan dari mata Aditya.
"Aku...."
Saat Kania akan membalas ucapan Aditya, Aditya malah mendekatkan wajahnya sampai tinggal sedikit lagi bibir mereka akan menyatu.
"Ehem!"
Suara deheman itu sontak saja mengejutkan Aditya dan juga Kania.
Wajah mereka langsung merah, mereka juga salah tingkah saat Permata berjalan menghampiri mereka berdua.
"Tadi kalian sedang apa?" selidik Permata.
"La-Lagi ngobrol Mi," jawab Aditya gelagapan.
"Ngobrol? Koq deket banget sih? Mau ngobrol atau mau...."
"E-Engga Mi, cuma ngobrol!" Aditya tetap berusaha menutupi apa yang akan dia lakukan dengan Kania tadi.
"Mami engga buta, Mami lihat semuanya, kalian tadi bertengkar lagi, kan?"
Aditya bisa bernapas lega karena Maminya tidak membahas tentang dia yang akan mencium Kania.
"Iya, tadi ada masalah kecil tapi sekarang--"
"Masalah kecil?" Kania menaikan satu alisnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Baby jangan ngambek lagi, kan tadi aku udah jelasin semuanya, aku engga punya perasaan apa-apa sama Ara."
"Kalau engga punya perasaan terus kenapa kamu mau dipeluk sama dia sampai parfumnya menempel di jaket kamu," ucap Kania ketus.
"Ara? Siapa Ara?" tanya Permata.
"Selingkuhan Aditya Mi," celetuk Kania.
"Apa?? Aditya kamu selingkuh?!"
"Engga Mi! Aku engga selingkuh! Aku cuma mengantarnya pulang terus...."
"Terus apa?"
"Terus cewek itu mencium pipinya sebagai tanda terima kasih, lebay banget sih!" ucap Kania sewot.
"Cewek itu sampai mencium pipi kamu?" tanya Permata memastikan.
"Iya Mi, aku gak tahu kalau dia bakal mencium pipi ku, Mami masih ingat Mutiara? Anak perempuan yang selalu bareng aku waktu TK."
"Iya Mami ingat, terus?"
"Nah cewek itu Mutiara Mi, hari ini dia baru pindah ke sekolah ku terus tadi pas pulang supirnya gak bisa jemput jadi dia minta aku mengantarnya pulang dan sebagai tanda terima kasih dia mencium pipi ku."
"Ooo jadi begitu ceritanya."
Permata lalu mengalihkan pandangannya ke Kania yang tampak cemberut.
"Kania, maksud Mutiara mencium pipi Aditya mungkin emang cuma ingin mengucapkan terima kasih, lagipula Aditya kan udah bilang kalau dia engga punya perasaan apa-apa sama Mutiara, benar kan Aditya?"
"Iya Mi, aku dan Mutiara cuma teman."
"Di dalam hubungan itu harus ada kepercayaan, dengan saling percaya maka hubungan kalian akan semakin kuat jadi tidak ada yang bisa memisahkan kalian nanti." Permata mengelus kepala Aditya dan Kania.
"Tuh denger, Kak Kania harus percaya sama aku," celetuk Aditya.
"Kamu juga harus percaya sama aku," balas Kania.
...Kling...
Tiba-tiba terdengar notif chat dari handphone Kania.
"Chat dari siapa?"
"Paling dari Ratna."
"Keluarkan handphone kamu, aku mau lihat siapa yang ngirim chat."
Kania mengeluarkan handphone nya dari dalam saku celana lalu melihat notif chat dari layar handphone nya.
"Pak Wisnu," gumam Kania.
"Siapa Pak Wisnu?" tanya Aditya sewot.
"Dia dosen pembimbing ku," jawab Kania santai sambil membaca chat dari Pak Wisnu.
Tiba-tiba Aditya merampas handphone itu dari tangan Kania.
"Dosen pembimbing? Masa?"
"Kembalikan handphone ku!"
"Kenapa dosen pembimbing kamu harus laki-laki?! Jangan-jangan kamu sengaja memilihnya jadi dosen pembimbing kamu, iya kan?!"
"Yang dibimbing sama dia bukan cuma aku, jadi percuma kamu cemburu sama dia! Kembalikan handphone ku!"
"Jadi kamu mau cuma kamu yang dibimbing sama dia, begitu?"
"Iiih engga!"
Baru dijelasin tentang sebuah kepercayaan sekarang mereka berdua malah mulai drama baru lagi.
Permata akhirnya memilih pergi daripada pusing mendengar perdebatan Aditya dan Kania.
"Percuma aja, paling nanti mereka mesra-mesraan lagi, mending aku ke dapur siapin makan malam soalnya sebentar lagi suami ku pulang~"
__ADS_1
...****************...