Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Bertemu Calon Ibu Tiri


__ADS_3

Kemarin malam Hendra sudah menghubungi Permata dan mengajak kekasihnya itu untuk bertemu dengannya di salah satu Mall.


Kania sudah rapi dan sedang menunggu Hendra.


"Tumben Ayah lama," ucap Kania sambil melihat jam tangannya.


Tak berapa lama, Hendra pun keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiri Kania.


"Ayo Kak kita berangkat."


Kania tertegun melihat penampilan Hendra, ayahnya sendiri.


"Ada apa Kak? Kenapa malah bengong? Ayo berangkat."


"Tung-Tunggu Yah, Ayah mau pergi dengan penampilan seperti itu?"


"Emangnya kenapa Kak?" Hendra malah bertanya balik kepada Kania karena dia berpikir tidak ada yang salah dengan penampilannya.


"Ayah gimana sih? Kita kan mau pergi ke Mall masa Ayah pakai kemeja dan celana panjang," protes Kania.


"Loh kenapa?"


"Kita mau ke Mall Yah bukan ke kantor Ayah, kalau Ayah kaya gini sama saja kaya Ayah mau pergi ke kantor."


"Beda Kak, kalau ke kantor Ayah kan pakai dasi dan jas," balas Hendra membela diri.


"Masih ada waktu, Kakak akan memilih baju untuk Ayah dan Ayah harus memakainya."


Kania pun bergegas menuju kamar Hendra dan masuk ke dalam kamar itu.


Dibukanya lemari baju milik Hendra lalu Kania mulai memilih-milih baju yang akan dipakai ayahnya seperti seorang fashion stylist profesional.


"Ganti baju Ayah sekarang, Kakak tunggu di luar ya Yah."


Hendra sebenarnya tidak terlalu suka dengan baju pilihan Kania yang lebih "berwarna" padahal Hendra lebih nyaman kalau memakai baju dengan warna netral seperti hitam atau putih, kalau pun berwarna biasanya kalem seperti biru muda atau creme.


Memang warna dari baju yang dipilihkan Kania tidak terlalu mencolok, Kania memilih polo shirt berkerah warna hijau dengan motif garis-garis.


Hendra menghela napas, dia mau tidak mau harus memakai baju yang dipilihkan Kania karena Hendra tidak pernah bisa menolak permintaan Kania.


Mungkin salah satu penyebab "penyakit" Kania yang tidak bisa menolak setiap ada pria yang mengajaknya pacaran karena faktor keturunan dari Hendra, tapi ada juga penyebab lain yang membuat "penyakit" Kania semakin parah.


Setelah hampir 10 menit, Hendra pun keluar dari kamarnya dengan memakai baju pilihan Kania.


"Nah, kalau begini Kakak yakin Tante Permata pasti terpesona nanti saat bertemu dengan Ayah." Kania menyikut-nyikut lengan Hendra sambil tersenyum jahil.


Semalam Kania banyak bertanya tentang calon ibu tirinya. Mulai dari nama, profesi bahkan sampai bagaimana Hendra mengungkapkan isi hatinya kepada Permata. Hendra pun harus menahan malunya saat menceritakan hal itu kepada Kania.


"Sudah Kak, jangan meledek Ayah terus, ayo kita berangkat sekarang."


"Cieee~ Ada yang udah gak sabar nih mau ketemu pacar~" ledek Kania.


"Kakak, udah! Kenapa ngeledek Ayah terus sih?" protes Hendra sambil berjalan menuju pintu depan.

__ADS_1


Kania pun hanya terkekeh melihat tingkah Hendra yang malu-malu.


Kualat aku ngeledekin Ayah terus tapi gimana lagi? Ayah lucu banget kalau lagi malu-malu, udah kaya anak ABG aja, aku juga baru tahu ternyata Ayah juga bisa kaya gitu, apa mungkin ini yang dibilang puber kedua?


Saat mereka sudah berada di teras rumah. Hendra mengunci pintu rumahnya dan berjalan menuju mobil yang terparkir di garasi.


Setelah Hendra dan Kania masuk ke dalam mobil, Hendra menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah.


...****************...


Permata sudah berada di tempat yang diberitahukan Hendra sebelumnya.


"Tumben Mas Hendra telat, biasanya dia selalu tepat waktu."


Tak lama kemudian Permata melihat Hendra berjalan menghampirinya.


"I-Itu Mas Hendra?? Apa aku engga salah lihat?"


Permata tidak menyangka kalau penampilan Hendra hari ini akan terlihat berbeda.


"Maaf ya aku telat."


Suara Hendra menyadarkan Permata dari bengongnya.


"Ti-Tidak apa-apa Mas." Permata tampak gugup, jantungnya berdetak kencang.


Baju yang dipakai Hendra ternyata membuat wajah Hendra terlihat lebih segar dan tentu saja semakin tampan sampai membuat Permata tidak sanggup melihat Hendra.


"Ada apa? Kamu sakit?" tanya Hendra khawatir.


"Ehem, aku sampai dilupain," sindir Kania halus.


"O iya, kenalkan dia anakku, Kania."


"Halo Tante," sapa Kania ramah.


"Halo, kamu cantik sekali," puji Permata saat menyadari Kania yang sedari tadi berdiri di samping Hendra.


"Dimana Aditya?" tanya Hendra yang langsung membuat senyum diwajah Permata hilang.


"Dia tidak mau ikut," jawab Permata lesu.


"Yasudah tidak apa-apa, bagaimana kalau kita makan dulu sekarang, sudah waktunya makan siang." Hendra sengaja mengganti topik pembicaraan karena dia tidak mau melihat wajah Permata yang tampak kecewa.


"Iya Yah, perut Kakak juga udah demo minta diisi hehe," ucap Kania sambil cengengesan.


"Kakak mau makan apa?" tanya Hendra.


"Tante Permata mau makan apa?" Kania malah menanyakan hal yang sama kepada Permata.


"Tante ikut aja," jawab Permata.


"Tante suka sushi gak?" tanya Kania antusias.

__ADS_1


"Suka, kamu mau makan sushi?"


"Iya."


"Ayah, kita ke tempat biasa aja, aku mau makan sushi," lanjut Kania memberitahu Hendra.


"Ok."


Mereka pun beranjak dari tempat masing-masing dan berjalan menuju eskalator.


Kania merasa tidak enak dengan Permata yang berjalan di belakangnya dan Hendra.


"Ayah, lebih baik Ayah temenin Tante Permata aja, Kakak engga apa-apa jalan sendiri."


Kania pun sengaja berjalan lebih cepat di depan Hendra dan Permata.


"Mas, Kania jalannya cepat banget."


"Iya, dia sengaja supaya aku bisa jalan bersamamu."


"Maksudnya?" tanya Permata belum mengerti.


"Kania sengaja meninggalkan kita supaya aku bisa jalan di sampingmu."


"Apa itu berarti dia merestui hubungan kita?" tanya Permata sedikit ragu.


"Kemarin aku juga menanyakan hal yang sama tapi Kania bilang dia ingin bertemu denganmu dulu baru dia bisa menjawab pertanyaanku."


"Jadi karena itu kamu memintaku datang kesini."


"Iya Sayang, selain memperkenalkan kalian berdua, aku juga berharap kalian bisa lebih dekat."


"Kamu beruntung Mas, anakmu sudah dewasa jadi kamu lebih mudah memberi pengertian kepada anakmu... sedangkan Aditya...."


Permata menggantung ucapannya karena teringat yang terjadi antara dia dan Aditya semalam.


Hendra kembali melihat raut kekecewaan di wajah Permata tapi saat Hendra akan membuka mulutnya untuk bertanya kepada Permata, Kania sudah memanggil mereka dari depan restaurant.


"Ayah, Tante!" Kania memberi isyarat dengan tangannya agar Hendra dan Permata berjalan lebih cepat.


"Ayo Mas, kita harus cepat jalannya, kasihan Kania, dia pasti udah lapar banget."


Permata pun mempercepat jalannya dan meninggalkan Hendra.


Aku sudah tahu pasti Aditya tidak akan mudah merestui hubungan kami, Aditya sangat menyayangi Ayahnya jadi akan lebih susah untuk memberinya pengertian. Ditambah lagi Aditya sedang mengalami fase remaja yang membuat emosionalnya tidak stabil. Aku harus mencari cara agar Aditya mau menerimaku.


...****************...


Author: Hai semuaaa~ 🤗


Buat kalian yang udah mampir, kasi like dan komen MAKASI YA ❤️❤️❤️


Kalau kalian suka dengan ceritanya monggo difavoritkan dan vote ya 😉

__ADS_1


Sampai bertemu di bab selanjutnyaaa~


__ADS_2