Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Malam Pertama (2)


__ADS_3

WARNING : CERITA INI MENGANDUNG UNSUR DEWASA (18+)


Buat yang jomblo tanggung sendiri konsekuensinya ya (termasuk aku 😂) dan yang dibawah umur harap bijak membaca cerita seperti ini 😊🙏🏻


CATATAN : AUTHOR TIDAK BERTANGGUNG JAWAB JIKA ADA YANG MENGALAMI GEJALA PANAS DINGIN


...-...


...-...


...-...


...****************...


Malam pertama adalah malam yang mendebarkan dan selalu dinanti-nantikan bagi pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan.


Tapi kata malam sepertinya hanya sebuah kiasan untuk pengantin baru yang sekarang tengah merengkuh surga dunia bahkan disaat matahari masih bersinar terang di langit.


Entah bagaimana caranya, gaun Kania sudah terlepas dan tergeletak di lantai begitu juga dengan jas dan kemeja Aditya sehingga membuat Kania yang berada di bawah Aditya bisa melihat dengan jelas dada bidang dan juga roti sobek di perut suaminya.


Aditya yang berada diatas juga bisa melihat lekuk tubuh istrinya yang saat ini hanya tertutup dalaman membuatnya beberapa kali harus menelan kasar salivanya.


"Ja-Jangan melihatku seperti itu!" pekik Kania seraya menutup mata Aditya dengan tangannya. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi wanita itu merasa sangat malu ditatap oleh suaminya.


Aditya tertawa kecil lalu melepas tangan Kania dari matanya.


"Aku suamimu Baby, aku berhak melihat tubuh istriku sendiri."


Bukan hanya wajah tapi seluruh badan Kania terasa panas. Jantungnya pun sudah sejak tadi berdetak tak karuan.


Aditya lalu meletakkan tangan Kania di dada kirinya.


"Apa kamu bisa merasakan detak jantungku saat ini?"


Deg


Deg


Deg


Deg


Deg


Jantung Aditya berdetak kencang sama sepertinya.


Manik mata keduanya pun saling bertatapan.


"Nyonya Aditya, aku mencintaimu," ucap Aditya yang lalu kembali mencium bibir sang istri.


Kali ini tidak hanya bibir Aditya yang beraksi tapi tangannya pun sudah berada di dua gundukkan kenyal milik sang istri.


Kania menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara memalukan seperti sebelumnya tapi usahanya sia-sia.


Sensasi yang dirasakan Kania saat Aditya mengemut pucuk gundukkannya membuat Kania malah mengeluarkan suara yang lebih memalukan.


"Aaah~"


Mendengar suara seksi Kania membuat Aditya semakin termotivasi memberikan kenikmatan untuk istrinya.


Apa foreplay yang aku lakukan sudah membuatnya basah? Soalnya menurut artikel aku harus membuatnya basah supaya tidak begitu sakit saat aku memasukinya.


Untuk mengecek Kania sudah basah atau belum tangan Aditya pun beralih ke bagian paling sensitif yang berada diantara pangkal paha Kania.


Sekali lagi suara seksi Kania terdengar saat jari Aditya menekan bagian paling sensitif itu.


Sudah basah, bagus! Kalau begitu sekarang saatnya aku memilikimu Baby.


Aditya tersenyum miring lalu dengan cekatan melepas celana bahan dan juga ********** sehingga sesuatu yang menegang di tengah pangkal pahanya terpampang jelas.


Kania langsung menutup wajahnya dengan tangan saat melihat sesuatu yang berdiri tegak dari badan suaminya.


"Bagaimana aku bisa mencium bibirmu kalau ditutup seperti ini?"


Tangan yang menutup wajah Kania perlahan dilepas Aditya lalu tangan itu ditahannya di samping kepala sang istri.


"Jangan khawatir, aku akan pelan-pelan," bisik Aditya.


"Aku mencintaimu."


Setelah mengucapkan kalimat manis itu, Aditya kembali mencium bibir Kania dan membuka dalaman yang menutup bagian paling sensitif dari istrinya.


Dalaman berwarna biru muda dengan bentuk segitiga ikut tergeletak di lantai menyusul dalaman lain yang biasa digunakan untuk menutupi dua gundukkan pada bagian atas.

__ADS_1


Ciuman Aditya yang selalu membuat Kania terbuai ternyata tidak begitu efektif karena nyatanya Kania masih merasa perih saat sesuatu yang keras menerobos masuk ke dalam bagian paling sensitifnya itu membuat cairan bening keluar dari sudut matanya.


"Maaf Baby, masih sakit ya?" Aditya mengusap cairan bening itu.


"Iya sakit...," lirih Kania.


"Tahan ya, kalau pertama emang sakit tapi nanti akan terbiasa."


Kania yang tadinya takut merasa lebih tenang berkat perlakukan lembut dari suaminya.


"Apa masih sakit?" tanya Aditya dengan wajah khawatir.


Aditya dilema, satu sisi dia sangat ingin melakukannya apalagi saat ini miliknya sudah berada di dalam milik sang istri tapi di sisi lain dia juga tidak tega melihat istrinya kesakitan.


Awalnya memang sakit bahkan sekarang pun Kania masih merasakannya tapi saat melihat mata Aditya yang melihatnya dengan tatapan khawatir membuat Kania terenyuh.


Aku gak boleh egois, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai istri. Aku tidak mau dilaknat karena tidak memberikan hak kepada suamiku lagipula melakukannya juga termasuk ibadah jadi tidak ada alasan aku tidak melakukannya. Aku hanya harus membiasakan diri melakukannya mulai sekarang.


Senyuman yang terukir dari bibir Kania membuat Aditya merasa sedikit lega.


"Aku tidak apa-apa Honey, lakukan saja, aku milikmu."


Hati Aditya berdesir mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Kania.


...Aku milikmu....


Membuat hasrat Aditya semakin menggila hanya karena satu kalimat itu.


"Aku juga milikmu Baby," ucap Aditya setelah mengecup bibir Kania.


"Kamu serius sudah siap?"


Kania menjawab dengan anggukkan kepala.


"Jangan tegang nanti kamu tidak bisa menikmatinya, aku mulai ya?"


"Iya."


Setelah mendapat persetujuan Kania, Aditya kembali mencium bibir istrinya. Pinggulnya pun mulai bergerak menarik dan mendorong miliknya yang semakin menegang.


Tangan keduanya pun saling mere*mas di samping kanan dan kiri.



Suara-suara yang dulu tidak sengaja mereka dengar dari luar kamar orang tua mereka kini keluar dari mulut mereka sendiri.


Keringat mulai mengucur dari keduanya karena kegiatan panas yang mereka lakukan bahkan mengalahkan dinginnya AC.


Saat pertama Aditya bergerak, Kania masih merasa perih tapi semakin lama rasa perih itu berganti menjadi rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Sebenarnya milik Aditya sudah tidak tahan lagi ingin mengeluarkan sesuatu yang akan membuahi sel telur Kania tapi karena gengsi akhirnya dia berusaha mati-matian menahannya.


Tidak, jangan sekarang Aditya, dimana harga diri lo sebagai laki-laki kalau baru sebentar aja udah keluar!


Disaat seperti ini otak jenius Aditya malah mendapat ide agar permainan panas ini tidak cepat selesai.


Aditya lalu membalik posisi Kania yang tadinya di bawah menjadi di atasnya.


"Giliran kamu yang bergerak Baby."


"Ta-Tapi aku tidak bisa...," cicit Kania menahan malu.


Aditya tersenyum sambil menyelipkan rambut Kania ke belakang telinga lalu mengelus lembut pipi istrinya.


"Kamu cukup melakukan gerakan seperti yang aku lakukan tadi, mengerti?"


Aditya bisa melihat keraguan di wajah Kania.


"Coba dulu Baby, aku yakin kamu bisa."


Lalu Aditya menekan tengkuk belakang Kania dan mencium bibir istrinya.


Perlahan Kania mulai melakukan gerakkan seperti yang dilakukan Aditya, menarik dan mendorong pinggulnya. Tangan Aditya pun mengerat memeluk punggung Kania.



Kamar itu pun kembali memanas dan bising dengan suara seksi dari keduanya.


Kania yang sudah akan mencapai puncaknya tanpa sadar mempercepat gerakannya sehingga membuat Aditya berjuang keras menahan sesuatu yang juga ingin keluar dari miliknya.


"Aaaahh~ Honey, ke-kenapa aku aaah~ me-merasa ada yang ingin keluar?" rancau Kania yang makin mempercepat gerakannya.


"Aku ju-- aaah! Aku juga! Sh*it!"

__ADS_1


Tak berapa lama pengantin baru itu pun sama-sama merasakan pelepasan untuk pertama kalinya.


Setelah sempat menegang akibat efek pelepasan badan Kania pun terasa lemas dan jatuh menimpa Aditya.


Kini keduanya berlomba-lomba untuk mendapatkan pasokan oksigen.


Keringat yang membanjiri badan mereka menjadi bukti pergumulan panas yang mereka lakukan.


Aditya memeluk erat Kania yang masih berada di atasnya dan mengecup kening istrinya itu.


"I love you Baby."


"Love you too Honey."


Kania lalu mengecup bibir Aditya setelah membalas kalimat cinta dari suaminya itu.


"One more?"


Kania mengernyitkan alisnya mendengar permintaan Aditya.


"Kamu mau lagi?"


Pertanyaan Kania pun langsung mendapat anggukkan cepat dari Aditya.


"Iya Baby, aku mau lagi~"


Aditya dengan cepat membalik posisi mereka membuat Kania kembali berada di bawahnya.


"Kamu masih kuat? Gak capek?"


"Capek tapi bikin ketagihan," jawab Aditya terkekeh.


Kania terdiam, dia tidak menyangkal ataupun membenarkan ucapan Aditya karena dia juga sependapat dengan ucapan suaminya itu.


"Gimana Baby? Apa aku boleh melakukannya lagi?"


Aditya yang tahu kelemahan Kania langsung menyerang istrinya itu dengan tatapan puppy eyes nya.


Apa Kania akan menolak permintaan Aditya? Jawabanya tentu saja TIDAK. Selain dia juga ingin melakukannya lagi ditambah serangan puppy eyes Aditya membuatnya tidak punya alasan untuk menolak.


Dengan malu-malu Kania pun mengangguk, mengiyakan permintaan suaminya.


"Kamu serius?" tanya Aditya dengan wajah sumringah.


"Iya."


"Tapi... Apa itu kamu masih sakit?"


"Masih tapi tidak apa-apa, nanti juga hilang."


Kemudian Aditya mencium bibir Kania untuk kesekian kalinya lalu memulai lagi pergumulan panas mereka.


...****************...


Jam menunjukkan pukul 6 sore.


Setelah tiga kali merasakan nikmatnya pelepasan, pengantin baru itu pun memutuskan untuk mandi.


Awalnya mereka berdua memang hanya ingin mandi tapi siapa sangka Aditya malah ingin melakukannya lagi saat mereka ada di bawah guyuran shower.



Entah sudah berapa kali bibir mereka bertautan tapi sama sekali tidak membuat mereka jenuh malah sekarang mereka menjadi candu dengan bibir masing-masing.


Aditya melepas tautan bibir mereka lalu membalik badan Kania membelakanginya. Dia pun menciumi tengkuk leher dan pundak istrinya.


Melihat posisi mereka saat ini, Aditya jadi teringat dengan satu gaya yang tadi belum dia coba.


Lalu Aditya mengarahkan Kania untuk sedikit membungkukkan badannya dan setelah itu dia pun memasukkan miliknya dari belakang.



Hanya tangan Kania yang terlihat dari kaca tebal yang menutupi area shower.


Suara-suara seksi pun menggema di dalam kamar mandi menyatu dengan suara gemericik air dari shower.


...****************...


Di waktu yang bersamaan, terdengar juga suara seksi dari kamar yang tak jauh dari kamar Aditya.


Di kamar itu juga sedang berlangsung pergumulan panas antara ayah mertua Aditya dengan ibu mertua Kania.


Meskipun umur keduanya sudah berkepala 4 tapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk beribadah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2