Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Satu Jawaban Salah Makan Satu Cabai, Berani?


__ADS_3

Seseorang yang ditunggu Mutiara akhirnya datang. Senyuman dibibirnya pun semakin melengkung keatas karena orang itu hanya datang sendirian.


Aku yakin pasti wanita sombong itu lagi diceramahi abis-abisan sama Tante Permata.


Mutiara tertawa kecil membayangkan wajah sedih Kania saat diceramahi Permata di lantai atas.


...Bruk!...


Aditya sengaja melempar buku matematika yang dibawanya ke atas meja.


Sontak saja bukan cuma Mutiara tapi Daniel juga ikut kaget bahkan sampai membuat handphone yang dipegangnya terlepas dan hampir jatuh kalau Daniel gak refleks menangkap handphone nya itu.


"Lu kenapa sih Dit?! Kaget tahu!" protes Daniel sewot.


"Lu mau belajar apa main game?"


"Belajar lah, kan emang itu tujuan gue dateng kesini, gue main game karena lu lama, masa ngambil buku aja sampe hampir satu jam, lu ngambil buku apa ngambil kesempatan berduaan sama doi," ledek Daniel.


"Kepo lu," balas Aditya ketus.


"Yaelah sensi banget, becanda kali, eh tapi koq lu sendiri? Kak Kania mana?" tanya Daniel.


"Di atas sama Mami."


Mendengar jawaban Aditya membuat Mutiara semakin yakin kalau saat ini saingannya itu pasti sedang diceramahi Permata.


"Kak Kania di atas sama Tante? Ngapain Dit?" tanya Daniel sambil memasukan kembali handphone nya ke dalam saku hoodie yang dia pakai.


"Kepo akut lu, udah mending kita mulai aja, kita mau bahas materi yang mana dulu nih?" Aditya membuka buku matematikanya.


...****************...


Setelah masuk ke dalam kamar, Permata langsung mengeluarkan gaun dari salah satu paper bag nya lalu meminta Kania mencoba gaun itu.


"Waah~ kamu cantik banget sayang~" puji Permata saat melihat Kania memakai gaun darinya.


Kania pun tersipu malu mendengar pujian dari Permata.


"Makasi Mi, gaunnya juga cantik," balas Kania diiringi senyum manisnya.


"Kamu suka?"


"Suka banget Mi!" jawab Kania antusias.


Rona kebahagian terpancar dari wajah Kania. Bukan karena gaunnya yang branded tapi emang karena dia suka dengan gaunnya.


Permata memang sengaja memilih gaun berwarna biru langit untuk Kania karena mengingat anak tiri kesayangannya itu suka warna biru. Model gaunnya juga simpel tapi tetap elegan, pokoknya style Kania banget.


"O iya hari minggu kita sekeluarga diundang ke acara pertunangan anaknya temen Mami, nanti dipakai ya gaunnya."


"Ok Mi."


Kania pun kembali memakai bajunya lalu memasukkan gaun dari Permata ke dalam paper bag.


"Mami juga beliin kamu ini," ucap Permata memberikan paper bag lagi kepada Kania tapi ukurannya lebih kecil.


Kania membuka paper bag itu dan melihat tiga set pakaian dalam.


"Makanya tadi Mami minta kamu ikut sama Mami soalnya kamu pasti malu kalau tadi Aditya tahu isinya."


"Iya, Kania pasti malu banget, Makasi Mi~"


Kania memberikan senyum terbaiknya untuk Permata sebagai balasan hadiah yang diberikan ibu tirinya itu.


"Sama-Sama Sayang, yaudah sana kamu turun ke bawah nanti kalau kamu kelamaan disini pacar kamu yang posesif itu bisa ngambek sama Mami."


"Mami tenang aja, nanti Kania marahin kalau dia berani ngambek sama Mami."


Permata terkekeh mendengarnya.


"Mi, makasi ya gaun sama pakaian dalamnya, Kania mau simpen di lemari dulu."


"Iya Mami juga mau mandi sekarang."


Kania pun keluar dari kamar Permata lalu masuk ke kamarnya.


...****************...


Di ruang tengah, setelah Aditya menjelaskan cara menjawab contoh soal yang ada dibuku lalu dia membuat soal untuk Daniel dan Mutiara.


Mami sama Kak Kania ngapain sih? Ini udah hampir setengah jam tapi Kak Kania belum dateng juga.


"Jawab soalnya nanti gue cek."


Aditya menggeser buku tulisnya ke tengah agar Daniel dan Mutiara sama-sama bisa melihat soal di bukunya.


"Siap Bos!" sahut Daniel antusias lalu dengan semangat menyalin soal di buku Aditya.


"Hachi!"


Tiba-tiba Aditya bersin.


"Aditya, kamu sakit?" tanya Mutiara khawatir.


"Engga, cuma gatel aja tadi hidungnya."


"Katanya kalau bersin berarti ada yang lagi ngomongin lu Dit," celetuk Daniel.

__ADS_1


Ada yang ngomongin? Pasti Mami sama Kak Kania. Mereka ngomongin apa ya?


"Sok tahu lu, udah cepet jawab soalnya jangan cuma disalin aja," balas Aditya ketus.


"Iya iya, galak banget," cibir Daniel.


"Gue mau ke kamar mandi dulu ya."


Itu hanya alasan Aditya saja, sebenarnya dia mau pergi ke lantai atas untuk mengambil Kania dari Maminya.


Tapi saat Aditya baru saja berdiri, dia melihat Kania sedang berjalan ke tempat itu jadi dia pun kembali duduk.


"Lu koq duduk lagi? Bukannya tadi lu bilang mau ke kamar mandi?" tanya Daniel.


"Gak jadi."


"Kenapa gak jadi? Udah sana pergi aja ke kamar mandi gak usah ditahan, entar yang ada malah jadi penyakit."


"Kalau gue bilang gak jadi ya gak jadi, bawel banget sih lu," ucap Aditya sewot.


"Kena semprot lagi deh," gerutu Daniel.


Tak lama Kania datang tapi tidak duduk di tempat sebelumnya tapi diantara Aditya dan Mutiara.


Sontak saja Mutiara langsung memalingkan wajahnya dan menatap tajam Kania.


"Kenapa duduk disini?! Jadi sempit, tahu?!" protes Mutiara.


"Honey geser, aku mau duduk disini," pinta Kania.


Aditya pun sedikit menggeser duduknya ke samping.


Cih! Wanita ini bener-bener nyebelin!


Dari wajah Mutiara terlihat sekali kalau dia tidak suka dengan yang Kania lakukan.


"Aku kan bilang jangan lama-lama." Aditya mencubit pipi Kania.


"Iih sakit!" rengek Kania.


"Lagian lama, emangnya kamu ngapain aja sama Mami? Ngomongin aku ya?"


"Ih geer! Udah nanti aku kasi tahu sekarang kamu kan lagi belajar."


"Bukan aku yang belajar tapi mereka."


"Iya Kak, Aditya sih gak perlu belajar matematika, buat dia jawab soal kaya gini cuma perlu waktu 3 menit," celetuk Daniel.


"3 menit? Masak mie instan aja lebih dari 3 menit."


"Boleh aku lihat soalnya?" tanya Kania.


"Ngapain mau lihat soalnya? Kaya ngerti aja," sindir Mutiara.


Bukannya kesal, Kania malah dapat ide untuk membalas sindiran Mutiara.


Kania berdiri lalu pergi ke dapur. Tak berapa lama dia kembali dan meletakkan satu piring kecil berisi cabai rawit di atas meja.


"Gimana kalau buat sesi belajar jadi lebih menarik?" tanya Kania.


"Caranya?" tanya balik Aditya.


"Jadi setiap ada jawaban yang salah, orang itu harus makan satu cabai."


"Berarti kalau jawaban yang salah ada 5, harus makan 5 cabai," celetuk Daniel.


"Iya, tapi kalau jawabannya bener semua ya gak perlu makan cabai."


"Gimana? Berani gak?" Kania melihat Mutiara lalu tersenyum menyeringai.


"Ok! Kita lihat aja siapa yang bakal makan cabai paling banyak!" sahut Mutiara.


"Aku gak ikutan, soalnya kan aku yang buat jadi nanti aku yang periksa jawaban kalian," ucap Aditya santai.


"Honey, aku minta kertas ya," pinta Kania.


"Ambil aja Baby."


Kania mencopot dua lembar kertas bagian tengah buku Aditya lalu mulai mengerjakan soal yang sudah dibuat pacarnya itu.


Saat perhatian yang lain ke soal, perhatian Aditya hanya ke wanita yang dia cintai.


Mau sedang serius atau tidak, dia tetap saja cantik tapi aku lebih suka kalau dia tersenyum karena aku bisa melihat lesung pipinya yang membuat dia semakin cantik.


...****************...


Setelah hampir satu jam, Daniel, Mutiara dan Kania sudah selesai menjawab semua soal dari Aditya.


Sekarang tugas Aditya untuk memeriksa jawaban dari ketiga orang itu dan dimulai dari Daniel.


"Gimana Bro? Gue salah berapa?" tanya Daniel ke Aditya yang terlihat sudah selesai memeriksa jawabannya.


"Lu sebenarnya ngerti gak sih Niel?" tanya Aditya balik.


"Salah banyak ya? Hehe." Daniel cuma bisa cengengesan.


"Harusnya tadi lu bilang aja kalau belum ngerti kan gue bisa jelasin lagi caranya."

__ADS_1


"Emangnya Daniel salah berapa?" tanya Kania penasaran.


"Salah 7 dari 10 soal."


"Hah! 7?!"


Daniel emang udah mengira kalau jawabannya pasti ada yang salah tapi mungkin hanya 3 atau 4. Ternyata malah lebih dari perkiraannya.


"Berarti gue harus makan 7 cabai dong?!"


"Iya lah sesuai kesepakatan, cepet makan cabainya." Aditya dengan senang hati mengambil 7 cabai lalu memberikannya kepada Daniel.


"Lu seneng banget gue makan cabai, jangan-jangan lu sengaja, jawaban gue yang bener lu salahin, iya kan?" tuduh Daniel.


"Fitnah lu, nih liat aja jawaban lu emang salah."


Daniel melihat dibukunya Aditya menulis cara mendapatkan jawaban yang benar.


"Mau alasan apa lagi?" tanya Aditya sinis.


"Iya iya gue makan cabainya."


Baru makan 2 cabai, Daniel sudah kepedesan. Dia pun langsung menenggak habis minumannya.


"Sorry, kayanya gue gak bisa lanjut makan cabainya, gue gak tahan pedes," ucap Daniel dengan wajah yang sudah merah.


"Yaudah jangan dipaksa entar malah sakit, terus jawaban aku salah berapa?" Kania penasaran dengan hasil jawabannya.


"Aku periksa jawabannya Ara dulu ya."


Aditya pun memeriksa jawaban Mutiara.


"Aku pasti bener semua." Mutiara sangat percaya diri kalau jawabannya tidak ada yang salah.


"Kamu salah 3."


"Hah?! Salah 3?! Koq bisa?!"


Mutiara terkejut karena dia yakin kalau jawabannya tidak ada yang salah.


Lalu Aditya menjelaskan cara yang benar kepada Mutiara di tiga soal yang jawabannya salah.


"Kenapa? Takut? Cuma makan 3 cabai aja, o iya rubah kan gak makan cabai," sindir Kania.


"Takut? Aku gak takut! Aku makan 3 cabai ini sekaligus!"


Mutiara yang kesal langsung memasukan 3 cabai rawit ke mulutnya.


Alhasil, wajah Mutiara sangat merah bahkan air matanya pun menetes saking pedasnya.


"Pedas! Pedas! Pedaaas!"


Mutiara langsung menenggak habis minumannya tapi tetap saja rasa pedas di lidahnya belum hilang.


Lalu Kania memberikan cemilan berupa biskuit kepada Mutiara.


"Makan biskuit ini buat ilangin pedesnya."


Meskipun kesal melihat senyuman Kania, Mutiara tetap mengambil biskuit itu lalu segera memakannya.


Sial! Dia pasti sengaja mau ngerjain aku!


"Terus jawaban dia salah berapa Dit?" tanya Mutiara sambil melirik sinis Kania.


Tak sampai 5 menit Aditya memeriksa jawaban Kania lalu mengembalikan kertas jawaban itu ke yang punya.


Daniel dan Mutiara heran karena Aditya cuma melihatnya saja tanpa mencoret-coret atau menulis sesuatu dikertas jawaban milik Kania.


"Kak Kania salah berapa Dit?" tanya Daniel penasaran.


"Pasti salah semua makanya Aditya males periksanya," celetuk Mutiara.


"Hah?! Serius Dit?! Kak Kania salah semua?! Berarti harus makan 10 cabai dong!" ucap Daniel heboh.


Mutiara dengan semangat mengambil 10 cabai lalu memberikan cabai itu kepada Kania.


"Ayo makan cabainya, kenapa? Takut?" sindir Mutiara.


"Honey, apa aku harus makan cabai ini?"


Aditya mengambil cabai ditangan Kania lalu mengembalikan cabai itu ke piring.


"Kenapa kamu makan cabai? Kalau kamu ada jawaban yang salah baru makan cabai."


"Be-Berarti jawaban Kak Kania... BENER SEMUA! Serius Dit?! Jawabannya bener semua?!" Lagi-lagi Daniel heboh sendiri.


Mutiara terkejut mendengar ucapan Daniel.


"Apa?! Bener semua?! Mana sini aku lihat!" Mutiara dengan kasar mengambil kertas dari tangan Kania.


Matanya semakin membulat saat melihat jawaban Kania di kertas itu.


Kania tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah Mutiara yang frustrasi melihat jawabannya. Dia puas karena berhasil membalas sindiran Mutiara yang meremehkannya tadi.


Sementara Aditya tertawa kecil melihat tingkah Kania yang menurutnya menggemaskan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2