
Kania tidak melanjutkan sesi curhatnya karena dari awal dia hanya ingin tahu penyebab Aditya yang begitu ketakutan ditinggal olehnya.
Memang hal yang wajar jika seseorang merasa takut ditinggalkan atau kehilangan orang yang dicintai tapi jika sudah berlebihan bahkan sampai membuatnya paranoid hal tersebut menandakan bahwa orang tersebut kemungkinan mengalami gangguan psikis.
Dan salah satu bentuk dari gangguan psikis adalah trauma.
Trauma psikis sendiri terjadi saat seseorang mengalami kejadian atau peristiwa buruk yang membuat kejiwaannya rusak.
Saat mengalami trauma, biasanya orang itu akan tersiksa secara emosional dan cemas saat mengingat peristiwa tersebut.
Sebenarnya, ada banyak kejadian yang dapat menyebabkan trauma dan salah satunya kehilangan orang yang dicintai seperti yang dialami Aditya.
Trauma psikis Aditya bermula saat dirinya kehilangan sosok papinya yang sejak kecil dia kagumi dan sangat dicintainya.
Dan saat Kania menjadi sosok yang dicintai Aditya selain papinya tentu saja perasaan takut ditinggalkan itu muncul kembali sehingga membuatnya bersikap berlebihan bahkan sampai paranoid.
Semua itu Aditya lakukan karena dia tidak mau merasakan lagi sakitnya ditinggalkan orang yang dicintainya.
Waktu pertama kali Aditya mengenal Kania, gadis itu juga memiliki trauma yang membuatnya tidak bisa menolak jika ada pria yang mengutarakan isi hatinya dan memintanya berpacaran. Tapi trauma yang dimiliki Kania masih tergolong ringan dibandingkan trauma Aditya.
"Aku yakin sikap berlebihan Aditya kemarin pasti karena dia trauma ditinggal papinya, terus aku harus bagaimana? Kalau Aditya belum bisa menghilangkan traumanya otomatis kita bakal sering bertengkar setiap kali aku berinteraksi dengan lawan jenis."
"Padahal... Saat aku bekerja nanti gak mungkin aku diam saja dan tidak bersosialisasi dengan karyawan lain.. Huuh...."
Saat Kania tengah tertunduk lesu, terdengar notif chat masuk dari handphone nya.
Kania pun meraih handphone nya dan membuka chat dari seseorang yang dia keluhkan tadi.
"Dia sudah sampai di sekolah," gumam Kania lalu membalas chat itu.
Tak lama setelah Kania membalas chat, dia melihat panggilan masuk dari Ratna dan langsung saja Kania menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan itu.
...----------------...
...[via telepon]...
KANIA: Ada apa Na?
^^^RATNA: Lu kemana aja Ni?^^^
^^^RATNA: Gak kangen apa ama gue?^^^
^^^LEO: Ni, lu juga gak kangen ama gue?^^^
(Selain suara Ratna, Kania juga mendengar suara Leo)
KANIA: Ada Leo juga
^^^LEO: Iya Na, kesini dong^^^
^^^LEO: Kita kangen nih ama lu^^^
^^^RATNA: Iya Na, stress ngurusin skripsi mulu^^^
^^^RATNA: Refresing sebentar lah^^^
^^^RATNA: Sekalian melepas rindu~^^^
^^^LEO: Iih, alay banget sih^^^
^^^RATNA: Bodo, terserah gue!^^^
^^^RATNA: Lagian lu ngapain nebeng ngomong sama Kania^^^
^^^RATNA: Gak modal^^^
^^^LEO: Gak modal?!^^^
^^^LEO: Terus yang bayar semua makanan lu siapa?!^^^
^^^RATNA: Yaelah jadi perhitungan banget^^^
^^^RATNA: Entar gue ganti duit lu^^^
(Kania menghela napas mendengar kedua sahabatnya berdebat)
KANIA: Mending tutup aja teleponnya kalau kalian mau ribut
KANIA: Gue pusing dengernya
(Seketika Ratna dan Leo langsung menutup bibir mereka)
^^^RATNA: Maaf Ni hehe^^^
^^^LEO: Ni, kesini dong^^^
^^^LEO: Mau gue jemput?^^^
^^^RATNA: Iya Ni, mau ya?^^^
^^^RATNA: Udah lama kita gak ngumpul^^^
KANIA: Iya, iya gue kesana
KANIA: Kirimin aja lokasi lu
KANIA: Gue pesen taksi online aja entar
__ADS_1
^^^RATNA: Yeaay!^^^
^^^RATNA: Ok, siap Bos!^^^
^^^LEO: Hati-hati Ni^^^
KANIA: Iya
...[end call]...
...----------------...
Kania segera keluar dari kamarnya begitu menerima lokasi tempat Ratna dan Leo saat ini.
...****************...
"Sial! Kenapa nomor Kania gak bisa dihubungi?! Pasti ini ulah bocah tengik itu! Arrghh!" Galih mengacak-acak rambutnya frustrasi.
Ternyata tanpa sepengetahuan Kania, Aditya sudah memblokir nomor Galih.
"Tapi kenapa bocah tengik itu ada di kamar Kania semalam?"
Darah Galih tambah mendidih mengingat wanita yang SEHARUSNYA dia miliki bersama pria lain di dalam kamar.
"Sial! Aku baru ingat kalau bocah tengik itu anak dari istri ayahnya Kania berarti mereka tinggal satu rumah!"
"Pantes saja bocah tengik itu begitu percaya diri tapi lihat saja, aku akan merebut yang seharusnya aku miliki!"
Galih pun bergegas menuju kamar mandi dan setelah setengah jam dia keluar dengan hanya melilitkan handuk dipinggangnya.
"Aku akan tanya Om Hendra alamat rumahnya."
Lalu Galih masuk ke dalam walk in closet. Dia memilih kemeja berwarna biru dipadukan dengan vest abu-abu.
Saat Galih melihat pantulan dirinya di standing mirror tatapan matanya melembut karena warna kemeja yang dia kenakan mengingatkannya dengan cinta pertamanya.
"Aku ingat semua hal yang kamu suka dan tidak suka termasuk warna kesukaanmu."
Galih tengah bicara dengan Kania yang dia lihat di pantulan cermin.
Tangan Galih pun mengusap cermin di depannya seolah sedang mengusap pipi Kania.
"Bagaimana penampilanku? Aku tahu kamu pasti suka karena warna biru adalah warna kesukaanmu."
"Tunggu aku Yaya, aku akan datang menemuimu...."
Terakhir, Galih memakai jam tangan rolex edisi terbatas di pergelangan tangannya lalu keluar dari ruangan itu.
...****************...
Kania juga tidak lupa mengabari Aditya tapi baru saja dia akan memesan taksi online, tiba-tiba ada panggilan telepon masuk dari Aditya.
...----------------...
...[via telepon]...
^^^ADITYA: Kamu gak boleh pergi!^^^
KANIA: Kenapa?
KANIA: Aku udah lama gak ketemu mereka
^^^ADITYA: Pokoknya gak boleh!^^^
KANIA: Iih nyebelin banget sih!
KANIA: Mereka itu temen aku!
KANIA: Kenapa aku gak boleh bertemu mereka?!
^^^ADITYA: Yaudah boleh, tapi tunggu aku pulang^^^
^^^ADITYA: Aku juga ikut kamu kesana^^^
KANIA: Tapi mereka udah nungguin aku disana sekarang
^^^ADITYA: Dua puluh menit lagi aku pulang!^^^
KANIA: Hah? Maksud kamu?
(Aditya langsung mengakhiri panggilan telepon itu secara sepihak)
...[end call]...
...----------------...
"Langsung dimatiin...," gumam Kania sambil menatap layar handphone nya.
"Tadi dia bilang dua puluh menit lagi pulang berarti aku harus menunggunya karena kalau sampai nanti dia pulang aku gak ada dia pasti ngamuk... Huuh...."
Saat Kania akan masuk kembali ke dalam rumah, tiba-tiba dia dikejutkan suara klakson mobil.
...Tinn! Tin!...
Sebuah mobil BMW berwarna hitam berhenti tepat di depan Kania lalu tak lama keluarlah sang pengemudi dari dalam mobil.
"Galih?" pekik Kania.
__ADS_1
Ternyata sang pengemudi mobil BMW tersebut adalah Galih.
"Hai Yaya."
Galih menutup pintu mobilnya dan berjalan menghampiri Kania.
Saat sudah berdiri di hadapan Kania, Galih memperhatikan penampilan gadis itu dari atas sampai bawah.
Meskipun hanya memakai celana jeans dan kaos tapi dimata Galih Kanianya selalu cantik.
"Kamu mau pergi?" tanya Galih.
"Tadinya iya tapi kayanya gak bisa pergi sekarang."
"Apa karena aku datang? Maaf ya, kalau aja nomor kamu bisa dihubungi aku pasti kasi kabar dulu sama kamu, gak tiba-tiba datang seperti ini."
"Maksud kamu?"
"Tadi aku udah berkali-kali hubungi kamu tapi gak bisa."
"Masa sih? Daritadi gak ada chat atau telepon dari kamu."
"Coba kamu lihat history panggilan di handphone ku."
Galih menunjukkan deretan panggilan tak terjawab di handphone nya kepada Kania.
"Tapi emang gak ada telepon masuk dari kamu."
Karena penasaran Galih pun mencoba menghubungi Kania tapi tidak ada dering panggilan masuk di handphone Kania.
"Koq telepon kamu gak masuk ya?" Kania heran kenapa Galih tidak bisa meneleponnya padahal semalam Galih bisa video call dia.
"Apa kamu blokir nomor aku?"
"Blokir?! Engga, aku gak blokir nomor kamu."
"Coba dulu kamu cek didaftar blokir apa nomorku ada disana?"
"Jelas gak ada! Aku gak blokir nomor kamu, kamu gak percaya sama aku?"
"Bukannya gak percaya tapi gak ada salahnya kan dicek."
Akhirnya untuk membuktikan kepada Galih kalau dia tidak memblokir nomor teman masa kecilnya itu, Kania pun membuka daftar blokirnya dan ternyata ada satu nomor didaftar itu.
"Loh koq nomor kamu bisa ada didaftar blokir?!" pekik Kania.
Kania merasa gak enak dengan Galih karena sudah memblokir nomor pria itu meskipun bukan dia yang melakukannya.
"Maaf ya, mungkin aku gak sengaja ngeblokir nomor kamu...."
"Iya, gak apa-apa."
"Kamu gak marah, kan?" tanya Kania ragu-ragu.
Galih tersenyum lalu mengusap kepala Kania.
"Marah? Justru aku gak bisa marah sama kamu Yaya."
Kania mengangkat wajahnya dan melihat Galih yang tengah tersenyum kepadanya.
Gak bisa marah? Terus kenapa kamu pergi waktu itu?
...****************...
Daniel segera mengejar Aditya yang tergesa-gesa pergi meninggalkan kelas.
"Bro tunggu! Lu serius mau pulang?"
"Iya."
"Tapi kita kan belum bisa keluar dari sekolah, kalau lu pulang sekarang sama aja lu bolos."
Tiba-tiba Aditya menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Daniel.
Hampir aja gue ngelakuin hal bodoh, kalau gue pulang tanpa alasan berarti sama aja gue bolos tapi beda lagi kalau gue punya alasan.
Aditya menyeringai saat otaknya mendapatkan ide agar dia bisa pulang dan tentu saja tanpa perlu khawatir nilainya dikurangi.
"Bro, gue butuh bantuan lu." Aditya menepuk pundak Daniel.
"Bantuan? Lu mau ngapain Dit?"
Aditya pun mendekatkan bibirnya ke telinga Daniel dan membisikan sesuatu.
"Lu serius?"
"Serius lah, gue bener-bener harus pulang sekarang! Pokoknya lu ikutin aja sesuai rencana."
"Tapi gak gratis Bro," ucap Daniel sambil menaik-turunkan alisnya.
"Gue traktir makan di kantin selama setahun plus gue top up akun game lu."
"Nah, gitu dong! Kuy lah kita jalankan rencana lu tadi."
Aditya dan Daniel pun beranjak pergi dari tempat itu.
...****************...
__ADS_1