
Galih memberitahu orang tuanya kalau Kania adalah anak perempuan yang dekat dengannya sewaktu SD.
Mamanya Galih pun sedikit terkejut, dia tidak percaya kalau anak perempuan yang memang dulu selalu bersama dengan anaknya itu sekarang menjadi wanita yang cantik padahal dulu anak perempuan itu sangat imut dengan pipi chubby dan rambut yang dikuncir dua.
Para orang tua pun membiarkan anak-anak mereka bercengkama sedangkan mereka menyapa kolega bisnis mereka yang juga datang ke acara itu.
Selepas kepergian Hendra dan Permata, Aditya semakin waspada kepada Galih. Dia sama sekali tidak bergeming dan tetap berdiri di antara Galih dan Kania, dia juga tak melepaskan tatapan tajamnya kepada Galih.
Galih menghela napas, dia merasa konyol kalau sampai meladeni Aditya yang usianya lebih muda darinya jadi dia berusaha menahan dirinya dan tetap tenang.
"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi Yaya," ucap Galih lalu tersenyum kepada Kania yang berada di belakang Aditya.
"Yaya? Sepertinya kamu salah orang, nama calon istriku Kania bukan Yaya, jadi pergi saja cari wanita bernama Yaya itu sana," celetuk Aditya.
Galih tersenyum sinis, dia tidak peduli dengan ucapan Aditya karena sekarang perhatiannya hanya kepada wanita yang sedang menatapnya dengan kedua manik indah yang selalu dirindukannya.
"Yaya, bagaimana kabarmu?"
Lagi-lagi Galih menyebut nama Yaya tapi kali ini Aditya sadar kalau nama itu ditujukan ke wanitanya saat dia melihat arah mata Galih.
"Aku baik, kamu?"
"Aku--"
"Yaya? Apa maksudnya? Sejak kapan nama kamu jadi Yaya?" Aditya tidak peduli pria di depannya gondok karena menyela ucapan pria itu, dia cuma ingin Kania menjelaskan panggilan khusus dari Galih.
"Waktu SD Galih selalu memanggilku Yaya."
"Kenapa? Nama kamu kan Kania bukan Yaya," ucap Aditya sewot sambil meremas kedua lengan Kania.
"Kenapa kamu marah cuma karena hal itu?" Kania tidak mengerti kenapa Aditya jadi sangat sensitif cuma karena Galih memanggilnya Yaya.
Tiba-tiba Galih memegang tangan Aditya lalu menatap tajam pemuda itu. Dia tidak suka dengan sikap Aditya yang kasar kepada Kania.
"Sebagai pria harusnya kamu tidak bersikap kasar seperti ini kepada wanita," ucap Galih dingin.
Aditya berdecak kesal lalu menepis kasar tangan Galih.
"Bukan urusanmu! Dia milikku! Jadi jangan mengajariku bagaimana harus bersikap kepadanya, mengerti?!" Aditya mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Galih.
Galih tersenyum sinis. Dia tampak tenang tapi sebenarnya dia sudah sangat emosi sampai rasanya ingin sekali memukul wajah tengil Aditya.
"O ya? Atas dasar apa kamu bilang kalau Yaya milikmu?" Galih menyingkirkan telunjuk Aditya.
"Atas dasar apa?" Aditya tersenyum sinis.
"Apa Anda tuli? Sepertinya Saya harus memperkenalkan diri Saya lagi. Hmm, baiklah, dengar baik-baik, Saya adalah calon suami Kania Pertiwi," ucap Aditya sarkas.
"Apa kamu tahu wanita yang sudah bersuami saja masih bisa menjadi milik orang lain apalagi yang masih calon suami?"
Bagi Aditya ucapan Galih seperti pernyataan sekaligus ancaman kalau pria itu akan merebut Kania darinya.
__ADS_1
Sontak saja Aditya langsung menarik kerah kemeja Galih. Dia tidak peduli meskipun dia harus jinjit untuk menyetarakan tinggi badan mereka karena Aditya saat ini sudah terbakar emosi.
"Brengsek!"
Kania terkejut lalu segera menahan tangan Aditya yang sudah terangkat memukul Galih.
"Aditya, jangan!"
Hendra yang sedang berbincang dengan kolega bisnisnya mendengar keributan begitu juga Permata. Keduanya pun melihat kearah keributan itu.
"Astaga! Itu Aditya!" pekik Permata saat melihat Aditya akan memukul Galih, anak rekan bisnis suaminya.
"Mas, ayo cepat kita kesana!"
Hendra dan Permata pun segera menghampiri anak-anak mereka yang sekarang menjadi tontonan tamu undangan yang hadir di dalam ballroom itu.
"Hentikan Aditya! Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan Galih!" hardik Permata.
"Aditya, lepaskan Galih!" pinta Kania sambil berusaha melepas cengkraman tangan Aditya di kerah kemeja Galih.
Sementara Galih malah tersenyum sinis seolah menyombongkan dirinya karena lebih dibela oleh Kania.
"Ada apa ini?!" Pak Hermawan tergesa-gesa menghampiri anaknya.
Kania merasa tidak enak kepada Pak Hermawan selaku rekan bisnis ayahnya. Dia khawatir ayahnya akan mendapat masalah gara-gara keributan ini. Dia juga malu karena menjadi tontonan tamu yang hadir padahal diantara tamu-tamu itu juga ada rekan bisnis ayahnya.
Mata Kania mulai berkaca-kaca, dia kesal dengan Aditya yang selalu tidak tahu tempat kalau sudah marah.
Ancaman Kania sontak saja menyadarkan Aditya. Jantungnya seketika berhenti berdetak saat mendengar kata "putus" terucap dari mulut wanita yang sangat dia cintai.
Perlahan cengkraman tangan Aditya pun melonggar lalu terlepas dari kerah kemeja Galih.
Aditya yang masih shock memalingkan wajahnya ke samping. Dia melihat cairan bening menetes dari sudut mata wanita yang ingin dia bahagiakan tapi malah dia yang membuat wanita itu menangis.
"Baby...," panggil Aditya lirih.
"Maaf Pak Hermawan karena sudah membuat keributan di acara Bapak."
"Galih, tolong maafkan Aditya karena sudah bersikap kasar kepadamu."
Kania merasa miris dengan ayahnya. Padahal Aditya yang salah tapi sang ayah yang meminta maaf. Tapi meskipun begitu Aditya masih bersikap dingin dengan ayahnya.
"Aditya, cepat minta maaf sama Galih!" titah Permata.
Aditya tak bergeming, matanya masih tertuju kepada Kania dan melihat cairan bening itu kembali menetes dari mata indah kekasihnya.
"Baby, maafkan aku...."
Permata melongo mendengar putranya malah minta maaf kepada Kania bukannya Galih.
Kania tidak menanggapi permintaan maaf Aditya, dia pun mengusap air matanya lalu mengalihkan pandangannya kepada Galih.
__ADS_1
"Galih, maaf...," ucap Kania lirih.
Galih tersenyum lalu mengusap kepala Kania.
"Tidak apa-apa Yaya."
Rahang Aditya mengeras dan tangannya pun kembali mengepal kencang saat melihat tangan Galih menyentuh kepala Kania.
Aditya pun cuma bisa mengumpat dalam hati dan membayangkan memukul wajah Galih sampai babak belur karena kalau dia benar-benar melakukan itu maka hubungannya dengan Kania yang jadi taruhan.
"Galih, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Pak Hermawan.
"Engga ada apa-apa Pa, adik kecil ini cuma salah paham."
Apa?! ADIK KECIL?!
Kalau saja Aditya tidak ingat ancaman Kania tadi pasti saat ini Galih sudah dibawa ke UGD dan dirawat inap.
"Salah paham gimana maksud kamu?" Pak Hermawan masih belum puas dengan jawaban Galih.
"Cuma salah paham kecil Pa, tidak perlu dibesar-besarkan."
"Sekali lagi Saya minta maaf Pak Hermawan, Nak Galih," ucap Hendra sambil menundukkan kepalanya.
"Engga apa-apa Om, justru Saya yang harusnya minta maaf, mungkin ucapan Saya menyinggung adik kecil ini dan membuatnya salah paham," balas Galih dengan sopan.
Rasanya Aditya mual dan ingin muntah saat mendengar ucapan Galih dan saat dia mengalihkan matanya dia tak sengaja melihat Kania yang tersenyum menatap Galih.
Aditya tidak tahan kekasihnya lebih memilih menatap pria lain.
"Baby~" rengek Aditya sambil mencolek-colek lengan Kania.
Tapi Kania tidak merespon dan malah pergi mendekati Hendra lalu memeluk lengan ayahnya itu.
"Om, Tante, Saya minta maaf... Sebenarnya keributan ini karena Saya...," ucap Kania lirih.
"Karena kamu? Ma--"
Ucapan Pak Hermawan terpotong saat handphone nya berdering. Dia pun segera pergi untuk menjawab panggilan telepon dari salah satu investornya.
Aditya tahu saat ini yang lebih penting adalah menemukan cara agar Kania tidak marah lagi kepadanya karena kalau Kania terus ngambek sama dia maka Galih akan memanfaatkan hal itu untuk merebut Kania darinya.
...****************...
[Visual Galih]
Aku ingetin lagi ya Galih itu seumuran sama Kania, umur mereka 22 tahun jadi jangan ada lagi yang bilang kalau visual mereka terlalu tua.
Buat yang gak setuju sama visualnya monggo imajinasi sendiri 😁
__ADS_1
MAKASI BUAT DUKUNGAN DAN KESABARAN KALIAN!! KALIAN THE BEST LAH!! LOVE YOUUU~ ❤️❤️❤️