Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Mutiara Sakit (2)


__ADS_3

Seperti yang direncanakan, sepulang sekolah Daniel pergi menjenguk Mutiara sedangkan Aditya tentu saja langsung pulang ke rumah karena dia ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam mobil Daniel tiba di depan gerbang rumah Mutiara.


Daniel keluar dari mobil lalu menghampiri satpam yang berdiri di dalam gerbang.


"Permisi Pak, Saya Daniel teman sekolahnya Mutiara."


"Aden kesini mau ketemu Non Mutiara ya?" tanya Satpam itu sopan.


"Iya Pak, Saya mau menjenguk Mutiara soalnya tadi di sekolah Saya dengar Mutiara sakit."


"Maaf Den tapi Non Mutiaranya tadi sudah dibawa ke rumah sakit."


"Ke rumah sakit?! Mutiara sakit apa Pak? Koq sampai dibawa ke rumah sakit?"


"Bapak juga gak tahu Den, tadi Non Mutiara pingsan di kamar mandi terus langsung dibawa ke rumah sakit."


Mutiara pingsan?


"Mutiara dibawa ke rumah sakit mana Pak?"


...****************...


Begitu sampai di rumah hal pertama yang dilakukan Aditya adalah mencari keberadaan Kania, kekasih hatinya.


Saat Aditya masih berada di sekolah, Kania mengirim chat dan memberitahu Aditya kalau dia akan pergi ke toko buku. Tak lama dia pun mendapat balasan chat dari Aditya yang melarangnya pergi sebelum Aditya pulang.


Kania tahu Aditya tidak akan membiarkan dia pergi sendirian ke tempat ramai, tentu saja alasannya karena ke-posesif-an Aditya jadi dia ikuti saja kemauan kekasihnya itu daripada ngambek pikirnya.


Belakangan ini Kania memang lebih sering mengalah kepada Aditya karena dia mengingat nasihat Hendra yang memintanya agar lebih dewasa.


...Cklek...


Pintu depan terbuka. Aditya pun masuk ke dalam rumah dan saat dia sampai di ruang tengah, dia melihat Kania sedang bercengkrama dengan Permata.


Senyuman manis terukir di wajah Aditya, dia pun berjalan menghampiri dua wanita yang memiliki tempat spesial di dalam hatinya.


"Eh putra Mami udah pulang."


Bukannya menghampiri Permata dan mencium punggung tangan maminya, Aditya malah duduk di samping Kania lalu mencium kening wanitanya seperti suami yang baru pulang dari kantor.


"Pulang sekolah bukannya salim sama Mami malah cium-cium anak gadis orang," sindir Permata.


Kania merasa tidak enak disindir Permata sedangkan Aditya tampak cuek saja.


"Aditya, kamu gimana sih? Cepat salim sama Mami," ucap Kania setengah berbisik sambil menyikut Aditya.


"Biasanya Mami gak pernah protes aku salim atau engga, Mami iri yaaa~" goda Aditya.


"Tuh Kania lihat sendiri kan kelakuannya? Apa kamu yakin dia bisa jadi suami yang baik? Sama Maminya aja kaya gitu," cibir Permata.


Permata yang gak mau kalah memakai kelemahan putranya untuk menyerang balik dan benar saja, putranya itu langsung dibuat panik olehnya.


"Jangan dengerin Mami Kak! Kak Kania harus yakin kalau aku adalah suami terbaik untuk Kak Kania!"


Kania bisa melihat keseriusan dari mata Aditya yang sedang menatapnya.


Dua sejoli itu pun saling bertatapan bahkan mereka sampai lupa kalau bukan hanya mereka yang ada disana.


"Ehem!"


Permata sengaja berdehem karena ingin segera menyudahi adegan romantis di hadapannya karena hanya membuatnya iri dan semakin merindukan suaminya.


"Mami merusak momen aja nih," protes Aditya.

__ADS_1


"Dasar kalian ini gak bisa deket sedikit udah kaya magnet, nempeeeel terus," cibir Permata.


"Iya dong~ Mami ngerti banget sih~"


Aditya sengaja bergelayut manja di lengan Kania untuk membuat Permata semakin panas.


"Dasar anak ini, dia pasti sengaja melakukan itu untuk membuatku kesal," gerutu Permata.


Dalam hati Aditya tertawa geli melihat wajah Permata yang tampak geram karena kalah berdebat dengannya.


Karena sudah menang dari maminya, perhatian Aditya kini beralih ke Kania.


"O iya Baby, kamu jadi mau pergi ke toko buku?"


"Iya jadi, sana ganti seragam kamu, aku tunggu disini ya."


"Ok Bos!"


Aditya yang sudah akan beranjak dari sofa segera duduk kembali saat mendengar dering panggilan masuk dari handphone nya.


"Telepon dari siapa?" tanya Kania sambil melirik handphone Aditya.


"Daniel." Aditya pun menjawab panggilan masuk dari sahabatnya itu.


"Awas aja kalau gak penting." Belum juga Daniel membuka mulutnya tapi dia sudah mendapat ancaman dari Aditya.


Daniel menahan dirinya untuk memaki sahabatnya itu karena saat ini dia sedang berada di rumah sakit. Dia lebih memilih memberitahu Aditya tentang Mutiara yang dirawat di rumah sakit itu.


"Ara dirawat di Rumah Sakit?"


Kania mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Aditya.


Rubah kecil itu dirawat di rumah sakit? Sakit apa dia?


"Ara dirawat di Rumah Sakit?" tanya Permata memastikan.


Aditya cuma mengangguk karena dia sedang mendengar yang dikatakan Daniel dari sebrang telepon.


"Ok, thank you Niel."


Aditya mengakhiri panggilan itu lalu beralih melihat Kania.


"Baby, Ara dirawat di Rumah Sakit, apa kamu mau ikut menjenguknya?" tanya Aditya ragu-ragu.


"Apa kamu mau pergi menjenguknya?" Kania malah bertanya balik kepada Aditya.


Aditya langsung berpikir jawaban yang tepat agar kekasihnya itu tidak salah paham.


Lebih baik aku tidak menyinggung masa kecilku dengan Ara, Kak Kania pasti ngambek kalau aku ungkit soal itu.


"Iya Baby, aku mau jenguk Ara nanti setelah itu kita bisa pergi ke Mall, gimana? Kamu mau kan ikut aku ke Rumah Sakit?" bujuk Aditya.


"Kania, kamu ikut aja ke Rumah Sakit, wakili Mami jenguk Mutiara."


Kalau sudah seperti ini Kania tidak bisa menolak. Dia pun setuju ikut dengan Aditya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Mutiara.


...****************...


Mutiara terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit yang empuk karena dia dirawat di kamar pasien kelas VIP.


Mata Mutiara masih terpejam, wanita itu belum sadarkan diri sejak ditemukan pelayannya di dalam kamar mandi.


Menurut Dokter, Mutiara mengalami anemia dimana tekanan darahnya sangat rendah dan salah satu penyebabnya adalah stress jadi selain obat Dokter juga menyarankan agar Mutiara didampingi seorang psikolog.


Tadinya hanya pelayan Mutiara yang tahu tapi saat Daniel datang dan bertanya apa yang terjadi dengan Mutiara, pelayan itu pun memberitahu Daniel tentang kondisi Mutiara seperti yang diberitahukan oleh Dokter.

__ADS_1


Saat Daniel baru datang, dia merasa aneh karena hanya melihat pelayan di dalam kamar rawat Mutiara lalu karena penasaran dia pun bertanya keberadaan orang tua Mutiara kepada pelayan itu.


"Apa orang tua Mutiara sudah tahu kalau Mutiara masuk Rumah Sakit?" tanya Daniel.


"Bibi udah berkali-kali menelepon Tuan dan Nyonya tapi tidak ada yang menjawab telepon Bibi," jawab pelayan itu lirih.


"Mungkin sekarang mereka sibuk, coba Bibi telepon lagi nanti."


"Iya Den nanti Bibi coba telepon Tuan dan Nyonya lagi tapi maaf, Aden siapa? Bibi sampai lupa nanya."


"Nama Saya Daniel Bi, Saya teman sekelas Mutiara, tadi Saya udah ke rumah karena mau jenguk Mutiara tapi Pak Satpam bilang kalau Mutiara dibawa ke Rumah Sakit jadi Saya kesini."


"Den Daniel, apa Bibi bisa minta tolong?" tanya pelayan itu sungkan.


"Minta tolong apa Bi?"


"Tolong temani Non Mutiara dulu disini sampai Bibi kembali soalnya Bibi mau ambil baju ganti untuk Non Mutiara di rumah."


"Iya Bi, Saya akan disini sampai Bibi kembali."


"Makasi Den, kalau begitu Bibi pergi dulu ya Den."


Setelah pamit dengan Daniel, pelayan itu pun langsung pergi meninggalkan kamar rawat.


Sekarang tinggal Daniel dan Mutiara yang ada di dalam kamar rawat VIP itu.


Daniel duduk di kursi yang ada di samping ranjang lalu memperhatikan Mutiara yang masih betah memejamkan mata.


"Wajahnya pucet banget," gumam Daniel.


"Dokter bilang penyebab Mutiara pingsan mungkin karena stress, hmm.. Dia stress kenapa ya?"


...****************...


Aditya dan Kania sudah berada di area parkir Rumah Sakit. Mereka pun berjalan memasuki gedung dan pergi ke kamar rawat Mutiara yang sebelumnya sudah diberitahu Daniel.


...Cklek...


Aditya membuka pintu yang dia yakini adalah kamar dimana Mutiara dirawat.


Mata Aditya langsung melihat punggung pria yang sedang duduk di samping ranjang.


"Daniel," panggil Aditya.


Daniel langsung menengok ke belakang saat mendengar suara sahabatnya.


"Adit, akhirnya lu dateng juga."


Tadinya Kania tidak mau masuk tapi Aditya menggenggam tangan Kania begitu erat seolah tangan mereka direkatkan menggunakan power glue sehingga membuat Kania tidak bisa melepaskan tangannya.


Aditya lalu menarik tangan Kania dan mereka pun masuk ke dalam kamar dimana Mutiara dirawat.


"Ara kenapa?" tanya Aditya.


Meskipun Aditya sempat jengah dengan sikap Mutiara yang agresif mendekatinya beberapa hari ini tapi saat melihat wajah Mutiara yang pucat membuat Aditya sedih karena mau bagaimanapun Mutiara tetap teman masa kecilnya.


Aditya pun hanya diam saat Daniel memberitahunya tentang kondisi Mutiara sesuai dengan yang dikatakan oleh Dokter.


Stress? Apa yang membuat Mutiara stress? Apa dia ada masalah dengan orang tuanya? Atau... Jangan-jangan karena gue udah kasar sama dia kemarin...


Aditya merasa bersalah jika penyebab Mutiara sakit benar karena ulahnya.


Gue keterlaluan, harusnya gue gak sekasar itu sama dia kemarin... Maafin gue Ra...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2