Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Terima Kasih Cinta


__ADS_3

Setelah satu jam berada di dalam kamar mandi, Permata akhirnya keluar dengan memakai jubah mandi lalu dia masuk ke ruang ganti yang berada di sebelah kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, Permata keluar dari ruang ganti. Dia memilih memakai dress simple berwarna navy dengan sulaman berbentuk burung yang sedang terbang di sekitar dadanya.


Permata lalu beralih ke meja rias tapi sebelum dia memoles wajahnya dengan make up biasanya Permata memakai perlengkapan skin care nya lebih dulu.


Setelah memakai skin care, Permata baru memoles wajahnya dengan make up sederhana. Beda lagi kalau dia akan pergi ke pesta, dia akan memoles wajahnya dengan make up yang lebih berat dan hampir semua peralatan make up nya dia gunakan.


"Sudah waktunya makan malam, anak-anak pasti lapar, aku akan cek apa makan malamnya sudah siap."


Permata beranjak dari meja riasnya lalu pergi meninggalkan kamarnya.


...****************...


Mobil melaju dan berhenti di depan pintu utama rumah keluarga Nugraha.


Sebelum keluar, Hendra menepuk bahu supirnya yang duduk di kursi pengemudi.


"Pak Jun, besok antar Saya ke bandara jam delapan," ucap Hendra mengingatkan.


"Baik Tuan," sahut Pak Jun sopan.


Pak Jun adalah supir keluarga Nugraha yang sudah bekerja cukup lama bahkan sebelum papinya Aditya menikah dengan Permata.


Meskipun sekarang majikannya bukan papinya Aditya lagi tapi Pak Jun tetap hormat kepada Hendra sebagai majikan barunya.


Hendra pun keluar dari dalam mobil lalu berjalan ke pintu utama.


Saat Hendra sudah masuk ke dalam rumah, samar-samar dia mendengar suara dari ruang tengah.


"Sepertinya ada tamu, mungkin temannya Aditya atau Kania yang datang," gumam Hendra.


Benar saja, saat Hendra sampai di ruang tengah, dia melihat laki-laki dan perempuan memakai seragam sekolah. Di sana juga ada Aditya dan Kania.


Melihat kedatangan Hendra, seperti biasa Kania langsung berdiri dan lari memeluk ayahnya.


"Udah kaya gak ketemu berbulan-bulan aja," gerutu Aditya yang terdengar oleh Daniel.


"Bro, cemburu sih boleh aja tapi liat orangnya juga kali, dia kan ayahnya Kania masa lu cemburuin juga?" bisik Daniel sambil menyikut lengan Aditya.


"Abisnya gue kesel, kalau ayahnya pulang pasti langsung dipeluk tapi giliran gue dicuekin."


Aditya selalu pasang muka cemberut setiap kali melihat kedekatan ayah dan putrinya itu.


"Yaelah Kak Kania peluk ayahnya aja udah bikin lu kesel, gimana kalau Kak Kania peluk cowok lain," ledek Daniel.


Daniel langsung mendapat tatapan tajam dari Aditya yang membuatnya merinding.


"Berarti cowok itu udah bosan hidup."


Mendengar ucapan Aditya ditambah senyum menyeringainya membuat Daniel sampai susah payah menelan salivanya.


Tak lama, Permata datang menghampiri Hendra lalu diberi kecupan dikeningnya.


"Mas, makan malam sudah siap."


"Kalau gitu ayo kita makan."


"Kamu engga mau mandi dulu?"


"Nanti saja setelah makan, kasian anak-anak pasti udah lapar."


Lalu Permata mengajak Daniel dan Mutiara ikut makan malam bersama mereka.


Mutiara yang belum tahu hubungan antara Hendra dan Kania kebingungan melihat interaksi keduanya.

__ADS_1


Bukannya wanita itu pacarnya Aditya? Terus kenapa dia panggil ayahnya Aditya juga ayah? Udah gitu ayahnya Aditya juga keliatan deket sama wanita itu.


Lalu saat mereka semua berjalan ke meja makan, Mutiara dibuat tambah bingung karena melihat Permata bicara dan tersenyum kepada Kania bahkan keduanya terlihat dekat.


Koq Tante engga marah sama wanita itu? Bukannya tadi diatas dia diceramahi Tante karena berduaan sama Aditya? Kenapa Tante masih bisa senyum sama wanita itu? Udah gitu mereka juga keliatan deket.


Mutiara lalu memusatkan perhatiannya ke Kania. Dia terlihat geram melihat interaksi Kania dengan kedua orang tua Aditya.


Ternyata selain sombong, wanita itu juga licik! Gimana caranya dia bisa dekat dengan orang tua Aditya?! Aku harus cari cara agar orang tua Aditya lebih menyukaiku daripada wanita itu.


...****************...


Sampai di meja makan, Mutiara kembali bertingkah. Dia duduk di samping Aditya padahal biasanya Kania yang duduk di kursi itu.


Karena tidak mau ribut cuma gara-gara kursi akhirnya Kania mengalah dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Aditya.


Mereka pun mulai menyantap makan malam sambil berbincang-bincang.


"Mutiara, gimana kabar orang tua kamu?" tanya Permata.


"Baik Tante."


"Tante dengar kamu pindah ya?"


"Iya Tante, soalnya Papi dipindah tugaskan ke Bandung waktu itu."


"Setelah kamu pindah, Aditya kesepian banget, waktu SD dia bahkan gak punya temen sedekat kamu."


Mutiara tersenyum seolah menyindir Kania.


Dengar itu wanita sombong hahaha.


"Mami! Aditya punya temen atau engga itu gak ada hubungannya sama Mutiara!" protes Aditya.


Aditya tidak mau Kania salah paham mendengar ucapan Permata.


Hendra tahu kalau Permata sudah mulai emosi, dia pun segera memegang tangan Permata lalu mengusap-usap punggung tangan istrinya itu untuk menenangkannya.


..."Tenang lah Sayang."...


Begitulah kalimat yang tersirat dari senyuman Hendra saat Permata melihatnya.


"Kania, skripsi kamu gimana?" tanya Hendra mengalihkan pembicaraan.


"Skripsi?" gumam Mutiara.


"Tinggal sedikit lagi Yah dan semoga gak perlu direvisi," jawab Kania.


Mutiara tampak memikirkan sesuatu setelah mendengar hal itu.


Skripsi? Berarti pacarnya Aditya udah kuliah! Umurnya berapa? Koq bisa pacaran sama Aditya yang masih SMA? Dan kenapa orang tuanya setuju anaknya pacaran sama Tante tante.


"Maaf, aku pikir Kak Kania masih SMA, ternyata udah kuliah ya?" tanya Mutiara.


"Kania, kamu pasti senang karena dikira anak SMA, berarti kamu awet muda," celetuk Permata.


"Iya, aku udah kuliah." Kania menanggapi malas pertanyaan Mutiara.


"Berarti umur Kak Kania udah 20 tahunan tapi koq bisa pacaran sama Aditya yang 17 tahun?"


Kania tahu kalau saat ini Mutiara sedang menyindirnya.


Tapi sebelum Kania membuka mulutnya, Aditya sudah lebih dulu menanggapi ucapan Mutiara.


"Emangnya kenapa? Aku gak masalah sama umurnya yang penting perasaan aku sama dia."

__ADS_1


Ucapan Aditya berhasil membuat Kania terharu, rasanya dia ingin sekali memeluk kekasih hatinya itu.


Mutiara tidak bisa berkata-kata lagi, dia tahu kalau dia lanjutkan mungkin Aditya malah akan membencinya.


Kania pun tersenyum kearah Mutiara seolah membalas senyuman Mutiara yang tadi menyindirnya.


Sialan! Wanita ini benar-benar sudah besar kepala!


Mutiara cuma bisa meremas sendok yang dia pegang untuk melampiaskan kekesalannya.


Sedangkan Daniel yang biasanya suka ikut campur urusan Aditya sekarang lebih memilih tidak ikut terlibat dan menikmati makan malamnya.


...****************...


Setelah makan malam, Daniel dan Mutiara pamit pulang.


Aditya pun mengantar kedua temannya itu sampai pintu depan bersama Kania.


"Makasi ya Bro, kalau gini gue bisa tenang ngerjain soal matematika besok," ucap Daniel yang sudah berdiri di samping mobilnya.


"Tapi lu beneran ngerti, kan?" tanya Aditya menepuk bahu Daniel.


"Iya, sekarang gue udah ngerti, gue pulang ya, makasi juga udah diajak makan malam."


"Kak Kania mau pulang bareng kita?" tanya Mutiara.


"Pulang?" Kania terkekeh.


"Makasi tawarannya kamu baik sekali tapi maaf aku udah di rumah," sambung Kania.


"Mutiara cepet masuk, nanti kita kemalaman pulangnya," ucap Daniel yang sudah membuka pintu mobil.


Meskipun masih bingung dengan ucapan Kania tapi akhirnya Mutiara masuk ke dalam mobil lalu disusul Daniel.


Setelah majikannya masuk, supir Daniel pun melajukan mobil pergi meninggalkan rumah Aditya.


"Ayo Kak masuk," ajak Aditya.


Saat Aditya berbalik dan akan melangkahkan kakinya tiba-tiba Kania memeluknya dari belakang.


Jantung Aditya langsung berdetak kencang apalagi saat mendengar ucapan Kania.


"Terima kasih karena sudah mencintaiku."


Aditya tidak tahu bagaimana mengekspresikan kebahagiannya. Hari ini dia terus mendapat perlakuan manis dan romantis dari kekasih hatinya.


Lalu Aditya berbalik dan langsung memeluk erat Kania. Dia juga membisikan sesuatu yang tak kalah manis ke telinga Kania.


"Kamu harus berterima kasih seumur hidup karena aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."


Pipi kedua sejoli itu pun sama-sama merona.


"Ehem!"


Mereka berdua pun tersentak dan langsung melepas pelukan mereka lalu tersenyum canggung ke orang yang berdehem yang tak lain adalah Hendra.


"Pantas aja Bibi belum tutup pintu, kenapa kalian masih di luar? Cepat masuk," titah Hendra.


"I-Iya Yah."


Kania malu karena ketahuan Hendra sedang bermesraan dengan Aditya sedangkan Aditya tampak biasa saja.


"Ayo Kak masuk." Aditya menggenggam tangan Kania lalu membawa Kania masuk ke dalam rumah.


Hendra cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dua sejoli itu.

__ADS_1


"Anak muda jaman sekarang," gumam Hendra.


...****************...


__ADS_2