Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Penolakan


__ADS_3

Semenjak Kania tinggal seatap dengannya, Aditya selalu ingin cepat pulang agar bisa bertemu kekasih hatinya bahkan ajakan hang out Daniel ditolak Aditya. Padahal sebelumnya Aditya dengan senang hati menerima ajakan sahabatnya itu karena kalau Aditya pulang dia hanya akan merasa kesepian.


Alasannya tentu saja karena Permata yang sibuk menggantikan posisi almarhum suaminya sebagai CEO sampai Aditya mampu mengambil alih jabatan itu karena memang sebenarnya Aditya lah yang seharusnya meneruskan posisi papinya tapi karena Aditya masih sekolah jadi sementara walinya yang harus mengisi posisi itu.


Karena terlalu sibuk bekerja, Permata selalu pulang larut malam bahkan saat pagi pun Aditya jarang sarapan dengan maminya karena maminya sudah berangkat ke kantor.


Aditya kesepian, rumah besar dan mewah yang dulu hangat berubah dingin setelah papinya meninggal.


Tapi beberapa hari ini Aditya merasa rumahnya kembali hangat karena hadirnya seorang wanita cantik yang berhasil menaklukkan dirinya, playboy SMA Bunga Bangsa.


"Lu serius mau langsung pulang? Gak mau main dulu nih di tempat biasa?" tanya Daniel kembali memastikan.


Daniel berdiri di dekat Aditya yang terlihat hendak memakai helmnya.


"Engga Niel, gue mau langsung pulang, kangen hehe."


"Yaelah bucin banget sih lu, mentang-mentang udah insyaf jadi playboy," ledek Daniel lalu terkekeh.


"Iri? Bilang bos," balas Aditya cuek.


Sekarang Aditya sudah menaiki motor sport kesayangannya.


"Syombong amat!" celetuk Daniel.


"Yaudah hati-hati Bro, inget lu bukan lagi balapan di sirkuit moto gp, gak ada rosi yang bakal ngalahin lu jadi nyantai aja bawa motornya."


Daniel tahu betul sifat gak sabaran sahabatnya, dia yakin Aditya pasti akan melajukan motornya dengan kecepatan diatas 100m/s agar cepat sampai rumah.


"Gak janji Bro, duluan ya."


Aditya menyalakan mesin motornya dan bersiap melajukan motornya itu tapi tiba-tiba Mutiara kembali menghadang motor Aditya.


"Tunggu," cegah Mutiara.


Aditya menaikan satu alisnya sedangkan Daniel yang sempat terkejut dengan kedatangan Mutiara yang tiba-tiba itu cuma mengelus dadanya.


"Aditya, bisa anterin aku pulang lagi?"


"Bukannya kamu dijemput supir?"


"Iya tapi tadi supir ku telepon mobilnya mogok jadi engga bisa jemput."


Aditya berpikir sejenak.


Aduh, gue udah janji sama Kak Kania gak bakal biarin cewek lain duduk di jok motor gue kecuali dia. Gimana kalau nanti dia cium parfumnya Ara di jaket gue lagi? Kemarin aja jaket gue dibuang ke tempat sampah kalau sekarang dia cium lagi parfum Ara di jaket gue, gue yakin jaket gue bakal dibakar sama dia termasuk gue.


Aditya menelan salivanya kasar saat membayangkan wajah dingin Kania yang membuatnya lebih merinding dibandingkan saat dia menonton film horor.


"Ma-Maaf Ara, aku engga bisa anterin kamu pulang."


Raut wajah Mutiara berubah, sudah pasti dia kecewa mendengar penolakan Aditya tapi bukan Mutiara kalau dia menyerah begitu saja.


"Kenapa?" tanya Mutiara lirih.


"Tadi Mami suruh aku langsung pulang, o iya gimana kalau kamu pesan ojek online."


Mutiara menggelengkan kepalanya.


"Aku risih kalau sama orang yang gak aku kenal, gimana kalau nanti orang itu berbuat macam-macam sama aku?"


Aditya menghela napas.


"Bener Dit, gue pernah denger katanya emang ada oknum gak bertanggung jawab yang melakukan pelecehan berkedok ojek online," celetuk Daniel.


Makasi banyak sahabat gue yang somplak, bukannya bantuin gue malah bikin gue tambah pusing.


Aditya melirik tajam Daniel sambil sewot dalam hati.


Tapi berkat IQ Aditya yang diatas rata-rata, dia pun langsung menemukan solusi yang akan membuat Mutiara tidak bisa "memaksanya" lagi untuk mengantar wanita itu pulang.


"Kalau gitu Daniel aja yang anterin kamu pulang, kamu kan kenal sama Daniel dan gak mungkin Daniel macam-macam sama kamu, aku duluan ya."


Aditya pun langsung melajukan motornya meninggalkan dua orang yang tidak menduga ucapannya barusan.

__ADS_1


Iiiih nyebelin! Kenapa Aditya gak mau?! Malah nyuruh temennya buat anterin aku pulang!


Daniel melirik Mutiara yang tampak kesal.


Sialan lu Dit, lu pasti sengaja mau balas dendam gara-gara gue ledekin terus. Mana mukanya Mutiara horor banget lagi.


"Ehem, gue gak keberatan anterin lu pulang," ucap Daniel kikuk sambil menggaruk belakang kepalanya.


Mutiara yang masih kesal dengan penolakan Aditya langsung menatap tajam kearah Daniel. Daniel pun cuma bisa tersenyum canggung.


Meskipun kesal tapi Mutiara masih bisa berpikir logis dan akhirnya bersedia diantar pulang oleh Daniel.


Saat mereka sudah di dalam mobil, Daniel meminta alamat rumah Mutiara agar supirnya bisa memasukan alamat itu ke mesin GPS yang terpasang di mobilnya.


Setelah Mutiara memberikan alamat rumahnya, supir Daniel pun melajukan mobil itu meninggalkan lingkungan sekolah.


...****************...


...Cklek...


Pintu depan rumah keluarga Nugraha terbuka.


Aditya berjalan masuk ke dalam rumahnya namun langkahnya terhenti saat melihat wanita pujaan hatinya tengah duduk di atas karpet bulu di ruang tengah.


Jari jemari wanita itu tampak sibuk menekan-nekan keyboard dan matanya sangat fokus melihat layar laptop dari balik kaca matanya sampai tidak menyadari ada sepasang mata sedang menatapnya penuh cinta.


Jantung Aditya berdegup kencang, dia terpesona dan mengagumi wajah serius kekasihnya saat ini.


Cuma dia yang bisa membuat ku jatuh cinta bahkan tanpa harus berusaha.


Karena tidak tahan lagi dengan perasaan cinta dan rindunya, Aditya pun langsung menghampiri wanita itu yang tak lain adalah Kania, kekasihnya.


"Babyyy~ I miss youuu~"


Kania pun terperanjat saat ada yang tiba-tiba memeluk lengannya dan menyandarkan kepala dengan manja di pundaknya.


"Lihat, karena ulahmu semuanya jadi berantakan!" bentak Kania.


Aditya tersentak lalu segera melepaskan tangannya dari lengan Kania. Dia merasa kecewa karena ekspektasinya tidak sesuai dengan realita. Bukannya mendapat respon yang manis juga dari Kania tapi malah membuat pujaan hatinya itu kesal.


Kania sadar kalau sikapnya tadi berlebihan. Dia pun merasa bersalah karena sudah membentak Aditya.


"Aku juga minta maaf karena udah bentak kamu tadi, aku kaget karena kamu tiba-tiba datang seperti itu, I'm sorry."


Kania pun melingkarkan tangannya ke pinggang Aditya, memeluk pacar berondongnya itu dengan manja.


Sikap manis Kania tentu saja berhasil mengobati kekecewaan Aditya. Wajahnya yang tadi sempat mendung kembali cerah. Matanya berseri-seri melihat kekasihnya itu bersikap manja kepadanya.


Aditya pun langsung memeluk erat wanita yang selalu bisa memenangkan hatinya.


"I miss you Baby...," bisik Aditya lembut tepat di telinga Kania sehingga membuat pipinya merona.


"Miss you too Honey."


Kania semakin membenamkan wajahnya yang merah ke dada Aditya sedangkan Aditya tertawa kecil dengan tingkah malu-malu kekasihnya.


Setelah Kania sudah bisa mengontrol dirinya, dia pun melepas pelukannya dan kembali mengetik draf skripsi di laptopnya yang ada diatas meja kaca berbentuk persegi.


"Bagaimana sekolahmu?" tanya Kania sambil mengetik.


Aditya merebahkan kepalanya ke paha Kania yang sedang duduk bersila.


"Seperti biasa, cuma mulai senin depan aku ada ujian kenaikan kelas."


"Berarti kamu harus mengulang materi pelajaran dari Guru kamu."


Aditya mendengus kasar. Sejujurnya dia malas kalau harus mengulang materi pelajaran yang dia sudah mengerti.


Jari jemari Kania pindah dari atas keyboard ke kepala Aditya. Dia mengusap dan menyisir rambut Aditya dengan lembut membuat Aditya merasa nyaman sampai tanpa sadar memejamkan matanya.


"Apa ada pelajaran yang tidak kamu mengerti? Mungkin aku bisa membantumu."


Aditya memang sengaja tidak menunjukkan kualitas otaknya kepada Kania. Dia tidak masalah dianggap bodoh sekali pun oleh Kania karena dia suka saat Kania dengan telaten mengajarinya.

__ADS_1


Bahkan saat dulu Kania membantunya mengerjakan tugas dari video call, Aditya malah lebih memperhatikan Kania daripada tugasnya.


Aditya semakin yakin dengan wanita pilihan hatinya karena tidak cuma cantik dan baik tapi ternyata wanita itu juga pintar.


"Kamu mau mengajariku?" tanya Aditya balik.


"Iya, aku akan mengajarimu, kamu kesulitan dipelajaran apa?"


"Ada satu pelajaran yang sangaaaat membuatku kesulitan," jawab Aditya sarkas.


"Pelajaran apa?"


Aditya mengangkat kepalanya dari paha Kania lalu duduk kembali. Dia pun menggenggam kedua tangan Kania sambil menatap lekat wanita di hadapannya itu.


"Pelajaran memahami isi hatimu."


"Hah?"


Padahal Kania serius menanggapi Aditya tapi pria itu malah membahas hal lain yang tak terpikirkan olehnya.


"Apa kamu bisa mengajariku memahami isi hatimu? Aku ingin kamu juga mencintai ku seperti aku mencintaimu."


Aditya mengelus lembut pipi Kania yang kembali merona.


"Ke-Kenapa jadi membahas hal itu?"


Kania selalu dibuat salah tingkah dengan keromantisan dari sang kekasih hati.


Bukannya memberikan jawaban, Aditya malah memperhatikan bibir Kania yang selalu membuatnya tidak bisa menahan diri. Seperti ada magnet yang mendekatkan bibirnya dengan bibir pujaan hatinya itu.


Saat bibir Aditya hampir menyentuh bibirnya, Kania segera mendorong Aditya sehingga membuat Aditya terkejut.


"Ada apa?"


Kania tahu Aditya kecewa dengan tindakannya tapi dia terpaksa melakukan hal itu karena setelah dia mendorong Aditya, terlihat Hendra berjalan ke ruang tengah.


"Maaf aku terpaksa, ada Ayah," bisik Kania sambil memberikan kode kepada Aditya agar menengok ke belakang.


Benar saja, saat Aditya menengok ke belakang dia melihat Hendra berjalan menghampiri mereka.


Melihat Hendra semakin dekat, Kania beranjak bangun lalu memeluk ayahnya.


"Ayah sudah pulang," ucap Kania manja sambil masih memeluk Hendra.


Hendra pun mengusap-usap kepala Kania dan tersenyum melihat tingkah manja putrinya.


Sedangkan ada sepasang mata sedang memperhatikan interaksi antara ayah dan putrinya itu dengan tatapan cemburu.


Siapa lagi kalau bukan Aditya. Dia cemburu karena Kania lebih manis menyambut Hendra dibandingkan menyambutnya tadi bahkan Aditya sempat dibentak oleh Kania.


Hendra melepas pelukan Kania karena menyadari ekspresi tidak suka dari wajah Aditya lalu dia pun tersenyum ramah ke putra tirinya itu.


"Aditya juga baru pulang?" tanya Hendra karena melihat Aditya masih memakai seragam sekolah.


"Iya," jawab Aditya singkat sambil beranjak bangun dari tempatnya.


"Bagaimana sekolahmu?" Hendra kembali membuka obrolan.


"Baik." Kembali cuma jawaban singkat jelas padat yang diterima Hendra dari Aditya.


Sebelum Hendra mengajaknya bicara lagi, Aditya segera menghindar dengan bicara kepada Kania.


"Kak, aku mandi dulu ya nanti temani aku belajar."


Tanpa menunggu balasan dari Kania, Aditya pun berjalan melewati Hendra dan pergi meninggalkan ruang tengah.


Kania bisa melihat raut kesedihan di wajah ayahnya.


"Ayah jangan sedih ya, Kakak yakin Aditya pasti akan menerima Ayah, Aditya cuma perlu waktu sama seperti Kakak waktu itu."


Hendra tahu maksud Kania, putrinya itu juga dulu tidak langsung menerima papa tirinya tapi selang sehari Kania bisa memanggil pria itu dengan panggilan papa sedangkan Aditya sudah beberapa hari setelah Hendra menikah dengan Permata tapi Aditya masih memanggilnya "Om".


Aku juga ingin Aditya memanggil ku "Ayah" tapi bagaimana caranya? Setiap aku ingin menunjukkan kasih sayang ku kepadanya, dia sudah lebih dulu menolak...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2