Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Hadiah (1)


__ADS_3

Daripada terus mengingat yang terjadi di perpustakaan lebik baik Kania mandi.


Gadis itu sengaja membiarkan air dingin dari shower membasahi kepalanya. Dia berharap dengan begitu pikirannya bisa kembali jernih. Dia pun memutuskan untuk tidak mengingat lagi yang terjadi di perpustakaan seolah semua itu tidak pernah terjadi.


Setengah jam kemudian, Kania keluar dari kamar mandi. Dirinya juga sudah tampak lebih segar. Dia masuk ke walk in closet dan memilih memakai kaos oversize dan celana jeans pendek selutut.


Rambutnya yang basah dia keringkan dengan hair dryer lalu setelah kering rambut panjangnya pun dicepol ke atas.


Kania tidak memakai riasan apapun di wajahnya dan hanya membalur handbody di tangan dan kakinya lalu dia pun keluar dari kamarnya.


Dan seperti biasa, Kania selalu membantu ibu tirinya memasak di dapur.


Saat Kania datang, dia melihat ibu tirinya sedang memotong bawang bombay sambil meneteskan airmata. Lalu dia pun kepikiran untuk lebih mendramatisir suasana.


Kania mengeluarkan handphone nya dan memutar lagu mellow.


"Ya ampun Sayang, apa yang kamu lakukan?" Permata menyeka airmata yang keluar dengan punggung tangannya.


"Biar Mami makin menghayati motong bawang bombaynya." Kania terkekeh.


"Kamu ini ada-ada aja."


"Mami mau masak apa?"


"Daging terayaki, tumis kailan dan bakwan jagung."


"Kalau gitu biar Kania yang buat bakwan jagung dan tumis kailannya ya Mi."


"Ok, Mami juga udah selesai motong bawang bombaynya jadi gak perlu lagu pengiring lagi."


"Iya hehe."


Semenjak Permata sudah tidak lagi mengurus perusahaan, dia bisa kembali memasak untuk keluarganya seperti saat almarhum suaminya masih ada.


Bukan karena rumah itu kekurangan pelayan atau dia tidak suka dengan masakan pelayannya tapi dia ingin agar suami dan anak-anaknya makan masakannya daripada masakan orang lain.


Kania yang sudah terbiasa memasak pun tidak canggung saat membantu ibu tirinya menyiapkan berbagai hidangan.


...****************...


Saat kedua wanita itu sedang berkolaborasi di dapur. Aditya terlihat tampak sibuk mengecek beberapa berkas laporan yang dikirim Haris, sekretaris sekaligus tangan kanannya di perusahaan.


Dengan teliti Aditya memeriksa laporan mengenai perkembangan game mobile yang akan launching minggu depan dan rencananya diacara lauching nanti juga Aditya akan mengumumkan statusnya sebagai pemilik dan CEO dari Galaxy.


"Masih banyak bug?" gumam Aditya.


(*Bug adalah error yang menyebabkan aplikasi/software tak berjalan dengan semestinya)


"Game buatanku gak mungkin nge-bug."


Mungkin pernyataan Aditya terkesan angkuh tapi memang itulah kenyataannya. Dia sudah memperhitungkan semua kemungkinan bug yang bisa terjadi pada game barunya jadi sebelum memberikan software gamenya itu kepada team pengembang dia sudah lebih dulu mengatasi semua bug itu.


Tapi kenapa masih ada bug pada game nya?


Aditya pun langsung menghubungi Haris dan meminta penjelasan lebih rinci mengenai bug yang tercantum pada laporan yang dia terima.


...****************...


Tiga jenis makanan sudah tersaji di meja makan. Daging teriyaki, tumis kailan dan bakwan jagung.


"Sayang, tolong panggil Aditya di atas."


"Ok Mi."


Sebenarnya Kania masih canggung bertemu dengan Aditya tapi dia sadar kalau dia tidak bisa terus-terusan menghindar dari pria kecilnya itu.


Setelah sampai di lantai atas, kaki Kania melangkah ke pintu yang berhadapan dengan kamarnya.


Kania menghela napas lalu mengetuk pintu kamar Aditya.


...Tok Tok...


Aditya yang mendengar pintunya diketuk langsung menutup laptopnya dan beranjak dari sofa.

__ADS_1


...Cklek...


"Aditya, mak--"


Seketika mata Kania membulat sempurna. Tak lama kedua matanya itu pun berbinar-binar menatap pemuda yang tengah berdiri di depannya.


Astagaaaa! Dia memakai kacamata! Tampan sekaliiiiii~


Ya, saat ini Aditya memang memakai kacamata. Kacamata itu bukan kacamata minus biasa tapi kacamata anti radiasi yang akan melindungi matanya dari radiasi layar laptop.


Jantung Kania berdetak tak karuan. Dia terpesona.


Ya Tuhan sungguh indah ciptaanmu...


Aditya heran melihat Kania yang terus menatapnya sambil senyum-senyum.


...Ctak!...


Kania langsung tersadar saat Aditya menyentil dahinya.


"Aww!" pekik Kania kesakitan.


"Apa yang kamu pikirkan? Mau menyerangku lagi?" goda Aditya.


Seketika pipi Kania merona. Padahal dia sudah hampir lupa perbuatannya di perpustakaan tapi Aditya malah mengingatkannya lagi.


"Ti-Tidak! Mami minta aku buat panggil kamu makan malam!" jawab Kania salah tingkah.


Dengan malu-malu Kania melirik Aditya yang masih memakai kacamata dan membuatnya tanpa sadar kembali terpesona.


Aditya tersenyum tipis saat menyadari ekspresi Kania yang tengah menatapnya.


Kenapa baru terpesona sekarang? Jangan-jangan karena aku pakai....


Tangan Aditya terangkat lalu dia melepas kacamata yang dipakainya. Seketika binar dimata Kania redup dan tampak jelas kekecewaan diwajah gadis itu.


Ternyata benar, karena gue pakai kacamata.


"Kamu suka aku pakai kacamata?" tanya Aditya.


Iiiih bodoh! Kenapa gue langsung jawab?! Jujur banget sih gue!


Kania pun menepuk-nepuk bibirnya membuat Aditya kembali tertawa kecil lalu menghentikan tangan gadis itu.


"Jangan dipukul, nanti kalau terluka aku gak bisa cium."


Pipi Kania kembali merona. Pria kecilnya ini memang sudah tidak tahu malu.


"Kamu mau aku pakai kacamata lagi?"


"Mau! Eh?! M-Maksudku engga!"


Kania langsung salah tingkah, mulutnya kembali keceplosan.


"Beneran gak mau lihat aku pakai kacamata lagi?" pancing Aditya.


"Kalau kamu mau pakai ya pakai aja, gak ada hubungannya aku mau atau gak." Kania memalingkan wajahnya, dia gengsi.


Aditya sudah pasti akan besar kepala kalau tahu betapa menawannya dia dimata Kania saat memakai kacamata. Dia jadi terkesan dewasa dan... Seksi.


Seksi?! Gila! Gue mikir apa sih?! Ya ampuuun ternyata otak gue udah tercemar!


Kali ini Kania menepuk-nepuk jidatnya berharap otaknya bisa kembali normal.


"Kamu kenapa? Pusing?" tanya Aditya.


"Iya, aku pusing ngomong sama kamu! Ayo turun makan malam!" jawab Kania ketus.


Dengan cepat Aditya meraih pergelangan tangan Kania yang akan beranjak pergi.


"Tunggu! Bagaimana dengan hadiahku?" Aditya menengadahkan tangannya kepada Kania.


"Hadiah?"

__ADS_1


Sesaat mereka terdiam dan saling menatap. Tak lama Kania pun teringat dengan hadiah yang dia janjikan kepada Aditya jika pria kecilnya itu berhasil mendapat nilai sempurna di ujian kali ini.


"Ah, hadiah itu! Tunggu sebentar, aku ambil dulu di kamar!"


Kania pun bergegas masuk ke dalam kamarnya lalu keluar lagi dengan membawa kotak kecil yang terbungkus manis.


"Ini hadiahnya, selamat ya."


Senyum Aditya merekah, dia pun mengambil kotak yang diberikan Kania.


"Apa ini?" tanya Aditya.


"Buka aja, aku harap kamu suka."


Dengan hati-hati Aditya membuka bungkus kotak itu lalu membukanya.


"Jam tangan?"


Aditya melihat sebuah jam tangan berwarna hijau army di dalam kotak itu. Yang membuat Aditya heran bukan jam tangannya tapi warna dari jam tangan itu, kenapa hijau army? Kenapa bukan hitam? Warna kesukaannya.


"Kenapa? Kamu gak suka ya?" tanya Kania saat melihat ekspresi aneh Aditya.


"Aku suka cuma... Warnanya...," ucap Aditya hati-hati, dia tidak ingin menyinggung hati Kania apalagi ini hadiah pertama dari kekasihnya itu.


"Aku tahu kamu suka warna hitam, aksesoris dan baju kamu semuanya hitam makanya aku pilih warna hijau army karena selain beda sama yang lain, kamu juga akan inget sama aku setiap melihat jam tangan ini."


Kania mengambil jam tangan itu lalu memakaikannya dipergelangan tangan Aditya.


Entah kenapa perasaan Aditya tidak enak saat melihat jam tangan itu. Bukan karena dia tidak suka tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya.


Melihat perbedaan ekspresi Aditya yang tidak sesenang saat mengambil hadiah darinya membuat Kania berpikir mungkin Aditya terpaksa menerima hadiah itu.


"Maaf... Aku memaksamu memakai jam tangan ini, seharusnya waktu itu aku pilih warna hitam saja...," ucap Kania lirih sambil melepas kembali jam tangan dipergelangan tangan Aditya.


Aditya tersadar dan segera menghentikan tangan Kania.


"Tidak! Jangan dilepas! Aku akan memakainya."


Aditya menarik tangannya lalu memakai sendiri jam tangan itu.


"Tidak usah kalau kamu tidak suka, aku gak mau kamu terpaksa memakainya."


"Aku bilang aku suka dan aku tidak terpaksa memakainya!"


Aditya memeluk erat Kania lalu mencium kening kekasih hatinya itu.


"Makasi Baby, mulai sekarang aku cuma akan pakai jam tangan ini, yang lain aku simpan."


Mata Kania sudah mulai berkaca-kaca. Dia terharu dengan ucapan Aditya yang terdengar tulus tanpa paksaan atau kepura-puraan.


"Tapi."


Seketika rasa haru itu sirna saat melihat senyum licik diwajah pria kecilnya itu.


"Hadiah ini untuk pelajaran fisika dan sesuai dengan kesepakatan kita tadi siang, berarti kamu masih harus memberiku hadiah untuk pelajaran kimia, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan matematika," ucap Aditya mengintimidasi.


"A-Aku ingat, aku akan kasi kamu hadiah lagi nanti."


"Aku gak mau hadiahku berupa barang."


" Gak mau berupa barang? Maksud kamu?" Alis Kania berkerut mendengar pernyataan Aditya.


"Nanti kita bahas lagi, sekarang kita makan malam dulu."


Aditya menggandeng tangan Kania yang masih kebingungan, mengajak gadis itu turun ke lantai bawah.


Apa maksudnya? Kalau bukan barang terus apa?


Seketika pikiran mesum kembali mencemari otak Kania.


Tidak! Tidak! Berhenti berpikiran mesum Kania! Tapi... Kalau Aditya... Ada kemungkinan dia akan meminta hal-hal seperti itu...


...Glek! ...

__ADS_1


Kania menelan salivanya kasar dan menggigit bibir bawahnya.


...****************...


__ADS_2