
Mutiara yang patah hati meminta supirnya mengantarkan dia ke Mall karena hanya dengan shopping dia akan merasa lebih baik.
Saat Mutiara sedang menelusuri toko-toko yang ada di dalam Mall, tak jauh dari tempatnya dia melihat seseorang yang dia kenal.
"Wanita sombong itu sama siapa? Mesra banget, jangan-jangan...," gumam Mutiara.
"Aku harus kasi tahu Aditya, dia pasti senang berkenalan dengan calon kakak iparnya."
Mutiara tersenyum menyeringai lalu segera menghubungi kontak Aditya.
...****************...
Meskipun Aditya sudah tidak mondar mandir lagi seperti yang dia lakukan di ruang tengah tapi di dalam kamar wajah Aditya masih sama. Dia tampak sangat gelisah karena Kania masih belum membalas chat atau menghubunginya.
"Kenapa handphone nya gak aktif? Apa baterai handphone nya habis atau dia sengaja me-non aktifkan handphone nya? Tapi kenapa? Biasanya handphone nya selalu aktif dan hanya di mode silent."
Aditya pun mengambil handphone nya yang tergeletak di atas meja.
"Chat gue udah contreng dua atau belum ya?"
Baru juga Aditya akan membuka aplikasi chatnya, tiba-tiba ada panggilan video call dari Mutiara.
Awalnya Aditya tidak merespon panggilan video call Mutiara tapi saat Mutiara chat dan menyinggung soal Kania, Aditya langsung menjawab panggilan video call itu.
...----------------...
...[Via Video Call]...
Aditya: Ara, kamu lagi sama Kak Kania?
Aditya: Dimana Kak Kania?
Aditya: Aku mau bicara dengannya
(Mutiara kembali patah hati karena meskipun dirinya ada di depan Aditya tapi yang dicari Aditya hanya Kania)
^^^Mutiara: Kamu gak bisa bicara sama kakak tirimu^^^
^^^Mutiara: Soalnya dia gak sama aku tapi orang lain^^^
Aditya: Orang lain?
Aditya: Siapa?
^^^Mutiara: Liat aja sendiri^^^
(Saat Mutiara memindahkan kamera handphone nya ke kamera belakang, Aditya melihat Kania bersama seorang pria dan dari sudut pandang seseorang yang sedang terbakar api cemburu apapun yang Kania lakukan dengan pria itu hanya semakin membuatnya kesal)
Aditya: Dimana?
(Tangan Aditya gemetar, dia meremas kencang handphone nya saat ini)
^^^Mutiara: Kamu mau kesini?^^^
Aditya: Dimana?!
Aditya: Cepat katakan dimana?!
(Batas kesabaran Aditya habis, dia tidak bisa lagi menahan emosinya)
^^^Mutiara: Di-Di Mall^^^
...[End Call]...
...----------------...
Aditya langsung mengakhiri panggilan video call itu, dia mengambil kunci motor lalu bergegas meninggalkan kamarnya.
...Drap...
...Drap...
...Drap...
Kaki Aditya dengan cepat menuruni tangga dan saat dia sampai di lantai bawah, dia langsung pergi ke pintu depan.
__ADS_1
...Bruum...
...Bruum...
Mendengar suara knalpot majikannya, satpam yang bertugas keluar dari pos jaganya lalu membuka pintu gerbang.
Setelah pintu gerbang terbuka, Aditya segera melajukan motornya meninggalkan rumah.
...****************...
"Kak, ayo kita makan pizza!" ajak Kevin.
"Dengan pinggiran keju!" ucap Kania dengan mata berbinar-binar.
"Size large!" timpal Kevin tak kalah antusias.
"Ok, let's go!"
Kania sangat antusias kalau sudah berkaitan dengan keju. Dia memeluk lengan Kevin lalu membawa adik tirinya pergi ke tempat makan yang khusus menyediakan berbagai macam pizza di dalam Mall itu.
Tak jauh di belakang, Mutiara berjalan mengikuti Kania.
"Sekarang wanita sombong itu masih bisa tersenyum tapi nanti saat Aditya datang dia akan merasakan sakitnya dicampakan."
...****************...
Motor Aditya sudah terparkir di area parkir Mall, dia bergegas meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam Mall.
Saat sudah berada di dalam, Aditya menghubungi Mutiara dan bertanya lokasi Kania saat ini.
Setelah Mutiara memberitahu lokasinya, Aditya langsung melangkahkan kakinya menuju lokasi.
...****************...
Kania dan Kevin memilih meja dengan sofa yang empuk. Mereka duduk bersebelahan karena sama-sama ingin duduk di sofa.
Sebelumnya mereka sudah memesan pizza dan minuman. Sambil menunggu pesanan pizza mereka datang, mereka pun berbincang-bincang.
Kania ingin tahu apa saja yang dia lewatkan selama satu tahun tidak berkunjung ke rumah ibunya dan Kevin dengan senang hati menceritakannya kepada Kania.
Kania langsung memalingkan wajahnya dan seketika matanya membulat karena terkejut melihat Aditya ada di tempat itu.
"Aditya?" gumam Kania.
Aditya kembali menarik lengan Kania tapi dengan cepat Kevin memegang lengan Kania yang satunya.
Pertandingan adu menatap pun tak terelakan antara Aditya dan Kevin. Mereka saling menatap tajam, harga diri mereka membuat mereka tidak ada yang mau mengalah.
Lagi-lagi Aditya menarik lengan Kania agar beranjak dari sofa tapi Kevin tidak membiarkan Aditya membawa Kania.
Aditya sangat geram karena pria itu seperti sedang menantangnya.
Kania merasa hawa ruangan di tempat itu menjadi panas, dia juga melihat beberapa pelanggan melihat kearah mereka.
Aditya pasti salah paham, lebih baik aku keluar dengannya lalu menjelaskan hubunganku dan Kevin.
"Kalian berdua lepaskan lenganku atau aku tidak mau bicara atau bertemu kalian lagi," ucap Kania tegas.
Mendengar ancaman dari Kania akhirnya Aditya dan Kevin sama-sama melepas tangan mereka dari lengannya.
"Dek, Kakak keluar dulu ya sebentar, kamu tunggu disini."
Aditya mendengar Kania memanggil pria itu dengan sebutan "Dek".
Dek? Maksudnya Adek atau nama pria itu?
Meskipun khawatir Kania pergi dengan pria kasar yang baru dia lihat itu tapi Kevin tetap menuruti ucapan Kania.
Kania beranjak dari sofa lalu membawa Aditya keluar. Dia mencari tempat yang cukup sepi untuk mereka bisa bicara.
Tanpa mereka sadari, Mutiara terus mengikuti mereka dari belakang dan bersembunyi mengamati mereka berdua.
"Aku tahu kamu pasti salah paham," ucap Kania saat merasa tempat itu pas untuk mereka bicara.
"Salah paham? Semua cowok juga pasti salah paham melihat pacarnya sama cowok lain!"
__ADS_1
"Apalagi handphone pacarnya gak bisa dihubungi, cowok mana yang tidak akan salah paham?!" Wajah Aditya memerah saking kesalnya dengan wanita yang sudah menyakiti hatinya itu.
"Padahal cowok itu sangat khawatir dengan pacarnya di rumah, dia takut terjadi sesuatu dengan pacarnya karena pacarnya tidak bisa dihubungi tapi ternyata pacarnya malah sedang berduaan dengan cowok lain, apa kamu tahu bagaimana sakitnya hati cowok itu?!" Aditya mengepalkan kedua tangannya sangat kencang.
Kania tetap diam, bukan karena dia takut tapi dia sengaja membiarkan Aditya mengeluarkan apa yang dirasakan pria itu.
"Kenapa kamu diam?! Katakan sesuatu! Apa kamu bosan denganku?! Apa yang kurang dariku?! Katakan! Aku akan menjadi seperti yang kamu mau tapi tinggalkan cowok itu!"
Aditya mencengkram kedua lengan Kania dengan kencang membuat Kania meringis kesakitan.
"Sa-Sakit Aditya, aku mohon tenang lah," ucap Kania lirih.
Sesakit apapun hatinya, cinta Aditya jauh lebih besar sehingga membuatnya tidak akan bisa menyakiti Kania.
"Maaf...," ucap Aditya lirih lalu melonggarkan cengkramannya di lengan Kania.
"Bukan kamu tapi aku yang seharusnya minta maaf, aku belum memberitahumu apapun tentang keluarga ibuku sehingga membuatmu salah paham dengan cowok yang bersamaku tadi."
Meskipun Aditya sudah bisa menebak hubungan antara cowok itu dan Kania tapi dia ingin Kania yang mengatakannya.
"Cowok tadi namanya Kevin, dia adalah anak ibuku dengan suaminya, umur Kevin sama sepertimu, dia juga punya adik namanya Keanu, kapan-kapan aku akan mengenalkanmu dengan Keanu tapi sekarang karena hanya ada Kevin jadi aku akan mengenalkanmu dengan Kevin."
"Hm... Berarti cowok itu adik tiri Kak Kania."
"Iya, dia adik tiriku."
"Sepertinya dia juga tidak kenal denganku?"
"Karena selama satu tahun aku tidak bertemu dengannya jadi aku juga belum menceritakan apapun tentangmu kepada Kevin."
"Meskipun tidak bertemu tapi kalian masih bisa berkomunikasi, kamu sengaja kan tidak memberitahu cowok itu tentang hubungan kita, apa kamu punya perasaan kepadanya? Jawab!"
"Perasaan apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura polos seperti itu, kamu tahu apa maksudku," sindir Aditya.
"Aditya, kamu tidak bodoh sampai tidak mengerti apa yang aku katakan, Kevin itu adik tiriku, bagaimana aku bisa punya perasaan seperti itu kepadanya?"
"Kenapa tidak? Aku juga adik tiri Kak Kania tapi kita saling mencintai, kan?"
"Kamu berbeda dengannya, dia--"
"Berbeda? Aku berbeda dengannya?! Apa yang membuatku berbeda dengannya?!"
Saat seseorang sedang cemburu biasanya orang itu akan lebih sensitif.
"Dengarkan aku dulu sampai selesai!" bentak Kania yang mulai geregetan dengan Aditya.
Aditya langsung diam, dia tahu saat Kania membentaknya berarti Kania sudah sangat kesal kepadanya.
"Kevin adalah anak ibuku, kami dilahirkan dari rahim yang sama, apa kamu masih tidak tahu perbedaannya? Apa kamu masih berpikir aku punya perasaan lebih kepada adikku sendiri?"
Setelah mendengar ucapan Kania, akhirnya Aditya sadar dan bisa berpikir lebih jernih. Dia pun merasa bersalah karena tidak mempercayai Kania bahkan menuduh kekasihnya itu selingkuh.
"Maaf... Aku sudah salah paham... Aku... Aku hanya takut kamu meninggalkanku...," ucap Aditya lirih dengan kepalanya yang menunduk.
Kania tersenyum dan dengan lembut menyentuh pipi Aditya.
"Bagaimana aku bisa meninggalkan pria yang sangat aku cintai? Meskipun suatu hari pria itu tidak mencintaiku lagi tapi aku tidak akan meninggalkannya."
Mata Aditya berkaca-kaca. Dia merasa bodoh dan menyesal karena tidak mempercayai wanita yang jelas-jelas sangat mencintainya.
"Maaf... Aku sudah menyakiti hatimu... Padahal aku tahu kamu sangat mencintaiku tapi... Tetap saja aku--"
...Cup...
Kania langsung mencium bibir Aditya untuk menghentikan kekasihnya itu.
Aditya yang sempat terkejut perlahan memejamkan matanya lalu membalas mencium Kania.
Dari tempat persembunyiannya, Mutiara tampak sangat geram melihat kemesraan sepasang kekasih yang sedang menautkan bibir mereka.
"Sialan! Bukannya tadi Aditya marah sama wanita sombong itu! Harusnya Aditya mencampakan wanita itu karena wanita itu selingkuh tapi kenapa Aditya tidak melakukannya! Apa yang sudah wanita itu lakukan kepada Aditya?!"
...****************...
__ADS_1