Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Terjerat


__ADS_3

Saat sudah masuk ke dalam kamar, Aditya melepas tangan Kania lalu melipat kedua tangannya di dada, wajahnya juga langsung ditekuk.


Kania pun mencubit pipi Aditya karena gemas dengan kekasihnya itu.


"Ada apa pacar ku? Kenapa cemberut?"


"Kamu tadi dimana? Aku telepon gak dijawab, aku chat juga gak dibalas," ucap Aditya ketus sambil menepis dengan halus tangan Kania di pipinya.


"Aku tadi di perpustakaan ngerjain skripsi, maaf handphone nya aku mode silent jadi aku gak tahu kalau kamu telepon sama chat."


O iya kenapa tadi gue gak cek perpustakaan? Itu kan salah satu ruangan favorit Kak Kania.


Melihat wajah Aditya yang masih mendung, Kania pun memikirkan sesuatu untuk membujuk kekasihnya itu.


Aditya sedikit tersentak saat kedua lengan Kania melingkar di lehernya apalagi saat ini wajah wanita pujaan hatinya itu hanya berjarak sejengkal darinya.


Jantung Aditya berdetak kencang dan pipinya sudah bersemu merah.


"Masih ngambek?" tanya Kania dengan suara manja.


Setelah hampir dua bulan pacaran, Kania punya trik atau cara sendiri membujuk Aditya saat kekasihnya itu ngambek. Dia akan bicara dengan suara manja atau memasang ekspresi sedih, cara itu selalu efektif meluluhkan hati Aditya.


Seperti yang dilakukan Kania sekarang.


"Aku gak ngambek Baby."


Wajah cemberut Aditya pun langsung hilang.


Selalu berhasil~


Kania tersenyum manis karena kekasihnya itu sudah tidak ngambek lagi kepadanya.


"Tapi lain kali jangan di silent, kamu tahu gak tadi aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu."


Aditya memeluk erat Kania seolah kekasihnya itu akan pergi meninggalkannya dan setiap hari dia berharap kalau hal itu tidak akan terjadi karena hidupnya pasti tidak akan sempurna tanpa wanita yang sudah menjadi belahan jiwanya.


Bagaimana aku bisa berpisah dengannya sekarang? Dia begitu tulus mencintaiku, aku merasa semakin terjerat dengannya.


Kania mengeratkan lengannya dileher Aditya. Dia juga berharap bisa terus bersama kekasihnya itu.


...****************...


Mutiara mulai gelisah menunggu Aditya yang sudah hampir setengah jam belum juga kembali ke ruang tengah.


Apa yang mereka lakukan? Kenapa cuma ambil buku aja lama banget?


Mutiara menggigit kuku jarinya, dia semakin gelisah saat membayangkan apa yang dilakukan Aditya dan Kania di dalam kamar.


Engga! Mereka gak mungkin melakukan hal itu! Kecuali kalau wanita sombong itu yang merayu Aditya. Ck, sial!


Lalu Mutiara melirik Daniel yang malah asik bermain game di handphone.


"Daniel, koq Aditya lama banget ya?"


"Maklum aja Ra," jawab Daniel yang matanya tetap fokus ke layar handphone.


"Maklum? Maksudnya?"


"Iya maklum, mereka kan baru pacaran jadi lagi lope lopenya, mereka pasti nyari kesempatan buat mesra-mesraan berdua, apalagi setting tempatnya pas di dalam kamar."


Daniel sekilas melirik Mutiara. Dia pun terkekeh saat melihat Mutiara yang semakin gelisah.


Hahaha Mutiara langsung panik.


Tak berapa lama, Permata datang sambil memegang beberapa paper bag.


"Eh ada Daniel," sapa Permata.


Daniel dan Mutiara pun segera berdiri menyambut Permata dan mencium punggung tangan ibu teman mereka.


"Selamat sore Tante," sapa Daniel sopan.

__ADS_1


"Kamu kemana aja? Kenapa jarang main kesini lagi?"


"Saya gak kemana-mana cuma Aditya yang gak mau Saya main kesini, katanya ganggu," jawab Daniel terkekeh.


"Dasar tuh anak, masa temennya dibilang ganggu."


"Selamat sore Tante." Mutiara juga ikut menyapa Permata.


Mata Permata pun beralih ke perempuan yang ada di samping Daniel.


"Sore cantik, nama kamu siapa?"


Mutiara tersipu mendengar dirinya dibilang cantik oleh Permata.


"Nama Saya Mutiara, Tante masih ingat sama Saya?"


"Eh? Apa kita pernah bertemu?" tanya Permata heran.


"Saya Mutiara, teman TKnya Aditya, Tante ingat?"


"Astaga! Mutiara?!"


Tak perlu waktu lama untuk Permata mengingat Mutiara karena cuma dia teman yang dimiliki Aditya saat masih TK.


"Tante sampai gak kenalin, soalnya dulu waktu kecil kamu lucu banget sekarang udah besar jadi cantik," puji Permata.


"Makasi Tante." Mutiara kembali tersipu mendengar pujian dari Permata.


"Loh tapi koq kalian cuma berdua, Aditya mana?"


Daniel baru akan membuka mulutnya tapi Mutiara sudah lebih dulu menjawab.


"Tante, tadi Aditya keatas sama pacarnya terus sampai sekarang belum turun, udah setengah jam."


"Astaga! Udah setengah jam? Mereka ngapain diatas?"


"Iya Tante udah setengah jam, mereka berdua ngapain ya di kamar Aditya koq lama."


"Maaf ya Mutiara, Daniel, kalian duduk dulu, Tante mau liat Aditya diatas."


Sepertinya aku berhasil buat Tante gak suka sama wanita sombong itu, Tante pasti bakal minta Aditya putus terus aku akan mengambil kesempatan itu untuk mendapatkan hati Tante, dengan begitu Aditya akan jadi milikku.


Daniel cuma geleng-geleng kepala saat melihat Mutiara senyum-senyum sendiri.


...****************...


Baru juga Permata sampai di lantai atas, Aditya dan Kania keluar dari dalam kamar sambil berpegangan tangan dan saling melempar senyum.


Syukurlah, aku pikir mereka berantem lagi.


Permata tersenyum melihat kemesraan dua sejoli yang sedang kasmaraan itu.


"Ehem!"


Aditya dan Kania sontak mengalihkan mata mereka kearah orang yang berdehem.


"Bagus ya, kamu malah mesra-mesraan diatas sementara temen kamu udah nungguin hampir setengah jam dibawah," tegur Permata.


"Aditya engga mesra-mesraan, tadi Aditya ambil buku di kamar buat belajar bareng tapi bukunya lupa Aditya taruh mana jadi Aditya nyari dulu makanya lama."


Permata tahu kalau Aditya cuma beralasan.


"Kamu kan orangnya rapi, masa bisa taruh buku sembarangan?" selidik Permata.


"Kalau gak percaya, Mami tanya aja Kak Kania."


"Percuma Mami tanya, jawaban Kania pasti sama kaya kamu."


Kania cuma cengar cengir mendengar ucapan Permata.


"Yaudah sana temuin temen kamu dibawah, gak enak sama mereka udah nunggin kamu."

__ADS_1


"Iya Mi, ayo Kak."


"Kamu aja yang ke bawah, Kania disini sama Mami."


"Kenapa Mi?"


Melihat Aditya gak terima dipisahkan dari Kania membuat Permata ingin menjahili anaknya itu.


"Urusan wanita, udah sana kamu temuin temen kamu, kasihan mereka udah nungguin."


Permata mencoba untuk melepas tangan Kania yang dipegang Aditya tapi ternyata anaknya itu malah semakin menggenggam tangan Kania.


"Tangan kalian lengket banget sih!" protes Permata sambil berusaha memisahkan tangan Aditya dan Kania


"Iya tadi Aditya lem, udah Mami nyerah aja."


"Aditya, lepasin tangan Kania!" pinta Permata kesal.


"Mami mau ngapain sama Kak Kania?"


"Udah dibilang urusan wanita!"


"Iya, apa?" Aditya tetap tidak mau melepas tangan Kania.


Permata yang tadinya mau jahil malah kesal sendiri sama anaknya.


"Kalau Mami bilang nanti Kania malu, jadi sekarang kamu lepasin tangannya."


"Malu kenapa? Aku pacarnya jadi aku juga harus tahu."


"Kamu baru pacarnya bukan suaminya, udah sana turun temuin teman kamu!" Permata udah benar-benar geregetan dengan sifat keras kepala Aditya.


Wajah Aditya kembali ditekuk karena dia tidak bisa menyangkal ucapan Permata.


Lihat aja nanti, lulus SMA aku akan langsung melamar Kak Kania buat jadi istriku.


Rencana yang akan Aditya lakukan setelah lulus bertambah satu, malah menjadi prioritas diantara rencana yang sudah dia buat.


Sedangkan Kania malah gemas melihat perdebatan ibu dan anak yang sama-sama keras itu.


"Lepasin tangan Kania!" pinta Permata dan kembali ingin memisahkan tangan Aditya dan Kania.


"Engga, Aditya juga butuh Kak Kania, ayo Kak."


Aditya kembali menarik tangan Kania tapi kekasihnya itu tetap diam.


"Aditya, Mami ada perlu sama aku, kamu turun duluan ya nanti aku nyusul."


Sejenak Aditya melihat Kania. Kania pun menganggukan kepalanya lalu tersenyum.


"Baiklah, tapi nanti kalau Kak Kania lama, Aditya ke atas ambil Kak Kania."


"Kamu pikir Kania barang, Kania bukan cuma milik kamu," cibir Permata.


"Kak Kania milik Aditya! Cuma Aditya yang boleh miliki Kak Kania!"


"Mami kasihan sama kamu sayang, pasti kamu menderita punya pacar posesif," ucap Permata sambil mengelus kepala Kania. Dia sengaja bicara seperti itu untuk menyindir Aditya.


"Itu berarti pacarnya cinta banget sama Kak Kania," balas Aditya gak mau kalah.


"Iya iya, udah turun sana, temen kamu kasihan dibawah!" usir Permata.


"Nanti nyusul ya."


Setelah mendapat anggukan kepala dari Kania, Aditya akhirnya melepas tangannya dan turun ke bawah.


"Kebiasaan, kalau udah sayang gak mau lepas," gumam Permata.


"Mami ada perlu apa sama Kania?"


"O iya, tadi Mami ke Mall ketemu sama teman-teman Mami terus sebelum pulang Mami shopping dulu sama mereka. Ayo ke kamar Mami, Mami mau kamu cobain baju yang Mami beli buat kamu."

__ADS_1


Dengan antusias Permata menarik tangan Kania agar ikut dengannya ke kamar.


...****************...


__ADS_2