Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Dia Calon Istriku!


__ADS_3

Hanya butuh waktu setengah jam, mobil yang dikemudikan Hendra sampai di depan lobby masuk hotel mewah bintang lima tempat diadakannya acara dari rekan bisnisnya.


Hendra keluar dari dalam mobil lalu menyerahkan kunci mobilnya ke petugas hotel yang bertugas memarkirkan mobil tersebut sedangkan dia beserta istri dan anak-anaknya melenggang masuk ke dalam hotel dan berjalan menuju ballroom.


Di depan pintu ballroom sudah ada dua petugas hotel dengan ramah menyambut kedatangan Hendra.


Kata pertama yang terucap saat Kania masuk ke dalam ballroom adalah "Woow".


Kania mengagumi dekorasi ballroom yang dibuat sangat indah bahkan pihak hotel sampai memakai bunga-bunga asli sebagai hiasan.


"Cantik ya dekorasinya...." Mata Kania masih traveling ke seluruh ruangan ballroom itu.


"Kamu suka?" tanya Aditya.


"Iya, aku suka, kesannya romantis, kaya resepsi pernikahan aja ya padahal bukan."


"Ok, kalau gitu ballroom ini akan jadi tempat resepsi pernikahan kita."


Kania sampai tersedak salivanya sendiri saat mendengar pernyataan Aditya.


"Re-Resepsi pernikahan?!" pekik Kania pelan. Dia tidak mau membuat kehebohan yang akan menjadikannya pusat perhatian. Sudah pasti dia akan malu sekali kalau sampai hal itu terjadi.


"Iya resepsi pernikahan masa resepsionis?" Aditya pun mencubit gemas pipi Kania.


"Iiih sakiit!" rengek Kania.


Aditya terkekeh saat kekasihnya itu memasang raut wajah cemberut.


"Kamu bisa gak sih sehariiiii aja gak cubit pipi aku!"


"Engga."


"Kalau gitu rasain sendiri enak gak dicubit pipinya."


Kania melancarkan serangan balik. Sekarang giliran dia yang mencubit pipi Aditya.


"Ba-Baby sakiit~ lepasin~ aaah~" rengek Aditya.


"Sakit, kan? Makanya jangan cu-- aah!" Aditya juga malah mencubit kedua pipi Kania.


"Adityaa, lepasin pipi aku!"


"Kamu dulu yang lepasin pipi aku."


"Kamu dulu yang lepasin!"


"Yaudah kalau gak mau lepasin."


Tangan Aditya pun mulai memutar-mutar kedua pipi Kania.


Hendra dan Permata berbalik karena mendengar keributan di belakang mereka.


"Astaga! Aditya! Kania! Kalian kaya anak kecil aja sih!" cibir Permata


"Aditya, lepasin pipi Kania dan Kania juga lepasin pipi Aditya!"

__ADS_1


Aditya dan Kania tidak langsung menuruti perintah Permata. Mereka saling beradu tatap lebih dulu selama beberapa saat lalu melepas tangan mereka di pipi masing-masing.


"Gimana mau nikah? Kelakuan kalian aja masih kaya anak kecil," sindir Permata.


Tak lama seseorang datang menepuk pundak Hendra sambil membawa segelas minuman.


"Pak Hendra."


Hendra menoleh dan ternyata orang itu adalah rekan bisnisnya yang mengadakan acara di ballroom ini.


"Pak Hermawan."


Kedua pengusaha itu pun saling berjabat tangan. Mereka berbasa basi sebentar lalu memperkenalkan istri masing-masing.


Dan saat Hendra beralih ke dua remaja di belakangnya, tiba-tiba Aditya sudah lebih dulu memperkenalkan diri.


"Saya Aditya, Saya calon suaminya Kania."


Aditya sengaja bicara lebih lamban dan tegas saat mengucapkan "Saya calon suaminya Kania". Tentu saja bukan untuk memperkenalkan dirinya tapi memberi tahu lawan bicaranya kalau Kania adalah miliknya.


Dan dengan percaya diri Aditya mengulurkan tangannya kepada Pak Hermawan.


Kania cuma melongo mendengar pernyataan sepihak Aditya tentang hubungan mereka.


Pak Hermawan pun tersenyum lalu menjabat tangan Aditya.


"Jadi nama gadis cantik ini Kania," ucap Pak Hermawan sambil melihat kearah Kania.


Mendengar pujian Pak Hermawan untuk wanitanya tentu saja membuat sifat posesif Aditya langsung ON.


Setelah berjabat tangan dengan Aditya, Pak Hermawan mengarahkan tangannya kepada Kania.


Kania sedikit tersentak saat tangan Aditya tiba-tiba menyerobot tangannya yang akan menjabat tangan Pak Hermawan.


"Benar, namanya Kania. Dia calon istri Saya."


Kali ini tidak hanya bicara lebih lamban dan tegas saat mengucapkan "Dia calon istri Saya" tapi Aditya juga menatap dengan tajam Pak Hermawan sambil sedikit meremas tangan pria paruh baya itu sebagai peringatan.


Pak Hermawan tersenyum kecut, dia tidak menduga pemuda itu ternyata sangat protektif terhadap wanitanya.


Tak lama kemudian, seseorang datang menghampiri Pak Hermawan.


"Pa."


"Akhirnya kamu datang juga, kenapa kamu bisa terlambat? Kemarin Papa sudah memberitahumu untuk datang jam lima dan kamu baru datang jam tujuh." Pak Hermawan menepuk pundak pria di sampingnya.


"Pa, jarak apartemenku dan hotel ini lumayan jauh terus ditambah lagi macet."


Dari pertama pria itu berdiri di samping Pak Hermawan, kening Kania langsung mengerut. Entah kenapa dia merasa familiar dan pernah melihat pria itu.


"Alasan, bilang aja kamu ketiduran, o iya Nak kenalkan dia Pak Hendra, rekan bisnis kita dan Pak Hendra kenalkan dia putra Saya, Galih."


...Deg! Deg! Deg!...


Badan Kania seketika menegang. Matanya membulat sempurna saat dia baru sadar kalau pria itu adalah pria yang dia lihat di Mall beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Sedangkan Aditya langsung panik dan insecure saat tahu pria di depannya bernama Galih. Pria yang membuat Kania trauma sampai tidak bisa menolak saat ada pria yang meminta wanita itu berpacaran.


Tapi alasan Aditya merasa insecure bukan karena hal itu. Lihat lah perbedaan tinggi badan diantara mereka berdua.


Tinggi badan Aditya 175cm, tidak bisa dibilang pendek untuk ukuran anak seumurannya tapi berdiri di depan Galih yang memiliki tinggi badan 183cm tentu saja membuat pemuda itu mengepalkan kedua tangannya.


Masalah yang lain adalah garis rahang Galih yang tegas menambah kesan maskulin dan jangan lupa juga badannya yang tegap bahkan siapa saja dapat melihat otot lengan pria itu meskipun tertutup lengan jas.


Galih tersenyum lalu mengulurkan tangannya kepada Hendra dan mereka pun berjabat tangan.


"Ga-Galih... Apa kamu benar-benar Galih?" ucap Kania lirih.


Galih terkekeh mendengarnya lalu tiba-tiba dia teringat dengan gadis yang dia sukai saat dia masih SD. Cinta pertamanya. Entah kenapa suara wanita di depannya mengingatkan dia kepada gadis itu.


"Ya, Saya Galih dan kamu?"


Saat Galih mengulurkan tangannya kepada Kania tiba-tiba Aditya berdiri diantara mereka.


Raut wajah Aditya sungguh tidak bersahabat bahkan tatapannya sangat tajam seperti singa yang sedang mengincar mangsanya.


"Namanya Kania, DIA CALON ISTRI SAYA."


Aditya kali ini mengatakannya dengan jelas dan tegas bahkan penuh penekanan disetiap katanya.


Beberapa saat kedua pemuda berbeda usia itu saling beradu tatap.


Sampai akhirnya Galih kembali membuka mulutnya.


"Nona, apa Saya boleh tahu nama lengkap Anda?" tanya Galih sambil melirik Kania yang berada di belakang Aditya.


"Na-Nama Saya Kania Per--"


"Untuk apa Anda tahu nama lengkap calon istri Saya?!" tanya Aditya sewot.


"Aaah!" Aditya meringis kesakitan saat Permata menjewer telinganya.


"Daritadi Mami diem aja tapi sikap kamu malah semakin gak sopan!"


"Sakit Mi~" rengek Aditya sambil mengusap-usap telinganya yang memerah akibat jeweran Permata.


"Maaf atas ketidaksopanan putra Saya," ucap Permata sungkan.


"Putra? Maksud Nyonya? Bukannya dia calon suami putri kalian?" tanya Pak Hermawan heran.


Hendra menghela napas lalu menjelaskan hubungan antara putra tiri dengan putri kandungnya kepada Pak Hermawan.


Pak Hermawan pun mengerti dan tidak mau ikut campur urusan rumah tangga rekan bisnisnya itu. Toh, hubungan Aditya dan Kania tidak melanggar norma karena mereka tidak sedarah, itu yang penting.


"Kania Pertiwi."


Kania sedikit tersentak saat Galih tiba-tiba menyebut nama lengkapnya.


"Apa benar nama lengkap Anda Kania Pertiwi?" Galih kembali memastikan kalau nama gadis yang tengah menatapnya itu sama dengan nama gadis kecil yang dulu membuatnya patah hati.


"Benar."

__ADS_1


Jantung Galih berdetak kencang. Dia merasa bahagia karena bisa bertemu lagi dengan cinta pertamanya tapi sekaligus sakit mengingat dirinya ditolak oleh gadis itu.


...****************...


__ADS_2