
"Aditya, kenapa kamu pura-pura sakit perut?" tanya Kania.
"Aku engga pura-pura, aku beneran sakit sakit perut."
Kania tidak begitu saja percaya dengan ucapan Aditya. Dia masih yakin kalau saat itu Aditya cuma pura-pura sakit perut.
Kenapa Kak Kania ngeliatin gue kaya gitu? Dia masih curiga ya sama gue.
"Jujur ya, aku engga percaya kalau kamu beneran sakit perut," ucap Kania tegas.
"Aku engga bohong, aku beneran sakit perut Kak."
Kania pun memakai metode untuk mengetahui seseorang berbohong atau tidak. Dia tahu dari buku novel yang pernah dia baca kalau saat seseorang berbohong biasanya orang itu akan mengalihkan pandangannya kearah lain.
Sekarang Kania sedang menerapkan metode itu ke Aditya. Dia kembali diam dan hanya memperhatikan Aditya.
Benar saja, Aditya mengalihkan pandangannya. Kania juga melihat gerak-gerik Aditya yang menandakan kalau pria itu berbohong.
"Mengaku saja, aku tahu kamu cuma pura-pura sakit perut."
"Aku cuma ingin tahu kenapa kamu melakukan hal itu, apa alasannya?" tanya Kania sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Kenapa Kak Kania engga percaya juga kalau aku beneran sakit perut...."
Aditya masih tidak mau mengaku, dia malah memasang wajah tidak bersalah dan memelas di depan Kania.
"Kalau begitu biar aku tebak sendiri, apa karena kamu tidak suka mama kamu pacaran dengan ayahku?"
...Deg!...
Koq Kak Kania bisa tahu?! Apa dia bisa baca pikiran orang?
Aditya terdiam.
"Jadi benar, karena itu kamu pura-pura sakit perut."
"A-Aku...."
"Kamu tidak suka hubungan mereka atau karena ayahku?"
"Aku tidak suka keduanya."
"Kenapa kamu tidak suka dengan ayahku? Ayahku itu orang baik, apa kamu berpikir ayahku cuma memanfaatkan mama kamu demi uang?"
"Itu--"
"Ayahku bukan orang seperti itu, ayah benar-benar tulus mencintai mama kamu dan mama kamu juga mencintai ayahku, jadi--"
"Engga! Mami cuma mencintai Papi!"
Tiba-tiba Aditya memotong ucapan Kania dengan nada sedikit emosi.
"Saat mamaku menikah lagi, reaksiku juga sama sepertimu."
Emosi Aditya yang sempat naik perlahan mereda.
"Menikah lagi?" tanya Aditya.
"Orang tuaku bercerai saat aku masih kecil dan aku dititipkan ke Nenek sedangkan ayah sibuk bekerja."
"Sejak mereka berpisah, mama beberapa kali datang ke rumah Nenek untuk bertemu denganku, aku masih bisa merasakan kasih sayang mereka tapi saat aku diberitahu kalau mama akan menikah lagi, aku sangat kecewa dan sedih."
"Aku menolak pernikahan mama, aku tidak mau ada yang merebut mama dariku tapi saat itu ayah memberiku pengertian kalau mama menikah lagi bukan berarti kasih sayang mama akan berkurang kepadaku karena tidak ada yang namanya mantan anak."
"Waktu itu aku tidak langsung setuju, aku ingin bertemu dulu dengan orang yang akan jadi papa tiri ku dan saat aku bertemu dengannya ternyata orangnya baik, jadi aku setuju mama menikah lagi dengan papa tiri ku."
"Meskipun ayah terlihat baik-baik saja saat mama menikah lagi tapi aku tahu kalau sebenarnya ayah sedih karena ayah masih mencintai mama dan terbukti selama bertahun-tahun ayah masih gak bisa move on dan lebih memilih menyibukkan dirinya dengan bekerja."
"Dan saat aku tahu ayah punya pacar, aku senang sekali karena akhirnya ayah bisa move on dan bahagia seperti mama, apalagi saat aku bertemu dengan mama kamu, aku semakin yakin kalau ayah pasti bahagia bersama mama kamu."
"Aku lihat mama kamu juga bahagia saat bersama ayahku jadi--"
__ADS_1
"Engga, kamu salah, engga ada yang bisa buat mami bahagia kecuali papi."
"Tapi papi kamu sudah meninggal."
Mendengar itu Aditya langsung mengepalkan tangannya.
"Kamu engga boleh egois, mama kamu juga perlu pendamping hidup, aku yakin kamu juga pasti ingin mama kamu bahagia, kan?"
"Engga perlu pendamping hidup untuk bisa bahagia, aku yang akan membahagiakan mami," ucap Aditya dingin.
"Tapi--"
Tiba-tiba Aditya beranjak dari kursinya. Wajah Aditya sudah tidak seceria saat pertama Kania datang.
"Aditya, aku yakin ayahku bisa menjadi papa tiri yang baik, ayah akan menyayangimu sama sepertiku dan aku juga akan menjadi kakak yang baik untukmu."
Kepalan tangan Aditya semakin kencang.
"Engga, aku engga mau! Aku engga mau kamu jadi kakak tiri ku!"
"A-Aku janji akan jadi kakak tiri yang baik untukmu, aku akan--"
"Cukup! Aku engga mau kamu jadi kakak tiriku!"
"Kenapa? Aku pikir kamu menyukaiku."
"Justru karena aku menyukai Kak Kania makanya aku... aku engga mau Kak Kania jadi kakak tiri ku...."
"Apa maksudmu? Aku engga ngerti."
Aditya berjalan mendekati Kania lalu meraih dan menempelkan tangan Kania ke dada kirinya sehingga membuat Kania bisa merasakan detak jantung Aditya.
Tatapan emosi Aditya berubah lembut kearah Kania. Tanpa diminta Kania pun beranjak dari kursinya sehingga membuat mereka berdiri saling berhadapan.
"Sejak pertama kali aku bertemu Kak Kania, aku sudah jatuh cinta dengan Kak Kania."
...Deg! Deg! Deg!...
"Ja-Ja-Jatuh cin-ta?," ucap Kania terbata-bata.
Pipinya seperti tomat, aku jadi ingin mengigitnya...
Pikir Aditya saat melihat kedua pipi Kania yang merona sangat merah.
"Iya Kak, aku sudah jatuh cinta dengan Kak Kania, aku engga mau Kak Kania jadi kakak tiri ku tapi aku mau Kak Kania jadi pacarku."
"Pa-Pacar?!" pekik Kania.
"Iya, Kak Kania mau kan jadi pacar aku?"
Kania terdiam.
Gila! Kenapa malah jadi kaya gini?! Tujuan gue kan dateng buat bujuk Aditya supaya setuju bokap gue nikah sama mamanya tapi kenapa jadi dia nembak gue?!
Histeris Kania dalam hati.
"Kak Kania masih ragu sama perasaanku? Kakak bisa merasakannya sendiri jantungku deg-degan sekarang, aku engga main-main, aku serius, aku mencintai Kak Kania."
Bagaimana ini?! Jantungnya emang deg-degan terus matanya juga kelihatan banget kalau dia serius dan gue... gue juga...
Kania masih diam mematung di depan Aditya.
"Apa aku ditolak? Apa karena aku lebih muda dari Kak Kania? Hm.. baiklah, aku tidak akan memaksa Kak Kania...."
Perlahan Aditya melepas tangan Kania yang menempel di dada kirinya dan terlihat jelas kekecewaan dari wajah Aditya.
"A-Aditya aku...."
...****************...
Hendra sudah berada di rumah. Dia sekarang sedang menyeruput teh hangat di ruang tamu sambil membaca artikel online di handphonenya.
__ADS_1
Tak berapa lama, Hendra mendengar suara knalpot motor lalu dia pun mengintip ke luar dari jendela rumahnya.
Hendra melihat Kania berbicara dengan seorang pria yang dia kenal lalu setelah pria itu pergi Kania membuka pintu pagar dan berjalan menuju rumah.
...Cklek...
Pintu pun terbuka, Kania masuk ke dalam dengan kepala tertunduk sehingga membuatnya tidak melihat kehadiran Hendra di ruang tamu.
"Kak, baru pulang? Kenapa lemes gitu?"
Kania terperanjat mendengar suara Hendra.
"A-Ayah?! Ayah udah pulang?!" pekik Kania.
"Iya, kenapa kamu kaget kaya gitu?"
"Ka-Karena biasanya Ayah belum pulang jam segini," ucap Kania terbata-bata lalu cengengesan di depan Hendra.
"Kenapa Aditya tidak disuruh masuk dulu tadi?"
"A-Aditya? Bu-Bukan, tadi bukan Aditya Yah," jawab Kania terbata-bata.
"Kakak ke kamar ya, ada tugas kuliah."
Kania pun langsung kabur menuju kamarnya.
"Bukan Aditya? Meskipun orang tadi tidak melepas helmnya tapi motor yang dia pakai adalah motor Aditya."
"Apa mungkin motor orang tadi mirip dengan motor Aditya?"
Sementara itu Kania berusaha menenangkan jantungnya yang masih deg-degan di dalam kamar.
"Padahal Aditya gak lepas helm tapi kenapa Ayah tahu kalau yang mengantarku tadi Aditya?"
Setelah merasa lebih tenang, Kania pun berjalan ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya.
"Maaf Ayah... Kakak engga bermaksud membohongi Ayah tapi semua itu Kakak lakukan agar Ayah bisa bahagia bersama Tante Permata."
...****************...
Seorang pelayan yang melihat Aditya pulang segera menuju meja makan untuk memberitahu Permata.
"Nyonya, den Aditya sudah pulang."
"Baiklah, makasi Bi."
Permata mengelap bibirnya dengan serbet lalu beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan meja makan.
Aditya melempar tas ranselnya ke atas meja belajar lalu duduk di sofa yang ada di depan tempat tidurnya.
Tak lama, pintu kamar Aditya terbuka. Permata masuk dan duduk di samping Aditya.
"Kenapa baru pulang? Kamu kan hari ini tidak ada ekskul? Apa ada pelajaran tambahan di sekolah?"
"Mami."
"Iya?"
"Mami boleh menikah dengan Om Hendra."
Permata sangat terkejut, dia tidak menduga Aditya akan mengatakan hal itu kepadanya karena setahu dia Aditya tidak menyukai hubungannya dengan Hendra.
"A-Apa?!"
...****************...
Author: Hai sistaaa~
Seneng deh ternyata banyak yang suka dengan cerita ini 😆
Makasii like dan dukungan kalian ❤️❤️❤️
__ADS_1
Sampai bertemu lagi di bab selanjutnyaa~