
"Mi, tunggu!"
Kania mengejar Permata yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
"Mami sibuk gak?" tanya Kania sungkan.
"Engga Sayang, kenapa?"
"Hm.. Ada yang mau Kania bicarakan, apa Mami punya waktu?"
"Kamu mau curhat? Soal apa? Aditya?" tebak Permata.
"Iya Mi, soal Aditya tapi bicaranya di kamar aku aja ya Mi."
Kania memeluk lengan Permata dan mereka pun naik ke lantai atas.
...****************...
Setelah mengikuti ujian lima hari kemarin, hari ini semua murid dibebaskan untuk melakukan apa saja selama masih berada di lingkungan sekolah sementara guru-guru mereka sibuk memeriksa hasil ujian dan juga menentukan ranking untuk setiap murid.
Terdengar deru knalpot motor sport hitam Aditya yang memasuki area parkiran motor sekolah dan seperti biasa kehadirannya selalu menarik perhatian kaum hawa di sekitarnya tapi ada satu yang bergidik ngeri saat melihat Aditya.
"Keisya! Lu kenapa? Koq malah bengong?" tegur salah seorang siswi yang merasa dicueki oleh Keisya.
Lalu siswi itu juga melihat kearah yang dilihat oleh Keisya.
"Ck, playboy itu lagi! Lu masih suka sama dia?"
"Hah?! E-Engga! Gu-Gue gak suka sama dia!" Keisya dengan cepat menyangkalnya.
Dulu sebelum Keisya tahu sisi menyeramkan Aditya, dia memang menaruh hati kepada Aditya tapi sekarang dia lebih memilih menjauh dari pemuda itu.
Jantung Keisya berdetak kencang, badannya menegang bahkan dia sampai menahan napas saat Aditya berjalan melewatinya.
Hawa dingin seketika terasa pada tengkuknya membuat bulu kuduk Keisya berdiri.
Astaga! Dia lewat aja gue langsung merinding! Beda banget sama Aditya yang dulu gue kenal.
Aditya menyadari wajah Keisya yang ketakutan saat melihatnya tapi dia tidak peduli selama gadis itu tidak mengganggu hubungannya dengan Kania maka dia akan membiarkan gadis itu dan keluarganya hidup dengan tenang.
"Keisya, muka Lu pucet, Lu sakit?" tanya siswi itu khawatir.
"E-Engga, gue gak apa-apa."
"Lu yakin? Gue anter ke UKS ya."
"Engga, gue beneran gak apa-apa, yuk kita masuk kelas."
Kaki Keisya baru bisa bergerak saat Aditya sudah berada cukup jauh dari tempatnya.
...****************...
Saat sudah berada di dalam kamar, Kania duduk di sofa bersama dengan Permata.
"Tadi kamu bilang mau curhat soal Aditya, ada apa dengan anak itu? Cerita aja sama Mami, jangan ada yang ditutupi karena bagi Mami kamu gak ada bedanya sama Aditya, kamu juga anak Mami."
Permata sengaja menegaskan kalimat "kamu juga anak Mami" agar Kania bisa lebih terbuka kepadanya. Dia belum puas Kania menerimanya sebagai istri dari ayah gadis itu, dia juga ingin hubungannya dengan Kania bisa lebih dekat layaknya hubungan ibu dan anak.
Kania hanya tersenyum canggung mendengar ucapan Permata.
__ADS_1
Waduh, bisa kacau kalau gak ada yang ditutupi. Aku skip aja deh pas bagian tidur barengnya daripada besok dibawa ke KUA.
"Jadi begini Mi, semalam saat Kania dan Aditya bertengkar Aditya--"
"Kalian bertengkar? Astaga... Apa yang terjadi?"
Kania pun menceritakan pertengkarannya dengan Aditya semalam dan juga soal Aditya yang takut ditinggalkan Kania.
Mendengar cerita Kania membuat Permata kembali teringat saat Aditya terus meminta papinya yang telah wafat untuk tidak pergi meninggalkannya.
..."Papiii! Jangan tinggalkan Aditya Pi! Bangun! Aditya mau Papi bangun! Jangan pergi Pi! Jangan tinggalkan Adityaaa! PAPIIII!"...
Tanpa sadar Permata menitihkan air mata.
"Kenapa Mami menangis?" tanya Kania sambil menggenggam tangan Permata.
"Mami jadi ingat saat Aditya ditinggalkan papinya, dia sangat sedih dan tidak terima dengan kepergian papinya. Saat itu Aditya terus berteriak agar papinya tidak pergi meninggalkannya tapi papinya...." Permata tidak sanggup meneruskan ucapannya. Sebagai seorang ibu, dia sangat sedih melihat anaknya menderita dan sangat terluka saat itu.
Kania pun langsung memeluk Permata yang terisak.
Mungkin penyebab ketakutan Aditya yang berlebihan karena dia trauma ditinggalkan papinya.
...****************...
Baru masuk ke dalam kelas, Daniel langsung merangkul Aditya.
"Dateng juga lu Bro, gue pikir lu bakal bolos."
"Gak, soalnya kalau gue bolos, gue bakal rugi."
"Rugi? Rugi kenapa?"
"Lu gak usah kepo, pokoknya rugi, titik." Aditya melepas rangkulan Daniel lalu berjalan ke mejanya.
"Selamat pagi Aditya," sapa Mutiara.
"Kamu udah sehat?" Aditya meletakan tas ranselnya di atas meja dan duduk di bangkunya.
"Udah!" Mutiara tampak senang, dia pikir setelah masalah waktu itu Aditya akan bersikap dingin tapi ternyata teman masa kecilnya itu masih perhatian kepadanya.
"Mutiara, lu bukannya dipanggil Pak Iyan ke ruang guru sekarang," ucap Daniel mengingatkan.
"O iya! Yaudah gue ke ruang guru dulu ya!"
Mutiara pun bergegas pergi meninggalkan kelas.
"Jadi kalian udah akrab nih~" goda Aditya.
"Harus lah, kan sekelas masa gak akrab."
Daniel masih belum sadar kalau saat ini Aditya tengah menggodanya.
"Ooh~ teman sekelas, terus entar lama-lama teman sehati." Aditya menaik-turunkan kedua alisnya.
"Teman sehati? Maksud lu apaan sih? Gak jelas lu!" cibir Daniel.
"Mau gak gue bantuin? Gratis deh."
"Gue gak ngerti! Maksud lu apa? Lu mau bantuin gue apa?"
__ADS_1
"Makanya jangan cuma handphone lu aja yang di upgrade tapi otak lu juga perlu di upgrade biar gak lemot," sindir Aditya.
"Sialan, bukan gue yang lemot tapi lu yang gak jelas!" ucap Daniel sewot.
"Ck, udahlah gak usah dibahas lagi."
"Tuh kan gak jelas, gitu aja ngambek udah kaya cewek lagi PMS aja," sindir Daniel.
Saat mereka tengah saling menyindir, seorang siswi datang menghampiri mereka.
"Kak Aditya," panggil siswi itu malu-malu.
Aditya pun mengalihkan matanya kearah siswi yang tengah berdiri di depan mejanya.
"Iya? Ada apa?" tanya Aditya basa basi.
Sebenarnya Aditya tahu alasan siswi itu datang menemuinya tapi sayang sekali dia sudah tidak tertarik lagi menambah daftar mantannya di sekolah itu.
"Mm.. Begini Kak, aku...." Siswi itu tampak ragu-ragu meneruskan ucapannya.
Kedua pipi siswi itu memerah. Jantungnya juga berdetak kencang. Meskipun dia tahu kakak kelas di depannya ini seorang playboy tapi dia tetap ingin mengatakan perasaannya.
"Lu mau ngomong apa?"
"Be-Begini Kak, aku... Aku suka Kakak!" Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutnya.
"Terus?" tanya Aditya acuh.
"Ka-Kakak mau gak jadi pacar aku?"
"Engga," jawab Aditya to the point.
Beberapa saat siswi itu terdiam. Dia mengira Aditya akan menerimanya karena parasnya yang gak kalah cantik dari mantan-mantan Aditya sebelumnya tapi ternyata Aditya malah langsung menolaknya.
Daniel yang melihat wajah siswi itu yang tampak akan menangis jadi panik sendiri.
"Maaf ya, Aditya udah punya pacar," ucap Daniel kepada siswi itu.
"Ka-Kakak udah punya pacar?"
Siswi itu memberanikan dirinya memastikan ucapan Daniel meskipun jawaban Aditya nanti akan semakin menyakiti hatinya.
"Iya."
Siswi itu pun langsung pergi meninggalkan kelas dengan mata sudah memerah dan berkaca-kaca.
"Gila lu Dit! Dingin banget! Kasi penjelasan kek kenapa lu nolak dia, ini langsung aja bilang engga," cibir Daniel.
"Dia kan tanya gue mau gak jadi pacarnya, jawabannya cuma dua antara mau sama engga, ya gue jawab engga."
"Iya tapi seenggaknya lu jangan langsung to the point kaya gitu, basa basi dikit kek."
"Koq lu peduli banget sama cewek tadi, jangan-jangan lu suka ya sama dia?" goda Aditya.
"Ngaco lu! Gue cuma kasian aja sama dia, lu gak liat tadi dia udah mau nangis."
"Gue gak peduli kecuali kalau Baby gue yang nangis, o iya gue belum ngabarin Baby gue!"
Begitu Aditya udah chatting an sama Baby nya, dia gak akan peduli sama sekitarnya dan hanya menatap layar handphone nya.
__ADS_1
"Ck, main game aja lah."
...****************...