Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Takut Ditinggalkan


__ADS_3

Di dalam kamar, Kania berusaha fokus mengerjakan skripsinya tapi hot kiss yang dilakukannya dengan Aditya terus terbayang-bayang.


"Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Tidaaak!" ucap Kania berkali-kali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Fokus Kania! FOKUS!"


Beberapa saat Kania diam lalu menghela napas. Nampak matanya kali ini lebih tajam menatap layar laptopnya.


"Ingat Kania, fokus!"


Tapi saat jari Kania menekan salah satu tombol keyboard tiba-tiba Kania teringat empat kotak diperut Aditya.


"Astaga... Perutnya kencang sekali...," gumam Kania tanpa sadar.


...Drrrt!...


Getar dari handphone sontak membangunkan Kania dari lamunannnya.


"Astaga! Apa yang aku pikirkan?! Dasar mesum! Mesum!" Kania menepuk-nepuk jidatnya sendiri.


Sekali lagi handphone Kania bergetar, ternyata ada notif chat dari nomor baru.


Kania pun meraih handphone nya lalu membuka dan membaca chat yang dikirim oleh nomor baru itu.


"Galih?" gumam Kania.


Ternyata pemilik nomor baru yang mengirim Kania chat itu adalah Galih.


Baru juga Kania akan menambahkan nomor Galih dikontaknya tiba-tiba ada panggilan video call dari nomor yang sama.


Tadinya Kania sempat ragu saat akan menggeser ikon hijau dilayar handphone nya tapi akhirnya Kania tetap menggeser ikon hijau itu.


...----------------...


...[via video call]...


^^^Galih: Hai^^^


...(Galih tersenyum)...


Kania: Hai


^^^Galih: Aku pikir kamu udah tidur^^^


^^^Galih: Makanya aku kirim chat^^^


Kania: Kamu juga belum tidur


^^^Galih: Aku gak bisa tidur^^^


Kania: Kenapa?


^^^Galih: Karena kamu^^^


Kania: Aku?


...(Dengan ekspresi polos Kania menunjuk dirinya sendiri. Alhasil Galih pun dibuat gemas melihatnya)...


^^^Galih: Kamu tetap gak berubah ya^^^


Kania: Gak berubah?


Kania: Maksudnya?


^^^Galih: Iya kamu gak berubah^^^

__ADS_1


^^^Galih: Masih aja cantik^^^


...(Galih kembali tersenyum tapi kali ini dengan tatapan mata yang membuat Kania salah tingkah)...


Kania: Gak nyangka


Kania: Kamu sekarang pintar gombal ya


...(Galih tertawa kecil)...


^^^Galih: Aku gak lagi gombal Yaya^^^


^^^Galih: Kamu emang cantik^^^


^^^Galih: Dulu sampai sekarang^^^


^^^Galih: Buat aku cuma kamu yang paling cantik^^^


...(Meskipun hanya dari layar handphone tapi Galih bisa melihat pipi Kania yang merona saat ini)...


Kania: Ehem!


Kania: Aku kan perempuan jadi wajar kalau cantik


^^^Galih: Kalau laki-laki?^^^


Kania: Ya ganteng lah


^^^Galih: Makasi^^^


Kania: Ih geer!


Kania: Aku gak lagi muji kamu!


Kania: Kamu juga gak berubah!


Kania: Masih nyebelin!


...(Kania menggembungkan kedua pipinya. Tanpa sadar Kania kembali ke kebiasaan lamanya setiap dia merajuk kepada Galih)...


^^^Galih: Yaya tembem^^^


Kania: Aku gak tembem!


...****************...


Aditya merasa haus jadi dia keluar dari kamarnya. Tapi saat dia melihat pintu kamar Kania, tujuannya tiba-tiba berubah.


Padahal tadinya Aditya ingin pergi ke dapur tapi sekarang malah berdiri di depan pintu kamar Kania.


"Baby ku pasti lagi ngerjain skripsi, aku gangguin aah~"


"Pintunya dikunci gak ya?" gumam Aditya.


Pelan-pelan Aditya menekan knop pintu kamar itu ke bawah karena dia ingin mengejutkan Kania yang tengah serius mengerjakan skripsi.


Tapi ternyata dugaannya salah, kekasihnya itu tidak sedang mengerjakan skripsi tapi malah asik video call dengan seorang cowok. Ya, seorang cowok!


Rahang Aditya seketika mengeras, dadanya langsung panas melihat Kania tertawa dengan cowok lain.


Aditya pun segera menghampiri Kania dan dengan kasar merebut handphone yang sedang dipegang Kania.


Sontak Kania kaget karena tiba-tiba Aditya merampas handphone dari tangannya.


"Aditya!" pekik Kania.

__ADS_1


"JAUHI CALON ISTRIKU!!" hardik Aditya dan langsung mengakhiri video call itu.


Bibir Kania mendadak seperti dilem, tidak bisa dibuka. Lidahnya juga kelu, dia hanya bisa menelan salivanya saat tatapan tajam Aditya mengarah kepadanya.


"Handphone aku sita!"


Kania sadar dari kegugupannya saat mendengar ucapan Aditya.


"Disita? Gak bisa, sini kembalikan handphone ku!"


Saat Kania akan merebut handphone nya, Aditya langsung mengangkat tinggi-tinggi handphone Kania sehingga membuat wanita itu harus melompat-lompat untuk mendapatkan handphone nya kembali.


Melihat tingkah menggemaskan kekasihnya itu membuat emosi Aditya yang tadinya sempat naik langsung turun drastis.


"Aditya! Kembalikan handphone ku!"


"Supaya kamu bisa menghubungi cowok itu lagi?" sindir Aditya.


"Bukan, tapi--"


"Kenapa? Masih kangen sama cowok itu? Belum puas ngomong sama dia makanya kamu mau telepon dia lagi? Begitu, kan?"


Dituduh secara sepihak seperti itu membuat Kania kecewa karena kesannya Aditya tidak percaya kepadanya.


Dada Kania terasa sesak. Entah kenapa kalau berurusan dengan Aditya, Kania jadi mudah sekali menitikan air mata.


"Cih, segitu sedihnya, nih aku kembaliin handphone kamu," ketus Aditya sambil melempar handphone Kania ke ranjang.


"Udah jangan nangis, telepon lagi aja, pasti cowok itu dengan SENANG HATI menjawab telepon kamu."


Sindiran Aditya seperti pedang yang begitu menusuk hatinya sehingga membuat air mata Kania semakin deras.


"Jahaaaat! Kamu jahat! Aku benci! Benciii!" Kania memukul-mukul dada Aditya.


Aditya hanya diam menerima pukulan itu sampai tangan Kania berhenti.


"Kenapa kamu selalu curiga aku selingkuh?!Kenapa?! Apa karena kamu mudah mendapatkanku makanya kamu pikir cowok lain juga bisa?! Kamu pikir aku wanita gampang, benar kan?!"


Kania bukan wanita yang akan diam saja menerima segala tuduhan dan perlakuan tidak adil kepadanya.


"Aku tidak pernah berpikir seperti itu!" sangkal Aditya.


"Terus kenapa kamu selalu menuduhku selingkuh?!"


"Kapan?! Kapan aku menuduhmu selingkuh?!Aku cuma gak suka kamu berhubungan sama cowok lain!" Aditya memegang lalu meremas kedua lengan Kania.


"Cemburu kamu berlebihan Aditya!"


"Aku gak peduli! Kamu... Kamu cuma milikku! Milikku! Mereka gak bisa rebut kamu dari aku! Gak boleh!"


Aditya pun langsung memeluk Kania erat, mengikat wanita itu dengan tangannya.


"Aku takut... Aku takut kehilanganmu... Aku mohon jangan tinggalkan aku... Jangan tinggalkan aku...." Meskipun suara Aditya begitu lirih tapi Kania masih bisa mendengarnya.


Kania bisa merasakan tangan Aditya yang gemetar dan pundaknya terasa basah.


Dia menangis...


Meskipun sempat kecewa dan kesal dengan Aditya tapi saat kekasih kecilnya itu menunjukkan sisi lemahnya seperti saat ini, hati Kania pasti luluh.


Setiap orang pasti takut kehilangan orang yang dicintai tapi ketakutan Aditya ini berlebihan sampai membuatnya selalu berpikiran negatif. Tidak, Aditya tidak bisa seperti ini terus! Aku harus mencari cara untuk mengatasi ketakutan berlebihan Aditya. Tapi... Bagaimana?


Dari pertengkaran mereka, Kania mengetahui alasan Aditya bertindak sangat posesif kepadanya dan selalu merasa insecure yaitu karena ketakutan yang berlebihan kalau Kania akan pergi meninggalkannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2