
"Ah, sial! Udah gue bilang tunggu dulu! Kenapa lu nyerang sendirian?!" ucap Aditya emosi.
Aditya sekarang sedang bermain game online dan bicara via voice chat dengan Daniel. Meskipun Aditya selalu kesal setiap bermain dengan Daniel tapi dia masih tetap saja mengundang teman dekatnya itu untuk satu team dengannya.
Mungkin karena cuma Daniel yang bisa jadi pelampiasan kekesalannya saat dia kalah.
"Udah ah, gue males main lagi! Lu main sendiri aja!"
Aditya selalu seperti itu, kalau sudah kalah lebih dari satu kali maka moodnya akan langsung jelek dan kesal. Daniel yang sudah tahu kelakuan Aditya cuma bisa mengiyakan ucapan Aditya.
Aditya keluar dari permainan lalu meletakkan handphonenya itu ke atas 'nakas' meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya dengan kasar.
Dengan sifat emosional Aditya, sepertinya tidak hanya benda tapi manusia pun harus "tahan banting" jika ingin selalu di dekat Aditya. Beruntungnya Daniel adalah tipe yang tidak suka konflik jadi dia lebih sering mengalah kepada Aditya.
Aditya terdiam sejenak, dia kembali teringat ajakan Permata kemarin malam.
Malam itu Aditya sudah selesai menyantap makanannya lalu terdengar notif dari handphone yang sedang dipegang Permata.
Mas Hendra mengajakku bertemu dengan anaknya besok, ini kesempatan yang bagus, aku juga bisa mengajak Aditya. Mungkin Aditya bisa lebih dekat dengan Mas Hendra dan aku dengan anaknya Mas Hendra.
Permata tersenyum membaca chat dari Hendra yang memberinya ide agar hubungannya dengan Hendra bisa mendapat persetujuan dari anak-anak mereka.
"Aditya, besok kamu ikut Mami ke Mall ya."
"Aku engga mau, males ah nemenin Mami belanja, badan ku pasti langsung pegal-pegal."
Aditya menggeser sedikit kursinya ke belakang dan beranjak bangun.
"Mami ke Mall bukan karena mau belanja, jadi kamu ikut Mami ya besok?"
"Terus Mami mau ngapain ke Mall?" Aditya bertanya balik kepada Permata dengan mengangkat satu alisnya.
Aditya sudah hafal kebiasaan Permata yang selalu belanja setiap mereka pergi ke Mall makanya Aditya bingung mendengar ucapan Permata.
"Ada yang mengajak kita bertemu di Mall besok."
"Siapa?"
"Om Hendra."
Ngapain sih Om Hendra ngajak ketemuan di Mall?! Jangan-jangan ini usaha Om Hendra buat ngedeketin aku jadi dia bisa menikah sama Mami.
Engga! Aku engga akan setuju Om Hendra atau pria manapun menikah sama Mami! Engga ada yang bisa menggantikan Papi!
"Aku engga mau ikut!" jawab Aditya ketus lalu pergi meninggalkan Permata begitu saja.
"Padahal aku belum bilang tentang hubunganku dengan Mas Hendra tapi terlihat sekali kalau Aditya tidak suka dengan Mas Hendra." Permata pun menghela napas.
Saat Aditya sedang mengingat hal itu, tiba-tiba dia terpikirkan sesuatu.
"Ah, benar! Kenapa aku malah disini?! Harusnya aku ikut sama Mami! Om Hendra pasti menggunakan kesempatan ini untuk bisa lebih dekat sama Mami! Sial, kenapa aku baru kepikiran sekarang?!" Aditya menepuk jidatnya sendiri.
"Lebih baik aku pastikan dulu apa Mami masih di Mall atau Om Hendra mengajak Mami pergi ke tempat lain."
Aditya pun langsung mengambil handphonenya dan menghubungi kontak Permata.
...****************...
Masuk ke dalam restaurant bernuansa Jepang, Kania berjalan menuju salah satu meja diikuti Hendra dan Permata.
Tak lama setelah mereka duduk, pelayan restaurant itu pun datang dan memberikan mereka menu.
__ADS_1
Saat Permata sedang melihat menu, handphonenya yang berada di atas meja berdering. Dia melihat nama kontak yang muncul di layar handphonenya.
"Aditya?"
Lalu Permata segera menjawab panggilan telepon dari Aditya.
"Halo Aditya, ada apa Nak?"
Setelah bertanya, Permata pun diam mendengarkan ucapan Aditya.
"Iya, Mami masih di Mall, Mami ada di restaurant Jepang," ucap Permata memberitahu Aditya.
"Kamu mau kesini? Iya, Mami akan menunggu kamu disini, hati-hati ya."
Permata pun mengakhiri panggilan telepon dari Aditya dan kembali meletakkan handphonenya ke atas meja.
"Ada apa?" tanya Hendra.
"Katanya Aditya mau nyusul kesini," jawab Permata dengan antusias.
"Tante, Aditya mau kesini?" tanya Kania basa basi.
"Iya Kania, nanti Tante kenalkan dengan anak Tante, Aditya."
"Maaf, apakah Anda akan memesan makanan sekarang?" tanya pelayan restaurant yang sudah berdiri di samping meja mereka.
"Kania, kamu pesan saja duluan, Tante nunggu Aditya datang."
"Tante, pesan aja makanan buat Aditya, jadi nanti Aditya udah gak usah nunggu makanannya lagi," usul Kania.
"Ide kamu bagus, tapi Tante pesan apa ya buat Aditya?"
"Pesan ramen aja Tante, ramen disini enak."
"Ok, Tante ikutin saran kamu, lagipula Aditya emang suka makan mie, kamu mau pesan ramen juga?"
"Kalau aku mau pesan sushi dan tempura, Aditya suka udang gak Tante? Kalau suka pesan dua aja tempuranya."
"Iya, Aditya juga suka udang, kalau gitu pesan tempura buat Aditya."
Permata dan Hendra juga memilih makanan lalu pelayan restaurant itu pun mencatat semua pesanan mereka lalu pergi setelah mengambil menu.
Permata memperhatikan Kania yang sedang berbicara dengan Hendra.
Senang banget punya anak seperti Kania, dia anak yang pengertian, baik dan dewasa. Dia juga ramah dan sopan, aku tidak merasa ada penolakan darinya. Berbeda sekali dengan Aditya... Bagaimana caranya membuat Aditya menerima Mas Hendra...
Hendra melihat Permata yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa Sayang?" tanya Hendra lembut.
Permata pun terperanjat dan langsung menjawab pertanyaan Hendra, "Engga ada apa-apa."
Tak lama kemudian, pelayan restaurant datang dan meletakkan minuman pesanan mereka ke atas meja lalu kembali beranjak pergi.
...****************...
Aditya yang sudah mendapat informasi tentang keberadaan Permata segera beranjak dari tempat tidur dan membuka lemari bajunya. Dia mengambil jaket lalu tas ransel yang selalu dia bawa saat pergi ke luar.
Tidak lupa juga mengambil kunci motor sports kesayangannya, hadiah dari Papinya sebelum meninggal.
Aditya keluar dari rumah lalu bergegas menuju garasi dan menaiki motor sportsnya. Dia memakai helm lalu melajukan motornya.
__ADS_1
Motor Aditya sempat berhenti sebentar karena menunggu satpam rumahnya membuka pintu gerbang lalu dia pun kembali melajukan motornya pergi meninggalkan rumah itu.
...****************...
"Aditya sekarang umurnya berapa Tante?" tanya Kania sambil menyeruput minumannya.
"Aditya umurnya 17 tahun, kelas dua SMA mau naik kelas tiga tahun ini."
"Dimana sekolahnya?"
"Aditya sekolah di SMA Bunga Bangsa."
"Sekolah kamu dulu Kak," celetuk Hendra.
"Kania SMAnya juga disana?"
"Iya Tante, aku alumni SMA Bunga Bangsa."
"Wah bisa kebetulan gitu ya."
"Aditya ambil jurusan apa? IPA atau IPS?"
Kania sengaja bertanya tentang Aditya agar suasana tidak canggung.
"Dia masuk jurusan IPA soalnya nilai fisika Aditya selalu diatas rata-rata," jawab Permata membanggakan Aditya.
"Kania dulu juga jurusan IPA ya?" lanjut Permata.
"Aku IPS Tante, soalnya aku lebih suka menghafal dan menghitung duit hehe," jawab Kania sambil cengengesan.
Permata pun tersenyum mendengar jawaban Kania.
"Wajar sih, yang namanya perempuan pasti suka itung duit."
"Seru banget ngomongnya sampai Ayah dicuekin," protes Hendra.
Kania malah tertawa kecil mendengar ucapan Hendra.
"Tuh kan jadi diketawain sama Kania, lagian sih kamu gitu aja pake ngambek," ledek Permata.
"Kakak, kenapa ketawain Ayah terus sih?"
"Abisnya Ayah lucu," jawab Kania sambil cekikikan.
Kania, sudah berhenti, kamu bisa kualat kalau ngetawain orang tua. Lagian kenapa Kania bilang aku lucu? Emangnya ada yang salah sama ucapanku barusan?
Hendra bersikap tetap terlihat cool di depan Permata padahal sebenarnya dia malu diketawain Kania, anaknya sendiri.
...****************...
Author: Hai semuaaa~
Seneng deh bisa update lagi 🤗
Semoga kalian suka dan terus ikutin cerita Kania dan Aditya 😆
Makasi buat like dan komennya ❤️❤️❤️
Jangan lupa difavoritkan ya dan vote 😉
Sampai berjumpa di bab selanjutnyaaa~
__ADS_1