Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Keputusan Aditya


__ADS_3

Sehabis makan malam yang menurut Aditya romantis, suami dari Kania Pertiwi itu membaringkan dirinya dengan menjadikan paha istrinya sebagai bantal.


"Babyyy~"


"Masi lapar ya? Makan lagi sana kalau masi lapar," sahut Kania sambil membelai-belai rambut Aditya.


"Porsi segitu mana bisa bikin kamu kenyang, kamu kan kalau makan porsinya dua kali lipat," sambungnya.


"Emang masi laper sih tapi males bangun, udah pewe~"


Aditya memiringkan badannya, dia memeluk perut Kania lalu mendusel-dusel wajahnya.


"Baby, sekarang pasukanku pasti lagi menyerang kapal induk kamu," ucap Aditya sambil menatap serius perut istrinya.


Alis Kania mengernyit mendengar ucapan suaminya. "Pasukan? Kapal induk?"


Aditya memberi isyarat dengan tangannya agar Kania mendekat. Lalu saat wajah sang istri sudah dekat, dia membisikkan sesuatu ke telinga istrinya.


Mata Kania membulat begitu mengetahui pasukan dan kapal induk yang dimaksud suaminya.


Aditya menjelaskan pasukan yang dia maksud adalah sper*manya sedangkan kapal induk adalah sel telur Kania.


Kania tidak habis pikir kalau suaminya akan memberikan istilah seperti itu untuk sel reproduksi mereka.


"Ish, kamu ini! Ada-ada aja!"


Aditya malah tertawa kecil saat Kania menepuk lengannya.


"Aku yakin pasukanku pasti berhasil menyerang kapal induk kamu berarti tinggal tunggu waktu aja sampai Aditya junior ada di dalam sini~"


Kania cekikikan, dia kegelian saat Aditya menciumi perutnya.


"Iih udah, geli!"


"Menurut kamu Aditya junior laki-laki atau perempuan?" tanya Aditya sambil mengusap-usap perut Kania.


"Laki-laki atau perempuan tidak masalah, yang penting dia lahir dengan sehat."


Aditya tersenyum mendengar jawaban bijak istrinya. Dia juga sebenarnya tidak mempersoalkan jenis kelamin tapi kalau boleh dia ingin Aditya juniornya nanti berjenis kelamin perempuan.


"Aku setuju Baby tapi aku berharap dia perempuan."


"Kenapa perempuan? Biasanya kan kalau anak pertama pasti inginnya anak laki-laki."


"Karena kalau perempuan, aku akan jadi laki-laki paling tampan tapi kalau Aditya juniornya laki-laki dia pasti akan mengalahkan ketampanan papinya karena dia adalah hasil gabungan dari bibit unggul kita berdua."


Aditya jadi membayangkan saat dirinya nanti diabaikan Kania karena istrinya itu lebih memuja Aditya junior yang lebih tampan darinya.


"Pfft!" Kania menahan tawa saat mendengar keluhan suaminya soal paras anak mereka.


"Jadi intinya kamu gak mau disaingi anak kamu sendiri, begitu kan?"


"Sebenarnya wajar kalau Aditya junior lebih tampan dari papinya tapi... Nanti kamu pasti akan mengabaikanku karena dia lebih tampan...," lirih Aditya sambil mengerucutkan bibirnya.


Kania tertawa kecil sambil mencubit gemas pipi suaminya.


"Meskipun Aditya junior nanti lebih tampan tapi dia tidak akan bisa membuatku mengabaikanmu~"


"Benar kah? Kamu gak akan mengabaikanku?"


"Tentu saja! Bagaimana aku bisa mengabaikan pria tampan dan menggemaskan kaya kamu?"


Aditya bersorak dalam hati karena Kania yang biasanya terkesan cuek sekarang bersikap lebih manis kepadanya.


"I love you Baby~"

__ADS_1


"I love you Honey~"


Setelah membahas Aditya junior sekarang pasangan pengantin baru itu membahas soal bulan madu dan terjadilah perdebatan pertama mereka setelah menjadi suami istri.


Aditya maunya besok mereka berangkat bulan madu keliling Eropa seperti yang sudah dia rencanakan sedangkan Kania maunya bulan madu setelah dia lulus kuliah.


Padahal Aditya sudah mempersiapkan semuanya mulai dari tiket pesawat sampai menyewa resort di berbagai negara tapi keadaan berkata lain.


Kania sebenarnya tidak tega melihat kekecewaan suaminya tapi mau bagaimana lagi? Setelah skripsinya selesai dia masih harus mengikuti sidang yang akan menentukan kelulusannya.


"Honey, aku bukannya gak mau tapi kamu kan tahu kalau tiga hari lagi aku sidang."


"Huuh~ Iya aku tahu, meskipun bulan madu kita tertunda bukan berarti kita gak bisa bulan madu."


"Maksudnya?"


"Kita masih bisa bulan madu di kamar." Aditya mengerlingkan mata menggoda istrinya.


"Ish dasar mesum!"


"Sebenarnya aku lebih suka kalau kamu lebih mesum dari aku kaya di perpustakaan waktu itu."


Pipi Kania kembali merona, dia jadi salah tingkah dan malu dengan aksi nakalnya di perpustakaan.


"Hoaaammm~ aku ngantuk, lebih baik kita tidur sekarang."


Aditya tahu kalau saat ini istrinya sedang mengalihkan pembicaraan tapi karena mereka memang butuh istirahat jadi dia pun berhenti menggoda istrinya dan berbaring di samping sang istri.


"Hug me Baby karena mulai saat ini kamu gak boleh peluk guling lagi, cukup peluk aku aja."


"Tapi lebih empuk guling daripada badan kamu Honey," ledek Kania.


Aditya pun langsung melempar guling yang ada disana.


"Sekarang cuma aku yang bisa kamu peluk," ucap Aditya sambil menunjukkan deretan gigi kelincinya.


Karena Kania belum juga memeluk Aditya akhirnya Aditya duluan yang memeluk istrinya itu.


"Gak ada yang boleh menyentuhmu kecuali aku karena sekarang kamu sudah jadi milikku seutuhnya." Aditya lalu mencium kening istrinya.


"Good night Baby, I love you."


"Good night Honey."


Saking nyamannya berada dipelukkan sang suami membuat Kania tanpa sadar memejamkan mata dan benar-benar tertidur.


Tak berapa lama setelah Kania tertidur, Aditya pun ikut memejamkan mata dan menyusul istrinya ke dunia mimpi.


...****************...


Keesokkan harinya, team pengacara datang untuk melegalkan Aditya sebagai ahli waris karena umur Aditya sudah memenuhi syarat.


Tapi yang terjadi malah membuat keluarganya sendiri tercengang terutama Permata yang tidak menduga kalau Aditya akan memberikan perusahaan papinya kepada Hendra.


"Tapi Aditya, perusahaan itu adalah hak kamu sebagai ahli waris, Om hanya menjaganya saja sampai kamu bisa meng-handle perusahaan itu sendiri."


"Selama ini Ayah mertua sudah menjaga perusahan papi dengan sangat baik makanya aku mempercayakan perusahaan papi kepada Ayah mertua."


Tadinya Hendra kembali menolak karena dia merasa tidak enak hati dan tidak pantas menerima perusahaan hasil jerih payah ayah kandung menantunya tapi setelah dibujuk dan diyakinkan oleh menantu, istri dan putrinya membuat Hendra akhirnya menerima perusahaan itu.


Ternyata selain perusahaan, ada satu hal lagi yang membuat mereka hampir terkena serangan jantung.


Rumah yang mereka tempati saat ini termasuk warisan yang diberikan Pak Damar untuk Aditya dan Aditya memberikan rumah ini kepada maminya.


"Kamu yakin? Ini hak kamu Nak, Papi kerja keras membangun rumah ini untuk kamu dan kamu memberikannya untuk Mami."

__ADS_1


"Aditya yakin Mi, karena ini hak Aditya jadi Aditya bebas memberikannya kepada siapapun termasuk ke Mami."


"Tapi--"


"Mami lupa, Aditya kan punya mansion jadi lebih baik rumah ini untuk Mami saja termasuk mobil-mobil Papi yang di garasi."


"Terus kamu dapat apa Nak kalau semua warisan kamu dikasi ke Mami?"


Aditya merangkul mesra Kania yang duduk berdampingan dengannya.


"Aditya udah bersyukur dapat istri gemoy~"


"Istri gemoy?"


"Kamu Baby, istri gemoy akuu~"


Kebiasan mereka yang menganggap dunia milik berdua memang tidak bisa dihilangkan.


Aditya yang gemas malah menciumi pipi Kania padahal di ruangan itu masih ada team pengacara, mami dan ayah mertuanya.


"Ehem!"


Mendengar deheman Permata membuat Kania langsung mendorong wajah Aditya. Dia malu sekali dengan tingkah suaminya.


"Maaf ya Pak, maklum pengantin baru." Permata tersenyum kikuk ke team pengacara.


Setelah urusan warisan selesai, team pengacara pun pamit untuk kembali ke kantor mereka.


Sekarang di dalam ruangan itu hanya tersisa mereka berempat.


"Selain masalah tadi Aditya juga ingin memberitahu kalau Aditya dan Kania akan tinggal di mansion."


Kania langsung memalingkan wajahnya ke samping.


"Tinggal di mansion?"


"Iya, mansion yang jadi mahar kamu Baby."


"Kita akan tinggal disana?"


"Iya, apa kamu keberatan kalau kita tinggal disana?"


"Mami keberatan! Kalau kalian pindah nanti rumah ini jadi sepi....," lirih Permata.


Hendra yang mengerti keinginan Aditya berusaha membujuk Permata agar merelakan anak-anak mereka tinggal di mansion.


"Mereka sudah menikah jadi wajar jika mereka ingin hidup mandiri, lagipula mereka masih bisa mengunjungi kita, kan?" ucap Hendra memberi pengertian kepada Permata.


"Bagaimana denganmu Sayang? Apa kamu gak apa-apa tinggal di mansion?" Permata bertanya kepada menantunya.


Kania galau karena seumur hidupnya dia tidak pernah berpisah dengan ayahnya dalam jangka waktu yang lama. Dia pasti akan sangat merindukan ayahnya tapi dia juga tahu sebagai seorang istri dia harus ikut kemanapun suaminya berada.


"Bagaimana Baby? Kamu mau kan tinggal di mansion?"


"Um... Aku...."


Melihat kegalauan diwajah istrinya, Aditya akhirnya mengeluarkan senjata pamungkas, apalagi kalau bukan puppy eyes nya.


Kania yang ditatap seperti itu berusaha mengabaikannya tapi apa daya, dia tidak pernah menang melawan tatapan itu.


"Iya aku mau," jawab Kania pasrah.


Aditya lalu memeluk istrinya dari samping dengan senyum merekah dibibirnya.


Yes! Disana gak ada yang bisa ganggu aku berduaan sama istri gemoy ku~

__ADS_1


...****************...


__ADS_2