Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Wanita Selalu Benar


__ADS_3

Kania segera bangkit dari pangkuan Aditya. Wajahnya yang merah tertunduk, dia menggigit bibir bawahnya dan meremat-remat jarinya.


"M-Ma-Maaf... A-Aku...." Suara Kania terdengar sedikit bergetar.


Kania malu dan jijik dengan dirinya karena melakukan hal tak pantas kepada Aditya yang masih dibawah umur, dia seperti tante-tante kesepian yang haus belaian laki-laki. Benar-benar memalukan. Matanya pun sudah mulai berkaca-kaca.


Kalau boleh jujur, sebenarnya Aditya lebih suka Kania agresif seperti tadi karena tubuhnya sudah kecanduan disentuh Kania tapi melihat wanitanya itu malu-malu membuatnya gemas.


Aditya tersenyum tipis lalu mengusap kepala Kania. "Kenapa minta maaf? Kamu bisa lakukan apa saja kepadaku, I'm yours Baby."


"And you are mine." Aditya mencium pucuk kepala Kania lalu merengkuh tubuh kecil wanitanya.


"Tapi aku sudah melakukan sesuatu yang tak pantas kepadamu... Maaf...," ucap Kania lirih.


Aditya melepas pelukannya lalu menangkup wajah Kania. Dia melihat mata wanitanya itu sudah berkaca-kaca.


"Hal tak pantas apa yang kamu maksud?"


Kania melirik kearah lain, dia tidak berani melihat langsung mata Aditya.


"Ka-Kamu masih dibawah umur dan aku tadi--"


Alis Aditya berkerut. Dia mengerti sekarang, mentang-mentang Kania lebih dewasa, wanitanya itu menganggap yang dilakukan kepada dirinya sebagai pelecehan. Hal itu tentu saja membuat Aditya tersinggung. Dia dianggap anak kecil.


"Cukup!"


Seketika Kania menutup rapat bibirnya dan refleks memejamkan matanya.


"Lihat aku!"


Nada bicara Aditya sedikit kencang, membuat hati Kania bergetar. Sebenarnya dia masih canggung dan malu bertatapan langsung dengan Aditya tapi dia juga tahu kalau pria kecilnya itu tidak suka dibantah.


Akhirnya Kania memberanikan diri untuk membuka matanya dan betapa kagetnya dia saat Aditya tiba-tiba mencium bibirnya. Jantungnya pun kembali dibuat berdetak tak karuan.


Setelah lepas dari bibir Kania, bibir Aditya langsung beralih ke leher Kania. Dia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan wanitanya itu. Membuat tanda kepemilikan.


Perasaan Kania campur aduk, dia merasa sakit tapi juga merasa sensasi yang belum penah dia rasakan.


Aditya tersenyum melihat tanda kepemilikan yang dia sematkan di leher Kania lalu dia pun menatap kedua manik indah wanitanya itu.


"Alat reproduksiku bisa membuahi rahimmu saat ini, apa kamu mau membuktikannya?"


Pupil mata Kania melebar. Kedua pipinya memerah. Dia mengerti maksud dari kalimat yang diucapkan Aditya. Tapi dia memilih untuk berpura-pura tidak mengerti.


"A-Apa maksudmu?"


Aditya menyeringai, dia tahu saat ini Kania tengah berpura-pura.


"Hmm... Agak susah kalau jelasin teorinya, mending kita langsung praktek aja!" ucap Aditya antusias.


"P-Praktek?!" pekik Kania.


"Iya, mumpung seragam aku juga masih kebuka." Aditya menaik-turunkan alisnya menggoda Kania.


Kania tersentak, dia baru sadar kalau seragam Aditya masih terbuka setengah sehingga dia bisa melihat dada pria kecilnya itu. Sontak Kania langsung menutup wajahnya yang memerah dengan tangan.

__ADS_1


"Tu-Tutup! Cepat tutup lagi! Nanti kamu bisa masuk angin!" ucap Kania gelagapan.


Masuk angin?


Aditya terkekeh.


"Enak aja, kamu harus tanggung jawab, tadi kamu yang buka berarti kamu yang harus tutup."


Kania menelan salivanya. Dia ingat tadi memang dia yang membuka satu per satu kancing seragam Aditya dan sekarang dia harus memasang kembali kancing-kancing itu.


"Ba-Baiklah, a-aku akan memasang kembali kancingnya," ucap Kania terbata-bata.


Tangan Kania tampak gemetar saat akan menyentuh seragam Aditya.


"Buka dulu mata kamu atau nanti tangan kamu malah pegang yang lain," goda Aditya.


Seketika mata Kania pun terbuka.


"Iiih mesum!" Kania mencubit lengan Aditya.


"Aaaah!"


Suara Aditya yang merintih kesakitan karena dicubit disalah artikan oleh telinga Kania sehingga membuatnya kembali terbayang adegan panas mereka.


"Dasar mesuuumm! Kancing aja sendiri!"


Kania yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa malunya memutuskan untuk kabur.


Aditya malah cekikikan melihat Kania yang tergesa-gesa pergi meninggalkannya.


Padahal kalau dilihat, sebenarnya Aditya yang menjadi korban. Seragamnya yang dibuka setengah dan beberapa tanda kepemilikan di lehernya tapi sang pelaku malah bertingkah seolah Aditya yang menyerangnya.


...****************...


"Kenapa gue bisa melakukan hal seperti itu?! Dan sejak kapan gue jadi mesum kaya gini?!"


Kania melempar tubuhnya ke atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya. Dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelum insiden memalukan itu.


Kania yang tengah mengerjakan skripsinya di perpustakaan merasa matanya semakin lama semakin berat. Dia pun memutuskan untuk istirahat sejenak dan berbaring sebentar di sofa. Tapi lama-kelamaan dia malah tertidur pulas.


Saking pulasnya dia tidak menyadari kedatangan Aditya bahkan saat pemuda itu mengangkat kepalanya, dia sama sekali tidak bergeming. Tidurnya baru terusik saat dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Membuatnya membayangkan Aditya tengah menciumnya saat ini.


Dan selanjutnya dia pun membalas kecupan-kecupan itu lalu terjadilah insiden yang kembali membuat wajahnya memerah.


Dari semua yang terjadi, Kania baru menyadari sesuatu. Matanya membulat sempurna.


"Adityaaaaa!" geram Kania.


...****************...


Aditya berdiri di depan kamar Kania. Dia membawa laptop yang bernasib sama dengannya. Ditinggalkan begitu saja oleh Kania.


...Tok Tok...


Aditya mengetuk pintu kamar itu.

__ADS_1


"Baby! Aku bawa laptop ka--"


...Cklek!...


Aditya terperanjat saat pintu di depannya tiba-tiba dibuka oleh Kania. Matanya berkedip-kedip saat melihat rambut Kania yang berantakan.


"Ba-Baby, kamu kena--"


Kania dengan kasar merebut laptopnya dari tangan Aditya.


"Makasi," ucap Kania ketus lalu akan kembali menutup pintu kamarnya.


"Tunggu!" Aditya dengan cepat menahan pintu kamar Kania.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu marah?"


"Kenapa?"


Aditya pun langsung mendapatkan tatapan tajam dari Kania.


"Jangan pura-pura! Kamu! Gara-gara kamu!" Telunjuk Kania tepat berada di depan wajah Aditya yang tampak kebingungan.


"Gara-gara aku? Emangnya aku kenapa?" tanya Aditya dengan wajah polos.


Kania meremat jari-jarinya. Dia menarik napas lalu menghembuskannya, berusaha menenangkan emosinya yang hampir meledak.


"Kamu! Kenapa kamu menciumku?! Kalau kamu engga menciumku lebih dulu, aku tidak... Hmm... Tidak akan berbuat sesuatu kepadamu!"


Pipi Kania kembali memerah setiap kali mengingat apa yang dia lakukan.


"Emangnya salah mencium pacar sendiri? Kenapa aku yang disalahkan? Lagipula aku cuma menempelkan bibirku tapi kamu malah membalas menciumku."


Meskipun Aditya yang diuntungkan dengan serangan yang dilakukan Kania tapi dia tetap tidak terima dirinya disalahkan.


Kania terdiam, dia tidak bisa membalas ucapan Aditya. Dia baru ingat saat itu bibir Aditya memang cuma menyentuh bibirnya tapi dia lah yang mencium bahkan ******* dengan ganas bibir pria kecilnya itu.


Rona merah dipipi Kania menjalar ke seluruh wajahnya. Dia kembali merasa malu dengan perbuatannya sendiri.


"Tetap aja kamu yang salah! Pokoknya kamu salah!"


Kania mendorong Aditya agar menjauh dari ambang pintu kamarnya lalu menutup pintu itu dengan kencang.


...Braak!...


Aditya pun cuma bisa mengurut dada mendapat perlakuan seperti itu dari wanita yang dia cintai.


"Untung cinta!"


Aditya menghela napas panjang.


"Sabar sabar... Emang udah kodratnya wanita selalu benar."


...****************...


Ya ampuuuuuuun bikin satu cerita aja sampe berhari-hari!!! 😭

__ADS_1


Maaf ya guys!


Love youuuu ❤️❤️❤️


__ADS_2