
Permata menghela napas panjang saat melihat jam yang tergantung di dinding ruang tengah.
Jam setengah delapan tapi kedua anaknya belum juga ada yang datang malah suami tercinta yang datang menghampirinya.
"Ada apa istriku?" tanya Hendra saat melihat istrinya yang tampak gelisah.
"Aditya dan Kania belum juga turun padahal ini udah jam setengah delapan, sementara acara pengambilan rapotnya jam delapan."
"Sabar, sebentar lagi juga mereka turun, Mas berangkat ya."
Seperti biasa, sebelum Hendra berangkat kerja Permata selalu merapikan penampilan sang suami lalu dibalas dengan kecupan dikeningnya.
Kania yang tadinya akan menghampiri Permata langsung menghentikan langkahnya. Dia terkesima melihat interaksi antara ayahnya dengan ibu tirinya. Sebuah senyuman pun terukir dibibirnya.
Dan saat Kania tengah memperhatikan momen yang menurutnya manis itu sebuah tangan tiba-tiba merangkul pundaknya dari belakang sehingga membuatnya terperanjat.
"Jangan iri Baby, aku juga bisa cium kening kamu." Aditya pun mencium kening Kania.
"Aaa!" pekik Aditya kesakitan saat mendapat cubitan dari Kania diperutnya.
"Sakit Baby~ tega banget sih~" rengek Aditya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ih kamu tuh ya main cium-cium aja! Gimana kalau Ayah atau Mami lihat?!" Kania sengaja menurunkan volume suaranya agar tidak terdengar ayah atau ibu tirinya yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya.
"Kenapa harus malu cium calon istri sendiri? Lagian aku cuma cium kening kamu bukannya...."
Aditya memegang bibir ranum kekasihnya yang masih terlihat sedikit bengkak.
Kania berusaha tetap tenang meskipun saat ini jantungnya kembali dibuat dag dig dug oleh pria kecilnya yang sudah tidak tahu malu itu.
"Ka-Kamu mau apa?" tanya Kania gugup saat wajah Aditya semakin mendekati wajahnya.
Melihat kegugupan Kania membuat Aditya semakin ingin menggoda gadis pujaan hatinya itu.
"Aku mau...."
Mata Kania terpaku menatap bibir tipis Aditya yang semakin lama semakin dekat.
...Glek...
Kania menelan salivanya, entah kenapa meskipun tahu disana ada ayah dan ibu tirinya tapi dia tidak bisa menolak dan tanpa sadar matanya pun terpejam.
Ternyata gadis pemalu itu sudah tercemar dengan kemesuman kekasihnya.
"Pfftt!!" Aditya menahan tawanya saat melihat reaksi Kania.
Ya ampun pacar gue polos banget, dia pikir gue beneran mau cium dia.
Merasa ada yang aneh, Kania pun langsung membuka matanya kembali dan melihat Aditya yang tengah menahan tawa.
Sial! Dia ngerjain gue! Awas ya!
"Aaa!" Aditya menjerit kesakitan saat kakinya diinjak Kania.
Dan suara jeritan Aditya pun berhasil mengalihkan perhatian Hendra dan Permata.
"Baby, kamu tega banget sih! Ini tuh namanya KDRT!"
"KDRT? Emangnya kamu tahu singkatan KDRT itu apa?"
"Tahu lah! Kekerasan di dalam rumah tangga."
"Terus apa hubungannya sama aku injek kaki kamu? Kita belum berumah tangga jadi aku gak melakukan KDRT dong."
Kania mengibaskan rambutnya lalu dengan cuek dia pun pergi meninggalkan Aditya.
Udah punya Mami bar-bar sekarang calon istri juga bar-bar, nasib gue gini amat huuhh....
__ADS_1
"Ayah mau berangkat kerja ya." Kania mencium punggung tangan ayahnya.
"Iya, tapi tadi Aditya diapain sama Kakak sampai teriak kaya gitu."
"Kakak gak ngapa-ngapain Yah, dia aja yang heboh sendiri." Kania melirik kearah lain, dia tidak berani menatap Hendra.
Melihat gelegat Kania, Hendra tahu kalau putrinya itu sedang mengelak.
"Kak, apa Ayah atau Nenek pernah ngajarin Kakak berbuat kasar?"
Kania langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Engga Yah... Maaf...." jawab Kania lirih.
"Harusnya Kakak minta maaf ke Aditya bukan Ayah."
"Mas, aku yakin pasti Aditya yang bikin Kania kesel duluan, iya kan Sayang?"
Permata yang tahu kelakuan putranya memaklumi tindakan Kania bahkan dia mendukung calon menantunya itu.
Aditya kembali mengelus dada karena tidak dibela ibu kandungnya sendiri.
Jangan-jangan gue anak pungut.
"Kak Kania gak salah, emang tadi Aditya duluan yang bikin Kak Kania kesel."
Aditya tidak tega melihat kekasihnya itu bersedih karena ditegur calon ayah mertuanya.
"Maaf ya Baby udah bikin kamu kesel tadi."
Kania tersentuh dengan sikap gentle Aditya dan tanpa Aditya sadari sikapnya itu yang membuat Kania semakin mencintainya.
"Aku juga minta maaf ya."
Aditya dan Kania pun saling melempar senyuman manis mereka.
"Ehem!" Permata sengaja berdehem agar dua sejoli itu menyudahi keromantisan mereka.
Sedangkan Aditya, pemuda itu menggerutu dalam hati karena maminya sudah mengganggu momen manisnya dengan sang pujaan hati.
"Ayo Mas kita sama-sama ke depan, aku juga mau berangkat ke sekolahnya Aditya."
Permata memeluk lengan Hendra dan mengajak suaminya itu pergi meninggalkan ruang tengah.
"Kania juga ikut?" tanya Hendra sambil berjalan bersama istrinya ke pintu depan.
"Iya, aku minta ditemani Kania ke sekolah, kenapa?"
Permata melepas lengan Hendra saat mereka sudah berada di teras depan rumah.
"Gak apa-apa, Mas berangkat ya, kalian hati-hati." Sekali lagi Hendra mencium kening istrinya.
"Iya, Mas juga hati-hati."
Hendra tersenyum lalu masuk ke dalam mobil yang biasa mengantarkannya ke kantor.
Sebenarnya mobil peninggalan almarhum Pak Damar ada tiga tapi Hendra sadar kalau mobil-mobil itu milik Aditya sebagai ahli waris bukan miliknya jadi dia tidak mau menggunakan mobil itu dan memilih mobil pribadinya sendiri hasil dari kerja kerasnya selama bekerja di perusahaan.
Saat melihat majikannya sudah berada di dalam mobil, sang supir pun segera melajukan mobil itu meninggalkan pelataran depan rumah.
Setelah mobil Hendra pergi, mobil yang akan mengantar Permata pun datang dan berhenti di depan wanita itu.
"Kania, ayo kita berangkat."
"Mami aja, Kak Kania bareng aku naik motor."
"Ayo Baby!" Aditya langsung menggandeng tangan Kania dan membawa kekasihnya itu pergi menuju motor sport nya.
__ADS_1
"Aditya! Hati-hati bawa motornya! Jangan ngebut! Awas ya kalau sampai Kania kenapa-napa!" teriak Permata saat Aditya pergi begitu saja membawa calon menantunya.
"Dasar anak itu, selalu semaunya sendiri! Huh!"
Setelah menggerutu tentang putranya sendiri, Permata pun masuk ke dalam mobil.
"Baby helm kamu."
"Makasi." Kania mengambil helm yang diberikan Aditya dan memakainya.
Aditya pun juga memakai helmnya dan tidak lupa sarung tangan lalu dia menyalakan mesin motor.
Setelah Aditya duduk di atas motornya baru lah Kania menginjak pijakkan besi dan sambil mencengkram pundak Aditya, dia pun naik dan duduk di bagian belakang motor sport itu.
Aditya menutup kaca helmnya dan sedikit menoleh ke belakang.
"Pegangan Baby."
Kania sudah hapal kalau Aditya memintanya pegangan berarti pria kecilnya itu akan melajukan motornya diatas 100 km/jam.
"Kamu gak denger tadi Mami bilang apa? Jangan ngebut!"
"Tenang aja Baby, aku gak ngebut."
"Bohong! Emangnya aku gak tahu, kamu kalau udah bilang 'Pegangan Baby' itu berarti kamu bakal ngebut."
Aditya tertawa kecil, ternyata kekasihnya sudah paham maksud ucapannya.
"Iya aku gak ngebut tapi kamu harus peluk aku!"
"Biasanya juga aku peluk kamu." Kania melingkarkan tangannya di perut Aditya.
"Masa? Kalau aku gak ngebut, kamu juga akan peluk aku?"
"Kamu kenapa sih? Aku akan selalu peluk kamu."
"Waktu itu engga, kamu cuma pegang jaket aku aja, setelah aku ngebut kamu baru mau peluk aku."
"Waktu itu?"
"Waktu pertama kali aku nganterin kamu pulang setelah bantuin Kak Ratna jualan soto, ingat?"
"Ooo waktu itu kan aku baru kenal sama kamu jadi masih canggung, masa aku main peluk-peluk aja, nanti kamu pikir aku cewek gampangan."
"Lagian kalau aku naik ojek online, aku malah gak pegangan sama tukang ojeknya, risih," sambung Kania.
"Tapi akhirnya kamu peluk aku juga, kan?" goda Aditya.
"Terpaksa! Karena waktu itu kamu tiba-tiba ngebut! Aku takut banget, sepanjang jalan aku berdoa terus semoga selamat sampai di rumah."
"Berarti selama ini doa kamu selalu dikabulkan Baby, kalau gitu kamu harus berdoa supaya kita bisa cepat dapat anak!"
"Aaa!" pekik Aditya kesakitan saat Kania kembali mencubit perutnya.
"Kamu nih sembarang! Nikah aja belum udah minta anak! Lihat, mobil Mami udah pergi daritadi! Ayo cepat jalan nanti kita telat!"
"Iya iya galak banget sih."
"Tapi cinta, kan?"
"Iya, cintaaaa banget!" Aditya mengambil satu tangan Kania lalu menciumnya.
"Gombal, cepat jalan." Kania berusaha tetap tenang padahal kedua pipinya saat ini sudah memerah.
"Siap laksanakan Ratu ku!"
Aditya pun sedikit membungkukkan badannya dan melajukan motor sport nya meninggalkan garasi.
__ADS_1
Sementara gadis yang duduk di belakang motor tampak senyum-senyum, sepertinya dia baper saat disebut ratu oleh kekasihnya itu.
...****************...