
Selain sukses mengalihkan keingintahuan Kania tentang Keisya, Aditya juga berhasil menggagalkan rencana Hendra yang ingin membawanya ke dokter.
Aditya tahu Hendra dan Permata pasti akan tetap memaksanya ke dokter jadi dia segera mencari rumah sakit terdekat dari restoran itu lalu membuka website rumah sakit untuk mengecek jadwal praktek dokter yang bertugas, mulai dari dokter umum bahkan sampai dokter spesialis pencernaan atau dokter gastroenterologi.
Ternyata dokter yang berkemungkinan memeriksanya tidak ada jadwal hari ini. Aditya pun tersenyum dalam hati, sepertinya keberuntungan sedang berada dipihaknya saat ini jadi dia dengan mudah membujuk Permata untuk tidak membawanya ke dokter, setidaknya dia aman hari ini, entah kalau besok, Aditya akan mencari cara agar Permata maupun Hendra tidak berpikir lagi membawanya ke dokter.
Karena tidak jadi membawa Aditya ke dokter, Hendra melajukan mobilnya menuju rumah.
...****************...
Sesampainya di rumah, mereka segera naik ke lantai atas dan masuk ke kamar masing-masing.
Di dalam kamar, entah kenapa Kania merasa janggal, seperti ada sesuatu yang dia lupakan.
"Lupa apa ya? Handphone? Ada. Tas? Juga ada. Terus apa? Hmm...," gumam Kania.
Saat Kania tengah kembali mengingat-ingat, dia merasa kebelet ingin buang air kecil.
"Pipis dulu, siapa tahu setelah pipis gue inget."
Kania pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Kania tidak hanya buang air kecil tapi dia juga sekalian menyegarkan badannya.
Setelah hampir 20 menit, Kania keluar hanya dengan memakai kimono handuk berwarna putih dan saat dia akan berjalan ke lemari tiba-tiba dia ingat apa yang dia lupakan.
"Ah! Gue inget! Tadi kan gue mau nanya soal perempuan yang ada di toilet restoran sama Aditya! Kenapa gue bisa lupa?!" Kania menepuk jidatnya sendiri.
"Gue harus tanya sekarang, mumpung inget, kalau besok gue bisa lupa lagi entar."
Kania membuka lemari lalu mengambil piyama atas bawah berbahan katun dengan warna biru pastel bermotif kartun teddy bear.
Setelah memakai piyamanya, Kania pun bergegas keluar dari kamar.
...****************...
Kania yang sudah tidak sabar ingin mengetahui soal perempuan itu langsung membuka pintu kamar Aditya.
...Cklek!...
"Aditya, aku--"
Mata Kania membulat sempurna saat melihat dengan JELAS bagian atas tubuh Aditya.
Ternyata saat Kania membuka pintu kamar, Aditya baru keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk melilit dipinggangnya.
Kalau tadi Kania cuma bisa membayangkan roti sobek saat memegang perut Aditya, sekarang dia benar-benar bisa melihat secara langsung roti sobek diperut Aditya.
__ADS_1
Kedua pipi Kania merona. Dia bersusah payah menelan salivanya dan mengatur detak jantungnya yang tidak karuan saat ini.
Meskipun awalnya Aditya sempat kaget dengan kedatangan Kania yang tiba-tiba tapi saat melihat ekspresi Kania, dia jadi ingin menggoda wanitanya itu.
Kania semakin kesusahan mengendalikan detak jantungnya saat Aditya berjalan mendekatinya. Tubuhnya seperti membeku di tempat, tidak bisa digerakan.
Semakin Aditya mendekat, Kania juga semakin jelas melihat roti sobek diperut Aditya.
Ya Tuhaaaaan! Ini cobaan atau nikmat? Kalau ini cobaan maka maafkan hamba tapi kalau ini nikmat maka hamba bersyukur bisa melihat keindahan dari salah satu ciptaanmu.
Saat Kania tengah memandangi roti sobek yang sudah mengoyahkan keimanannya itu.
Aditya malah berjalan melewati Kania lalu menutup pintu kamarnya.
Sontak Kania pun terperanjat dan langsung salah tingkah bahkan bukan hanya kedua pipinya yang merah tapi seluruh wajahnya sekarang memerah.
Kania merasa panas padahal AC di dalam kamar itu berfungsi dengan baik.
"A-AC kamar kamu mati ya?"
Aditya berusaha tidak tertawa saat mendengar suara Kania yang bergetar.
"ACnya nyala koq," jawab Aditya disertai senyum seringainya.
Entah sudah berapa kali Kania harus menelan salivanya saat kedua matanya yang tidak tahu malu mengarah ke roti sobek milik Aditya.
Stop Kania! Jangan dilihat lagi! Inget dosa! Dosa! Tapi... Gak boleh juga nolak rejeki. Aaah! Terus gue harus gimana?!
Melihat tingkah Kania membuat Aditya tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Hahahaha."
Perasaan Kania campur aduk, dia malu tapi juga kesal karena Aditya menertawakannya.
Aditya berhenti tertawa lalu berjalan dan mengikis jarak diantara mereka.
Meskipun perut Aditya masih four pack tapi tetap terlihat sexy apalagi nanti saat roti sobek diperut Aditya bertambah dua, mungkin hidung Kania bisa langsung mimisan.
"Kalau mau lihat, lihat saja, aku gak masalah," bisik Aditya.
Jantung Kania seakan berhenti berdetak dan lepas dari tempatnya.
Saat ini Aditya begitu dekat berdiri di depan Kania sampai membuat Kania bisa mencium wangi dari sabun cair yang dipakai Aditya.
Wanginya seger banget...
Tanpa Kania sadari sudut bibirnya melengkung keatas.
__ADS_1
Meskipun wajah Kania tertutup tangan tapi Aditya tahu kalau wanitanya itu tengah tersenyum.
"Baby~ perut aku gak enak, perlu diusap-usap lagi sama kamu."
Aditya meraih tangan Kania lalu menempelkan tangan wanitanya itu diperutnya. Ya, langsung diperutnya!
Beruntung jantung Kania masih kuat karena kalau tidak mungkin saat ini Kania sudah terkena serangan jantung.
Astagaaa!! Perutnya! Perutnya terasa kencang dan kotak-kotak ini....
Kesadaran Kania kembali hilang, tangannya yang sedikit gemetar mulai meraba-raba perut Aditya.
Sentuhan dingin dari tangan Kania membuat Aditya harus mempertahankan akal sehatnya karena sedikit saja dia lengah maka dia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk menerkam kelinci kecil di depannya.
"Baby." Suara Aditya terdengar lebih berat.
Mata mereka pun bertemu saat Kania mengangkat wajahnya.
Untuk beberapa saat mereka pun saling bertatapan. Mata Aditya terlihat sayu, dia benar-benar berusaha menahan hasratnya sebagai seorang laki-laki saat ini.
Mereka pun terbawa suasana dan saling mendekatkan wajah sampai bibir mereka akhirnya saling menempel.
Awalnya memang hanya menempel tapi berubah menjadi kecupan lalu ******* apalagi saat Aditya mulai memeluk erat pinggang Kania dan menekan tengkuk belakang wanita itu sehingga membuat ciuman mereka semakin dalam.
Semakin lama ciuman mereka pun semakin panas mengalahkan dinginnya AC. Saat ini mereka melakukan french kiss yang membuat lidah mereka saling beradu dan bermain-main didalam mulut masing-masing.
Aditya segera mengakhiri ciuman mereka, bukan karena kehabisan napas tapi dia merasa sesuatu di bawah sana yang hanya tertutup handuk sudah gelisah.
"Pe-Perut aku mules!"
Aditya pun bergegas ke kamar mandi meninggalkan Kania yang masih berdiri mematung di tempat itu.
Wajah Kania kembali memerah saat mengingat ciumannya dengan Aditya.
Astaga! Hampir aja tadi gue lepas kendali! Sadar Kania! Sadar! Belum waktunya buat begitu begitu! Mesum!
Kania menepuk jidatnya berkali-kali lalu memutuskan keluar dari kamar Aditya.
Bahkan Kania sampai lupa tujuannya datang ke kamar Aditya gara-gara roti sobek dan ditambah ciuman panas yang dia lakukan dengan kekasihnya yang belum genap 18 tahun.
Di dalam kamar mandi, Aditya sengaja berendam di dalam bathtub dengan air dingin untuk menenangkan bagian bawahnya yang tadi sempat gelisah.
Sebenarnya Aditya bisa saja "melakukannya" sendiri tapi dia tidak mau membuang-buang bibit super premiumnya.
Bibitnya nanti harus ditanam diladang subur Kania agar menghasilkan buah berkualitas super premium juga.
"Gila, tadi hampir aja, untung otak gue masih bisa nahan kalau engga? Huuh...."
__ADS_1
"Cuma perlu nunggu dua minggu lagi dan semuanya bakal jadi milik gue termasuk My Baby~"
...****************...