Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Keromantisan Pengantin Baru


__ADS_3

Matahari mulai tenggelam, digantikan bulan yang melengkung dengan indahnya di langit.


Sepasang suami istri yang baru merasakan nikmatnya surga dunia akhirnya keluar dari kamar mandi setelah dua kali mengulangi aktivis panas mereka.


Sang suami mengangkat istrinya ala bridal style lalu membaringkannya dengan lembut ke tempat tidur.


"Maaf Baby, gara-gara aku tidak bisa menahan diri kamu jadi seperti ini...," lirih Aditya menatap nanar istrinya. Dia merasa bersalah karena sudah membuat istrinya tidak berdaya.


Memang durasi aktivitas panas mereka tidak lama karena keduanya sama-sama cepat mencapai puncak tapi kalau mereka melakukannya berkali-kali tentu membuat tenaga mereka terkuras juga.


Selain faktor stamina, penyebab Kania tidak bisa berjalan sampai diangkat suaminya adalah karena bagian sensitifnya yang terasa ngilu.


Kania tersenyum lalu mengusap lembut pipi suaminya yang tampak sendu.


"Aku tidak apa-apa Honey, cuma bagian sensitif aku yang masih ngilu."


"Maaf... Padahal ini pengalaman pertama kamu tapi aku malah--"


"Tidak Honey, jangan minta maaf karena aku... Aku juga... Menginginkannya...," cicit Kania pelan. Dia pun langsung menutupi wajahnya yang memerah dengan tangan.


Ada perasaan bangga yang dirasakan Aditya saat mendengar penyataan istrinya. Meskipun tidak bisa lama tapi dia bisa memuaskan istrinya bahkan membuat sang istri menginginkannya lagi.


"Apa kamu masih ingin melakukannya?," goda Aditya.


Kania tersentak, dia malu sekali. Kenapa dia bisa mengatakan hal memalukan dan semesum itu?


"Bagaimana Baby? Mau dipuaskan lagi?" bisik Aditya tepat di telinga Kania yang juga memerah.


Badan Kania seperti tersengat listrik saat telinganya dikecup lalu digigit pelan Aditya.


"Bu-Bukan begitu maksudku!"


Kania mendorong wajah Aditya lalu menutupi kepalanya dengan selimut.


Aditya tertawa kecil, selain senang bisa menggoda istrinya dia juga lega karena istrinya baik-baik saja.


Tadinya Aditya sempat khawatir saat menemukan artikel tentang trauma pasca berhubungan intim. Dia tidak mau Kania sampai mengalami trauma setelah mereka melakukannya.


"Yakin gak mau?" Aditya masih menggoda istrinya yang bersembunyi di dalam selimut.


"....." Kania terdiam.


"Baby? Koq diem aja?"


"Maaf Honey...," lirih Kania dari dalam selimut.


"Maaf? Maaf untuk apa Baby?"


"Maaf... Kalau kamu masih ingin melakukannya aku gak bisa... Bukannya aku menolak tapi... Aku benar-benar tidak sanggup lagi melakukannya...."


Mendengar suara sedih Kania membuat Aditya tidak tega untuk menggoda istrinya itu lagi tapi saat dia ingat kalimat terakhir yang diucapkan sang istri membuatnya terkekeh.


...".... Aku benar-benar tidak sanggup lagi melakukannya."...


Pernyataan istrinya itu membuat Aditya kembali bangga dengan dirinya karena istrinya sendiri mengakui keperkasaannya sebagai laki-laki meskipun resikonya membuat badan sang istri kesakitan.


"Tidak perlu minta maaf Baby, aku cuma becanda." Aditya mencium pucuk kepala Kania yang tertutup selimut.


"Kita makan malam di kamar aja ya, aku akan ambil makanannya."


Aditya beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar itu.


Saat mendengar pintu ditutup, Kania membuka selimut yang menutupi kepalanya lalu melihat kearah pintu sambil senyum-senyum. Pipinya memerah saat dia teringat aktivitas panasnya bersama sang suami.


"Ish! Dasar mesum!" gumam Kania terkekeh.


...****************...


Saat Aditya baru keluar dari kamar, dia berpapasan dengan maminya.


"Menantu Mami mana?" tanya Permata menghampiri Aditya.


"Lagi istirahat."

__ADS_1


"Istirahat? Hmm." Permata melirik curiga ke putranya itu.


"Kenapa Mami liat aku kaya gitu?"


"Kamu... Sudah melakukannya?" tanya Permata dengan suara pelan.


Aditya langsung mengerti maksud pertanyaan maminya. Dia pun kembali teringat dengan aktivitas panas yang dia lakukan bersama istrinya bahkan suara seksi istrinya masih terngiang-ngiang di telinganya.


Tanpa mendengar jawaban putranya Permata sudah tahu kalau putranya memang sudah melakukannya dengan Kania.


"Emangnya kamu bisa?" tanya Permata meremehkan.


Aditya pun langsung melirik tajam maminya lalu tersenyum sinis.


"Mami tanya sendiri aja menantu Mami, apa aku bisa atau tidak? Aku mau ambil makanan dulu untuk istri gemoy aku~" Aditya pun beranjak pergi dan turun ke lantai bawah.


Mendengar ucapan putranya membuat Permata penasaran. Dia pun membuka pintu kamar putranya dan begitu masuk dia melihat menantunya sedang terbaring di tempat tidur.


"Sayang, kamu gak apa-apa?" tanya Permata yang sekarang sudah duduk di pinggir tempat tidur.


Pertanyaan Permata terjawab saat melihat menantunya yang sedikit kesusahan untuk bangun.


"Berbaring saja tidak apa-apa, Mami tahu badan kamu pasti sakit semua terutama bagian sensitif kamu."


Kania tersentak mendengar ucapan ibu mertuanya yang to the point. Pipinya pun memerah saking malunya.


Permata tertawa kecil melihat menantunya yang salah tingkah.


"Apa tadi Aditya bermain kasar?" Permata sedikit menggoda menantunya.


"Be-Bermain kasar? Ka-Kania tidak mengerti."


Permata kembali tertawa kecil melihat menantunya yang gelagapan dan semakin salah tingkah.


"Berapa ronde tadi?" tanya Permata tersenyum jahil.


Sebagai wanita yang sama-sama sudah menikah, Kania tentu mengerti maksud dari pertanyaan ibu mertuanya.


Sungguh, saat ini Kania malu sekali. Rasanya dia ingin kembali bersembunyi di dalam selimutnya.


Tawa Permata pun pecah, dia puas bisa menggoda menantunya.


...****************...


Saat ini Aditya sudah berada di dapur dan meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam untuknya dan juga istrinya.


Setelah pelayan selesai meletakkan makanan di atas nampan, Aditya lalu mengambil alih nampan itu dari pelayannya. Dia ingin membawa sendiri makanan untuk istri gemoynya.


Dengan hati-hati Aditya menaiki tangga dan saat sampai di lantai atas dia pun langsung berjalan menuju kamarnya.


kedua tangan Aditya digunakan untuk memegang nampan lalu bagaimana dia bisa membuka pintu kamarnya?


Sebenarnya Aditya bisa saja meminta istrinya untuk membuka pintu tapi apa dia tega? Mengingat sang istri yang terbaring lemas karena ulahnya.


Aditya menghela napas, tiba-tiba dia ingat maminya yang tadi sempat berbincang dengannya.


"Mami ada di dalam gak ya?" gumam Aditya.


Setelah menimbang-nimbang akhirnya Aditya memanggil maminya dan meminta untuk dibukakan pintu.


...Cklek...


Ternyata benar, maminya memang ada di dalam. Ini membuktikan kalau perhitungan Aditya tidak pernah salah atau meleset.


Aditya segera masuk ke dalam kamarnya lalu meletakkan nampan yang dia bawa ke atas nakas samping tempat tidur.


"Apa Mami masih meragukan putra Mami?" tanya Aditya sambil tersenyum sinis kepada maminya.


"Ya, ya, Mami tidak meragukanmu lagi, tapi jangan digempur terus menantu Mami, badannya pasti sakit semua karena kamu gempur terus."


"Kan biar Mami cepat dapat cucu," celetuk Aditya terkekeh.


"Gak usah buru-buru kecuali kamu sudah siap berbagi waktu dan perhatian dengan anakmu nanti."

__ADS_1


"....." Aditya terdiam memikirkan ucapan maminya.


Benar, kalau nanti aku punya anak pasti perhatian istriku akan terbagi dan aku tidak punya waktu berduaan lagi dengannya.


Permata tertawa kecil saat melihat kegelisahan di wajah putranya.


"Tapi itu terserah kalian, kalau kalian mau cepat punya anak Mami gak masalah, semakin cepat semakin banyak juga kalian kasi cucu buat Mami."


Kania menelan salivanya kasar mendengar ucapan ibu mertuanya.


Banyak cucu?!!


"Ya sudah kalian makan dulu, kalian pasti lapar kan habis olahraga berdua," ucap Permata sambil mengerlingkan mata ke menantunya yang sudah meringsut ke dalam selimut.


"Aditya inget ya, setelah makan kamu gak boleh minta menantu Mami olahraga lagi, biarkan dia istirahat, dengar gak?!" ancam Permata.


"Iya Mi, denger." Tapi gak janji hehe.


Permata tidak begitu saja percaya dengan ucapan putranya itu.


Setelah maminya pergi, Aditya membantu istrinya yang sedikit kesulitan untuk bangun sampai istrinya itu terduduk di tempat tidur.


"Baby, makan dulu ya, aaaaa." Aditya menyodorkan sendok yang berisi nasi juga lauk ke mulut Kania.


"Aku bisa makan sendiri," tolak Kania.


"Engga boleh, aku akan menyuapimu, ayo makan, aaaaaaa~"


Percuma saja, kalau soal keras kepala suaminya itu memang lebih unggul darinya jadi lebih baik Kania mengalah dan menerima suapan nasi dari suaminya.


"Cuma satu piring? Terus kamu?" tanya Kania saat melihat tidak ada piring lagi di atas nampan.


"Satu piring berdua, bukannya ini romantis istriku." Aditya mengerlingkan matanya menggoda sang istri.


Kania hampir saja menyemburkan makanan dari dalam mulutnya.


"Ada apa Baby?" Aditya tertawa kecil.


Kania yang sadar sedang dikerjai suaminya memasang wajah cemberut lalu terbesit ide untuk membalas suaminya.


Suamiku bilang sepiring berdua romantis, baiklah kita lihat apa romantis bisa buat dia kenyang?


Entah kenapa perasaan Aditya tidak enak saat melihat istrinya tersenyum.


"Koq berhenti sih Honey, aaaaa~" Kania membuka mulutnya meminta Aditya menyuapinya lagi.


Setelah menyuapi istrinya, Aditya pun bermaksud menyuapi dirinya sendiri tapi sebelum makanan itu masuk ke dalam mulutnya sang istri sudah meminta disuapi lagi.


"Honey~ suapi lagi~ aaaaa."


Mau tak mau Aditya harus merelakan makanannya masuk ke dalam mulut istrinya.


Kania tertawa dalam hati karena berhasil membalas mengerjai suaminya.


Setelah menyuapi istrinya, Aditya kembali menyendok nasi tapi baru saja dia membuka mulut untuk makan sang istri sudah meminta disuapi lagi.


Terus seperti itu sampai nasi yang ada dipiring tinggal setengah.


"Apa istriku sudah puas mengerjai suaminya?" tanya Aditya yang dibalas senyuman lebar dan anggukkan dari istrinya.


Saat kali kedua Kania menggagalkan dirinya untuk makan, Aditya sadar kalau istrinya itu sedang membalas mengerjainya dan membiarkan istrinya melakukan itu.


"Boleh aku makan sekarang?"


"Boleh tapi gantian, sekarang aku yang menyuapimu." Kania merebut piring dari Aditya.


"Ayo buka mulutmu Honey, aaaaa~"


Aditya tersenyum lalu melahap nasi yang disuapkan istrinya.


Besok akan ada kejutan untuk semua orang.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2