
Hendra naik ke lantai atas lalu berjalan menuju pintu yang terlihat sedikit terbuka.
Dari luar samar-samar Hendra mendengar isak tangis dari pemilik kamar.
Sebelum masuk, Hendra lebih dulu mengetuk pintu meskipun pintu itu sudah terbuka.
Mendengar ketukan pintu membuat Aditya sedikit tersentak dan semakin meringkuk di sofa.
Hendra berjalan menghampiri Aditya dan duduk di samping anak laki-laki yang sekarang berstatus sebagai anak tiri sekaligus pacar anaknya.
"Aditya, Apa kamu tahu? Ini pertama kalinya Kania menangis di depan Om."
Kak Kania... menangis?
Meskipun Aditya menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya yang terangkat tapi telinganya tetap mendengarkan setiap kata yang diucapkan Hendra.
"Aditya, Om yakin pasti selama ini kamu juga belum pernah melihat Kania menangis, benar kan?"
Hm.. Om benar, selama pacaran aku tidak pernah melihatnya menangis...
"Tapi bukan berarti Kania tidak pernah menangis meskipun di depan semua orang dia terlihat tegar tapi Om tahu saat tidak ada siapapun, Kania akan mengeluarkan kesedihannya dan menangis sendirian."
Perlahan Aditya mengangkat wajahnya.
"Apa kamu bisa beritahu Om apa yang terjadi?"
...****************...
Sementara itu di ruang tengah, Kania sudah lebih tenang.
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Permata sambil mengelus kepala Kania.
Beberapa saat Kania diam lalu dia pun mulai membuka mulutnya.
"Aditya mengusir ku, dia bilang engga mau melihat ku lagi...," jawab Kania lirih.
"Mengusirmu? Hm... Mami yakin Aditya tidak bermaksud seperti itu, dia mengatakannya karena sedang emosi saja."
"Tapi apa masalahnya? Koq Aditya sampai bisa mengatakan hal itu sama kamu," lanjut Permata.
Kania menghela napas lalu mulai menceritakan yang terjadi dengannya dan Aditya saat mereka bertengkar di dalam kamar beberapa menit yang lalu.
...****************...
Sama halnya dengan Kania, Aditya juga sedang menceritakan yang terjadi kepada Hendra.
Setelah mendengar cerita Aditya, Hendra mengerti kalau Aditya dan Kania hanya berbeda pendapat.
Menurut Aditya, dia tidak salah memanggil pelayannya dengan cara berteriak karena sejak kecil memang seperti itu cara dia memanggil pelayan di rumahnya dan selama itu juga tidak ada yang menegurnya dan bilang kalau yang dia lakukan tidak sopan.
Sedangkan menurut Kania yang dilakukan Aditya tidak sopan karena saat dia masih kecil, dia pernah ditegur neneknya karena berteriak memanggil ayahnya. Neneknya bilang kalau itu tidak sopan dan meminta Kania untuk tidak mengulanginya lagi.
__ADS_1
Neneknya Kania memang orang yang tegas, meskipun Kania anak tunggal dan cucu satu-satunya tapi dia tidak pernah terlalu memanjakan Kania, kalau Kania salah maka Neneknya tidak segan-segan menghukumnya.
Berbeda dengan Aditya yang terbiasa dimanjakan oleh Permata dan almarhum suaminya bahkan saat Aditya berbuat salah, tidak ada yang benar-benar menegurnya dengan tegas, alasannya karena mereka tidak tega melihat Aditya menangis padahal pola didik seperti itu yang membuat Aditya jadi selalu "membenarkan" perbuatannya.
"Sudah berakhir... Kak Kania pasti membenci ku sekarang...," ucap Aditya lirih sambil memeluk erat kedua lututnya.
"Menurut Om kamu masih punya kesempatan."
"Kesempatan? Maksud Om?"
"Coba kamu ingat, apa Kania bilang kalau dia benci sama kamu dan tidak mencintaimu lagi?"
Aditya berpikir sejenak dan mengingat kembali pertengkarannya dengan Kania.
"Engga Om tapi... Kak Kania bilang dia udah gak tahan lagi sama aku...." Wajah Aditya kembali lesu.
"Apa kamu tahu kenapa Kania mengatakan hal itu?"
"Mungkin karena Kak Kania tidak mencintaiku lagi...," jawab Aditya lirih.
"Om yakin bukan itu alasannya, coba kamu introspeksi dan tanya diri kamu sendiri kenapa Kania bisa mengatakan hal itu."
"Engga perlu Om, aku tahu aku salah, maaf udah bikin anak Om menangis," ucap Aditya sedikit ketus.
"Om minta kamu introspeksi diri bukan untuk menyalahkanmu tapi karena Om peduli dengan kalian, Om engga mau hubungan kalian berakhir cuma karena emosi sesaat."
"Lagipula tidak ada salahnya introspeksi diri, kita jadi bisa memperbaiki kekurangan dalam diri kita dan menjadi individu yang lebih baik."
"Aditya, penyesalan selalu datang terlambat dan Om paling mengerti hal itu, Om gak mau kamu juga mengalaminya."
Setelah menepuk-nepuk pundak Aditya, Hendra pun beranjak dari sofa lalu pergi meninggalkan kamar itu.
Aditya cuma diam, matanya menerawang ke depan. Dia tidak tahu harus bagaimana karena selama ini dia selalu merasa perbuatannya" benar" dan sekarang dia diminta introspeksi dirinya sendiri. Mencari kekurangan yang selama ini dia tidak hiraukan.
...****************...
Di ruang tengah Kania terlihat meluapkan semua unek-uneknya yang selama ini dia pendam tentang Aditya di depan Permata.
"Kania kurang sabar gimana lagi Mi? Padahal selama ini Kania udah selalu ngalah dan ikutin kemauan Aditya yang suka seenaknya!"
"Dia juga egois, keras kepala, tukang ngambek! Masa Mi, Kania cuma telat balas chat dua menit aja dia langsung ngambek!"
"Dia maunya Kania selalu pegang handphone 24 jam, emangnya dia pikir Kania engga punya kerjaan?!"
Kania sampai meremas dress selututnya karena saking geregetannya dengan tingkah Aditya.
"Kania, maaf ya selama ini Aditya ternyata udah ngerepotin kamu dan bikin kamu sakit hati," ucap Permata sambil memegang tangan Kania.
Kania baru tersadar kalau dia sedari tadi sudah membicarakan kejelekkan Aditya di depan ibu Aditya sendiri dan itu membuatnya jadi merasa tidak enak.
"E-Engga Mi, Aditya engga selalu nyebelin koq," ucap Kania canggung.
__ADS_1
"Mami akui sifat Aditya yang kamu sebutin tadi karena kesalahan Mami dan almarhum Papinya yang tidak tegas mendidik Aditya." Suara Permata terdengar lirih.
Gimana nih? Bego banget sih gue, ngomongin anaknya di depan ibunya langsung udah gitu maki-maki anaknya lagi! Duh, jadi gak enak deh gue.
"Mi.. maafin Kania ya tadi Kania kebawa emosi."
"Engga koq, Mami ngerti perasaan kamu, tapi apa Mami boleh minta sesuatu sama kamu?"
"Minta apa Mi?"
"Mami minta kesempatan untuk Aditya, Mami yakin Aditya pasti bisa berubah."
Kania tampak berpikir sejenak. Lalu tak lama Hendra pun datang menghampirinya.
"Ayah sudah bicara dengan Aditya, dia sangat sedih bahkan matanya sampai bengkak karena menangis."
Aditya... Menangis?
"Kak, perbedaan pendapat pasti ada di dalam setiap hubungan tapi sebaiknya dibicarakan baik-baik bukannya dengan emosi."
"Apa Kakak yakin mau hubungan kalian berakhir seperti ini? Karena sesuatu yang diputuskan dengan emosi hasilnya tidak akan baik," ucap Hendra lembut sambil mengelus kepala Kania.
"Kania, kasi kesempatan Aditya satu kali lagi ya?" pinta Permata sambil memegang erat tangan Kania.
"Hm... Iya Mi, Kania kasi kesempatan lagi buat Aditya."
Permata merasakan keraguan dari jawaban Kania.
"Kamu kasi tahu Mami aja kalau Aditya bikin kamu kesel lagi nanti biar Mami pukul terus jewer kupingnya."
"Engga boleh Sayang, kita engga boleh mendidik anak dengan kekerasan seperti itu, nanti anaknya malah tambah keras. Sebaiknya kalau ada masalah bicarakan secara baik-baik, jangan dibiasakan selalu pakai emosi."
"Kania, kamu juga engga boleh pukul-pukul orang kalau lagi kesal atau marah, semua masalah bisa dibicarakan jangan pakai kekerasan, apa Nenek dan Ayah mengajarkanmu bersikap kasar seperti itu?"
Cara bicara Hendra yang tegas membuat Permata dan Kania tidak bisa berkutik.
Kania pun cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kena deh diceramahin sama Ayah.. Huuh...
...****************...
Author: Kalian semua jaga kesehatan ya 😊🙏
Soalnya lagi musim pilek sama batuk 😷
Makasi ya yang masih setia ikutin cerita ini dari awal sampai sekarang 😁
Maaf kalau alurnya masih lambat karena aku nunggu kesempatan buat jump di waktu yang tepat jadi ceritanya gak aneh nanti.
O iya kalian dapat salam dari Aditya katanya makasi like kalian, dia seneng banyak yang suka dengan ceritanya 😆
__ADS_1
Jangan kasi tahu Aditya ya, Author sebel sama dia soalnya karena banyak yang suka dia jadi syombong 😒
Eh udah dulu ya, gak enak di pelototin sama anak Mami baru gede 😂