Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Latar Belakang Daniel


__ADS_3

Kepala sekolah menghela napas panjang saat melihat Fera dan Angga berdiri di depan mejanya.


"Kalian tahu kenapa dipanggil kesini?" tanya Kepala sekolah.


"Ti-Tidak Pak," jawab Angga canggung.


"Apa yang kalian lakukan sampai membuat anak dari ketua komite orang tua siswa sampai memasukkan nama kalian ke daftar blacklist? "


"Anak dari ketua komite orang tua siswa?" Fera dan Angga tampak kebingungan. Mereka masih belum sadar siapa yang dimaksud Kepala sekolah.


"Apa tadi kalian ribut dengan salah seorang murid laki-laki?"


Saat itu Fera dan Angga baru sadar dan tentu saja terkejut mengetahui identitas murid laki-laki yang ribut dengan mereka di depan mading tadi.


"Ma-Maksud Bapak dia...," ucap Angga tergagap.


Kepala sekolah kembali menghela napas panjang dan menganggukan kepalanya.


"Benar, dia adalah anak dari ketua komite orang tua siswa, Daniel Soetedja, orang tuanya adalah penyandang dana terbesar dan kalian sudah menyinggungnya."


Mata Fera dan Angga terbelalak, mereka tak menyangka bahwa Daniel adalah anak ketua komite orang tua siswa.


"Kalian tahu akibatnya jika nama kalian di-blacklist? Seumur hidup, kalian tidak akan mempunyai ijazah SMA karena tidak ada sekolah manapun yang akan menerima kalian."


Ucapan Kepala sekolah mengingatkan mereka dengan ancaman Daniel. Ternyata Daniel tidak becanda atau hanya menggertak saja.


Wajah Fera dan Angga mendadak pucat. Mereka memikirkan nasib masa depan dan keluarga mereka jika mereka putus sekolah.


Bagi Fera yang merupakan murid penerima beasiswa tentu saja dia sangat sedih karena perjuangannya untuk bisa menjadi murid di sekolah itu akan sia-sia, keluarganya pasti akan sangat malu jika mengetahui dirinya dikeluarkan apalagi sampai di-blacklist dan apa jadinya dia nanti jika hanya mempunyai ijazah SMP? Memang dia tetap bisa melamar pekerjaan tapi bukan pekerjaan seperti itu yang dia inginkan. Lagipula dia juga sudah berencana untuk kuliah dan bekerja di perusahaan sehingga dia bisa mengangkat derajat keluarganya.


Berbeda lagi dengan Angga. Dia yang merupakan anak pengusaha tahu betul keluarga Soetedja. Kepala keluarga Soetedja, ayahnya Daniel merupakan pengusaha batu bara dan emas. Beliau berada diurutan ketiga orang terkaya se Indonesia. Belum lagi istrinya, ibunya Daniel yang merupakan anggota dewan sehingga membuat orang-orang semakin segan dengan keluarga mereka.


Angga menelan salivanya kasar, karena meskipun dia juga anak orang kaya tapi kekayaan keluarganya hanya seujung kuku jika dibandingkan dengan kekayaan keluarga Daniel. Dia sadar betul resikonya tidak akan baik jika menentang keluarga Soetedja.


Kepala sekolah yang tidak tega melihat wajah kedua muridnya yang pucat memberi mereka saran agar mereka meminta maaf kepada Daniel, mungkin dengan begitu Daniel bisa membatalkan keputusan untuk mem-blacklist nama mereka.


Fera dan Angga mengangguk, mereka pasti akan melakukan saran dari Kepala sekolah karena cuma itu solusi yang bisa menyelamatkan mereka.


...****************...


Aditya yang masih teleponan dengan Baby-nya tidak memperhatikan tiga murid perempuan masuk ke dalam kelas dan berjalan menghampirinya.


"Putra Aditya Nugraha." Salah satu dari tiga murid perempuan itu memanggil nama Aditya.


Tapi yang dipanggil malah tidak bergeming dan asik teleponan bahkan tidak canggung mengucapkan kata-kata manis di depan ketiga murid perempuan itu.


"Kamu jangan mikirin aku terus Baby~ aku disini jadi kangeeeen banget sama kamu~"


Padahal Aditya mengatakannya untuk Baby-nya tapi pipi ketiga murid perempuan itu yang malah merona seolah kata-kata itu ditujukan untuk mereka.


Apalagi saat Aditya merendahkan suaranya dan berucap dengan nada lembut membuat jantung ketiga murid perempuan itu berdegup tak karuan.

__ADS_1


"I love you Baby...."


"Ehem!" Alisa berdehem dengan pipi yang masih memerah.


Tapi tetap saja tidak mendapat perhatian dari Aditya. Pemuda itu masih teleponan dengan seseorang.


Alisa tidak menyangka dirinya dicuekin bahkan sampai dua kali. Dia malu sekali terlebih beberapa murid yang ada di dalam kelas itu mulai berbisik-bisik sambil melihat kearahnya.


"Sialan!" umpat Alisa.


...Braak!...


"Putra Aditya Nugraha!" Alisa sekali lagi memanggil nama Aditya sambil menggebrak meja.


Apa yang dilakukan Alisa memang berhasil membuat Aditya menyadari keberadaannya tapi dia harus mendapat tatapan tajam dan ekspresi dingin dari Aditya.


Alisa menelan salivanya kasar dan seketika itu juga tengkuknya merinding.


Saat mendengar suara Kania, ekspresi Aditya kembali menghangat.


"Tidak ada apa-apa Baby, nanti aku chat ya, jangan lupa makan siang, I love you."


Setelah menyudahi teleponan dengan Kania. Wajah Aditya berubah dingin dan matanya menatap tajam murid perempuan yang tadi sudah mengganggu waktunya bersama Kania.


"Berani banget ganggu gue, udah bosan hidup tenang?" ucap Aditya dingin.


"Gu-Gue gak percaya lu bisa dapat skor sempurna!" Alisa memberanikan diri meskipun tangannya dingin dan gemetar.


"Gue gak peduli lu mau percaya atau gak, bukan urusan gue."


"Ngaku aja! Lu nyontek kan waktu ujian?!"


Aditya tidak mengubris perkataan Alisa. Dia lebih mementingkan memberi penjelasan kepada Kania agar wanitanya itu tidak salah paham karena tadi mendengar suara perempuan memanggil namanya.


Tak lama Daniel dan Mutiara masuk ke dalam kelas dan melihat Aditya yang tengah dikerumuni tiga murid perempuan.


"Buset, hebat banget lu Dit! Ditembak tiga cewek sekaligus! Mentang-mentang jadi peringkat pertama," goda Daniel.


Mutiara bersedekap lalu melirik ketiga murid perempuan itu dengan pandangan meremehkan.


Cih, gue yang lebih cantik dari mereka aja gak dilirik apalagi mereka.


"Lu salah! Gue kesini bukan buat nembak dia!"


Telunjuk Alisa tepat mengarah ke Aditya yang sama sekali tidak bergeming. Pemuda itu tampak asik sendiri chatting dengan someone special nya.


"Terus lu ngapain datang ke kelas orang?" tanya Mutiara ketus.


"Gue mau dia ngaku kalau dia nyontek pas ujian!"


"Nyontek?"

__ADS_1


Daniel dan Mutiara heran. Mereka tidak percaya kalau Aditya nyontek.


"Lu jangan sembarang ngomong! Mana buktinya kalau Aditya nyontek!" ucap Mutiara sewot.


"Iya, jangan asal nuduh lu! Sohib gue gak mungkin nyontek! Gue saksinya! Selama ujian dia ngerjain sendiri tuh soal gak pernah nyontek!" timpal Daniel.


"Terus gimana dia bisa dapet nilai 100 di semua mata pelajaran?! Semua mata pelajaran loh?! Itu gak mungkin!" Alisa tetap kekeh gak percaya kalau ada orang yang lebih pintar darinya.


"Dit, kenapa lu diem aja?! Bilang dong sama mereka kalau lu gak nyontek!" Daniel mulai sewot bukan cuma sama Alisa tapi juga Aditya yang diem aja dan malah asik chatting.


Setelah membalas chat dari Kania, pandangan Aditya pun beralih dari handphone nya ke mereka yang meributkan dirinya.


"Gue gak nyontek."


Mereka semua terperangah karena Aditya cuma mengatakan tiga kata dan itupun kalimat yang diminta Daniel untuk dia katakan.


"Gue gak percaya lu gak nyontek!" hardik Alisa.


"Bodo amat," balas Aditya cuek.


"Makan yuk Bro, laper nih!" Aditya beranjak dari kursinya lalu merangkul pundak Daniel.


"Eh mau kabur ya?! Berarti bener lu nyontek, kan?!"


Alisa yang belum puas dan masih gak terima peringkatnya digeser Aditya mengikuti Aditya sampai ke kantin.


Mutiara yang juga ikut ke kantin mulai risih dengan ocehan Alisa yang terus memaksa Aditya mengaku menyontek saat ujian.


"Berisik!" bentak Mutiara.


"Kalau Aditya bilang dia gak nyontek berarti dia GAK NYONTEK! Lu budeg apa bego sih?! Masih aja maksa orang buat ngaku!" Mutiara sudah geram dan jengah dengan Alisa.


"Kalau cuma mau cari perhatiannya Aditya mending lu pergi aja deh, soalnya percuma, Aditya tuh gak tertarik sama cewek berisik kaya lu," sambung Mutiara.


"Eh cewek sombong! Gue lagi gak caper sama dia! Gue cuma mau dia ngaku kalau dia nyontek pas ujian! Gue gak terima dia dapet peringkat pertama hasil nyontek!"


Inilah salah satu alasan Aditya tidak ingin menjadi peringkat pertama di sekolahnya. Pasti akan ada pihak yang merasa tersaingi dan selalu mencari masalah dengannya.


"Alisa Safitri kelas XI-IPA3, tahun lalu mendapat peringkat pertama. Murid kelas XI paling pintar bahkan dijuluki cewek jenius, apa aku benar?" Aditya mulai buka suara, surai hazelnut nya mengarah ke Alisa dengan ekspresi dingin.


"Bener, gue Alisa, cewek jenius dari kelas XI-IPA3. Makanya gue tahu kalau lu nyontek karena gak mungkin lu bisa dapet skor sempurna kaya gitu kalau gak nyontek atau beli kunci jawaban dari guru." Alisa sangat yakin kalau Aditya sudah berbuat curang saat ujian.


Aditya tampak memikirkan sesuatu lalu dia meminta Daniel untuk membeli beberapa lembar kertas HVS dan pulpen di koperasi sekolah.


Setelah Daniel kembali membawa barang yang dimintanya, Aditya pun memberikan satu lembar kertas HVS dan pulpen kepada Alisa.


Alisa dan ketiga temannya tampak heran.


"Tulis soal yang menurut lu sulit, kalau gue bisa menjawabnya dengan benar, lu jangan ganggu gue lagi."


"Tapi kalau jawaban lu salah, lu harus beritahu seluruh sekolah kalau lu nyontek," tantang Alisa.

__ADS_1


"Ok."


...****************...


__ADS_2