Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Deklarasi Perang


__ADS_3

Sebuah mobil Mercedes Benz S class hitam berhenti di salah satu gerbang rumah yang ada di komplek perumahan elit.


Pintu mobil terbuka, seorang pria berjas rapi keluar dari dalam mobil itu dan berjalan menghampiri satpam yang berdiri dibalik pintu gerbang.


"Selamat malam Tuan," sapa satpam tersebut ramah.


"Anda siapa dan ada keperluan apa?" Satpam itu pun bertanya dengan sopan kepada pria yang berdiri di luar gerbang.


"Saya Galih, temannya Kania, Saya ingin bertemu Kania, tolong buka gerbangnya Pak."


Satpam itu tampak berpikir sejenak.


"Maaf Tuan, Saya diperintahkan untuk tidak menerima tamu setelah jam 7 malam jadi Saya tidak bisa membiarkan Anda masuk."


Pria itu adalah Galih. Kerinduan ingin bertemu Kania sudah tak tertahankan. Tidak mungkin dia pergi tanpa melihat gadis pujaan hatinya.


"Bapak tolong beritahu Kania kalau Saya datang ingin bertemu dengannya, Saya tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Kania."


"Tidak bisa Tuan, mungkin sekarang Non Kania sudah tidur, Saya tidak berani mengganggu, lebih baik Anda pergi saja sekarang."


Satpam itu hendak beranjak pergi menuju pos jaganya.


"Pak! Saya tidak akan pergi sebelum bertemu Kania! Sebentar saja Pak! Beritahu Kania Saya datang!" teriak Galih sambil mencengkram teralis gerbang rumah itu.


Satpam itu pun mengurungkan niatnya dan kembali menghampiri Galih.


"Tuan, Anda jangan membuat keributan disini, Saya hanya menjalankan perintah majikan Saya, Saya harap Anda pergi dan jangan membuat keributan lagi."


"Tidak, Saya akan tetap disini sampai Bapak memberitahu Kania kedatangan Saya!"


Satpam itu bisa melihat wajah Galih yang tampak serius. Dia tahu kalau pria di depannya ini tidak akan mudah diusir olehnya jadi daripada membuat keributan satpam itu pun berniat memberitahu seseorang yang memerintahkannya agar tidak membiarkan pria bernama Galih masuk ke dalam rumah itu.


"Baiklah Tuan, tapi Saya minta jangan buat keributan."


Setelah Galih menganggukkan kepala, satpam itu pun beranjak pergi ke pos jaganya dan menelepon seseorang.


...****************...


Tak lama setelah Aditya selesai menerima telepon dari Haris, handphone nya kembali berdering.


"Ada apa?" tanya Aditya datar saat menjawab telepon dari satpam rumahnya.


"...." Satpam yang menghubunginya itu memberitahu kedatangan Galih dan juga sikap Galih yang tetap memaksa ingin bertemu Kania bahkan sampai membuat keributan.


"Biarkan saja dia menunggu di depan gerbang, Saya yang akan mengusirnya."


Aditya pun langsung mengakhiri panggilan telepon itu.


Kania yang sibuk memperhatikan bintang tidak menyadari wajah pria kecilnya yang tengah menahan emosi.


Mau bertemu calon istri gue? Cih, jangan harap!


Aditya segera merubah ekspresinya saat berjalan mendekati Kania.


"Baby, masuk yuk, di luar udaranya udah mulai dingin."


Mata Kania yang tengah melihat ke langit beralih ke Aditya. Dia pun mengangguk dan beranjak dari kursi taman.


"Iya, ayo masuk, aku juga udah ngantuk hoaaammm~" Kania menutup mulutnya yang menguap.


Aditya merangkul pundak Kania dan mereka pun berjalan kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


Di lantai atas, Aditya dan Kania sama-sama berdiri di depan kamar masing-masing.


"Selamat malam Aditya."


"Cuma itu?" Aditya melangkahkan kakinya mendekati Kania.


"Maksudnya?"


"Tidak ada good night kiss?"


"Go-Good night kiss?"


Kania berusaha tetap tenang meskipun jantungnya saat ini tengah berdetak tak karuan. Pipinya pun sudah kembali merona.


"Iya, good night kiss." Aditya mendekatkan wajahnya dan mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari.


Kania menengok kanan-kiri memastikan tidak ada orang lain selain mereka di lantai itu.


"Ada apa Baby?"


...Cup!...


Tanpa aba-aba, Kania langsung mengecup bibir Aditya tapi bukan ini yang pemuda itu inginkan.


Dengan cepat Aditya menekan tengkuk leher kekasihnya itu dan menyatukan bibir mereka.


Mata Kania membulat sempurna mendapat serangan dadakan dari pria kecilnya. Bagaimana kalau ada yang melihat mereka berciuman? Terlebih kalau yang melihatnya adalah orang tua mereka.


Kania mendorong dada Aditya sehingga melepas penyatuan bibir mereka.


"Bagaimana kalau Ayah atau Mami lihat?!"


"Kenapa emangnya kalau mereka lihat? Mereka juga pernah muda jadi mereka pasti ngerti." Aditya mengedipkan matanya.


Kania tidak bisa membalas ucapan pria kecilnya yang sudah tidak punya malu itu.


"Aku mau tidur!"


Saat tidak bisa melawan, cara terakhir adalah kabur dan itu yang Kania lakukan.


Begitu pintu terbuka Kania pun masuk ke dalam dan langsung menutup pintu kamarnya sebelum Aditya kembali berulah.


Aditya pun tertawa kecil melihat kepanikan kekasihnya yang pemalu.


Lalu ekspresinya berubah datar saat teringat dengan Galih yang masih menunggu Kania di depan gerbang rumahnya.


"Ck, aku masih harus mengusir serangga itu."


Tiba-tiba otak jeniusnya mendapatkan ide. Aditya lalu melihat jam tangannya dan tersenyum licik.


"Ooh~ ternyata gak buruk juga dia datang, gue bisa sedikit bersenang-senang."


...****************...


"Pak, apa Bapak sudah memberitahu Kania?"


Entah sudah berapa kali satpam itu mendengar pertanyaan yang sama dari Galih sampai membuatnya jengah.


"Baby ku sudah tidur."


Sorot mata Galih langsung berubah tajam saat melihat Aditya berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Dimana Kania?! Aku ingin bertemu Kania!" hardik Galih.


Aditya berdiri berhadapan dengan Galih yang ada di luar gerbang rumahnya. Dia sama sekali tidak takut dengan pria itu malah dia tersenyum sinis mendengar ucapan pria yang berani ingin merebut kekasihnya.


"Apa Anda tuli Tuan Galih? Tadi Saya sudah bilang kalau Baby ku sudah tidur," ucap Aditya santai.


"Anda bisa lihat jam berapa sekarang Tuan Galih? Jam sembilan." Aditya sengaja menunjukkan jam tangannya kepada Galih.


"Disini tidak menerima tamu yang datang diatas jam tujuh malam, O iya khusus untuk Anda, jam berapa pun dan seterusnya Anda tidak bisa datang atau masuk ke rumah ini lagi."


"Brengsek! Buka gerbangnya! Kania! Aku datang! Kaniaaaa!" teriak Galih.


"Apa Anda tidak malu malam-malam membuat keributan di rumah orang seperti ini?" Aditya masih terlihat santai.


"Diam kau! Bocah tengik! Aku tahu kamu yang blokir nomorku, kan?!"


"Anda benar, terus Anda bisa apa?" Aditya tersenyum sinis.


Galih semakin kencang meremas teralis gerbang rumah itu sampai membuat kuku-kukunya memutih. Rahangnya juga sudah mengeras dan giginya saling beradu.


"Brengsek!!" umpat Galih.


"Lebih baik Anda pulang, tidak ada gunanya Anda disini tapi sebelum itu Saya ingin mendengar pendapat Anda soal jam tangan Saya, bagaimana? Bagus, kan?"


Aditya memamerkan jam tangannya di depan Galih.


"Jam tangan ini hadiah dari calon istri Saya."


Galih tahu siapa yang dimaksud Aditya. Hatinya pun semakin panas dan bergemuruh saat melihat Aditya mencium jam tangan itu.


Melihat kekesalan Galih membuat Aditya tersenyum puas. Dia berhasil membuat saingannya itu panas.


Dengan tengilnya Aditya kembali memamerkan jam tangannya di hadapan Galih.


"Sudah larut, lebih baik Anda pergi dari rumah Saya sebelum Saya meminta polisi untuk mengusir Anda."


Galih menggeram, sebenarnya dia tidak mau pergi tapi percuma juga dia ada disana karena pemuda yang tengah bersidekap dada dan menatapnya dengan angkuh itu tidak akan membiarkannya bertemu dengan gadis yang sangat dirindukannya.


"Bocah tengik! Kania itu milikku! Sejak awal dia milikku! Dan selamanya milikku! Aku tidak akan membiarkanmu mengambil Kaniaku!"


Galih melepas teralis gerbang rumah itu dan akan membuka pintu mobilnya.


"Tunggu!" cegah Aditya.


"Dengar baik-baik Tuan Galih, KANIA PERTIWI MILIK SAYA! Dan Saya pastikan Anda yang tidak akan bisa menyentuhnya sedikitpun!"


Kedua pria berbeda usia itu pun saling menatap tajam. Mata mereka begitu kental menyiratkan permusuhan dan pernyataan keduanya seperti deklarasi perang.


Sementara itu seorang gadis tengah memperhatikan Galih dari dalam mobilnya. Dia adalah Jasmine.


Jasmine yang sejak tadi mengikuti Galih mendengar dengan jelas pria yang dicintainya menyatakan kepemilikkan atas nama wanita lain.


Hatinya langsung bergemuruh, matanya memerah terbakar api cemburu. Hawa di dalam mobil begitu panas seolah AC mobil itu tidak berfungsi.


"Kania? Jadi wanita itu yang sudah merebut Galih dariku!" Jasmine meremas stir kemudinya amat kencang sampai membuat kuku-kuku cantiknya memucat.


"Gak! Gak akan aku biarkan dia berhasil merebut Galih! Sebelum itu terjadi aku harus menyingkirkannya!"


"Dengan begitu Galih akan jadi milikku."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2