Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Gak Ada Rahasia


__ADS_3

Saat Daniel mengusulkan Aditya alasan agar bisa menjenguk Mutiara tanpa diketahui Kania, Aditya langsung teringat percakapannya dengan Kania kemarin saat mereka sudah berada di rumah.


Tadinya Aditya tidak menyadari ada yang berbeda dengan Kania setelah mereka pulang dari Mall tapi saat makan malam Aditya merasa kekasihnya itu jauh lebih pendiam dan sering melamun bahkan nasi di piring hanya diaduk-aduk oleh Kania.


"Baby, kenapa gak dimakan nasinya?"


Kania tidak merespon pertanyaan Aditya padahal Aditya duduk di sampingnya jadi tidak mungkin kalau Kania tidak mendengar suara kekasihnya itu.


Kak Kania kenapa ya?


"Baby...."


Saat Aditya memegang tangan Kania, Kania pun tersentak dan langsung tersadar dari pikirannya.


"I-Iya? Maaf tadi kamu ngomong apa?" Kania tampak gugup, dia bahkan tidak memandang Aditya saat bicara.


"Baby, are you ok?"


Dari raut wajah Aditya terlihat jelas kalau dia mengkhawatirkan wanita pujaan hatinya itu.


Ternyata bukan cuma Aditya saja yang khawatir, Permata yang ikut makan malam bersama mereka juga khawatir dengan anak tiri kesayangannya itu.


"Kania, apa kamu gak suka lauknya? Kamu bilang aja kamu mau makan apa nanti Mami masakin."


"Engga Mi, Kania suka koq lauknya, mungkin karena Kania masih kenyang."


"Mi, Kania duluan ya soalnya masih harus revisi skripsi," sambung Kania.


Kania pun beranjak dari kursinya dan begitu saja pergi meninggalkan meja makan tanpa dia tahu ada sepasang mata yang melihat dengan sendu kepergiannya.


"Aditya, kamu sama Kania berantem lagi?"


"Engga Mi, kita baik-baik aja tapi...."


Apa Kak Kania kangen sama Ibunya?


"Tapi apa? Kamu tahu kenapa Kania seperti itu?"


Aditya pun menceritakan pertemuannya dengan Kevin di Mall kepada Permata.


"Kenapa kamu tidak membiarkan Kania pergi saja dengan adiknya? Kania pasti kangen dengan ibu dan adik-adiknya."


"Aku engga melarang Kak Kania pergi."


"Kamu emang gak melarang tapi kamu juga mau ikut dengan mereka." Permata tidak habis pikir dengan sifat posesif anaknya.


"Aku ingin bertemu dengan Ibunya Kak Kania terus kenapa aku gak boleh ikut?"


Begitu lah Aditya, selalu benar. Tidak ada yang boleh mengkritik keputusannya. Bayangkan bagaimana jadinya kalau nanti dia sudah menjabat sebagai CEO? Siapapun asistennya nanti selain pintar dia juga harus selalu sabar menghadapi bos seperti Aditya.


"Kalau kamu ikut Kania jadi gak leluasa dengan keluarganya apalagi dia sudah lama tidak bertemu mereka, apa kamu masih belum mengerti maksud Mami?"


"Kenapa jadi gak leluasa? Aku bisa menyesuaikan diri dengan mereka."


Permata menepuk jidatnya. Dia menyerah berdebat dengan anaknya itu.


"Sudahlah, apapun yang Mami katakan percuma saja lebih baik kamu pergi bicara dengan Kania."


Aditya pun segera bangkit dan bergegas meninggalkan maminya itu sendirian di meja makan.


"Makan sendiri deh, huhh.. Mas Hendra udah makan malam belum ya?"


Permata pun menghubungi Hendra yang masih dinas di luar kota.


Tak menunggu waktu lama panggilan dari Permata berhasil tersambung.


Permata melakukan panggilan video call dengan Hendra. Sekarang setidaknya ada yang menemaninya makan malam meskipun berada di tempat berbeda.


...****************...


Setelah naik ke lantai atas, Kania segera masuk ke dalam kamarnya. Dia berjalan ke meja lalu duduk di kursi dan membuka laptopnya.


Saat menunggu laptopnya yang sedang loading Kania kembali memikirkan orang yang mirip dengan Galih.


"Apa orang tadi beneran Galih atau cuma mirip sama Galih? Kenapa mukanya gak banyak berubah? Masih sama seperti waktu SD dulu," gumam Kania.


...Cklek...


Saking seriusnya memikirkan Galih, Kania sampai tidak mendengar pintu kamarnya terbuka bahkan dia juga tidak menyadari Aditya tengah berjalan mendekatinya.


Kania tersentak dan langsung tersadar dari pikirannya saat lengan Aditya memeluknya dari belakang.


Aditya sedikit membungkuk lalu meletakkan dagunya di bahu Kania.


"Astaga! Bikin kaget aja sih! Kapan kamu masuk? Koq aku gak tahu?"

__ADS_1


"Makanya jangan melamun terus, kamu lagi mikirin apa sih sampai lupa sama aku? Mikirin cowok lain ya?"


Kania menundukan kepalanya, dia ragu mengiyakan ucapan Aditya karena dia yakin Aditya pasti cemburu kalau kekasihnya itu tahu saat ini dia memang sedang memikirkan Galih.


Tadinya Aditya cuma ingin menggoda Kania karena dia yakin kekasihnya itu akan menyangkalnya tapi ternyata kekasihnya malah diam yang berarti membenarkan ucapannya.


Dada Aditya terasa sesak dan wajahnya terlihat sendu.


"Apa aku saja masih tidak cukup?" bisik Aditya lirih lalu melepas pelukannya.


...Deg!...


Satu kalimat itu berhasil membuat dada Kania seperti dihantam batu yang sangat besar.


"Aditya, aku--"


Belum selesai Kania bicara, Aditya sudah beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu kamar.


...Bruk!...


Kania segera berlari lalu memeluk Aditya dari belakang.


"Aku pikir kamu sedih karena kangen dengan keluargamu tapi ternyata kamu memikirkan orang lain," ucap Aditya lirih.


"Kamu benar aku memang memikirkan orang lain dan kamu tahu siapa orang itu... Galih."


...Deg!...


Satu nama yang Aditya tidak ingin dengar apalagi dari mulut wanita yang dicintainya.


Galih? Kenapa Kak Kania tiba-tiba menyebut namanya?! Terus kenapa Kak Kania juga mikirin dia sih?!


Mode cemburu Aditya langsung ON hanya karena satu nama itu. Dia pun segera berbalik menghadap Kania.


"Kenapa kamu mikirin cowok itu?! Apa cowok itu menghubungi kamu lagi?! Apa dia coba deketin kamu?! Jawab!"


"Kita kan bisa bicara baik-baik gak usah teriak-teriak kaya gitu!"


"Huh!" Aditya mendengus kesal lalu memalingkan wajahnya dari Kania.


Kania berjalan ke tempat tidur lalu duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Ayo sini duduk, aku mau bicarakan soal masalah ini sama kamu."


Aditya tampak ragu, entah kenapa perasaannya tidak enak.


"Sini duduk, kenapa diam aja? Kamu mau tahu gak kenapa aku mikirin Galih?" Kania kembali meminta Aditya duduk di sampingnya.


Aditya pun berjalan mendekati Kania tapi bukannya duduk Aditya malah berdiri di depan Kania.


Kania sedikit terkejut saat Aditya tiba-tiba mendorongnya jatuh ke tempat tidur apalagi posisi Aditya yang sekarang berada diatasnya.


Jantung Kania berdetak kencang dan pipinya memerah.


Kania menelan salivanya lalu memberanikan diri membuka mulutnya lebih dulu.


"A-Aditya, apa yang kamu lakukan?" tanya Kania gelagapan sambil mendorong dada Aditya tapi Aditya tetap tidak bergeming.


"Kamu milikku, tidak ada yang bisa merebut kamu dariku."


Mata Kania membulat saat Aditya langsung mencium bibirnya.


Bukan ciuman lembut yang biasanya mereka lakukan tapi ciuman yang lebih menuntut dan agresif sampai membuat Kania kewalahan.


Karena sudah hampir kehabisan napas, akhirnya Kania berusaha menyudahi ciuman itu tapi Aditya terus saja menciumnya.


Dengan sekuat tenaga Kania mendorong Aditya sampai membuat tautan bibir mereka terlepas.


Bukan cuma Kania yang tersengal-sengal setelah ciuman itu tapi Aditya juga tampak kesusahan untuk bernapas.


Wajah mereka berdua sangat merah seperti kepiting rebus.


Tak puas mencium bibir Kania, Aditya kembali berulah. Dia mencium leher Kania lalu membuat kissmark.


Kania cuma bisa menggigit bibir bawahnya dan meremas seprai tempat tidur menahan rasa sakit pada lehernya.


Tidak hanya satu tapi beberapa kissmark sudah tercetak di leher Kania.


Untuk sesaat Kania terbuai dengan sensasi yang diberikan Aditya pada tubuhnya tapi kemudian kesadarannya kembali saat tangan Aditya menyentuh salah satu gundukan kenyalnya.


Kania segera menghentikan tangan Aditya melakukan sesuatu yang lebih pada gundukan itu.


"Aku mencintaimu, aku juga akan bertanggung jawab jadi biarkan aku memilikimu seutuhnya."


"Aku juga mencintaimu tapi kita tidak bisa melakukannya sekarang."

__ADS_1


"Kenapa tidak bisa?! Apa karena cowok itu?!"


Kania pun mengelus pipi Aditya untuk menenangkan kekasihnya yang sedang terbakar api cemburu itu.


"Bukan karena itu tapi aku ingin melindungi orang yang aku cintai dari perbuatan dosa."


Hati Aditya tersentuh mendengarnya, dia pun sadar kalau perbuatannya salah. Cemburu membuatnya tidak bisa berpikiran jernih.


Aditya pun beranjak dari atas Kania lalu duduk di pinggir tempat tidur.


"Maaf, aku melakukannya karena aku tidak mau kehilanganmu, aku takut kamu meninggalkanku dan memilih bersama cowok itu," ucap Aditya lirih.


Kania beranjak dari tempat tidur dan duduk di samping Aditya.


"Tidak ada yang bisa membuatku berhenti mencintaimu atau meninggalkanmu jadi jangan pernah berpikir hal seperti itu lagi, ok?"


"Termasuk cowok itu?"


"Iya termasuk dia karena pria yang aku cintai di dunia ini cuma dua."


"Dua?! Siapa cowok itu?!"


Mode cemburu atau posesif Aditya memang otomatis ON kalau sudah berkaitan dengan Kania.


"Cowok itu kamu dan Ayah, kalian berdua adalah orang yang paling aku cintai."


"Engga boleh! Harus aku yang paling paling paling kamu cintai, mengerti?"


Aditya memeluk Kania erat dan bertingkah manja.


"Iya, aku paling paling paling cinta sama kamu, puas?" Kania mencubit pipi Aditya gemas.


"I love you Baby~"


Saking senangnya Aditya sampai menciumi pipi Kania.


"Bisa kita serius sekarang? Aku akan memberitahu kamu kenapa aku memikirkan Galih."


Bibir Aditya langsung manyun, wajahnya pun ditekuk saat mendengar nama Galih keluar dari mulut Kania.


"Di Mall tadi aku sempat melihat seseorang yang wajahnya mirip Galih, cuma sekilas sih tapi aku yakin kalau itu dia."


"Kenapa kamu bisa yakin kalau itu dia?" tanya Aditya ketus.


"Soalnya wajah Galih gak banyak berubah, aku masih inget wajahnya waktu SD."


Alis Aditya mengerut dan wajahnya semakin suram.


"Hebat ya kamu masih inget mukanya padahal udah bertahun-tahun gak ketemu," sindir Aditya.


Salah lagi, kenapa sih dia sensitif banget sama Galih?


"Huuh...." Kania menghela napas.


"Aku ingat karena aku sama dia udah temenan sejak kelas 1 SD, tiap hari liat mukanya selama 6 tahun, gimana aku bisa lupa mukanya?"


"Iya iya, terus gimana sekarang? Kamu mau cari dia?" tanya Aditya sewot.


"Aku sih berharap bisa ketemu dia lagi, aku mau minta maaf soalnya waktu itu aku gak sengaja menyakiti hatinya."


"Cuma mau minta maaf?"


"Iya, cuma mau minta maaf, gak ada maksud lain jadi jangan mikir macem-macem lagi."


"Kalau gitu kamu harus janji gak boleh main rahasia-rahasian sama aku, apapun itu kamu harus cerita, ok?"


"Ok, kamu juga sama, gak boleh ada rahasia."


"Iya aku janji."


"Sekarang aku mau revisi skripsi ku, lepas pelukanmu."


"Engga boleh~ disini aja sama aku~" rengek Aditya.


"Besok hari terakhir ujian, kamu gak lupa kan kesepakatan kita? Jadi lebih baik kamu belajar aja sana," usir Kania halus.


"Aku ingat, tenang aja Baby aku pasti dapet nilai sempurna tapi aku...."


Jantung Kania kembali berdetak kencang saat bibir lembut Aditya menyentuh lehernya. Pipi dan telinganya pun memerah.


Aditya tersenyum menyeringai. Bibirnya sekarang beralih ke telinga Kania.


"Aku ingin tidur denganmu," bisik Aditya lalu menggigit telinga Kania pelan.


Kania menelan salivanya, suara Aditya yang seksi membuat Kania kembali teringat dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya.

__ADS_1


Ya Tuhan! Kuatkan hamba! Tahan Kania! Tahan! Lu pasti bisa melewati cobaan ini!


...****************...


__ADS_2