Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Cinta Yang Berlebihan


__ADS_3

"JAUHI CALON ISTRIKU!!"


Setelah kalimat itu terdengar, layar handphone Galih langsung kembali ke menu awal. Panggilan video call berakhir.


"Brengsek! Siapa yang dia sebut CALON ISTRI?! Sejak awal dia MILIKKU!"


...Bug!!...


Dinding pun jadi sasaran Galih melampiaskan kekesalannya bahkan dia tidak peduli tangannya memar setelah memukul dinding.


"Kalau saja aku tidak pergi... Seharusnya aku yang bersamanya saat ini... Kania...."


Galih terduduk lemas di pinggir ranjang lalu meremas dan mengacak-acak rambutnya frustrasi.


"Tidak! Dia masih belum jadi milik siapapun! Meskipun dia sudah menikah, aku akan tetap merebutnya!"


Meskipun kenyataannya gadis cinta pertamanya itu sudah menjadi milik orang tapi hati Galih dengan keras menyangkalnya.


Seketika mata Galih yang diselimuti amarah perlahan melembut saat mengingat wajah Kania.


"Maafkan aku... Kamu pasti kesepian tanpa aku disini... Tapi sekarang aku sudah kembali dan aku tidak akan meninggalkanmu lagi... Cintaku... Kania...."


Galih tersenyum saat membayangkan Kania duduk di sampingnya saat ini.


Entah Galih sadar atau tidak tapi tangannya terulur dan bergerak seolah sedang membelai pipi Kania.


"Baik dulu maupun sekarang memang cuma kamu yang bisa membuat jantungku berdebar seperti ini...."


Dalam bayangan Galih, dia melihat Kania tersenyum manis kepadanya.


"Aku mencintaimu Yaya... Selalu mencintaimu...."


Saking terhanyut dengan perasaan cintanya membuat Galih mulai kehilangan akal sehat, saat ini dia mendekatkan wajahnya seolah akan mencium Kania padahal Kania yang ada bersamanya tak lain hanya sebuah imajinasinya saja.


Saat bibirnya sedikit lagi menyatu dengan bibir Kania, tiba-tiba handphone nya berdering sehingga membuat "Kania-nya" hilang.


"Sial! Siapa yang berani mengganggu waktuku bersama Kania?!"


Dengan emosi Galih meraih handphone nya lalu melihat ID kontak sang penelepon.


"Ck! Cewek ganjen itu lagi!" gerutu Galih.


Tanpa ragu Galih menolak panggilan telepon itu lalu mematikan handphone nya.


"Cewek ganjen itu sepertinya mulai ngelunjak setelah kemarin aku nemenin dia belanja di Mall padahal kalau bukan karena Mami, aku gak bakal mau nemein dia."


Galih menaruh handphone nya ke atas nakas. Dia pun merebahkan dirinya lalu menghadap ke sisi kosong di sampingnya.


Seharusnya sisi itu kosong tapi kemudian bayangan Kania kembali hadir dan mengisi sisi kosong di tempat tidurnya yang berukuran king size.


Galih tersenyum. Sorot matanya kembali melembut dan penuh cinta kepada Kania yang juga tengah menatapnya.


Kali ini Galih melihat ekspresi Kania seolah sedang merajuk kepadanya. Mungkin Kania cemburu karena dia mendapat telepon dari wanita lain, pikirnya.


"Dasar tukang cemburu, dari dulu kamu gak pernah suka kalau ada anak lain dekat denganku apalagi cewek, kamu pasti akan membuat ekspresi wajah seperti ini." Galih terkekeh.


"Jangan khawatir, hatiku ini selamanya hanya milikmu... Milik Yaya."

__ADS_1


Lagi-lagi saking terhanyutnya, Galih bahkan mengira guling sebagai Kania yang dia peluk sangat erat lalu mencium ujung guling seolah mencium pucuk kepala Kania.


"Selamat malam Yaya... Aku mencintaimu...," gumam Galih sambil memejamkan matanya lalu tak berapa lama pria itu pun terlelap.


...****************...


Setting kamar berganti. Sekarang Kania berada di dalam kamar Aditya karena kekasihnya yang sedang manja mode on itu minta diantarkan ke kamar.


"Kita sudah sampai di kamarmu jadi lepaskan lenganku sekarang."


Setelah pertengkaran mereka, Aditya yang sudah tenang tiba-tiba memeluk lengan Kania lalu bertingkah manja. Pria itu bahkan mengusap-usap pipinya dilengan Kania seperti seekor kucing yang minta dielus dan diperhatikan majikannya.


Tingkah Aditya yang menggemaskan itu tentu saja berhasil membuat hati Kania bukan lagi meleleh tapi ambyar.


Kalau sudah seperti ini, Kania gak akan mampu menolak apapun keinginan Aditya.


"Gak mau~ Nanti kalau aku lepas, kamu bakal ninggalin aku~" Aditya malah semakin erat memeluk lengan Kania.


"Aku gak bakal ninggalin kamu tapi ini udah malam, aku harus balik ke kamarku juga untuk tidur."


"Kamu tidur disini aja, kasurku cukup untuk kita berdua," celetuk Aditya yang berhasil membuat jantung Kania berdetak tak karuan.


Aditya pun menarik dan membawa Kania menuju tempat tidur berukuran king size nya.


"Tu-Tunggu! Ki-Kita gak bisa tidur bareng!"


"Kenapa gak bisa?" tanya Aditya sambil menaikan satu alisnya.


Sebenarnya Aditya tahu alasannya, dari rona merah dipipi Kania, Aditya yakin kalau kekasihnya itu pasti membayangkan sesuatu berlabel khusus 18+.


"I-Itu hm... Itu karena...," ucap Kania terbata-bata.


Aditya mengulum bibirnya, dia berusaha tidak tertawa, setidaknya tidak sekarang karena dia masih ingin menggoda Kania.


Kania menelan salivanya kasar bahkan sampai didengar oleh Aditya.


...Glek!...


"Hahahahaha."


Alhasil tawa Aditya pun pecah padahal dia sudah berusaha menahannya.


Wajah Kania langsung merengut saat menyadari kalau dirinya sudah dikerjai Aditya.


"Kamu ngerjain aku ya?! Iiih nyebelin! Nyebelin!"


Kania memukul-mukul lengan Aditya yang masih tertawa.


"Hahaha, lagian kamu mikir apa tadi? Aku kan cuma ajak kamu tidur, ti-dur bukan yang lain."


Aditya lalu menghentikan tangan Kania dan menatap intens wanitanya itu.


Untuk beberapa saat mereka pun saling bertatapan sehingga membuat kamar itu mendadak hening bahkan saking heningnya mereka seperti bisa mendengar detak jantung masing-masing.


Perlahan Aditya mendekatkan bibirnya ke telinga Kania.


"Aku tidak akan meminta hakku sekarang," bisik Aditya.

__ADS_1


Mendengar itu jantung Kania semakin berdetak kencang. Wajahnya pun terasa panas.


"Tapi nanti setelah aku menjadi suamimu, aku akan meminta hakku setiap malam." Aditya mengedipkan sebelah matanya.


"A-apa?! Se-setiap malam?!" Kania kembali menelan salivanya kasar.


"Jadi tenang aja Baby, aku gak akan menyerangmu sekarang." Aditya mencubit gemas pipi Kania.


"Ayo, kita tidur," ajak Aditya lalu kembali menarik Kania ke tempat tidurnya.


"Ta-Tapi Aditya, bagaimana kalau Mami dan Ayah tahu aku tidur disini."


"Gak apa-apa, malah bagus kalau mereka tahu, kita pasti bakal dinikahkan secepatnya," jawab Aditya santai sambil mendudukkan Kania diatas tempat tidur.


Setelah itu Aditya beralih ke sisi lain tempat tidur king size nya lalu tanpa meminta persetujuan Kania, dia merebahkan kepalanya dipaha wanitanya itu.


Aditya meraih tangan Kania lalu meletakkannya diatas kepala. Dia yakin Kania pasti mengerti maksudnya dan benar saja, tangan Kania mulai membelai rambutnya.


Saking nyamannya dibelai, mata Aditya pun perlahan terpejam.


"Aditya."


"Iya?"


"Kalau aku bertanya, kamu harus jawab ya."


Kania masih terus membelai kepala Aditya membuat Aditya semakin lama hanyut dengan sentuhan lembut wanitanya itu sehingga tanpa sadar dia pun terlelap.


Kania yang tidak mendengar jawaban Aditya lalu mengecek pria kecilnya itu.


"Aditya, kamu udah tidur ya?"


Orang yang ditanya sudah pulas sehingga tidak akan mendengar suara Kania.


"Kayanya dia udah tidur, padahal aku mau nanya kenapa dia bisa berpikir kalau aku bakal ninggalin dia bahkan sampai membuatnya ketakutan kaya tadi."


Tak lama kemudian, raut wajah Aditya yang tadinya tenang berubah gelisah.


"Ada apa? Apa dia mimpi buruk? Kenapa dia gelisah seperti ini?"


"Engga... Jangan... Jangan pergi... Jangan tinggalkan aku...," rancau Aditya.


"Ya ampun, dia sampai mengigau."


Tak tega melihat Aditya yang terus gelisah bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin Kania pun kembali membelai kepala Aditya.


"Jangan takut, aku disini, aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu."


Setelah Kania mengatakannya wajah Aditya pun kembali tenang.


"Padahal masa pedekate aku sama dia waktu itu terbilang singkat tapi dengan yakin dia minta aku jadi pacarnya. Tadinya aku pikir perasaannya pasti sama seperti remaja lain yang cuma sesaat tapi... Aku tidak menyangka kalau perasaannya ternyata sedalam ini kepadaku...."


Bibir tipis Kania pun melengkung tak kalah indah dari bulan sabit lalu perlahan dia sedikit membungkukkan badannya dan dengan lembut mencium kening Aditya.


"Aku mencintaimu Putra Aditya Nugraha...," bisik Kania sebelum kembali menegakkan badannya.


Kania yang juga sudah mengantuk menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


Tanpa Kania ketahui bahwa setelah dia membisikan kalimat itu, senyuman terukir dibibir Aditya.


...****************...


__ADS_2