
Saat Aditya merasa Kania sudah lebih tenang dan bisa diajak bicara, dia pun mengajak kekasihnya itu duduk di pijakan tangga darurat.
Aditya mengusap lembut mata Kania yang sedikit bengkak.
Untuk pertama kalinya Aditya melihat Kania menangis karena biasanya seheboh apapun mereka berdebat atau bertengkar dia tidak pernah melihat kekasihnya itu meneteskan air mata, tidak di depan Aditya.
Tapi saat Kania sendirian, dia baru mengijinkan air matanya keluar karena dia tidak mau terlihat lemah dan hanya Hendra, ayahnya yang mengetahui hal itu.
Aditya membiarkan kepala Kania bersandar dipundaknya.
"Maaf... Tadi aku pikir kamu tidak mau Tante itu mengetahui hubungan kita makanya aku bilang kalau aku Ka--"
Aditya segera menempelkan telunjuknya dibibir Kania karena dia tidak mau mendengar kata selanjutnya yang akan diucapkan kekasihnya.
"Bukan aku tapi kamu, dulu kamu yang memintaku untuk menyembunyikan hubungan kita jadi aku harus selalu berpura-pura di depan Mami dan Om Hendra."
Kania memeluk lengan Aditya, dia menyadari keegoisannya waktu itu yang hanya memikirkan kebahagian ayahnya.
"Maaf...," ucap Kania lirih.
"Engga apa-apa, aku ngerti kamu pasti malu pacaran sama anak SMA," ucap Aditya lirih.
"Engga! Bukan begitu!"
"Nyatanya?"
"Kalau kamu mau Tante itu tahu hubungan kita, kenapa kamu diam aja? Terus tadi saat rubah kecil itu bilang aku Kakakmu, kamu juga diam."
"Tadi aku mau kasi tahu Tante tapi kamu udah jawab duluan dan soal Ara, dia emang tahu kalau kamu juga Kakak tiriku makanya dia bilang kaya gitu."
"Rubah kecil itu tahu kita pacaran tapi dia sengaja bilang kalau aku Kakakmu di depan kamu dan kamu diam aja, itu berarti kamu mengiyakan ucapannya."
"Aditya, aku tahu kamu pasti sadar kalau rubah kecil itu menyukaimu, dia tidak hanya menyukaimu tapi menginginkanmu bahkan tadi dia sengaja pura-pura sakit supaya diperhatiin sama kamu," sambung Kania.
"Iya aku sadar Ara menyukaiku makanya kemarin saat di Mall aku menolaknya tapi aku gak tahu ternyata yang aku lakukan kemarin malah membuat Ara stress dan dirawat di Rumah Sakit."
"Apa kamu menyesal sudah menolaknya?"
"Tidak, aku tidak menyesal sudah menolaknya karena perasaanku sama dia hanya sebatas teman masa kecil tidak lebih tapi aku menyesal sudah bersikap kasar kepadanya kemarin."
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan kepadanya kemarin?" tanya Kania penasaran.
Aditya pun memberitahu Kania semua yang terjadi dengannya dan Mutiara saat mereka di Mall kemarin.
"Aku mengerti sekarang, semua itu bukan salah kamu jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri, sebenarnya yang salah justru rubah kecil itu karena keras kepala dan tidak tahu malu, sudah ditolak tapi tetap aja maksa!" cibir Kania sewot.
"Tapi tetap aja aku juga salah harusnya aku gak boleh terlalu emosi dan bersikap kasar sama Ara."
"Engga, engga, kamu gak salah! Aku tahu kamu gak bermaksud seperti itu, yang kamu lakukan bukannya kasar tapi tegas! Kemarin kamu udah bener karena tegas menolaknya."
"Lagipula tadi kamu denger sendiri kan rubah kecil itu bilang apa? Dia bilang dia gak pernah dibentak jadi sekalinya dibentak dia langsung sakit, aku gak ngerti padahal mentalnya lemah tapi dia masih aja ngejar-ngejar kamu, bener-bener gak tahu malu," cibir Kania.
Aditya gemas melihat Kania yang sewot sendiri. Dia pun memeluk erat kekasihnya itu.
__ADS_1
"Maaf... Tadi aku juga udah bentak kamu dan buat kamu nangis...," ucap Aditya lirih.
Kania tersenyum lalu membalas pelukan Aditya.
...****************...
Tante Mia masuk kembali ke kamar rawat Mutiara setelah bicara dengan dokter.
"Kamu siapa?" tanya Tante Mia saat melihat Daniel duduk di samping ranjang Mutiara.
Daniel segera berdiri, dia menebak kalau wanita yang bertanya kepadanya itu pasti ibunya Mutiara.
"Nama Saya Daniel, Saya teman sekelasnya Mutiara."
Tante Mia tersenyum, "Makasi ya Daniel udah jenguk Mutiara, Saya Maminya Mutiara."
Bener kan dia ibunya Mutiara soalnya wajah mereka hampir mirip.
"Iya sama-sama Tante," balas Daniel canggung.
"O iya Tante silahkan duduk." Daniel mempersilahkan Tante Mia duduk di kursi yang dia duduki tadi lalu bergeser sedikit agar Tante Mia bisa lebih dekat dengan ranjang Mutiara.
"Sayang, kenapa kamu bisa seperti ini? Kalau ada masalah harusnya kamu cerita sama Mami." Tante Mia membelai rambut Mutiara dan menatap putrinya itu dengan penuh kasih sayang.
Mutiara tersenyum sinis mendengar ucapan Tante Mia.
"Emangnya Mami punya waktu buat aku? Waktu Mami kan cuma buat temen-temen Mami."
Tante Mia terdiam. Dia baru sadar kalau dirinya memang jarang di rumah bahkan waktunya lebih banyak dia gunakan untuk berkumpul bersama teman-teman sosialitanya daripada bersama Mutiara, putrinya sendiri.
"Basi Mi, Mami selalu bilang kaya gitu tapi apa? Mami tetep aja pergi sama temen-temen Mami," cibir Mutiara.
"Engga Sayang, Mami gak akan ninggalin kamu sendirian lagi, Maafin Mami ya...," ucap Tante Mia lirih.
Kebiasaan Daniel yang suka ikut campur urusan orang lain pun kumat.
"Mutiara, kamu gak boleh jutek gitu sama Mami kamu, Mami kamu kan udah minta maaf," celetuk Daniel.
Tante Mia dan Mutiara langsung mengalihkan mata mereka kearah Daniel.
"Eh maaf, Saya gak bermaksud ikut campur."
Daniel nyengir sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. Dia merasa malu dan gak enak hati karena sebagai orang luar dia tidak sepantasnya ikut nimbrung pembicaraan antara ibu dan anak itu.
...Cklek...
Pintu terbuka, Aditya pun masuk bersama Kania ke dalam kamar.
"Kemana aja lu? Gue pikir lu udah pulang duluan," bisik Daniel saat Aditya berdiri di dekatnya.
"Gue ada urusan tadi," balas Aditya.
"Aditya, makasi ya udah dateng jenguk Mutiara, Tante gak nyangka ternyata kalian sekelas."
__ADS_1
"Iya Tante, tadi Mami juga titip salam buat Ara."
"O iya gimana kabar Mami kamu?"
"Mami sehat Tante."
"O iya Mi, Mami udah kenalan sama Kakak tirinya Aditya," celetuk Mutiara.
"Kakak tiri?" Mata Tante Mia langsung mengarah ke Kania.
"Saya--"
Aditya segera menyelak ucapan Kania karena dia ingin menjelaskan sendiri hubungan mereka berdua ke Tante Mia dan sekaligus menegaskan kembali ke Mutiara kalau hubungan mereka hanya sebatas teman masa kecil.
"Tante, dia memang Kakak tiri Aditya tapi kami sama sekali tidak punya hubungan darah, kami baru bertemu saat Ayahnya dan Mami memutuskan untuk menikah."
"Astaga! Jadi Mami kamu menikah lagi?"
"Iya Tante, baru dua bulan Mami menikah dan dua bulan juga Aditya pacaran dengan anak dari suaminya Mami, Kakak tiri Aditya."
"Maksud kamu?!" Tante Mia kembali terkejut mendengar pernyataan Aditya.
"Saat pertama kali Mami dan Ayahnya mempertemukan kami, kami tidak menyangka kalau kami akan saling tertarik dan memutuskan untuk pacaran."
"Apa orang tua kalian sudah tahu tentang hal ini?"
"Kami sudah memberitahu mereka dan mereka pun mendukung hubungan kami."
"Syukurlah kalau begitu, Tante gak nyangka ternyata Aditya kecil yang dulu gemesin sekarang udah dewasa."
Mutiara pikir Maminya akan mengkritik hubungan Aditya dan Kania ternyata malah sebaliknya.
"Tapi Mi, dia kan tetep aja Kakak tirinya Aditya!" protes Mutiara.
"Iya sayang tapi Aditya kan tadi udah jelasin kalau mereka tidak punya hubungan darah jadi gak masalah kalau mereka pacaran."
Mutiara tidak terima Maminya malah mendukung hubungan Aditya dan Kania.
"Mutiara, aku akui dulu waktu TK aku memang menyukaimu karena kamu satu-satunya yang dekat denganku di kelas tapi sekarang kita berdua sudah besar dan perasaanku sama kamu tidak bisa lebih dari teman."
Padahal Mutiara berpikir bisa memanfaatkan kondisinya untuk mendapatkan Aditya tapi ternyata semuanya sia-sia.
"Waktu pertama kali aku tahu kamu adalah Mutiara, aku senang karena aku bisa bertemu lagi dengan seseorang yang dulu pernah dekat denganku. Saat itu aku berharap kita bisa dekat lagi tapi sebagai teman karena aku tidak pernah berpikir hubungan kita lebih dari itu."
Meskipun awalnya Mutiara mendekati Aditya agar dia bisa memperalat Aditya tapi dadanya tetap sesak saat Aditya terang-terangan menolaknya.
"Kenapa... Kenapa kamu tidak bisa menyukaiku sekarang?" tanya Mutiara lirih.
"Bukan cuma kamu bahkan sekarang aku tidak bisa menyukai atau mencintai wanita lain selain dia karena aku sudah menyerahkan hatiku kepadanya."
Hati Kania tersentuh mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Aditya, pria yang berhasil membuat jantungnya berdetak tak karuan sejak pertama kali bertemu.
Aditya... Maaf... Aku sadar aku egois, selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri dan kamu selalu saja mengikuti keegoisanku... Tapi mulai sekarang aku tidak akan egois lagi! Aku akan membalas semua cinta yang kamu berikan.
__ADS_1
...****************...